seorang wanita yang mencintai sahabat kecilnya, dia merelakan cinta pertamanya bersama dengan wanita pilihannya. dalam diamnya dia harus memendam perasaan yang teramat menyiksa, tapi cinta yang teramat besar dengan sahabatnya menjadikan dia harus mengorbankan semuanya untuk laki laki yang dia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sandiwara Neta dan Eric.
"kamu terlihat lelah hari ini, apa James membuatmu tidak nyaman lagi...?"
Pertanyaan Eric membuat Neta yang tadinya akan terlelap menjadi membuka kedua matanya, dia teringat kejadian bersama James di resto sesudah meting bersama klien.
"hmm ... Tidak juga, cuma James sudah tahu akan niat papa yang akan menjodohkan ku."
Eric sesaat menoleh ke arah Neta, dia ingin memastikan kondisi Neta saat ini.
"lalu... Apa dia tahu jika hubungan kita ini adalah sandiwara...?"
Perlahan Neta mengangukan kepalanya menjawab pertanyaan Eric.
"lalu... Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya, apa kita harus mengakhiri sandiwara ini Neta...?"
Neta masih diam, dia tahu jika Eric akan mengatakan hal seperti itu.
"aku berdalih jika hubungan kita bukan sandiwara, dan memang nyata. awalnya memang dia sudah curiga jika hubungan kita adalah sandiwara, tapi aku meyakinkan dia jika hubungan kita memang benar benar sepasang kekasih."
Kedua bibir Eric terangkat sempurna, dia tidak menyangka jika Neta akan meneruskan sandiwara ini.
"jadi, maksud kamu...? Kita teruskan sandiwara ini...? Begitu..?"
Neta menganggukan kepalanya, entah kenapa mendengar jika Neta akan meneruskan sandiwara yang mereka buat membuat hati Eric terasa berbunga.
"andai saja kamu tahu Neta, jika aku berharap suatu saat nanti kamu akan menerima ku menjadi kekasihmu. Ya... Aku sangat berharap kamu akan menerimaku menjadi satu satunya orang yang ada di hatimu."
Eric melihat ke arah Neta yang terlihat sudah akan berniat pulang, Neta yang menautkan tasnya di atas bahunya segera mendekat ke arah Eric.
"kita pulang sekarang...?" ucap Neta sambil menatap Eric.
"oke... Let's go beauty princes..." Eric berjalan beriringan di samping Neta.
Di tempat lain, James yang sedang mengemudikan mobilnya berniat akan pulang. Tapi dia mengurungkan niatnya, malam ini dia akan menemui Neta di apartemennya.
Mobil James yang baru saja masuk ke dalam basemen apartemen Neta segera dia parkirkan tak jauh dari pintu masuk menuju ke apartemen Neta, James sengaja tidak menghubungi Neta terlebih dahulu, dia berharap Neta sudah tiba di unit apartmentnya.
Gerakkan James yang akan keluar dari dalam mobil seketika terhenti saat melihat mobil Eric yang baru saja datang, James tahu dan hapal mobil yang di selalu di pakai Eric.
"ternyata kalian memang benar benar berpacaran, sial..."
James memukul stir kemudi, entah kenapa tiba tiba hatinya menjadi kesal melihat kemesraan Eric dan Neta.
"aku akan mengawasi kalian di dalam sini, jika kamu melakukan sesuatu yang tidak tidak dengan Neta, maka aku tidak akan segan lagi sama kamu Eric."
Tangan James terkepal erat, kedua matanya menatap lekat ke arah mobil Eric.
terlihat Eric turun dari mobil dia segera membukakan pintu samping tempat Neta berada, melihat pintu samping yang terbuka Neta segera turun.
Senyuman ramah dan penuh rasa terima kasih dia berikan ke arah Eric.
"terima kasih...." balas Neta sambil turun dari mobil Eric.
"sama sama tuan putri." balas Eric.
"aku langsung pulang ya...? tadi mama telpon katanya dia sudah sampai di rumahku, jadi maaf aku hanya bisa antar kamu sampai sini. Enggak apa apa kan...?"
Eric melihat ke arah Neta penuh dengan rasa sungkan, bisanya Eric akan mengantarkan Neta sampai ke depan unit apartemen milik Neta.
Tapi berhubung mama nya Eric akan datang ke rumah Eric, dia hanya bisa mengantarkan Neta sampai di basemen.
"tidak apa apa, nitip salah aja sama mama kamu ya."
mendengar ucapan Neta entah kenapa hati Eric seakan menghangat, seakan dia sedang mendapat isyarat jika Neta perlahan akan membuka hatinya untuk Eric.
"pasti Neta... Pasti akan aku sampaikan, aku kan bilang ke mama. Dapat salam dari calon mantu."
Senyum Eric terlihat lebar, Neta yang melihat gurauan Eric sampai memukul lengan Eric kencang, sampai Eric mengadu kesakitan.
"aduh..." ucap Eric berpura pura merasakan sakit.
"sakit ya...?" Neta mengelus lengan Eric dengan lembut, dia merasa bersalah karena sesudah menyakiti laki laki tampan yang ada di hadapannya.
"sakitnya langsung kamu obati kog, jadi enggak sakit lagi."
Neta tersenyum malu malu mendengar gombalan dari Eric, mereka terlihat seperti ABG yang sedang kasmaran jika di lihat dari kejauhan.
"aku pulang dulu ya, kamu hati hati jalan sampai depan apartemen kamu."
Tangan Eric terulur mengelus rambut halus milik Neta, sedang Neta yang mendapatkan perlakuan lembut dari Eric merasakan kenyamanan.
"hmm... kamu juga hati hati di jalan." ucap Neta sambil melambaikan tangannya ke arah Eric yang akan pergi meninggalkannya.
Tanpa Neta dan Eric sadari, James yang dari melihat interaksi Neta dan Eric tampak semakin kesal. Dia kesal melihat Eric memperlakukan Neta dengan sangat lembut dan penuh perhatian, seakan James merasa jika Eric adalah saingannya.
"sial..." batin james sambil mencengkram stir kemudinya.
Neta berjalan pergi menuju ke arah pintu masuk apartemen, beruntung Eric memarkirkan mobilnya tepat di lantai tempat unit apartemen Neta.
James yang melihat Neta segera keluar dari mobil dan mengikuti Neta dari belakang, Neta yang tidak menyadari jika dia tengah di ikuti James berjalan tanpa rasa takut dan canggung.
jemari Neta perlahan menekan tombol di pintu smart door miliknya, dia segera masuk tanpa mengetahui jika James ada tepat di belakangnya.
Saat Neta akan menutup pintu apartemennya, dengan segera James mendorong pintunya dengan sekuat tenaga.
"hai...!!! James, apa yang kamu lakukan...?"
Tanya Neta terkejut melihat James yang tiba tiba datang tanpa memberitahunya terlebih dulu.
"kita perlu bicara Neta ..?"
James segera masuk dan segera menutup pintu rapat, jantung Neta terasa berdetak dengan cepat, keringat dingin tiba tiba keluar dari pelipisnya. Nafasnya seakan semakin tercekat, melihat sepertinya James sedang tidak baik baik saja saat ini.
"kita bisa bicara besok James, tidak harus sekarang bukan...? Aku capek James, aku ingin segera istirahat."
James tidak mempedulikan ucapan Neta, dia terlalu kesal melihat kemesraan Neta dengan Eric tadi saat di basemen.
"kita perlu bicara Neta."
James segara menarik lengan Neta, dia segera mendudukan Neta di sofa yang ada di ruang tengah.
"James, sakit tahu.."
Neta merintih kesakitan, merasakan lengannya yang di cekal erat oleh James. Neta merasa jika laki laki di depannya bukanlah James yang dia kenal, James terlalu kasar untuk saat ini.
melihat ringisan dari Neta, James segera melepaskan tangannya. Dia tidak mengatakan maaf atau apapun seperti kebiasaannya dulu waktu melihat Neta sakit karena ulahnya.
"apa mau mu James, apa yang kamu inginkan sampai kamu memperlakukanku kasar seperti ini...?"
Neta berseru, dia tidak peduli jika James bertambah kesal setelahnya.
James menatap Neta, tangannya kembali terulur memegang lengan Neta yang tampak merah karena ulahnya tadi.
"maaf Neta... Maaf... aku telah menyakitimu."
James menarik lengan Neta yang terlihat memerah, dengan perlahan dia mencium lengan yang telah dia sakiti tadi karena tarik kannya.
Merasakan sentuhan bibir James, kedua mata Neta membola. Dia terkejut melihat respon James yang tidak seperti biasanya.