Setiap tindakan kekerasan yang dilakukan, baik disengaja atau tidak, akan berakibat pada gangguan atau kerusakan psikis dan atau fisik seseorang.
Karya ini mengisahkan tentang seorang wanita yang dikaruniai wajah cantik, bertubuh indah dan molek. Namun berada pada tempat dan lingkungan yang salah, hingga mengalami pelecehan dan tindak kekerasan demi kekerasan. Semua itu meninggalkan jejak yang melukai dari waktu ke waktu.
'JEJAK LUKA' ini dikisahkan, agar kita bisa berhati-hati dan waspada pada orang yang ada di sekitar kita. Baik saudara atau yang kau anggap teman baik.
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan selalu bahagia. ❤️ U.
🙏🏻Selamat membaca 💟
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Jejak Luka 20.
...~•Happy Reading•~...
Pria itu merasa seperti baru pernah melakukannya lagi setelah sekian lama tidak bisa melakukannya bersama istri. Ia jadi mengerti faktor penyebabnya, bukan ada pada dirinya. Tetapi sikap istrinya yang sering menolak dengan berbagai alasan, membuat dia tidak bergairah lagi.
Namun ketika istrinya ingin melakukan hubungan intim, ia sudah tidak bisa melakukannya lagi. Jadi ia merasa telah masuk dalam fase sakit, hingga sering konsultasi ke dokter.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya pria itu, sebab Enni hanya diam dan agak bergetar dalam pelukannya. Enni mengangguk, sambil menutup matanya, agar air matanya tidak mengalir. Dia tidak berani melihat wajah pria yang sedang memeluknya.
Gerakan Enni membuat hatinya mendesir, sebab interaksi mereka seperti sepasang suami istri yang baru melakukan hubungan intim, sangat pribadi.
Pria itu segera melepaskan pelukannya lalu berbaring di samping Enni. Mereka terdiam sambil menatap langit-langit kamar dengan pikiran masing-masing. Enni memegang erat selimut yang menutupi tubuh tela^njang mereka. Ia menyadari apa yang baru saja mereka lakukan.
"T'rima kasih. Saya mandi dulu." Pria itu berkata pelan, tanpa melihat ke arah Enni. Ia menyadari, ada sesuatu yang terjadi dengannya. Tetapi ia tidak mau bertanya, agar tidak terlalu kebawa ke perasaan.
Enni kembali mengangguk dalam diam, agar bisa ditinggal sendiri. Pria itu menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya, lalu bangun. Ia mengambil bathrobe dan boxer yang ada di lantai lalu berjalan ke kamar mandi.
Setelah pria itu berada di kamar mandi, Enni masih terdiam sambil memegang ujung selimut dengan erat. Dia menyadari, semuanya sudah terjadi dan dia telah menjadi wanita penghibur. Air bening yang ditahannya sejak tadi, mengalir di pinggiran matanya.
Dia membungkus tubuhnya dengan selimut lalu memiringkan tubuhnya membelakangi pintu kamar mandi, agar pria itu tidak melihat wajah sedihnya saat keluar dari kamar mandi. Dia menarik nafas dan menghembuskan berulang kali, agar bisa tenang saat pria itu kembali.
Selesai mandi, pria itu langsung memakai pakaiannya tanpa berani menyentuh Enni. Dia khawatir akan terjadi lagi, sebab ia menyadari daya tarik Enni yang kuat bagi pria normal.
"Winda, t'rima kasih. Saya pamit." Pria itu tidak mau lama-lama di kamar itu. Sebab sikap Enni membuat ia ingin menghiburnya. Suatu kondisi yang akan melibatkan perasaan seperti orang yang berpasangan.
Enni mengendalikan perasaannya lalu berusaha untuk bangun dan duduk bersandar. Tapi dia tetap membungkus tubuhnya dengan selimut. "Iya, Pak. T'rima kasih." Enni berkata pelan, sebab dia pun merasa terima kasih diperlakukan dengan baik.
Pria itu mengambil dompet dari kantong celananya, lalu mengeluarkan beberapa lembaran uang berwarna merah. Ia meletakan di atas tempat tidur, di samping Enni yang sedang duduk bersandar. "T'rima kasih..." Ucap pria itu tanpa melihat wajah Enni.
Melihat lembaran uang yang diberikan pria itu untuknya, Enni jadi tidak enak hati. "Pak, saya ambil ini saja. Sisanya bapak ambil lagi buat keluarga bapak." Enni mengambil hanya selembar dengan satu tangan, sebab dia mengingat pria tersebut sudah berkeluarga. Pasti lebih membutuhkan uang itu dari padanya.
Pria itu melihat Enni dengan serius. Suatu hal yang tidak pernah diduganya. Ada seorang wanita penghibur yang mengembalikan tips. Tapi pria itu tetap tidak mau bertanya lebih jauh, tentang Enni. Agar tidak terjadi sesuatu yang lebih pribadi diantara mereka.
Pria itu mengambil lembaran uang yang dibiarkan Enni, lalu memberikannya ke dalam tangan Enni. "Terima saja semua ini. Saat konsul ke dokter, saya bayar lebih dari ini." Ia melipat lembaran uang itu dalam tangan Enni, lalu melipat jari Enni untuk menggenggamnya.
"Sekarang saya ngga perlu ke dokter lagi. Kau sudah bantu dan membuktikan, bahwa saya sehat dan baik-baik saja." Pria itu menahan diri untuk tidak mengelus kepala Enni sebagai rasa terima kasih.
"Simpan itu untuk keperluan pribadimu. Hati-hati jaga dirimu." Ucap pria itu pelan, sebab ia melihat Enni terlalu baik dan lembut untuk profesi seperti itu.
"Trima kasih, Pak. Bapak juga hati-hati. Semoga tetap sehat dan sukses." Ucap Enni pelan, sambil menahan diri, sebab hatinya sedang terharu diperlakukan sedemikian baik.
"Amin." Pria itu mengaminkan dan melambaikan tangan ke arah Enni, lalu berjalan keluar kamar.
Setelah ditinggal sendiri, Enni segera menyingkirkan selimut lalu turun ke arah pintu. Dia mengunci pintu lalu segera ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Seiring air mengalir membasahi dari kepalanya, Enni menenangkan pikirannya. Agar bisa menerima apa yang sudah terjadi, pasrah.
Selesai mandi dan menganti pakaiannya dengan baju santai untuk tidur. Dia melihat wajahnya di cermin meja rias dan fokus pada matanya. 'Kau bukan Enni lagi, tapi Winda. Windaa...' Enni mengulang nama itu berulang kali sambil menatap wajahnya di dalam cermin.
Tiba-tiba dia terkejut mendengar ketukan di pintu kamarnya. Dia merapikan pakaiannya, lalu berjalan ke arah pintu dengan was-was. 'Apakah pria itu balik lagi, atau dia harus melayani tamu lain?' Enni bertanya dalam hati. Dia menyesal, tidak bertanya kepada Prita. Apakah mereka harus melayani pelanggan berapa kali dalam semalam.
Ketika pintu terbuka, dia terkejut melihat Mami Sinna berdiri di depan pintu. "Kalau kunci pintu, kuncinya diangkat. Cantolkan di situ." Ucap Mami Sinna serius sambil menunjuk tempat menggantung kunci pintu.
"Baik, Mami Sin. Maaf, tadi refleks mau ke kamar mandi." Enni berkata pelan setelah menutup pintu dengan hati bertanya-tanya. Mengapa Mami Sinna datang ke kamarnya, setelah tamu yang dilayaninya pergi.
"Mengapa kau pakai baju seperti itu? Pakai baju yang tadi. Mungkin ada tamu yang harus kamu layani lagi." Ucap Mami Sinna tegas dan serius, melihat Enni sudah dalam balutan baju tidur.
"Maaf, Mami Sin. Biarkan saya istirahat malam ini. Saya sedang tidak enak badan dan tidak bisa konsentrasi untuk melayani siapa pun." Enni berkata pelan dan berharap Mami Sinna bisa mengerti dan mau menerima permintaannya.
"Baik. Malam ini, saya ijinkan. Tapi berikutnya, setelah pelanggan pergi, kau kenakan pakaian kerja seperti sebelumnya. Kau belum lihat jam istirahat di sini?" Tanya Mami Sinna sambil melihat Enni yang terdiam dan sedikit lega di wajahnya.
"Belum, Mami Sin. Nanti setelah ini saya akan lihat. Trima kasih, Mami Sin." Ucap Enni sedikit lega, sebab diizinkan istirahat.
"Di sini bisa istirahat setelah tengah malam. Tapi kalau ada tamu minta dilayani, ada pengecualian. Kau tetap harus siap melayani." Mami Sinna berkata sambil berdiri dan memeriksa seisi kamar.
Jadi waktu untuk istirahat pergunakan dengan baik. Baik siang atau malam, istirahat untuk kembalikan tenaga." Mami Sinna berkata tegas, sebab jika semua penghuni merak sibuk atau tidak bisa melayani tamu, terpaksa Mami Sinna akan turun tangan untuk menggantikan.
Oleh sebab itu, ia harus menjaga para penghuni merak tetap dalam keadaan baik dan siap sedia, jika diperlukan para pelanggan di setiap waktu.
"Baik, Mami Sin..." Enni hanya bisa mengatakan kalimat itu, agar Mami Sinna tidak emosi atau marah padanya.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~●○¤○●~...
derita anak pertama kalau orang tua tinggal 1 dan tidak perhatian lagi jadi banyak pikiran.
tinggalkan saja kekasihmu nes sekarang sudah selingkuh kedepan pasti selingkuh lagi.
selingkuh seperti penyakit tak ada obat
nyesek banget ada korban rudapaksa..