Menikah atas keinginan orang tua merupakan sesuatu yang tidak di inginkan oleh siapapun termasuk Taka Sanjaya. Terlebih ia tidak tahu seperti apa bentuk perempuan yang di jodohkan dengannya. Ia merasa seperti membeli kucing di dalam karung.
Namun, apa jadinya jika kucing tersebut merupakan kucing anggora? Bagaimanakah kisah di antara keduanya?
Follow ig @wind.rahma
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wind Rahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Minta Pulang
Sejak makan malam di mulai, mama Hartati merasa memang ada yang berubah dari anak dan menantunya. Mungkin beliau memang perlu bicara dengan menantunya.
Namun, begitu Diba selesai makan, sebelumnya dia akan ikut membereskan bekas makan dan mencuci piring bersama asisten rumah tangga, tapi sekarang dia pamit lebih dulu untuk kembali ke kamar.
Taka hendak mencegah Diba, akan tetapi ia yang di cegah oleh mamanya.
"Biarkan saja dulu, nanti mama akan bicara sama Diba." Mama Hartati menahan putranya yang hendak beranjak menyusul Diba.
"Tapi, ma-"
"Percaya saja sama mama!"
Taka hanya bisa menghembuskan napas pasrah. Ia berharap jika semuanya segera membaik. Ia rindu Diba yang sedikit manja terhadap dirinya.
Setelah selesai makan, Taka segera naik ke lantai atas menuju kamarnya. Kebetulan adzan isya baru saja berkumandang. Lantas ia mengajak Diba untuk shalat isya berjamaah. Dia pun menurut.
Seperti tadi, usai shalat Diba langsung melipat mukena dan sejadah. Kemudian dia naik ke atas tempat tidur, membaringkan tubuhnya dan menarik selimut.
Taka menyusul dan duduk di tepi ranjang.
"Udah ngantuk, ya?" tanya Taka membuat kedua mata Diba yang semula sudah terpejam kini terbuka kembali.
"Iya," jawab Diba singkat.
"Cadar nya gak di lepas?"
"Biarin aja, aku dingin."
Taka hanya bisa menghembuskan napas kecil. Suhu dingin ruangan ini kalah dinginnya dengan sikap Diba. Taka mengambil selimut dan ia gunakan untuk menyelimuti tubuh istrinya.
"Biar hangat, sama sikapnya juga," ujarnya membuat Diba sedikit tersindir, sadar jika sikapnya pada sang suami dingin.
Taka bangkit berdiri dan beranjak dari sana. Melipat sejadah yang belum sempat ia lipat, meletakkan kopiah di dekat sejadah, serta melipat sarung yang ia pakai shalat.
Taka menoleh ke belakang, memastikan jika Diba sudah tidur atau belum. Ia kira Diba akan tidur, namun perempuan itu justru malah memperhatikan dirinya.
"Kenapa?" tanya Taka kemudian.
Diba hanya diam. Lalu Taka kembali ke tempat tidur, duduk menyandar di sisi kosong sebelah Diba. Diba mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang.
"Aku rindu sama ayah dan ibu, mas," ucap Diba tiba-tiba. "Besok aku mau pulang aja ke rumah ayah ibu," lanjutnya.
Taka menatap wajah Diba yang tertutup cadar lumayan lama.
"Iya, besok kita pulang ke sana. Nanti mas bilang dulu ke mama kalau kita gak bisa nginap di sini sampai papa pulang."
"Gak perlu, mas. Kamu tetap di sini aja, aku pulang sendiri aja. Gak apa-apa."
Kening Taka seketika berkerut dalam. Mana mungkin ia membiarkan Diba pulang sendiri dan tinggal di rumah orang tuanya, sementara dirinya pun tinggal di rumah orang tua sendiri dan secara terpisah.
"Gak bisa, Diba. Kalau Diba mau pulang ke rumah ayah ibu, mas juga ikit."
"Aku gak apa-apa, mas. Kasihan mama kalau sendiri di rumah. Setidaknya kamu temenin mama di sini. Khawatir terjadi sesuatu sama mama selama papa di luar kota."
"Mas gak bakal izinin. Dan Diba tahu kan kalau suami gak mengizinkan istrinya itu dosa?"
Diba terdiam. Seketika Taka merasa sedikit bersalah lantaran sudah mengatakan hal demikian seolah-olah ia seorang suami yang pintar agama. Namun memang kebenarannya seperti itu.
"Maaf jika mas melampaui Diba. Mas memang suami Diba, tapi mas gak sepintar Diba dalam ilmu beragama," ucap Taka kemudian.
"Mas benar, Diba akan dosa kalau membantah seorang suami. Maaf, Diba yang salah di sini."
Mendengar itu, Taka justru merasa semakin bersalah. Apakah Diba tersinggung oleh ucapannya?
_Bersambung_