BUKU PERTAMA >>> TAMAT!
Sasuke bertarung melawan Naruto (pertarungan final) dan dia mengaku kalah pada Naruto. Tapi sayangnya dia mati (lebih persisnya sih jasadnya ditarik ke dalam dunia One Piece) dan berakhir mengambang di tengah lautan sebelum akhirnya diselamatkan oleh Kru Mugiwara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Echo Gardener, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jaya Island
Mocktown.
Sasuke, Luffy, Zoro dan Nami masih berjalan sambil memandangi aktivitas suasana kota tersebut.
"Selama di kota ini, aku janji untuk pergi—"
Nami langsung menjewer kuping Luffy karena salah menyebutkan kalimat.
"Aku janji tidak akan bertarung!" kata Nami membenarkan.
"Aku janji tidak akan bertarung." balas Luffy mengulangi perkataan Nami.
"Yosh, kalian harus menepatinya! Ma, ini berlaku hanya untuk kalian berdua saja." kata Nami menunjuk Zoro dan Luffy.
Zoro yang sedikit kesal itu mulai berkata, "Kenapa untuk si teme tidak berlaku?!"
"Karena dari kalian bertiga hanya Sasuke yang bisa mencerna kalimatku dengan baik!" balas Nami dengan kesal.
"Cih! Ku jamin si teme yang akan lebih dulu berbuat." cibir Zoro tidak menerima pernyataan Nami.
"Kenapa kau menjadi kekanak-kanakan begini?" tanya Nami dengan heran.
"Siapa yang kekanak-kanakan, aku hanya berbicara sesuai apa yang ku tahu." jawab Zoro.
"Hn, baka."
"Aku tidak bodoh, teme!"
"Ma, intinya kalau kau dan Luffy berbuat ulah... ku jamin kita bakal diusir dari sini." kata Sasuke dengan wajah datar.
"Oi!" (Luffy & Zoro)
"Benar apa kata Sasuke. Dan kalau kita terusir dari sini, kita tidak akan bisa pergi ke langit." tambah Nami.
Dan perjalanan keempat orang itu sempat terhenti karena seorang pria sakit-sakitan tiba-tiba saja jatuh dari kuda yang dia tunggangi.
"Siapa dia?" (Nami)
"Lihat, dia jatuh!" (Luffy)
"Ah, jatuh dari kuda." (Zoro)
Sedangkan Sasuke memilih untuk diam dan menatap orang itu dengan tatapan curiga. Sasuke sangat tidak menyukai orang yang berada di hadapannya itu entah karena alasa apa.
"Ugh... gghh..."
"Um... keliatannya sakit?" (Luffy)
"Ah, seperti menahan kesakitan." (Zoro)
"Yosh, maafkan aku, kawan. Maukah kalian membantuku berdiri?" tanyanya.
"Kau tidak bisa berdiri sendiri?" (Zoro)
"Lalu bagaimana dia menaiki kuda?" (Luffy)
"Dan bagaimana bisa dia sampai ke sini dengan kondisi seperti itu!" (Nami)
'Orang ini... aku sangat tidak menyukainya.' pikir Sasuke.
"Hm? Kenapa, Sasuke?" tanya Nami melihat wajah ketidaksukaan dari Sasuke.
Sasuke melirik ke arah Nami dan menjawab pertanyaannya kalau tidak ada apa-apa.
"Hm? Begitu—"
Sasuke menyelanya. "Nami, berhati-hatilah dengan orang itu."
"Apa maksudmu, Sasuke—"
Booom!
"A-Apa itu?" tanya si A.
"Tadi ada beberapa orang yang makan apel dari orang aneh. Kemudian 5 orang itu meledak begitu saja!" jawab si B.
Dan saat yang sama, Luffy sedang menelan Apel yang diberikan oleh pria misterius itu dengan tanpa dia sadari.
"Mustahil!" Nami mulai melihat Luffy dengan panik, "Oi, Luffy! Cepat keluarkan apel itu sekarang juga!" perintahnya sambil memegang dan mengguncangkan leher Luffy.
"S-Sudah ku telan!" balas Luffy dengan sesak.
"Brengsek! Apa maumu?!" Zoro mulai mempersiapkan ancang-ancang jikalau orang misterius itu berulah.
"Ehehe... dia akan baik-baik saja." balas orang misterius itu.
"Orang itu benar. Luffy baik-baik saja." sambung Sasuke menonaktifkan sharingan miliknya.
"Ehehe... pemuda dengan kemampuan mata yang unik. Benar kata pemuda ini... dan kalau saja dia mengambil yang dipinggir, dia pasti akan menyusul orang-orang itu. Kau ternyata orang yang beruntung." lanjut orang misterius itu melihat keempat orang di hadapannya.
...****************...
Waktu pun terus berjalan.
"Ada apa dengan kota ini sebenarnya?!" gerutu Nami.
"Tenanglah, Nami." kata Luffy dengan santai.
"Kau tadi itu nyaris mati konyol tau!"
"Ya, tapi kan tadi cuma nyaris." (Luffy)
"TERSERAH KAU SA—" (Nami)
"WIIIIHAHAHAHAHA!"
"..." (Nami)
"Oi, sudah berapa banyak korban lagi?" (si C)
"Entahlah, kenapa orang itu tidak terdaftar dipencarian buronan?" (si D)
"Aku tidak tahu. Tapi apapun yang terjadi, sebaiknya kita menjauh dari Sang Juara Gulat itu." (si C)
Zoro dan Luffy yang mendengarnya mulai melihat ke arah Sang Juara Gulat dengan kesal.
"Juara?!" (Luffy dan Zoro)
"KENAPA KALIAN MERASA TERSAINGI, HUH?!" (Nami)
"Hn, baka." (Sasuke)
"SIAPA YANG BODOH?!" (Luffy dan Zoro)
Sasuke memilih diam dan mulai mengacuhkan kedua orang bodoh yang masih kesal karena perkataan jujurnya.
"Kalian bertiga hentikan! Ku mohon, bisakah setidaknya kita melakukan perjalanan dengan tenang sekali saja?" (Nami)
"Mm... itu tidak mungkin, Nami." (Luffy)
"Kau juga tahu di setiap perjalanan kita pasti ada saja orang yang akan memulai lebih dulu." (Zoro)
"Ma, kurasa kita tidak akan menemukan informasi di kota ini." (Sasuke)
"Ya... aku setuju denganmu, Sasuke. Kenapa rasanya perjalanan ini tiba-tiba sangat melelahkan?" (Nami)
Kemudian keempat orang itu melanjutkan perjalan mereka menuju sebuah hotel. Dan sesampainya mereka di gerbang hotel itu, tiba-tiba saja seseorang menghampiri keempatnya dan meminta maaf kepada mereka, karena hotel yang mereka masuki itu seluruhnya telah disewa oleh kelompok Bellamy. Jadinya, selain dari tamu kelompok Bellamy, keempat orang itu harus pergi.
"Ah? Jadi ini hotel ya? Ku kira villa." (Zoro)
"J-Jika Bellamy-sama masih melihat kalian ada di sini... akan jadi masalah. Jadi silakan kalian pergi dari sini."
"Kenapa kita tidak boleh ke sini?" (Luffy)
"Siapa Bellamy itu?" (Nami)
"Apa dia kuat?" (Sasuke)
"Ah, benar. Apa dia kuat?" (Zoro)
"Ya! Apa Bollamy itu kuat?" (Luffy)
"OI, KALIAN BERTIGA! Dan namanya itu Bellamy, ya ampun!" (Nami)
Saat mereka sedang asik berbincang dan ini tidak berlaku untuk Nami, suara seorang pria mulai terdengar dari belakang pemilik hotel yang mulai panik setengah mati.
"Hoi, ada apa? Hm? Siapa bocah-bocah tengik itu?" tanya si pria penutup mata membawa seorang wanita menghampiri kawanan Sasuke dan pemilik hotel itu.
"SARQUISS-SAMA! S-Selamat datang kembali, silakan masuk!" balas pemilik hotel yang mulai takut dan panik.
"Jangan banyak bicara, cepat usir saja mereka! Apa uang yang kami berikan itu kurang, huh?" kata seorang wanita yang dibawa oleh Sarquiss.
Kedua orang itu mulai mendekat tepat berdiri di hadapan Luffy.
"Selain itu... pulang sana, dasar bocah tengik." kata Sarquiss pada Luffy.
"Oi! Boleh ku hajar dia tidak?" tanya Luffy sambil menunjuk Sarquiss.
"TIDAK BOLEH!" jawab Nami dan pemilik hotel bersamaan.
"Ha! Ingin menghajarku? Ahaha! Bocah yang menarik. Tapi sepertinya kalian anak-anak yang miskin, ya?" Sarquiss mulai merogoh sesuatu dari saku celananya, "Ini," lalu melemparkan beberapa uang lembaran dan koin ke hadapan keempat orang itu, "Belilah pakaian yang bagus ya." lanjutnya dengan menampilkan seringai.
"Sarquiss! Untuk apa kau buang-buang uang demi mereka?" kata wanita di sampingnya dengan ekspresi kesal.
Zoro dan Nami mulai menahan kekesalan dan amarah mereka. Sasuke masih melihat uang yang dilempari oleh Sarquiss dengan tatapan datar.
"Yang penting mereka segera pergi dari sink." jawab Sarquiss.
"Kalau begitu kuambil saja!" kata Luffy senang.
Sebelum Luffy ingin mengambil uang itu, Nami dengan cepat mulai menyeret Luffy dan menyuruh Zoro dan Sasuke untuk mengikutinya. Tapi sebelum benar-benar pergi, Sasuke mulai mengingat wajah mereka satu persatu. Entah apa yang akan dilakukan oleh bocah Uchiha itu nantinya.
Setelah keempat orang itu pergi, seseorang menyuruh Sarquiss dan Lily, wanita yang berada di samping Sarquiss, untuk tidak mengganggu bocah itu.
"Ah? Memangnya kenapa? Tidak boleh?" tanya Sarquiss.
"Hehe." kemudian menunjukkan selembaran poster buronan. "Mereka berhasil sampai ke sini pasti sudah berjuang dengan keras. Lihat." pria yang membalas pertanyaan Sarquiss mulai memberikan poster buronan itu ke wanita berambut pink.
"Tapi tetap saja tidak bisa jika dibandingkan dengan Bellamy." jelas wanita berambut pink.
"Sebagai bocah... ternyata dia lumayan juga."
"Ah, sayangnya mereka tidak akan bertahan begitu era baru tiba."
"Dan juga~ bukankah temannya yang yang membawa pedang itu dia sangat tampan?"
"Yang mana?"
"Tentu saja yang hitam!"
"Ah! Tapi sangat disayangkan dia adalah teman dari bocah diposter ini."
"Tapi... 30 juta hanya untuk kepala dari bocah itu? Kita harus memperlihatkan kertas buronan ini pada Bellamy." kata Sarquiss.
...****************...
Kembali ke kelompok empat bajak laut konyol.
Nami mulai menghabiskan segelas minuman disebuah bar dan meletakkan gelas tersebut dengan kencang.
"Aku benar-benar kesal!"
"Hoho, maaf menyela. Mocktown adalah kota dimana tempat untuk menghabiskan sebagian harta mereka." jelas pemilik bar pada Nami.
"Bajak laut tengik tidak seharusnya ada disini, kan?" (Nami)
"Sepertinya tidak ada yang bisa menghiburmu. Ini! Ini adalah bonus untukmu." kata pemilik bar memberikan segelas minuman untuk Nami.
"Ya ampun! Tetap saja aku benar-benar tidak suka tempat ini..."
"Hahaha! Wajar saja kau berkata begitu. Tapi kau tidak akan menemukan orang normal di tempat ini. Ma! Log disini akan terisi selama 4 hari. Jadi ku sarankan kalian cepat pergi sebelum terlibat dalam kesulitan."
"Empat hari ya? Berati kita harus pergi sebelum itu. Nah, Ojisan—"
"HOI, OYAJI/OSAN!" teriak Luffy dan seorang pria berbadan besar di sampingnya secara bersamaan.
"Hm? Kenapa?"
Sasuke, Zoro dan Nami penasaran dengan apa yang akan dikatakan Luffy dan orang yang ada di sampingnya.
"CHERRY PAI INI! ENAK SEKALI/SAMA SEKALI TIDAK ENAK!!" kata mereka berdua bersamaan.
"Hm?" Luffy mulai melihat pria besar itu yang juga mulai melihat balik Luffy dan meminum minuman mereka secara bersamaan pula.
"Minuman ini... sama sekali tidak enak/enak sekali!!" kata dua orang itu bersamaan lagi.
Dan permainan tatap-menatap pun terjadi lagi, hingga pria besar itu berbicara lebih dulu.
"Sialan, apa lidahmu itu sedang bermasalah?"
"Apa otakmu itu sedang bermasalah?" balas Luffy tidak mau kalah.
"Ma, aku kan yang membuatnya... jadi terserah kalian saja yang menilai."
"Nah, Ossan! Aku minta 50 potong daging!" (Luffy)
"Oyaji, aku minta 51 potong cherry pai."
"Ah! Kalau begitu... aku minta 52 potong!"
"Minta 53 potong pie."
"Tidak! 54 potong daging!"
"55 potong."
Sasuke sudah tidak peduli dan melanjutkan memakan sup tomatnya, sedangkan Nami dan Zoro masih melihat kedua orang itu dengan tatapan aneh.
"60 potong daging!"
"70 potong!"
"80!"
"100!"
"KAU MAU AJAK RIBUT YA?!" teriak Luffy dan pria besar berkulit hitam itu dengan kompak.
"KENAPA KALIAN MALAH INGIN BERTARUNG?!" (Zoro)
"Luffy! Kau sudah berjanji kan?!" (Nami)
"Hn. Biar ku ingatkan kalau kita tidak punya uang untuk membeli daging sebanyak itu, Luffy." (Sasuke)
"Ya! Kita ke sini juga bukan untuk belanja!" (Nami)
"Mugiwara, apa kau seorang bajak laut?" tanya pria itu sambil tersenyum
"Ya, benar!"
"Berapa harga kepalamu?"
"30 juta!"
"30 juta? Untukmu? Itu tidak mungkin, dasar pembohong!"
"Aku tidak bohong! Itu kenyataannya!"
Pemilik bar itu mulai melerai keduanya dengan memberikan kotak makanan berisi cherry pie pada pria besar itu yang dengan mudah menerima kotak makanan itu dan berjalan pergi keluar bar. Saat di pintu, dia berpapasan dengan seorang pria berambut kuning dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya dan dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam bar tersebut.