CEO GILA, begitu julukannya. Karena usianya yang 27 tahun dan belum menikah tapi super duper galak garang, suka memaki sembarang dengan kata-kata toxic nyelekit.
Namanya Andre Wiguna Dharma, seorang CEO Perusahaan Keramik Asia Tile.
Kehidupan yang menurutnya penuh kepalsuan jauh dari cinta tulus, membuatnya tidak percaya pada cinta. Ditambah lagi dia pernah mencinta seorang gadis di usia 17 tahun, tapi ternyata kandas sebelum kapal berlayar. Membuatnya hanya menganggap cinta seperti permainan.
Hingga suatu ketika, ia bertemu kembali dengan cinta pertamanya yang ternyata telah menikah. Dan ternyata suami Naysila adalah seorang office boy di perusahaan besarnya.
Akankah permainan cintanya berhasil kali ini?
Atau... Andre harus gigit jari karena Naysila lebih memilih Rendra sebagai cinta sejatinya?
Ataukah Tuhan akan memberinya jalan agar Naysila menjadi Takdirnya di masa depan?
Mari kita ikuti kisah Sang CEO GILA : Mencintai Istri
🙏🙏🙏Mohon dukungannya, please🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AMY DOANK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 (Nasehat CEO GILA)
Naysila...! Maaf! Aku melakukan hal gila diluar kendaliku!
Rendra duduk termangu memikirkan kebandelan yang tidak pada tempatnya.
Ia adalah pria bersuami. Memiliki seorang istri yang cantik dan satu anak perempuan berusia delapan bulan.
Usia pernikahan mereka memang sudah tujuh tahun, tetapi Naysila baru mengandung setelah lima setengah tahun pernikahan dan putri mereka kini sedang lucu-lucunya.
Tetapi ia malah tertambat hatinya pada seorang janda di tempatnya bekerja. Bahkan kini, sampai melakukan hal gila.
Ini adalah pertama kalinya Rendra dan Widuri melakukan hal terlarang. Itu pun sebenarnya belum sampai memasukkan alat vit*lnya, tetapi mereka baru saja berciuman ganas sampai terdengar aneh oleh sang atasan.
Atasannya itu hanya menduga diluar batas. Padahal mereka masih mengenakan pakaian utuh. Hanya memang kancing kemeja Widuri sudah terbuka beberapa.
Lagi-lagi Rendra mengusap wajahnya yang nampak lelah.
Istrinya cantik. Bekerja sebagai karyawan wedding organizer milik seorang selebgram yang juga seorang MUA terkenal.
Naysila yang cantik dan pintar, bahkan sering didapuk sebagai MC dadakan di acara nikahan ataupun perhelatan akbar.
Rendra yang hanya mampu bekerja sebagai seorang office boy sering minder melihat kemajuan pesat istrinya itu.
Naysila memang bukan karyawan tetap. Kadang dalam sebulan istrinya itu menganggur, tidak ada kerjaan apalagi pemasukan. Tetapi sekalinya kerja, Naysila bisa membawa uang sampai jutaan sebagai bayarannya.
Rendra seringkali cemburu melihat Naysila bisa menghasilkan uang banyak dalam sehari atau dua hari kerja, sedangkan dia... harus satu bulan penuh bekerja. Itupun hanya UMR Ibukota saja. Bisa lebih jika ia sering ambil lemburan.
Sejujurnya Rendra tak menginginkan Naysila bekerja. Istrinya itu cantik auranya. Sehingga ia takut jika Naysila dilirik atau digoda pria lain diluaran sana.
Tetapi dasar bodoh, justru dirinyalah yang bisa kepincut janda yang usianya dua tahun lebih tua darinya.
Widuri, dua puluh sembilan tahun usianya. Janda dua anak yang ditinggal mati suaminya dua tahun lalu.
Awalnya hanya karena saling canda dan ledek saja. Tapi dia dan Widuri terbawa perasaan hingga ada hasrat untuk selalu ingin berdekatan.
Begitulah, cinta datang disaat yang tidak tepat. Entah cinta, tetapi yang pasti itu adalah nafsu.
Yang pasti Rendra sendiri sadar, kalau perbuatannya itu tidaklah baik. Apalagi secara terang-terangan ia telah main hati. Melukai Naysila dengan menggoda dan memacari wanita lain.
Ini gila! Kelakuannya benar-benar sudah tidak bisa dimaafkan lagi. Ia sendiri sangat sadar akan kelakuan bejadnya itu.
Rendra menggigit bibirnya. Ia hanya bisa merenung, memikirkan kalau-kalau Naysila mengetahui keburukan tingkahnya yang sedang bermain dengan api perselingkuhan yang panas dan menyakitkan.
Terbayang akan langkah yang Naysila ambil nanti, jika ia benar-benar ketahuan.
Tapi ia benar-benar tergoda dengan kelembutan Widuri yang setiap hari jadi partner kerjanya di kantor pusat Perusahaan Keramik Asia Tile yang dipimpin oleh CEO Andre Wiguna Dharma.
Treeet... treeet... treeet
Rendra melonjak kaget. Atasannya menelpon. Hampir copot jantungnya, karena mengira yang menelpon adalah Naysila, istrinya.
"Ya, Pak?"
...[Aku mau pulang! Bereskan mejaku segera dari gelas dan juga piring bekas makanku!!!]...
"Baik, Pak!"
Rendra mengikuti instruksi sang CEO GILA.
Bersyukur sekali kalau CEO itu seperti amnesia dan lupa pada hukuman yang akan ia berikan pada Andre karena kejadian pingsannya yang tiba-tiba.
Mungkin pak Andre merasa berhutang budi padaku, sehingga aku luput dari hukuman yang bisa saja membuatku menjadi pengangguran tanpa uang pesangon. Begitu fikirnya. Namun...
"Hei, Rendra! Jangan kau fikir aku lupa pada kelakuan bejad kalian tadi di ruang pantry dan membebaskan kalian dari hukuman!"
Rendra pucat pias.
Terbayang dirinya yang makin terpuruk karena akan semakin malu pada sang istri nanti jika dirinya benar-benar dipecat.
"Saya,... dipecat, Pak?" tanyanya gugup dengan suara terbata-bata.
"Apakah aku ini CEO bodoh yang berbudi baik?"
"To-tolong, Pak! Jangan pecat saya!"
"Hm...! Enak sekali kalau kau dibebaskan dari hukuman!"
"Pak! Tolong saya! Saya tidak punya pekerjaan lain selain menjadi karyawan office boy disini. Cari kerja semakin susah, Pak!"
"Nah, kau tahu itu!"
"Tolong, Pak!... Anak istri saya nanti makan apa kalau saya menganggur?! Saya, saya rela jadi kacung Bapak. Mengikuti kemanapun Bapak pergi. Melayani Bapak dua puluh empat jam juga saya mau, Pak!"
"Anjriit! Sejak kapan aku butuh kacung mesum seperti dirimu. Dan kau sama sekali tak punya malu, bisa-bisanya berbuat begitu di kantorku ini. Bikin sial, tahu?!?"
"Maaf, Pak! Maaf...! Tadi kami cuma ci*uman saja!"
"Cuma ci*uman! Besok-besok bisa sengg*ma!!! Anj*ay!!!"
Rendra menunduk semakin dalam. Ia benar-benar malu dan takut jika sampai dipecat.
"Sejujurnya itu adalah urusanmu. Urusan kalian, urusan lubang melubang! Tapi aku sudah melihat kinerja kalian dua kali tidak becus sama sekali!"
"Pak! Tolong, Pak! Maafkan saya! Saya janji, saya akan tingkatkan kualitas kerja saya. Sungguh! Saya juga akan putuskan hubungan dengan Widuri!"
******!!! Itu urusanmu! Bukan urusanku juga! Kau, harus kupindahkan kerja di pabrik. Mulai lusa! Kemasi barang-barangmu besok! Lusa, kau kerja di kota B!!!"
"Terima kasih, Pak Andre! Terima kasih banyak! Terima kasih!"
Rendra lega. Keputusan yang diambil sang atasan membuatnya berkali-kali membungkuk sambil mengucapkan terima kasih.
"Kau, pria bersuami. Jadilah pria yang gagah perkasa menjaga keluarga! Kau baru akan merasakan sakit kalau sampai keluargamu tak lagi mempedulikanmu! Camkan itu! Dan bukan maksudku ikut campur urusanmu! Kecuali, kau memang punya tekad bulat untuk menikahi si Widuri. Bukan sekedar main-main!"
"I-iya, Pak! Maafkan saya, Pak! Terima kasih atas nasehatnya!"
Andre pulang pukul sepuluh malam setelah pekerjaannya selesai dan langsung ia kirim via email ke perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaannya.
Lega hatinya. Satu pekerjaan terselesaikan.
...BERSAMBUNG...