Jauh di lubuk hatiku, aku menolak pernikahan ini. Tapi bagaimanapun, aku tidak bisa mengecewakan kedua orang tuaku.
Aku terpaksa menikah dengan laki-laki yang tidak aku cintai sama sekali. Ini di karnakan, pacarku yang akan menikah denganku, menghilang. Bisakah aku mengubah rasa terpaksa ini menjadi rasa cinta pada suamiku? Haruskah aku bertahan dengan orang yang dingin seperti Adya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Saat makan malam, aku dan mas Adya biasa ngobrol ringan soal apa saja. Termasuk, ngobrol soal mas Adya yang sudah mendapatkan seorang pembantu yang bisa menemani aku saat ia bekerja.
"Bagaimana menurut pendapatmu Lala, kalau mencari pekerja itu harus yang paruh baya atau yang seumuran denganmu?" tanya mas Adya sambil terus melanjutkan makannya.
"Kalau aku sih lebih baik yang paru baya aja mas." Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung bicara seperti itu.
Mas Adya tersenyum dengan jawabanku yang tanpa berpikir terlebih dahulu.
"Kenapa? Kamu takut aku tergoda ya?" Mas Adya tersenyum sambil menggodaku.
"Uhuk, uhuk." Aku tersedak makanan yang baru saja aku sendok kan kedalam mulut saat mendengar perkataannya.
"Lala, kok kamu bisa tersedak seperti itu. Ayo cepat minum," kata Mas Adya segera memberi aku segelas air.
"Makanya, makan itu pelan-pelan dan hati-hati. Biar gak tersedak saat makan," katanya lagi.
Ingin saja aku bilang padanya, bukan aku yang tidak hati-hati. Kamu aja yang terlalu banyak tingkah saat aku sedang makan. Tapi hal itu tidak aku utarakan. Aku pendam saja di dalam hati apa yang ingin aku katakan.
Kami kembali melanjutkan makan. Dan mas Adya kembali melanjutkan pembicaraan soal mencari seorang pekerja untuk mengurus rumah kami.
"Jadi, kita pilih yang paruh baya saja ya Lala, untuk bekerja di sini?" tanya mas Adya untuk memastikan pilihanku sekali lagi.
"Iya. Sebaiknya memang yang paruh baya. Karena, yang paruh baya biasanya lebih berpengalaman kalo soal pekerjaan rumah."
"Yakin? Tidak ada alasan lain selain itu?"
"Ya, ya gak adalah. Emangnya ada alasan lain apalagi mas?"
Anehnya, wajah ini tiba-tiba bersemu dan bicaraku juga bisa-bisanya gelagapan tidak karuan. Mas Adya juga kenapa harus menggoda aku lagi sih? Padahal aku menjelaskan alasannya agar dia tidak menggodaku dengan pilihan yang aku pilih.
"Ya itu sih kalo menurut aku. Aku gak tahu apa yang bagus menurut mas Adya."
"Terserah kamu sih mas, mau cari yang bagaimana dan seperti apa. Aku gak akan keberatan juga kok," kataku lagi terus bicara tanpa henti.
"Mmm ... lihat aja nanti mana yang bagus," kata mas Adya sambil sedikit berpikir.
"Tapi kamu yakin nih gak akan nyesal sama apa yang aku pilih. Kamu gak mau menegaskan pilihan kamu, Lala?"
Aku menarik napas dalam-dalam, kemudian aku hembuskan dengan kasar. Aku tidak ingin dia terus saja menggodaku. Aku tatap wajahnya dengan tatapan kesal. Bukannya menyesal dan takut. Ia malah tersenyum saat melihat aku berubah kesal.
"Oke-oke, gak perlu melotot gitu juga dong. Mas kan hanya bercanda, Lala."
Aku hanya diam sambil terus melanjutkan makan malam yang sempat terhenti beberapa saat tadi. Selera makan ku sebenarnya sudah hilang sejak tadi. Tapi karena takut mubazir, aku tetap habiskan semua makanan yang ada di piringku.
....
Seperti biasa, setelah makan malam, mas Adya akan duduk di atas kasur sambil memangku laptopnya. Ia selalu melihat pekerjaannya sebelum ia tidur. Itu sudah jadi kebiasaan bagi mas Adya selama ini.
Aku duduk di sampingnya, ikut melihat apa yang ia lihat di layar laptop ini. Semuanya catatan pekerjaan yang ia miliki. Aku tidak bertanya dan tidak berniat untuk bicara pada awalnya. Sampai aku tiba-tiba ingat soal Maya yang ada di rumah sakit.
Aku sudah berjanji pada mamanya untuk datang lagi menjenguk Maya disana. Tadi juga mamanya sudah mengabarkan padaku, kalau Maya sudah sadar. Aku tidak mungkin datang ke rumah sakit tanpa minta izin mas Adya. Tapi kalau izin, mas Adya pasti menugaskan pak Yahya ikut bersama denganku ke rumah sakit.
Aku berpikir sejenak. Mana jalan yang baik untuk aku tempuh. Pikir punya pikir, tidak enak jika tidak bicara langsung pada mas Adya soal aku yang ingin ke rumah sakit.
Aku putuskan untuk bicara langsung saja. Soal ia minta bawakan pak Yahya bersamaku. Itu tunggu nanti saja aku pikirkan.
APA KATA BRAM TADI? CINTA SESAAT.. PENGEN NGAKAK AKU,APA BRAM AMNESIA? MALAH WAKTU ITU DIA SENDIRI NGAKU DENGAN MAYA DIA GAK MENCINTAI KAMU,NIKAH JUGA ORTU YG MAKSA,DIA BILANG TERGILA-GILA DENGAN MAYA,UDAH MAU NIKAH AJA MASIH SELINGKUH,ORANG KALO SEKALI SELINGKUH TETAP AKAN SELINGKUH,APAPUN ALESANNYA,DIA SUDAH MEMPERMALUKAN PIHAK KELUARGA WANITA..🙄🙄🙄