Mengorbankan cinta untuk sahabat?
Cintanya pada seorang laki-laki ia pertaruhkan demi kesembuhan sahabat yang menderita depresi.
Bisakah Salma mengikhlaskan Doni hidup bersama Esti. Atau mereka akan tetap bersatu dengan cinta mereka?
Temukan jawabannya di Biarkan Ku Mengalah cerita yang seru dan mengharukan tapi ga usah baper. Happy reading💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 Cemburunya Esti
Esti berjalan sangat cepat, ia tidak menghiraukan teriakan suaminya yang mengejarnya menggunakan motor. Motor berjalan perlahan mengimbangi langkah kaki yang terus bergerak melintasi jalan.
"Tunggu dek. Ayo naik sini, ga boleh jalan terlalu cepat dek kasihan Dede bayi di perutmu. Nanti kecapean dia."
"Apa pedulimu pada kami hah! Kenapa ga kau antarkan orang yang spesial di hatimu itu, bukankah kamu sangat mengkhawatirkannya?" Ucapnya sengit.
"Oke...oke ...aku akan jelaskan semuanya, tapi tolong hentikan langkahmu!" Teriak Doni masih duduk di atas motor. Esti menangis sambil mengusap air matanya dengan kasar, ia terus berjalan tidak peduli banyak orang yang memperhatikan mereka.
"Ga ada yang perlu dijelaskan lagi semuanya sudah jelas dan aku sudah melihat dengan mataku sendiri. Live gratis kalian mempertontonkan kelakuan kalian di depan mataku!" Setiap kali Esti menjawab langkahnya terhenti matanya menatap sengit Doni yang berada di atas motor. Doni menghentikan motornya jika Esti menghentikan langkahnya. Esti melanjutkan jalannya sambil berlinang air mata. Doni masih menghentikan motornya. Tak ada gunanya memberikan penjelasan pada Esti Sekarang karena kondisinya saat ini sedang kacau. Ia memperhatikan Esti dari kejauhan. Ia membuntuti istrinya secara perlahan. Dan memastikan Esti pulang ke rumah dengan selamat.
Doni memarkirkan motornya di teras rumah yang baru mereka tempati beberapa bulan yang lalu. Kemudian mengunci pintu pagar rumahnya. Rumah sangat sederhana type 21 hanya ada 2 kamar tidur, ruang tamu, 1 kamar mandi, dan dapur. Di teras terdapat tanaman seadanya, 1 meja dan dua kursi. Doni tidak langsung masuk rumah, ia duduk di teras sambil menghela nafasnya....ia memijit pelipisnya terasa pening menghadapi istrinya yang sedang dilanda cemburu pada sahabatnya sendiri. Ia mencoba memikirkan cara menghadapi istrinya yang masih kacau, atau jangan-jangan obat yang seharusnya Esti konsumsi setiap harinya sudah habis sehingga Esti menjadi tidak tenang dalam menghadapi suatu masalah? Jika memang benar maka mau tidak mau Doni harus ke RSJ lagi untuk konsultasi dan menebus resepnya. Doni pun masuk ke dalam kamar setelah mengingat penyediaan obat - obatan yang disimpan di laci meja rias.
"Alhamdulillah masih ada tinggal satu, dua, tiga, empat. Masing-masing obat tinggal empat butir cukup untuk empat hari." Gumamnya. Terlihat Esti sudah terlelap tidur kemungkinan kecapean dan kelelahan karena sudah berjalan cukup jauh. Sisa air mata masih terlihat di wajahnya. Dipandanginya wajah cantik istrinya lalu mencium kening istrinya sambil bergumam
"Maafkan aku sayang"
-
-
Salma enggan untuk keluar pagi ini. Seharian ini ia tak ingin kemana-mana. Di rumah saja sambil menulis novel yang baru dikontrak beberapa Minggu lalu, Salma juga kerap mengikuti lomba penulisan novel online namun tak pernah nyangkut jadi juara. Bagi Salma tidak masalah . Karena menulis novel adalah sebuah hobi maka yang diutamakan adalah bagaimana ia menyenangkan para fansnya agar selalu update setiap harinya. Imajinasi yang kreatif sangat diperlukan sebagai pendukung dalam pembuatan suatu karya.
Tok
Tok
Tok
"Teh Salma....di bawah ada tamu!" Suara di balik pintu kamar menghentikan aktivitasnya dalam menulis novel . Salma membuka pintu kamarnya lalu bertanya pada adiknya yang berjalan menuju kamar mandi
"Siapa dek?"
"Kak Doni dan istrinya" Jawabnya singkat. Salma langsung beranjak ke bawah menemui tamunya.
Di sofa sudah duduk sepasang suami isteri. Di meja tamu sudah tersaji dua cangkir teh dan dua toples kue.
Esti yang melihat Salma langsung berhambur memeluk Salma sambil menangis minta maaf. Salma meminta jawaban Doni dengan memberi isyarat kepala dan dagunya, kenapa Esti jadi menangis seperti ini?
Doni hanya mengangguk sambil berkedip tanda membiarkan Esti mengakui kesalahan yang sudah ia lakukan. Cukup lama Esti berada dalam dekapan Salma, sampai ia melepaskan diri kemudian sesenggukan sambil berkata
" Maafkan aku Sal, aku salah sudah berburuk sangka tentangmu. Aku salah menilaimu. Aku egois aku....." Salma bergeming tak bisa berkata namun ia langsung membawa tubuh Esti ke dalam pelukannya lagi.
"Aku sudah memaafkan mu. Aku sudah melupakan kejadian semalam. Aku berharap yang harus kau pikirkan adalah. Kesehatanmu dan janinmu. Jangan pikirkan aku. Dan ingat Aku dan Doni hanya sahabat tidak boleh ada yang mengubah itu."
"Iya Sal terima kasih. Kamu memang sejak dulu pemaaf tak peduli sesakit apa dirimu diperlakukan orang semoga kamu mendapatkan laki-laki yang begitu baik padamu" Esti mengusap air matanya perlahan.
-
-
Semalam Esti terbangun begitu melihat suaminya sudah pulang. Ia terdiam seolah minta penjelasan dari suaminya terkait hal yang ia lihat di taman.
Doni duduk di kasur berhadapan dengan Esti.
"Bukan Salma yang menghubungiku tapi aku yang menghubunginya. Ia terdengar menangis tertahan saat kuhubungi. Dan aku kaget ketika dia mengatakan kalau dirinya tengah berada di kantor polisi. Dia terkena musibah dia dilecehkan oleh seorang laki-laki di angkutan umum. Aku ke sana ingin menenangkannya karena di sana tidak ada seorang pun yang menemaninya. Dia tidak menghubungi siapapun terkait itu karena dia tidak ingin orang terdekatnya khawatir. Jadi tolong kamu jangan pernah menilai rendah Salma. Ia sudah sangat baik pada kita sehingga kita bisa menikah. Dia mengorbankan perasaannya hanya untuk sahabatnya Ia tidak pernah memikirkan dirinya padahal saat itu ia pun dituntut untuk segera menikah. Tapi ia tidak egois ketika ibumu memintanya membujukku agar mau menikah denganmu. Dek kita sudah ditakdirkan untuk hidup bersama jadi tolong jangan kau curiga lagi pada Salma. Sampai kapan pun Salma tidak akan pernah mau hidup bersamaku karena aku milikmu. Kamu paham?" Doni berkata lembut. Esti menunduk rasa bersalahnya pada Salma membuatnya ingin menemui sahabatnya untuk meminta maaf.
Untuk menyelesaikan suatu masalah rumah tangga harus bisa diselesaikan dengan kepala dingin sehingga keduanya bisa saling introspeksi dan menyadari kesalahan masing-masing dan pada akhirnya kata maaf harus diucapkan dengan tulus sebagai kata keramat agar hubungan tetap harmonis.
-
-
-
Selanjutnya Salma meminta keduanya untuk sarapan bersama karena memang ia sendiri belum makan.
Ibunya sudah menyiapkan menu spesial setiap paginya yakni nasi goreng terasi. Dari harumnya saja sudah menggugah selera. Mereka pun makan dengan suka cita menikmati kenangan persahabatan saat mereka masih belum menikah. Sekarang hanya Salma lah yang belum mendapatkan jodoh.
Doni dan Esti yakin Salma akan mendapatkan jodoh yang terbaik. Mereka berharap setelah wisudanya Salma tidak hanya wisuda di kampus tapi dia juga bisa wisuda di KUA.
Semuanya hanya Allah yang akan memberikan hadiah istimewa untuk seorang Salma. Karena orang baik-baik akan mendapatkan yang terbaik untuk dunia maupun akheratnya.