NovelToon NovelToon
Aku Bukan Istrimu

Aku Bukan Istrimu

Status: tamat
Genre:Cintamanis / Figuran / Tamat
Popularitas:418.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: Sobri Wijaya

Dilarang nangis🛠️

Siapa yang tidak hancur saat istri yang baru saja dinikahinya selepas ijab Qobul tiba-tiba meninggal.

Angkasa Sadewa yang belum rela akan kematian Mendiang Sekar akhirnya mengalami depresi yang sangat berat hingga membuatnya hampir gila.

Sampai suatu ketika Ia dan Ayahnya Pak Dewok bertemu gadis bernama Bulan. Wajah nya begitu mirip dengan Almarhum Sekar. Karena sama-sama membutuhkan Bulan dan Pak Dewok melakukan perjanjian.

Bulan harus berpura-pura menjadi Sekar dan timpal jasanya adalah membayar pengobatan adiknya Fatan yang sedang sakit parah.

Puncak masalah bertambah pelik disaat Bulan malah mengalami Amnesia akibat sebuah kecelakaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sobri Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 27 Masa Lalu

Benar saja, setibanya dirumah Bu Widya, mereka telah disambut dengan sangat hangat di depan teras.

"Assalamuallaikum, Bu!" sapa keduanya, menyalami tangan ibunda Sekar penuh hormat.

"Wa'allaikumsalam, ayo masuk. Ibu sudah menunggu sejak tadi." Bu Widya senang bisa bertemu dengan Bulan lagi. Dengan begitu rindunya pada Sekar terbayarkan.

"O ya, Sekar sudah bilang sama, Ibu?" selidik Angkasa, melirik Bulan disampingnya.

"Hehehe, iya. Maaf ya, takutnya Ibu gak di rumah nanti," timbal Bulan nyengir. Terpikirkan pun pun tidak, ada diantara orang-orang asing baginya. Namun anehnya, Ia merasa sangat bahagia. Seperti menemukan keluarga yang utuh.

"Ayo kita makan dulu, Ibu sengaja masak kesukaan kalian berdua!" Bu Widya mengantar keduanya ke meja makan.

Banyak makanan siput tersaji disana, dari dulu Sekar suka makanan laut namun sejak dia sakit. Sekar tidak pernah menyentuhnya lagi karena makanan tersebut mengandung lemak dan kolesterol yang membahayakan bagi penderita sakit seperti Sekar.

Bulan agak riskan setelah mengamati seluruh makanan yang ada disana. Tidak ada yang namanya sayur, bisa jadi Bu Widya tidak menyukainya. Padahal Bulan sendiri memiliki Alergi terhadap makanan itu.

"Ayo duduk, Sayang. Ini pasti enak!" Angkasa menyeret kursi dan mendudukkan Bulan di sampingnya.

"Maaf ya, Angkasa. Ibu tidak masak sayuran soalnya Sekar tidak suka," kata Bu Widya menyayangkan.

"Gak papa, Bu. Ini sudah sangat luar biasa kok, Angkasa menyukai apa yang disukai Sekar," jawab Angkasa santai.

Angkasa mengambilkan Bulan makanan dan lagi-lagi mau menyuapinya. "Ayo buka mulutmu, buar aku yang suapi," katanya, seenak hati tanpa memikirkan kalau Bulan sangat takut makan siput tersebut.

Namun untuk menolak, Bulan tidak sampai hati mengecewakan Bu Widya yang sudah susah payah masak untuk mereka, di tambah Angkasa yang begitu antusias memperhatikannya.

"Biar aku sendiri, malu dilihat Ibu." Bulan hendak mengambil alih tapi Angkasa menolaknya.

"Is, ngapain malu. Biar Ibu tahu, kalau aku akan selalu menyayangi kamu. Ayo buka...!" Angkasa tetap memaksa dan Bulan tidak punya pilihan untuk menolak. Ia melahapnya dengan was-was.

Bu Widya termenung, membayangkan jika yang dilihatnya sekarang memang benar-benar Sekar yang bahagia dengan keluarga kecilnya. Jika itu nyata seharusnya dia adalah orang tua yang paling bahagia.

Tertawanya, manjanya maupun apapun yang bersangkutan dengan Sekar Ia ingat dan kini semua itu hanya tinggal sebuah kenangan yang tercatat dan disimpan didalam hati. Dulu, Sekar begitu terbuka padanya. Sikapnya memang egois dan ingin selalu berpenampilan sempurna tapi dia sangatlah setia bisa jadi semua itu terjadi karena Ia membutuhkan perhatian dan kasih sayang.

Sambil menyuapi, Angkasa memulai mengatakan maksud kedatanganya pada Bu Widya.

"Empat hari lagi, aku akan mengadakan ULTAH untuk Sekar, Ibu harus datang ya, aku ingin pesta ini di rayakan dengan sangat meriah."

"Iyakah? berarti Sekar sudah menginjak dua puluh satu tahun ya, Ibu aja gak ingat," kata Bu Widya.

"Aku tidak akan melupakan hari-hari penting sama Sekar, Bu. Karena hari itu sangat berarti untukku." Angkasa memandangi tulus wajah Bulan yang merasa tidak enak pada Bu Widya.

"Terimakasih, Nak. Sekar pasti sangat bahagia bisa dicintai pria seperti mu." Tak sadar air mata Bu Widya menetes. Terharu, telah memiliki menantu hebat seperti Angkasa.

Angkasa memegang tangan Bu Widya, dan mengatakan jika Sekar akan ada dihatinya.

"Sekar adalah wanita yang luar biasa, Bu. Aku belum pernah menemukan perempuan seperti dia. Meski manja dan selalu ingin dimengerti, Ia tidak pernah lupa membahagiakan hatiku dan menghibur saat aku terjatuh," ungkap Angkasa. Menambah perasaan bersalah dihati Bulan, tidak sepantasnya Ia membohongi Angkasa hanya demi yang namanya uang. Melihat Cinta Angkasa sedalam itu terhadap Sekar, ingin Bulan mengatakan semuanya lalu pergi sejauh-jauhnya.

Bulan tidak kuat ada disana, Ia pun berpamitan ke toilet.

"Kamar mandi dimana, Bu?" celotehnya tanpa sadar.

Angkasa mengernyitkan dahi, suasana yang seharusnya penuh haru berganti menjadi wajah kaget.

"Oh, iya Sekar lupa. Sudah lama tidak kerumah Ibu," sela Bulan lagi. Ia pun meninggalkan keduanya menjauh. Tiba ditempat yang dirasa sepi, Bulan menumpahkan tangisnya.

Ia membenci keadaan itu, tidak seharusnya hidupnya menikmati cinta dari orang lain sebagai seorang Sekar.

"Mengapa aku tidak terlahir dari keluarga yang penuh Cinta? apa salahku? mengapa aku dan Fatan terlantar, harus bekerja keras bahkan berbohong demi, agar bisa tetap hidup."

Bulan menutupi wajahnya. Ia malu berpura-pura menjadi istri orang yang sebenarnya tidak menginginkannya melain kan menginginkan Sekar.

"Apa yang harus ku lakukan? mana mungkin aku membiarkan Fatan sekarat jika aku pergi dari sini, tolong beri aku jalan Tuhan, aku tidak sanggup hiks...."

Bu Widya rupanya mengikuti Bulan dan ikut menangis meratapi kemalangan gadis itu. Bukan salahnya ada disana, sebab takdirlah yang telah membawanya ada di tempat saat ini.

"Bulan, tetaplah menjadi Sekar demi Ibu dan Angkasa," ujar Bu Widya tiba-tiba. Lekas Bulan menyeka air matanya dan berusaha tersenyum didepan Bu Widya.

"Aku bukan Sekar, Bu. Sekar tidak akan bisa di tukar dengan Bulan. Kami berbeda, Bu. Berbeda dalam hal apa pun." Bulan hendak pergi, tapi Bu Widya menahannya.

"Tidak, Nak. Ibu tidak menyalahkanmu, Ibu tahu, Sekar tidak bisa melakukan apa yang dilakukan Bulan sekarang. Mengorbankan hidupnya pada seorang adik yang pantas untuk kau benci karena terlahir dari rahim yang berbeda. Tapi Bulan tidak melihat itu, karena Bulan terlalu baik tidak dengan Sekar, Nak. Dia belum tentu bisa melakukan itu." Bu Widya merangkul tubuh gadis itu dan berharap Bulan tidak akan pernah berniat melarikan diri.

"Tapi, Bu. Melihat Cinta Ibu dan Angkasa pada Sekar, Bulan sakit, Bu. Kenapa Bulan tidak pernah mendapatkan itu dari keluarga Bulan sendiri." Bulan terus terisak-isak. Memori ingatan nya kembali pada beberapa tahun yang lalu dimana Ayah dan Ibu tirinya menganiaya dia tanpa belas kasih hanya karena memecahkan sebuah gelas hasil hadiah taruhan judi.

Ia di seret dan dipukuli layaknya bin*tang, Setiap hari tubuh mungil itu mengalami lebam karena tiada waktu yang terlewatkan tanpa tersentuh tangan kejam keduanya.

Tangis Bulan pecah, semuanya bagaikan duri dalam daging meski sudah lama berlalu tapi masih tetap tertancap didalam hati.

"Bulan, lupakan yang lalu. Karena Fatan membutuhkan sosok tegar seperti dirimu." Bu Widya mengusap-usap punggungnya. Bulan sudah seperti Sekar baginya. Tidak ada rasa benci sedikit pun pada diri gadis tersebut. Yang ada hanya Cinta dan belas kasih.

Bulan mengurai pelukan dan mengamati wajah Bu Widya dengan tatapan sayu.

"Aku sudah biasa melewati masa sulit, Bu. Jangan khawatirkan aku...." Usai mengucapkan kata-katanya Bulan berlalu menemui Angkasa tapi saat hampir mendekat. Ia merasa kalau tubuhnya mulai gatal dan mengeluarkan bintik-bintik kecil.

1
W Sri Sunarsih
Luar biasa
Atmita Gajiwi
/Determined//Smirk/
Sharifah Hanafiah
Luar biasa
Widi Widurai
egoisny lintang misahin anak sama ibuk
Widi Widurai
ngawuuurrr wajar kali ibu pengen ketemu anaknya
Widi Widurai
bulan ini gatau trimakasih. khianat bgt padahal bapakny angkasa dah brusaha buat adikny. dia malah bikin angkasa sakit hati
Alanna Th
tq author sdh mnemani dg karyamu yg indah. jaga kesehatan n sukses selalu 😘💖👍😂🤣🙏🙏👋👋👋
Alanna Th
waaa, putra hebat, sok tahu! pk dewok tega nian tdk mngaku bhw dialh dalang bulan djdkn sbg sekar demi ksmbhn angkasa n mndpt cucu 😱😖😫😵😰😢💔
Alanna Th
astagaaaa, bljr pd lintang tuh akhirny trlmbt mmaafkn istriny
Alanna Th
ayo kabur aja, bulan. tinggalkn smua msnusia egois itu. raihlh kbahagiaanmu sendiri 😱😖😫😵😰😢💔
Alanna Th
mau donk dbeliin baju. trakhir kpn y aq blnj baju? jauh sblm mulai ada vovid 😱😖😫😵😰😢😭💔
Alanna Th
betul, amnesianya bulan sembuh pas fatan sdh sehat kembali
Alanna Th
bukan bgt caranya seorg shbt ! itu sih pelakor 👎😜😱
Alanna Th
maya yg selingkuh sm s awan, khan?
Alanna Th
iya, soalnya durennya msh mengkel, blm mateng benar, kl sdh bnr" mateng kan akan trbuka sendiri
Alanna Th
jadi . . , bulan kembali k masa gds polos n lugu? waaa, angkasa mnggunakn ksmptn nie 🤔🤫😂🤣
Alanna Th
anak mrk msh sparuh jadi; sbagian d dlm rahim bulan, sebagian d dlm buah ajaibny angkasa. hrs dprtemukn dulu, baru jadi baby 😂🤣👍😘💖
Alanna Th
dr lintang bwt aq aja 🤔🤫😘💖😂🤣👍
Alanna Th
cinta bulan utk fatan vs cinta pk dewok utk angkasa = cucu
Alanna Th
aq mnunggu misteri knapa bulan bgt mirip dg sekar? 🤔😘💖👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!