Demi mendapatkan surat izin praktik kedokteran tanpa pengawasan, Ozman harus melakukan magang di sebuah rumah sakit . Tetapi, kedatangan Ozman di rumah sakit Bunda Kasih, tak diharapkan oleh banyak orang, terlebih lagi Ozman dalam kondisi spektrum autisme.
Bagaimana jadinya jika ternyata orang yang mereka remehkan kemampuannya karena keterbatasan, adalah sebenarnya dokter genius?
Semuanya terbukti ketika Ozman mampu menolong dan memberikan pertolongan darurat untuk seorang anak yang mengalami kecelakaan. Dari situ nama Ozman dikenal dan diperhitungkan dalam dunia kedokteran.
Dia bahkan diberikan kesempatan untuk magang di Rumah Sakit Bunda Kasih. Tetapi, banyak hal yang Dokter Ozman lalui ketika dia magang. Dokter Ozman menemukan sebuah penyakit yang langka, penyakit yang tidak banyak diketahui dan diderita oleh banyak orang.
Mampukah Dokter Ozman menangani penyakit tersebut? Dan menemukan cara untuk menyembuhkan penyakit langka itu?
Yuk simak kisah Ozman di Dokter Oz!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 27
Direktur Selly berdiri dari tempat duduknya, berjalan mendekati tempat di mana Ozman berdiri.
"Maaf Dokter Ozman. Kali ini saya tidak dapat mentoleransi kesalahan Anda, karena Anda telah membuat nyawa pasien dalam bahaya,"ujar Direktur Selly yang membuat Dokter Ozman kebingungan. Pasalnya hari ini Dokter Ozman belum melakukan kesalahan apa pun tetapi dia malah dituduh telah membahayakan pasien. Hal itu, membuat Dokter Ozman bertanya-tanya.
"Maaf, Bu. Memangnya a-apa yang sudah saya lakukan?"
Dokter Selly menaikan alisnya ketika Dokter Ozman bertanya kepadanya.
"Kamu benar tidak tahu? Atau berpura-pura tidak tahu?"
"Sa-saya tidak tahu apa yang ibu bicarakan?"
"Sudahlah Dokter Ozman ya, mulai hari ini Anda tidak perlu lagi datang kemari, surat izin magang atau kontrak kerja Anda saya cabut,"ujar Direktur Selly. Lalu, menyuruh Dokter Ozman untuk keluar dari ruangan itu. Ozman yang masih dalam keadaan bingung pun segera keluar tanpa membantah.
Dokter Ozman dengan langkah yang lesu kini berjalan menelusuri koridor rumah sakit rumah sakit menuju ruangan kerjanya. Di dalam sana ternyata tidak ada orang lain, ruangan kosong karena banyak dokter lainnya pada sibuk dengan tugas mereka.
Di ruangan operasi di mana Dokter Rendy dan rekannya sedang ingin melakukan operasi kedua untuk pasien setelah mengalami pendarahan yang cukup hebat.
"Dok, denyut nadi melemah. Bahkan, detak jantung menurun, kita butuh stok darah A segera!"ucap Dokter Rain yang melihat kondisi pasien melalui layar monitor.
"Perawat Nita, ambil darah A beberapa kantong untuk pasien, secepatnya!"
"Baik, Dok."
Setelah mendapatkan anastesi, pasien dalam keadaan tak sadar. Dokter Ayu mempersilakan alat medis untuk operasi kedua lalu memeriksa alat medis apa saja yang akan mereka gunakan agar tak terjadi hal yang serupa lagi.
Dokter Rain, kembali memeriksa detak jantung pasien.Terlihat pasien dengan detak jantung yang lemah.
"Detak jantung menurun, denyut nadi juga sama,"ucap Dokter Rain.
"Jika melakukan operasi sekarang apa tidak bahaya?"Dokter Ayu bertanya.
"Harusnya dilakukan dua jam yang lalu, tetapi kita malah menundanya,"sambung Dokter Rain, langsung saja Dokter Rendy menatap pria itu dengan tajam.
Dokter Rendy berharap jika Direktur Selly telah membereskan kekacauan yang tadi terjadi sehingga Dokter Rendy tak perlu cemas lagi.
Namun, saat ini ada bahaya lain yang harus mereka hadapi bersama. Perawat Nita membawa lima kantong darah untuk pasien, wanita itu segera memasangnya.
Tidak menunggu lebih lama lagi Dokter Rendy segera melakukan operasinya. Terlihat dari layar monitor kondisi pasien belum membaik, bahkan darah yang tadi juga tidak bisa di terima dengan baik oleh tubuh pasien.
"Selesaikan operasi segera!"
"Baik,"
Operasi yang terjadi tak berjalan dengan baik, kondisi pasien dalam keadaan tidak baik-baik saja. Tetapi, Dokter Rendy menutup semua itu seakan terlihat jika pasien akan baik-baik saja.
"Dokter detak jantung menurun,"ujar Dokter Rain, padahal operasi sudah hampir selesai tinggal jahitan terakhir.
Begitu jahitan terkahir selesai, baik Dokter Ayu ataupun Dokter Rain, dikejutkan dengan suara detak jantung monitor yang terdengar cukup panjang.
"Dok,"ucap Dokter Ayu yang melihat kearah Dokter Rendy, pria ini menghela nafas panjang.
"Catat tanggal kematiannya,"ucap Dokter Rendy dan pergi meninggalkan kamar operasi .
Di luar ruangan terlihat suami dari pasien menunggu istrinya yang sedang di operasi. Melihat Dokter Rendy yang keluar dari ruangan, suami dari pasien yang di sebut Agus itu menghampiri Dokter Rendy.
"Dok, gimana istri saya? Apakah operasinya telah selesai?"Agus bertanya dan penuh harap untuk kondisi sang istri agar membaik.
"Maaf, Pak. Kami sudah melakukan yang terbaik, tetapi pendarahan secara buruk membuat kondisi pasien tak tertolong, maaf." Dokter Rendy berlalu pergi meninggalkan suami dari Pasien.
Brankar milik pasien pun di dorong dari kamar operasi menuju kamar mayat, setelah di catat tanggal kematian akak dipulangkan ke rumah duka.
"Tidak! Asminati, jangan tinggalin aku. Bagaimana aku hidup tanpa kamu, anak kita juga butuh kamu, Asmi." Agus menangis di atas jasad sang istri. Dokter Rain dan Dokter Ayu tak tega melihat hal itu. Ini kali pertama dalam sejarah operasi mereka meninggalkan bekas luka yang cukup dalam.
Di sisi lain, Dokter Rendy terlihat melamun membayangkan pasien yang baru saja meninggal. Dokter Rendy terlihat panik dan cemas, karena jika keluarga pasien menuntut maka tamatlah karirnya.
Jenazah telah dipulangkan ke rumah duka, tetapi bayi masih ada di ruangan bayi untuk sementara waktu, sampai pemakaman istrinya selesai, pria itu akan kembali untuk menjemput anaknya.
Dokter Amel mencari keberadaan Dokter Ozman tetapi tak terlihat. Dokter Amel sudah mencari di ruangan yang biasa di datangi Dokter Ozman tetapi kali ini juga tidak ada di sana.
Dokter Ozman telah kembali ke apartemennya. Dokter Ozman melihat seorang wanita tua yang ingin masuk ke dalam kamar apartemen Dokter Amel. Dokter Ozman langsung berpikir jika itu maling.
"Hei, ma-mau apa kamu?!"Dokter Ozman menarik tangan wanita tua yang ingin masuk ke dalam kamar apartemen Dokter Amel, hal itu membuat wanita tau itu marah dan kesal.
"Apa-apaan ini? Siapa kamu? Minggir!"Wanita tua itu mendorong tubuh Dokter Ozman hingga terjatuh.
"Dasar idiot!"umpatnya dan berlalu masuk ke dalam ruangan, Dokter Ozman yang melihat itu segera bangkit dan menggedor-gedor kamar Dokter Amel.
"Aissh! Siapa sih orang idiot itu,"wanita tua ini segera menghubungi anaknya agar kembali secepat mungkin ke apartemen karena wanita itu sudah tidak tahan dengan suara berisik di luar kamar.
Dokter Amel yang mendapat panggil dari sang ibu bergegas kembali ke apartemen yang jaraknya tak jauh hanya membutuhkan waktu sekitar 10 sampai 15 menit saja sudah sampai ke apartemennya.
Dokter Amel melihat Dokter Ozman yang mondar-mandir di depan kamarnya, melihat Dokter Ozman ada di depan kamar apartemennya Dokter Amel hanya bisa berdiri sembari berkacak pinggang.
"Aku sudah mencarinya kemana-mana dia malah ada di sini, dasar pembuat onar," geram Dokter Amel lalu berjalan mendekati Dokter Ozman.
"Dokter Amel, a-ada maling di-di dalam kamarmu,"ucap Dokter Ozman dengan terbata-bata karena sudah kelelahan menggedor kamar apartemen Dokter Amel.
"Itu ibuku,"jawab Dokter Amel menatap kesal kearah Dokter Ozman. Lalu, Dokter Amel menarik tangan pria itu untuk masuk bersamanya.
Terlihat ibu Dokter Amel yang duduk di sofa kecil itu menunggu anaknya datang.
"Ma, kenapa kamu datang tidak mengabari aku lebih dulu, harusnya aku bisa menjemputmu,"ujar Dokter Amel, lalu mencium punggung tangan sang ibu.
Dokter Ozman berdiri tak jauh dari hadapan mereka dengan kepala yang menunduk karena takut dimarahi oleh ibu Dokter Amel.
malah tamatnya nggak jelas 🤧
RS ribut bener 🤭
tapi ini mereka dokter lho,moral e neng endi kalian lulus cara apa ,astoge
dr, Rendi tak sumpah i dirimu mencret2 sampe nggak sempat ke toilet,bleber2neng dalan 🤣🤣🤣