Luna Heart namanya, cantik, sexy dan cerdas. Dibesarkan oleh keluarga kaya semenjak dia ditemukan di depan pintu rumahnya. Semenjak orang tua angkatnya meninggal dia mulai ditindas, diusir, bahkan dibunuh. Tuhan maha besar, dia ditemukan masih bernafas oleh seorang ibu. Kebaikan ibu ini dia tebus dengan cara menjual dirinya ke kota.....
Hallo reader, ini karya baruku. support ya, dalam bentuk, like, comment, gift, vote....trimakasih love you all ♥️♥️♥️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERDAMAI DALAM HATI
Dengan kesal aku duduk di tepi tempat tidur, tatapanku sinis kepada Yudha, aku tahu ini akal-akalannya. Apa dia tidak ada empaty sedikitpun, tidak punya perasaan melihat hasil perbuatannya? aku sekarang melendung. Hidupku hancur, masa depan suram, dia telah membunuh karakterku.
"Lunaa, aku minta maaf atas segala perbuatanku waktu itu. Kau boleh laporkan aku ke polisi, kau boleh pukul aku atau spapun yang kau lakukan aku terima."
"Aku wanita beradab dan punya toleransi yang tinggi terhadap sesama. Aku tidak pernah memandang Ras, Suku, Kasta, aku hidup apa adanya. Aku juga tidak mungkin membuang waktu untuk melaporkanmu ke kantor polisi atau mencelakaimu. Aku cuma minta biarkan aku berjalan dengan kesendirianku, menyongsong takdirku, aku akan tabah walaupun caraku membunuh hatiku." kataku pelan, tanpa terasa air mataku bergulir jatuh, aku sangat rapuh.
"Maafkan aku sayank...." Yudha berlutut di kakiku. Pria ganteng itu mencium kakiku. Aku merasakan air matanya jatuh membasahi kakiku.
"Bangunlah, semua ini telah terjadi. Aku cuma berpesan jangan berbuat ini kepada wanita lain. Cukup aku menjadi korbanmu."
"Tidak mungkin aku mesum dengan wanita manapun karena aku sakit. Hanya dengan kamu saja aku bisa melakukan."
Aku terduam sambil menghapus air mataku. Tidak tahu harus ngomong apa, tiba-tiba lidahku kelu. Dalam hati aku sudah memaafkannya.
"Luna, aku mohon untuk malam ini kamu nginap disini. Bibi pasti kangen sama kamu."
"Tidak bisa, tante akan khawatir denganku."
"Kasihan bibi yang menantimu tiap hari." kata Yudha berharap. Aku jadi serba salah, lalu berpikir sesaat."
"Ya aku akan menemani bibi." jawabku.
Aku dengar Yudha menarik nafas, aku tidak peduli terhadap perasaannya. Mungkin saja dia senang aku tetap berada disini.
"Trimakasih...atas kesediaanmu mau mengerti perasaan bibi yang sebatang kara, siapa lagi yang sayang sama dia kecuali kita."
"Aku mau bertanya tentang Dirga, apakah benar yang Dirga bicarakan?"
"Aku tidak tahu secara detil apa yang dia bicarakan. Tapi apapun itu aku tidak peduli, aku hanya ingin tidak terganggu itu aja."
"Sayank, aku menghormati apapun keputusanmu, jika kamu butuh sesuatu telpon aku. Semua yang aku punya untuk kamu dan anak kita."
"Aku tidak butuh apapun dari kamu, aku ingin sendiri."
"Aku akan keluar, supaya bibi yang menemanimu." kata Yudha keluar dari kamar.
Aku diam tidak bergeming dan pindah duduk di sofa. Bibi masuk ke dalam membawa jus dan beberapa camilan.
"Nona harus banyak minum jus, supaya janinnya sehat." kata bibi menyodorkan jus kepadaku.
"Bibi, aku tidak tahu harus bagaimana lagi mengatakan supaya Yudha tidak mengganggu hidupku lagi. Aku capek dan bosan."
"Nona, maafkanlah perbuatan tuan, bagaimanapun dia adalah ayah dari calon bayi nona. Manusia itu tidak ada yang sempurna, ada kekurangan dan kelebihan." suara bibi halus menyentuh hatiku.
"Tuan sangat mencintai nona, waktu nona pergi tiap hari tuan dan bibi mencari nona keliling. Tuan juga sering menangis menyesali nasibnya."
Perlahan kebekuan hatiku mencair, aku bimbang, rasa kasihan kepada Yudha menyelinap dalam hati kecilku. Aku coba menepisnya dan mendoktrin pikiranku supaya tetap membenci Yudha. Aku memilih single parent dari pada usapan kasih lelaki beristri.
"Sayank...ada telpon dari tante dan temanmu." Yudha masuk ke kamar lalu menyodorkan handphone ku.
"Hallo tante....."
"Sayank kamu dimana, kamu tidak apa-apa khan?!" suara tante terdengar cemas.
"Ponselku sudah ketemu, sekarang aku lagi bersama bibi. Mungkin malam ini aku nginap sama bibi. Tidak apa-apa khan tante?!"
"Tidak baik nginap di rumah orang sayank, apalagi dalam keadaan hamil."
"Tapi..ta..pi...."
"Bibi yang bicara non...." bibi memotong dan mengambil ponselku.
"Hallo nyonya, perkenalkan saya bibi nya nona Luna, saya minta izin supaya nona bisa nginap semalam saja untuk mengobati rindu saya. Saya juga minta maaf apabila selama ini banyak kekurangan dan tidak bisa memuaskan hati nona Luna."
"Bibi kami sangat bertrimakasih atas pertolongan bibi kepada anak saya. Jika bibi tidak keberatan izinkan saya bemberi sekedar tali kasih saya kepada bibi, tolong nomer rekening bibi."
"Tidak usah nyonya, semua yang saya lakukan atas dasar kemanusiaan. Satu saja saya minta izinkan nona Luna tidur sama saya malam ini."
"Kami izinkan, asal besok pagi sudah pulang."
"Ya nyonya, besok sekitar jam 10 pagi nona sudah pulang."
Setelah berbasa basi tante akhirnya mengizinkan aku menginap di rumah Yudha. Tentu aku tidak mengatakan bahwa rumah ini adalah rumah Yudha. Aku merasa tante dan Dhevalee tidak percaya padaku.
"Habisin jus nya, cuci kaki dan tidur." pesan bibi lalu keluar.
"Bibi cepat balik ya..." kataku memegang tangannya.
"Bibi membersihkan dapur dulu, kalau sudah rapi bibi kesini lagi. Tapi kalau nona mengantuk tidur saja duluan."
"Ya bi..."
Setelah menghabiskan segelas jus dan setangkep roti aku mulai mencuci wajah di wastafel. Bibi terasa lama di luar. Aku merebahkan tubuh di ranjang. Bau khas tubuh Yudha tercium di bantal, aroma musk. Tanpa sadar aku senang mencium bau maskulin itu, mungkin bawaan bayi.
"Sayank sudah tidur, aku bawa sikat gigi lho." Yudha kembali masuk.
"Aku sudah ngantuk.." sahutku dengan mata terpejam.
"Tidurlah aku akan tidur di sofa menjagamu." kata Yudha, tapi dia tidak pindah ke sofa. Dia malah mengganti pakaiannya dengan piyama.
Setelah mengunci pintu dia rebahan di sampingku. Aku membiarkan karena sangat ngantuk, mataku sulit melek.
Perlahan aku merasa tangan Yudha melingkar di pinggangku dan perlahan mengelus perutku. Tangan itu mulai lincah bersilancar ke atas perutku.
"Aku ngantuk....." desisku pelan, mau menepis tangannya aku tidak mampu. Lemas sekali tanganku.
Aku membiarkan ketika Yudha mulai beraksi, bibirku di ***** habis sampai aku sulit bernafas. Sungguh aku tidak mengerti kenapa malam ini aku sangat menikmati apa yang disuguhkan oleh Yudha. Aku seolah terlontar ke awan ketika dia menggumuliku. Bibir sexy ku hanya bisa melenguh di puncak nikmat.
"Tidurlah sayank....." katanya lembut setelah beberapa ronde terlewati. Aku berdamai dalam hati dan kepalaku menyusup di dadanya yang bidang. Nyaman sekali. Dia mencium keningku dan membelai rambutku.
Apakah ini yang aku cari? penyerahan diri seutuhnya dan lebur menjadi satu menciptakan kenyamanan. Yudha memelukku erat dan mencium rambut dan keningku berulang kali.
"Kau adalah mutiaraku, cintaku, jangan tinggalkan aku sayank." bisiknya lembut.
"Hemm....." tidak tahu aku harus bagaimana menjawabnya.
"Aku ingin menikahimu supaya anak kita mempunyai orang tua utuh."
"No comment.."
"Tidak usah dijawab sekarang, aku sabar menunggu. Trimakasih ya sayank kamu mau memaafkan ayah dari anak kita. Aku sangat bahagia....."
"Semoga anak kita sempurna dan lahir dengan lancar. Jika orang tuanya bahagia anak dalam kandungan pasti ceria dan sempurna." sambung Yudha lagi menggiring pikiran Luna supaya mau menerimanya secara utuh. Dia juga mengatakan hal-hal tabu yang bisa membuat anak menjadi sehat dalam kandungan.
Tentu semua itu ajaran bibi yang sudah berpengalaman. Bibi memperalat Yudha supaya bisa memperistri Luna. Dia ingin membalas dendam kepada Hanun yang telah menyiksanya dan memperbudaknya seumur hidup. Hanun yang meracuni jabang bayinya.
*****
semangat
makasih
sukses