Selalu dianggap jelek dan dihina oleh suami dan keluarganya, bahkan hingga diceraikan. Membuat Nadi Djiwa membalaskan dendamnya dengan merubah penampilannya, ia ingin membuat mantan suaminya menyesal karena telah menceraikannya, dan ia pun ingin merebut kembali perusahaan yang ia rintis dari nol.
Akankah Nadi berhasil membalaskan dendamnya? Cerita selengkapnya hanya ada di novel Beauty - NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Sofia menarik selimut hingga ke dada, kemudian mengelus dan mengecup lembut kepala Alyssa. Melihat Alyssa terbaring lemah di tempat tidurnya membuat hati Sofia ingin menjerit. "Nadi benar-benar keterlaluan," ia menghampiri Harry dan Aaron yang tengah duduk di sofa.
"Sudah-lah Sof, berhenti menyalahkan Nadi. Dia punya hak untuk menolak kami, kita tidak bisa memaksakan dia untuk menerima aku dan Alyssa. Hubungan yang sehat itu di bangun karena keduanya sama-sama mau, aku juga tak ingin dia menerima kami karena rasa terpaksa."
"Aku tahu, Aaron," potong Sofia. "Tapi setidaknya jika memang dia tidak mengingkanmu dan Alyssa seharusnya dia tidak datang dan memberikan harapan kepada kalian terutama Alyssa. Dia hanya memanfaatkan kita. Dia menggunakan perusahaanku untuk menjatuhkan perusahaan Surya, kemudian dia menggunakan hubungan kalian untuk mencari relasi agar perusahaan yang berhasil ia rebut dari Surya berkembang dan berjalan sesuai dengan keinginannya."
"Sofia," Harry menyentuh lengan kekasihnya agar Sofia berhenti berkomentar yang meyakitkan untuk Aaron, meski sebanarnya Harry setuju dengan pendapat Sofia tapi tidak di untuk di ungkapkan di situasi seperti ini. "Sudah malam, jam berkunjung sudah selesai. Ayo kita pulang!" ajak Harry.
"Aku benar-benar sudah tidak mengenali Nadi lagi," komentarnya untuk terakhir kali sebelum ia meraih tasnya dan pamit dengan Aaron.
"Terima kasih ya, kalian sudah rutin menjenguk Alyssa. Alyssa sedikit terhibur karena kalian," Aaron mengantar mereka hingga ke pintu depan.
Saat Aaron membuka pintu ia terkejut mendapati Nadi hendak mengetuk pintu ruang rawat inap putrinya. Ekspresi serupa di tunjukan oleh Nadi. Sementara Sofia terang-terangan menunjukan rasa kesalnya terhadap Nadi, ia melirik sekilas ke arah Nadi kemudian ia dan kekasihnya berlalu meninggalkan ruang rawat inap Alyssa.
"Hai, Die," sapa Aaron, ia tersenyum kaku pada Nadi.
"Aku dengar Alyssa sakit, boleh aku menjenguknya?" pinta Nadi penuh harap.
Aaron memperhatikan wajah cemas Nadi, tapi kemudian ia berkata. "Hanya demam. Sayang sekali dia sudah istirahat dan jam besuk pun sudah habis, jadi aku harap kau bisa pergi sebelum petugas memeriksa dan memintamu pergi..." ia tak bermaksud mengusir Nadi, tapi itu-lah kenyataannya, lima menit setelah jam besuk habis petugas keamanan akan berkeliling untuk memeriksa dan meminta orang-orang yang menjenguk untuk keluar dari ruang rawat inap.
Nadi menghembuskan napas kecewanya. "Baiklah, aku akan kembali lagi besok..."
"Sebaiknya jangan!" potong Aaron. "Maaf, tapi sebaiknya kau tidak datang lagi kemari sampai Alyssa benar-benar pulih dan mengerti. Maksudku, aku mengerti hak-mu untuk menolak lamaranku tapi tidak untuk Alyssa, dia benar-benar terluka karena ekspektasinya bersamamu sangat tinggi sehingga dia sekidit terluka ketika ekspektasinya tidak sesuai dengan harapannya. Tapi kau tidak perlu khawatir dan merasa bersalah, Alyssa akan segera pulih. Aku masuk dulu, Alyssa sendirian di dalam." perlahan Aaron mulai menutup pintu, beberapa centi sebelum pintu itu tertutup sempurna Nadi menahannya dengan tangannya. "Tunggu dulu, Aaron!"
Buliran-buliran mulai jatuh di wajah cantik Nadi, ia tak lagi bisa menahan rasa kerinduan dan kegalauan hatinya. "Maafkan aku hiks..."
"Sudah kukatakan, Nadi. Kau tidak perlu merasa bersalah, Alyssa akan baik-baik saja. Jadi sebaiknya kau pulang dan istirahat."
Nadi menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku yang tidak baik-baik saja, aku sangat merindukan kalian, aku membutuhkan kalian huhu.." Nadi menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Maafkan aku Aaron, maaf..."
Aaron membawa Nadi dalam pelukannya. "Kamu tidak perlu minta maaf, Die. Kamu tidak salah," ia mengelus punggug Nadi dengan lembut. Sesaat Aaron membiarkan Nadi menangis, tapi kemudian ia merangkul Nadi masuk ke ruang rawat inap. "Kita ngobrol di dalam ya, aku akan izin pada petugas jika mereka datang."
Mereka duduk di sofa. Nadi masih menyeka sisa air mata yang membasahi matanya, dan mencoba menenangkan diri. "Die, boleh aku tahu apa yang membuatmu ragu? Atau memang sejak awal kau tidak menginginkan hubungan ini?"
Nadi menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku tidak bermaksud untuk mempermainkan hubungan kita, Aaron. Aku hanya..." Nadi berhenti sejenak. "Aku takut kau meninggalakan aku jika berat badanku nanti bertambah, aku takut kau meninggalkanku jika aku tidak dapat memberimu anak huhu...." Nadi kembali nangis tersedu-sedu, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Aku takut Aaron. Hiks... Aku tidak ingin gagal untuk yang kedua kalinya, aku tidak ingin merasakan sakit lagi. Tapi aku lebih sakit jika tanpa dirimu dan Alyssa... Huhu..."
Aaron kembali memeluk Nadi untuk menenangkannya. "Die... Aku sudah jatuh hati jauh sebelum kau mengenal make up, aku jatuh hati pada apa yang ada dalam hatimu." ia merangkum wajah Nadi dengan kedua tangannya, kemudian mengahpus air matanya dengan jemarinya.
"T-tapi aku tidak bisa hamil, Aaron. Aku tidak bisa memberimu keturunan hiks.." suara Nadi terdengar begitu gemetar, rasa trauma akan hinaan keluarga Surya yang mengatakan dirinya wanita mandul terus membayangi hidupnya.
"Anak adalah hak Allah, Die. Aku melamarmu karena aku ingin menyempurnakan imanku, aku ingin ibadah seumur hidup bersamamu dan menjaga Alyssa bersamamu. Jika Allah mempercayakan kita memiliki anak lagi, kita jaga sama-sama tapi jika tidak kau akan tetap jadi istri dan ibu yang sempurna untuk Alyssa, sama sekali tidak mengurangi kebahagiaan kita," Aaron meminta Nadi menatap matanya. "Aku pun sama sepertimu. Aku takut gagal untuk yang kedua kalinya, aku tidak ingin Alyssa terluka lagi seperti saat ibunya meninggalkannya. Tapi maukah kita bersama-sama melawan rasa takut itu, dengan saling membahagiakan satu sama lain?"
Nadi mengangguk. "A-ku mau Aaron. Aku mau hidup bersamamu dan Alyssa..." air mata Nadi semakin deras mengalir dalam pelukan Aaron, seluruh hal yang ia takutkan hilang seketika.
Isak tangis Nadi, menggema di ruang rawat inap Alyssa hingga membuat bocah itu terbangun dari tidurnya. "Mama.." gumamnya, ia duduk dan melihat Nadi duduk di sofa bersama papanya.
Nadi langsung mengapus air matanya, dan berhambur menghampiri Alyssa. "Sayang..." ia mendekap erat Alyssa. "Mama rindu padamu sayang..." Nadi menghujani Alyssa dengan banyak ciuman di pipi dan kepalanya.
Ekspresi Alyssa terlihat datar meski tangannya membalas pelukan Nadi. "Apa Mama mau meninggalkan aku lagi?"
Nadi menggeleng. "Tidak. Mama tidak akan meninggalkanmu. Mama akan jadi Mama sungguhan untukmu dan kita akan tinggal bersamu selamanya."
Wajah Alyssa seketika berubah menjadi berbinar-binar. "Benarkah?" tanyanya seakan tidak percaya.
Nadi mengangguk. "Tapi Mama dan Papa harus menikah dulu. Tidak bisa langsung tinggal bersama."
"Tidak masalah, nanti aku akan membantu persiapan pernikahan Mama dan Papa," ucap Alyssa girang, ia langsung membayangkan jika dirinya dan mamanya akan mengenakan gaun pesta yang indah.
"Sekarang sudah malam," sambung Aaron. "Mama harus pulang." Aaron memberi kode jika petugas di depan sedang memeriksa setiap kamar pasien.
"Yah... Padahal kami baru saja bertemu," wajah Alyssa nampak kecewa.
"Alyssa istirahat ya, agar cepat pulih dan kita bisa sama-sama menyiapkan pesta pernikahan Mama dan Papa," ucap Nadi. "Mama janji besok pagi, Mama akan datang kemari membawakan sarapan untuk Alyssa," ia mengulurkan jari kelingkinya ke hadapan Alyssa.
Sembari tersenyum Alyssa menlingkarkan jarinya di jari kelingking Nadi. "Janji ya Mah."
Nadi mengangguk, sekali lagi ia memeluk Alyssa dengan erat sebelum akhirnya Aaron mengantar Nadi sampai ke pintu depan. "Jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya, kabarin aku kalau sudah sampai," ucap Aaron.
Nadi mengerutkan keningnya. Sepertinya dia bukan hanya bawel ke Alyssa tapi ke aku juga, batin Nadi. "Iya, aku pulang dulu ya. Bye.." Nadi melambaikan tangannya kemudian melangkah meninggalkan rumah sakit.