Satu... dua... tiga..."
Gua merem, terus ngebuka mata lagi. Angka yang ada di layar hologram tablet lipat di depan gua masih sama. Gak berubah, gak berkurang nolnya, dan tetep bikin mual.
[Harga Eceran Resmi: 120.000.000 KRW (Termasuk Pajak)]
"Seratus dua puluh juta won..." Gua ngegandeng dagu pakai kedua tangan, natap angka itu kayak lagi natap musuh bebuyutan di kehidupan lalu. "Ini mah bukan sekadar mahal, tapi udah gak ngotak buat kantong orang kayak gua."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30.Reaktor purba
"Ji, ini gila! Ini bukan reaktor daya biasa!" Suara Jinho menggema di dalam ruang bawah tanah pabrik yang luas. Tangannya menari-nari di atas panel kontrol kuno yang dipenuhi debu tebal, mencoba membersihkan layar monitor tabung yang mulai berkedip hijau neon.
Gua berdiri di sampingnya, bersandar pada pilar besi sambil memperhatikan tabung kaca raksasa di tengah ruangan. Cairan hijau di dalamnya bergolak perlahan, memancarkan pendaran cahaya yang menyinari wajah kami berdua.
### **[SISTEM GAIA - KONSOL INTILAS KAMP]**
* **Struktur:** Pabrik Pengolahan Logam Berat (Tier 1)
* **Status Reaktor:** Mati Suri (Kapasitas Energi: 0%)
* **Bahan Bakar Diperlukan:** [Inti Energi Monster Tier 1] x5 ATAU [Baterai Sel Nuklir Kuno] x1
* **Efek Jika Aktif:** Mengaktifkan Pagar Setrum Otomatis, Menara Senapan Otomatis (Turret) Tier 1, dan Membuka Menu [Fasilitas Crafting Koloni].
"Kita punya lima inti energi dari serigala dan penjarah semalam, kan?" tanya gua sambil menepuk kantong *inventory* di pinggang.
"Ada, Ji! Pas banget lima biji!" Jinho buru-buru membuka slot generator di bawah tabung kaca. Sebuah lubang melingkar dengan mekanisme pengunci hidrolik terbuka, mengeluarkan uap dingin.
Gua mengeluarkan lima butir kristal merah redup—inti energi yang gua jarah dari kawanan *Mad Wasteland-Wolf* Level 4 kemarin—dan memasukkannya satu per satu ke dalam slot tersebut.
*KLIK. KLIK. BRRRRRRR!*
Begitu inti kelima masuk, pintu hidrolik menutup otomatis. Cairan hijau di dalam tabung raksasa mendadak mendidih brutal. Suara gemuruh mesin turbin tua terdengar dari balik dinding beton, menyebarkan getaran hebat yang merontokkan debu-debu di langit-langit.
*Ting!*
**[Sistem: Reaktor Daya Kamp Berhasil Diaktifkan!]**
**[Kapasitas Energi: 100% (Stabil untuk 72 Jam ke depan)]**
**[Pangkalan Anda kini resmi terdaftar di Sistem Gaia sebagai: 'Koloni Tanpa Nama' (Tier 1)]**
"Berhasil, Ji! Pagar setrum di luar udah nyala!" Jinho bersorak kegirangan melihat indikator di laptopnya berubah warna jadi hijau total. "Liat nih, menu *crafting*-nya juga kebuka semua! Kita bisa bikin tembok baja, sistem pengairan bersih, sampai ruang medis!"
Gua berjalan mendekati panel kontrol, menatap layar hologram koloni yang melayang di depan kami. Kegembiraan Jinho wajar, tapi insting bertarung gua justru menangkap sesuatu yang lain. Di dunia *survival* buatan Gaia ini, tidak ada keuntungan yang diberikan secara cuma-cuma.
Benar saja, sedetik kemudian, sebuah teks peringatan berwarna merah darah berkedip brutal di tengah layar hologram, diikuti oleh suara sirine bernada rendah yang berdengung langsung di dalam otak seluruh manusia di area distrik industri.
*Uuuuunggg... Uuuuunggg...*
**[PERINGATAN GLOBAL ZONAL – SISTEM GAIA]**
**[Pemicu: Aktivasi Reaktor Daya Tier 1 di Sektor 09 (Distrik Industri)]**
**[Konsekuensi: Pancaran radiasi energi memicu aktivitas bermigrasi kawanan predator bawah tanah.]**
**[Acara Koloni: 'Gelombang Monster Pertama - Pertahanan Pangkalan' akan dimulai dalam waktu 10 Menit!]**
**[Jumlah Musuh: 50+ Unit Monster Tier 1.]**
## Chapter 31: 10 Menit Sebelum Badai
"L-Lima puluh ekor?!" Jinho langsung lemas, memegangi kepalanya yang mendadak pening karena membaca notifikasi sistem. "Ji, kita baru aja beresin belasan orang amatir, sekarang sistem malah ngirim satu kompi monster?! Ini namanya pembersihan massal, bukan game!"
Gua menarik **[Bone-Eater]** dari sarungnya. Bilah pedang tulang itu bergetar tipis, mengeluarkan pendaran hijau yang kini tampak lebih terang setelah reaktor pangkalan dihidupkan. Seolah-olah senjata ini ikut menyerap energi dari sekitar.
"Tenang, Jinho. Lima puluh ekor monster tanpa otak itu jauh lebih mudah dibaca daripada lima penembak jitu yang punya taktik," ucap gua sambil berjalan menuju tangga naik ke halaman atas. "Lagian, kita punya keuntungan pangkalan sekarang. Manfaatin 10 menit ini buat bangun apa pun yang bisa menahan laju mereka."
Jinho buru-buru ngetik di keyboard-nya dengan kecepatan penuh, membagi poin logistik yang kami miliki dari hasil jarahan Faksi Iron-Fang semalam.
"Gua bisa rakit dua **[Automatic Turret Scrap (Tier 1)]** di depan gerbang utama pake duri baja dari serigala kemarin!" Jinho berteriak sambil berlari menyusul gua ke halaman. "Tapi amunisinya terbatas, Ji! Mereka cuma bisa nembak selama tiga puluh detik sebelum harus *reload* manual!"
"Tiga puluh detik udah lebih dari cukup buat memotong barisan depan mereka," gua melompat ke atas salah satu beton pembatas di dekat gerbang kawat berduri yang kini dialiri percikan listrik biru tipis.
Langit fajar yang tadinya merah keunguan kini perlahan menggelap, tertutup oleh awan debu hitam yang membumbung tinggi dari arah ujung jalan distrik industri. Suara geraman kolektif yang berat dan getaran tanah yang ritmis mulai terdengar dari kejauhan.
*GUGUGUGRRRRRR...*
Dari balik reruntuhan pabrik seberang jalan, bayangan-bayangan hitam mulai bermunculan. Jumlahnya terus bertambah hingga memenuhi jalanan aspal yang retak.
Bukan lagi serigala biasa. Kali ini, mereka adalah **[Tunnel-Crawlers]**—monster reptil bawah tanah berkulit keras mirip buaya dengan enam kaki pencakar dan rahang ganda yang bisa menghancurkan besi rongsokan dengan sekali gigit.
Gua berdiri tegak di atas beton pembatas, membiarkan angin malam yang tersisa menerbangkan jubah hitam gua. Mata emas gua berkilat tajam, mengunci pergerakan kawanan reptil Level 5 yang memimpin di barisan paling depan.
Gua memiringkan kepalanya sedikit, meraba hulu pedang *Bone-Eater* dengan ibu jari tangan kanan gua.
"Lima puluh ekor, ya?" Gua tersenyum lebar, seringai haus darah sang *Sword God Wanderer* kembali merekah di wajah gua di bawah tatapan ribuan drone pemantau Gaia yang melayang di langit.
"Jinho, aktifkan senapan otomatisnya pas mereka menyentuh jarak dua puluh meter. Malam ini... kita bakal bikin koloni ini terkenal sebagai tempat di mana monster bawah tanah berubah jadi tumpukan EXP."