"Gak bisa begini. Pokoknya, bagaimana pun caranya, aku harus dapetin perempuan ini dan jadiin dia istriku. Harus!" gumam Ryu dalam hati penuh tekad.
***
"What's!? Kenapa sih ni Dosen satu maksa banget buat gue mau terima dia buat jadi pacarnya!? Aih.." gerutu Arin dalam hati.
***
Lalu, sebenarnya apa sih yang sudah terjadi pada mereka?
Kita coba baca yuk..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Friska Nanda Raisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sedikit lagi
Keesokan harinya, Tania memutuskan untuk pulang. Namun siapa sangka, saat di tengah perjalanan, dia lagi-lagi...
'Bruk'
Saat itu dia terjatuh karena bertabrakan dengan seseorang.
“Elo!?” ucapnya yang baru sadar kalau yang bertabrakan dengan orang yang selalu dia sebut sebagai orang gila.
“Elo!?” ucap Yuke.
Keduanya pun berusaha untuk berdiri dan membersihkan pakaiannya yang sempat kena kotoran.
Karena sedang merasa suasana hati sedang buruk dan Tania pun ingin sekali cepat pulang, membuat dia melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan Yuke.
Yuke yang melihat ini pun kemudian berteriak, “Hei! Lo tanggung jawab woi udah nabrak gue.”
Walau sudah diteriaki seperti itu oleh Yuke, Tania masih saja terus berjalan melanjutkan langkahnya. Hingga membuat Yuke akhirnya memutuskan untuk mengejar Tania dan menarik tangannya.
Tania yang ditarik tangannya ini pun sontak membuat tubuhnya tertarik mundur dan kemudian berhenti dan kemudian menghadap ke arah Yuke.
Karena merasa tidak suka diperlakukan seperti ini, Tania pun bertanya, “Lo ini mau apa sih?”
“Mau gue apa!? Lo tanya maunya gue apa!? Cih. Gue minta buat tanggung jawab lha. Masa’ lo mau kabur gitu aja!?” ucap Yuke.
“Dih, sembarangan aja kalau ngomong. Siapa juga yang nabrak lo tadi. Yang ada malah lo kali yang nabrak gue,” ucap Tania sewot.
Dua-duanya pun saling membuang muka hingga akhirnya Tania ingat kalau Ryu jadi dosen di kampus yang sama dengan perempuan ini (Yuke).
“Eh, lo kenal Ryu?” tanya Tania.
Yuke pun terdiam sejenak untuk berpikir. Dia mencoba mengingat-ingat sepertinya dia pernah mendengar nama tersebut tapi lupa di mana.
Hingga sesaat kemudian...
“Ryu Ardian?” tanya Yuke tiba-tiba mencoba memastikan.
“Aaaaah.. iya iya itu. Lo kenal?” tanya Tania.
“Ya dibilang kenal sih enggak, tapi kalau dibilang gak kenal juga sebenarnya kenal,” sahut Yuke.
Mendengar ucapan Yuke, Tania pun memicingkan matanya dan kemudian bertanya, “Maksud lo gimana sih?”
“Maksud gue!? Ya maksud gue, gue itu gak begitu kenal dengan Pak Ryu. Tapi gue tahu kalau dia itu bos di tempat kakak tiri gue kerja,” jelas Yuke.
“Tempat Kakak tiri lo kerja!? Emangnya siapa Kakak tiri lo yang kerja sama Ryu?” tanya Tania kepo.
“Oh. Nama Kakak tiri gue itu Arin. Emangnya kenapa?” tanya Yuke balik.
Betapa terkejutnya Tania setelah tahu kalau ternyata dia sudah bertemu dengan Adik tiri Arin.
“Ja—jadi lo itu Adik tirinya si Arin itu?” tanya Tania dan diangguki oleh Yuke.
“Oh. Tapi kenapa bisa si Arin itu bekerja di tempat Ryu?” tanya Tania menyelidiki.
Yuke pun terdiam sejenak dan kemudian menjawab, “Dia kerja di sana kan untuk bayar hutang.”
“Apa!?” teriak Tania.
Yuke pun mengangguk dan Tania pun bergumam, “Jadi dia kerja jadi pembantu untuk membayar hutang? Cih. Belagu sekali. Udah hutangnya banyak, hamil anak gak jelas pula. Gitu mau coba-coba ingin jadi nyonya Ryu. Benar-benar gak tahu diri.”
Yuke yang ternyata masih bisa mendengar gumaman Tania ini pun akhirnya berkata, “Tunggu. Kalau gue gak salah dengar tadi, lo bilang hamil, Nyonya Ryu. Maksudnya?”
Melihat dari cara Yuke merespons, sontak membuat Tania langsung berkata, “Jangan bilang lo gak tahu soal itu deh. Lo kan Adik tirinya.”
Yuke pun untuk sesaat terdiam dan kemudian tak lama setelah itu dia berkata, “Kalau untuk masalah hamil dan ingin jadi nyonya rumah, gue gak tahu. Tapi kalau untuk penyebab kenapa dia bisa hamil, rasanya gue tahu.”
“Maksudnya!? Apa lo tahu siapa Ayah dari anak dalam kandungan Arin?” tanya Tania.
Yuke pun menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Gue gak tahu soal siapa Ayah dari anak itu. Soalnya waktu itu aku hanya memberinya obat perangsang dan menaruhnya di sembarang salah satu kamar hotel. Karena kebetulan waktu itu gue punya teman yang bekerja di hotel tersebut yang bantu gue dapetin kunci kamar salah satu penyewa.”
Saat mendengar penjelasan Yuke, Tania pun terdiam sejenak dan kemudian untuk memastikan sesuatu, Tania pun bertanya, “Jadi lo lakuin itu tanpa tahu siapa orang yang menginap di kamar tersebut?”
Yuke pun mengangguk dan Tania pun akhirnya kembali berkata, “Hei, lo bisa anterin gue ke temen yang ada di hotel itu gak?”
“Mau apa lo mau ketemu dia?” tanya Yuke.
“Ya gue mau cari tahu lah, siapa tamu yang menginap di kamar itu dan melakukannya dengan Arin. Masa’ lo gak mau tahu juga?” tanya Tania.
Yuke pun terdiam sejenak berpikir. Hingga akhirnya dia pun berkata, “Ok. Gue anterin lo ketemu dia.”
“Bagus. Ayo kita pergi sekarang,” ucap Tania.
Tania yang tadinya hendak pulang dan mengadu pada orang tuanya ini pun akhirnya mengurungkan niatnya tersebut dan kemudian pergi bersama Yuke.
Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, akhirnya mereka pun sampai di sebuah hotel.
Namun sebelum itu, Yuke pun menghubungi temannya terlebih dahulu untuk memberitahukan kalau ada yang ingin bertemu dengannya.
Karena sudah diberi tahu, tanpa menunggu keduanya masuk ke dalam hotel, orang tersebut pun sudah terlebih dahulu menunggu mereka di pintu masuk hotel.
“Ah. Itu dia teman gue yang waktu itu,” ucap Yuke sambil menunjuk ke arah seorang pria yang sedang berdiri di depan pintu masuk hotel.
Dengan segera keduanya pun menghampiri pria tersebut.
“Kak, udah nunggu lama ya?” tanya Tania.
“Gak juga kok,” sahut orang tersebut.
Karena merasa tidak enak jika harus mengobrol di depan pintu masuk hotel, orang tersebut pun akhirnya berkata, “Ayo kita sekarang pergi ke kafe aja buat ngobrol.”
“Ayo, Kak,” sahut Yuke yang kemudian mereka pun langsung segera pergi ke kafe yang dimaksud.
Setelah beberapa saat kemudian, mereka pun sampai dan kemudian langsung mencari tempat duduk yang nyaman untuk mengobrol.
Setelah dapat, Yuke pun akhirnya...
“Kak, kenalin. Ini teman aku,” ucap Yuke sambil menunjuk ke arah Tania.
“Tania,” ucap Tania memperkenalkan dirinya.
“Sion,” sahut Sion yang juga memperkenalkan dirinya.
Dengan tanpa membuang waktu, Sion pun bertanya, “Lalu apa alasan kalian mencariku?”
“Gini, Kak. Kakak ingat gak tentang kejadian beberapa waktu yang lalu yang aku minta Kakak memberikan kunci salah satu kamar penyewa hotel untuk Kakakku?” tanya Yuke.
Sion pun terdiam sejenak dan kemudian bertanya, “Iya. Aku ingat. Lalu ada apa dengan kejadian saat itu?”
“Hmm Kak, kalau boleh tahu siapa penyewa kamar itu, Kak?” tanya Yuke.
Untuk sesaat Sion pun terdiam sambil memandangi kedua perempuan yang ada di hadapannya itu. Hingga beberapa saat kemudian, tanpa menjawab terlebih dahulu pertanyaan Yuke, Sion pun terlebih dahulu bertanya, “Memangnya kenapa kamu ingin tahu siapa orang itu?”
“Hmm i—itu,...”
Yuke bingung bagaimana cara menjawabnya hingga kemudian di saat yang bersamaan...
“Kami hanya ingin memastikannya saja. Karena Kakaknya sekarang itu sedang hamil dan dia harus tahu siapa Ayah dari anak dalam kandungannya,” ucap Tania mengambil alih jawaban.
“Oh begitu alasannya. Baiklah. Sebenarnya penyewa kamar yang waktu tersebut itu bernama,...”
Bersambung...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu
Tingkahmu melebihi majikan yang menggajimu.
ap gk ad cctv to dirumahmu ryu biar kamu tau perlakuan weni ke arin tu kek gimana
lanjut
lanjut
lanjut
lanjut