Nada Aruna Lya seorang perempuan dewasa terpaksa menikah dengan Fardanu Satya Aji seorang bocah SMA hanya karena kesalahan satu malam yang tak sengaja mereka perbuat, mereka terpaksa terjebak dalam suatu hubungan pernikahan yang menurut Nada sangatlah absurd karena dalam kamusnya tak ada pernikahan dengan seorang laki-laki yang umurnya berada dibawahnya.
Akankah pernikahan mereka akan terjalin selamanya? Ataukah hanya sementara waktu?
"Gue enggak nyangka gue bisa nikahin bocah ingusan kayak lo!!" sentak Nada kesal, namun Danu hanya menatap Nada tenang seakan tak terpengaruh akan perkataan Nada yang mengejeknya.
"Bocah ingusan yang kamu bilang ini bisa memberikanmu kepuasan loh, apa kamu lupa?" Danu tersenyum menatap Nada yang kini melotot.
Penasaran dengan kisah mereka? Ayo dibaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Simiftahul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Gay?
Setelah melihat Danu sudah terlelap, Nada memutuskan untuk pergi keluar kamar. Namun belum sempat itu terjadi, suara dering ponsel milik Danu membuat Nada menghentikan langkahnya. Diliriknya Danu yang masih terlelap dan ponsel pria itu bergantian, tidak ada tanda-tanda bahwa Danu akan terjaga membuat Nada akhirnya memilih mengangkat telfonnya tanpa melihat siapa si penelfon. Dia bukannya lancang ya, hanya saja jika terus dibiarkan berdering Danu akan bangun nantinya. Kan dia kasihan, padahal pria itu baru saja mau istirahat. Lagipula sebagai seorang istri tidak ada privasi antara suami-istri, eh apa? Baru saja dia tadi mengakui kalau mereka adalah suami-istri? Astaga sepertinya bukan hanya Danu saja yang sakit melainkan dirinya yang saat ini sakit gila.
"Danu, lo pergi kemana? Selama semingguan ini lo gak masuk sekolah. Gue telfonin lo gak angkat-angkat, gue tanyain ke guru dia gak mau ngasih tau lo izin karena apa." Belum sempat Nada membuka suara, dari sebrang sana sudah mencercanya dengan suara tingginya.
Ini teman Danu lebay banget sih khawatirnya, mereka gak homo kan? Batin Nada sambil memutar bola matanya jengah dengan kelakuan ABG zaman sekarang.
"Hmmm, Danu saat ini sedang istirahat. Semingguan ini dia tidak sekolah karena masuk rumah sakit, jika ingin menjenguknya siang nanti saja ya..." Nada berkata setelah berdeham pelan.
"Lo siapa? Danu mana? Kok lo yang ngangkat telfon gue sih?" Suaranya itu terdengar sangat menyebalkan ditelinga Nada, awas saja ya kalau nanti ketemu orangnya.
"Gue kan bilang kalau saat ini dia lagi istirahat, gue istrinya. Kalau lo mau jenguk dia bareng teman-temannya yang lain agak siangan aja, dia lagi tidur!!" Tuut...
Karena kesal Nada langsung mematikan sambungan telfonnya setelah berkata dengan nada yang sedikit ketus, Nada heran deh sama tuh teman Danu. Sebegitu khawatirnya ya sama Danu, menanyakan statusnya segala lagi. Pagi-pagi begini sudah membuat Nada darah tinggi saja. Akhirnya Nada memutuskan untuk menonton televisi saja sambil menikmati cemilan ringan yang rutin dibeli oleh Bi Siti.
"Nyonya... Nyonya..." Suara Bi Siti membuat Nada yang tanpa sadar tertidur di sofa pun membuka kedua matanya dengan perlahan.
"Ada apa Bi? Hoaammm..." Nada menutup mulutnya ketika menguap, dilihatnya Bi Siti yang berdiri dihadapannya.
"Itu ada teman-temannya Tuan muda datang, dia ada diruang tamu." Sontak mata Nada langsung membuka.
"Terus Danunya mana Bi?"
"Tuan muda juga diruang tamu, tadi Bibi yang membangunkan." Bi Siti akan beranjak pergi mengantarkan minuman untuk teman-temannya Danu namun terhenti ketika Nada menahannya.
"Ada apa Nyonya?"
"Biar saya saja Bi yang mengantarkannya." Nada mengambil alih nampan itu.
"Tapi-..."
"Gak apa-apa Bi, Bibi lanjutkan saja pekerjaan didapur. Sekalian masak yang banyak untuk teman-temannya Danu juga ya Bi?" Bi Siti mengangguk dan berpamitan menuju dapur.
Nada menuju ruang tamu mengantarkan minuman untuk teman-temannya Danu, matanya membulat ketika melihat pemandangan didepannya. Bukan.... Bukan karena teman-teman Danu yang memiliki wajah tampan, melainkan ketika ia melihat ada seorang teman Danu yang menggelendot manja dilengan kanannya. Jika saja teman Danu itu berjenis kelamin perempuan, Nada pasti akan merasa biasa-biasa saja. Namun yang menggelendot manja itu jenis kelaminnya laki-laki, Nada terkejut? Jelas... Tentu saja. Apakah suami berondongnya itu gay? Terus itu pasangan gay-nya? Pikiran Nada terus berkecamuk hingga salah seorang diantara mereka menyadari keberadaannya.
"Ehmm ada istri lo tuh Dan..." Ucap seorang pria berseragam SMA dengan rambut sedikit pirang, Nada dapat melihat name tag didada kanannya. Namanya Adi.
Nada meletakkan minuman berwarna orange itu diatas meja, matanya tidak beralih menatap seorang pria berwajah tampan dengan tingkah yang sedikit kemayu tengah menggelendot manja pada Danu. Nada bergidik ngeri melihatnya, dia tidak mau ya kalau sampai Danu ketularan. Dia harus melakukan sesuatu, matanya beralih menatap Danu tajam. Seakan mengkode 'Lo bisa gak duduk jauhan sama teman lo itu? Jujur gue enek lihatnya.' Tapi memang dasarnya Danu itu mengesalkan dan menyebalkan, dia seakan tidak mendengar ucapan Nada.
"Ehmmm... Jadi kalian semua temannya Danu?" Tanya Nada memulai pembicaraan, tanpa disuruh dia duduk disalah satu sofa yang kosong. Semua yang disini bocah ini, kenapa dia harus sungkan dan merasa malu coba?
"Iya kita semua teman-temannya Danu dari SMP kami udah bareng-bareng." Nada menghitung keseluruhan teman Danu itu berjumlah lima orang, banyak juga ya.
"Bisa perkenalkan nama-nama kalian? Supaya gue bisa kenal juga sama teman-teman suami gue, eh kalian udah taukan status gue ini apa?" Semuanya mengangguk kecuali Danu dan pria kegenitan itu.
"Gue Adi, yang disebelah gue ini Feri, terus kalau yang rambutnya sedikit panjang ini Rio. Yang tampangnya acakan dan urakan itu Beni, dan yang lagi sama Danu itu namanya James..." Nada mengangguk-anggukan kepalanya, oh jadi namanya James. Yang nada ingat dengan jelas ya nama pria genit itu tadi.
"Teman lo itu normal kan?" Tanya Nada blak-blakan, bukannya tersinggung atau apa karena temannya sudah Nada katai mereka malah tertawa.
"Lo mikirnya begitu? Eh James tuh dengar apa yang dia omongin, makanya jangan terlalu dekat sama Danu." Adi menertawakan James yang kini merengut.
"Gue ini normal ya Tan, sembarangan aja ngatain orang." Sungut James merasa kesal, dia akhirnya melepaskan tangannya yang tadi menggelendoti lengan Danu.
"Wajar dong gue mikirnya begitu, di telfon sekhawatir itu sama laki gue. Terus waktu disini juga gelendotan manja juga, siapa yang gak bakal berpikir begitu coba?" Nada sudah bisa merasa rileks diantara teman-teman Danu.
"Gue kan kembarannya Danu wajar gue khawatir sama keadaannya terus kan gue kangen juga sama dia, ya gak apa-apa lah gue dekat-dekat dia Tante..." Nada tidak salah mendengarkan kalau bocah genit itu memanggilnya Tante?
"Barusan lo manggil gue apa? Coba lo ulangi!!" Pinta Nada gemas, dan tanpa merasa bersalah James kembali mengulangi ucapannya.
"Tante..." Nada yang merasa kesal pun menghampiri bocah genit itu.
"Adduhh Tan... S-sakit..." James berusaha melepaskan tangan Nada yang menjewer telinganya.
"Terus, panggil gue Tante... Biar hilang nih telinga lo sama tangan gue." Danu merasa kasihan melihat James dijewer sepert itu oleh istrinya, berbeda dengan teman-temannya yang terbahak melihat pemandangan yang tersaji.
"Yang udah dong, kasihan tuh telinganya James sampai merah gitu." Ucap Danu kasihan.
"Apa!!? Lo mau dijewer juga!!!?" Danu langsung kicep mendengar suara galak istrinya.
"Udah dong Tan... eh maksudnya Mbak, sakit ini..." Ringis James yang akhirnya membuat Nada melepaskan tangannya dari telinga pria itu.
"Gue gak nyangka istri lo bisa segalak ini Dan, lo emangnya betah tinggal sama dia?" James kembali memancing kekesalan Nada.
"Eh maksudnya gak gitu Mbak, hehe... Jangan dijewer lagi, sakit tau Mbak..." James segera meralat lagi ucapannya.