"Aku hamil?" Semua menoleh kearah Syakira. Keluarga Rama termasuk Rama sendiri yang sebagai suami dari Syakira tidak percaya akan kabar yang ia dengar dari istrinya.
Bagaikan ia jatuh dari langit mendengar kabar yang tak terduga itu. Seakan tak percaya apa yang barusan ia dengar. Bagaimana ia harus percaya sedangkan dokter menyatakan 95 persen dirinya dinyatakan mandul. Haruskah ia percaya? Dan menjelaskan keadaannya pada istrinya?
Lalu, bagaimana tanggapan Syakira, ketika mengetahui suaminya dinyatakan mandul sedangkan ia hamil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Masrianiani Hijab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjelasan Rama
Hai, Author berharap pada pembaca setia 'Terlanjur Sayang' untuk selalu memberi support pada Author. Jangan pelit-pelit ya ☺memberikan like nya, seikhlasnya. Satu like dari pembaca sangat berharga bagi penulis seperti saya.
berharap karya ini bisa menghibur kalian. Bantulah Author meningkatkan perkembangan novel ini. Author sadar jika masih banyak kesalahan dalam penyusunan kata, kalimat, dan penempatan tanda baca. Author masih belajar dan berusaha sekeras mungkin bisa seperti penulis senior lainnya.
Author berharap bisa mengikuti jejak mereka. untuk itu mohon terus dukungannya. Tanpa dukungan dari kalian karya ini tiada-lah artinya.
jikalau pun menemukan di dalam karya ini ada kekurangan mohon masukannya yang membangun bukan menjatuhkan.🙏🙏🙏
POV Author.
***
"kak, Rama?" ucapan Syakira terdengar lemah.
Rama berbalik dan mendorong tubuh Maura yang sedari mengganggunya. Bahkan sudah berulang kali Rama mengusir Maura, tapi tidak peka.
Maura ikut berbalik dan tersenyum. ia tidak menyangka Syakira datang dan melihatnya bersama Rama dan itu merupakan sebuah kemenangan baginya. Ia puas melihat wajah Syakira terlihat kecewa pada Rama.
"Sayang, kamu percaya padaku, kan?"
"Aku ingin percaya, tapi juga sulit. Aku ingin tidak percaya, tapi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kak Rama memeluknya," jelas Syakira menatap bergantian antara Rama dan Maura.
"Tidak seperti apa yang kamu lihat, sayang. Aku dari tadi berusaha lepas darinya," jelas Rama.
Maura terus tersenyum dan duduk cantik di sofa yang ada di ruangan itu. Rama pun menarik tangan istrinya untuk keluar dari ruangan itu.
Melihat itu, Maura berdiri dan menghentakkan kakinya. Ia kesal karena Rama dan Syakira keluar meninggalkannya seorang diri.
Sarmin yang melihat bos dan istrinya masuk di sebuah ruangan cukup kaget dan menyimpan senyum. "Ini pasti ulah nenek sihir itu. Aku akan berikan pelajaran," senyum sarmin dengan minuman yang dibawahnya karena perintah Maura.
"Minum ini." kata Sarmin yang mengaduk-aduk minuman tersebut yang membuat karyawan di sana cukup heran.
"Hei, sarmin. lho apakan itu minuman?"
"Gue kasi jampi-jampi. Biar nenek sihir berubah jadi manusia berakhlak." Tawa Sarmin yang membuat karyawan lainnya tertawa mendengar ocehan Sarmin yang ia kenal sebagai sekretaris paling kocak.
"Memangnya nenek sihirnya masih di dalam? ogah banget deh. Gue males lihatnya. Aku kasihan sama Nona Syakira lihat mukanya tadi yang berusaha tersenyum di hadapan kita," ucap salah satu karyawan di sana.
"Makanya itu. Ramuan ini khusus buat nenek sihir." kata Sarmin yang berlenggok masuk membawakan minuman pesanan Maura.
Maura yang kesal langsung saja meneguk minuman tersebut tak tersisa dan menyimpan kembali gelasnya dengan kasar.
Sarmin tersenyum. Ia pun mengunci toilet pribadi bosnya, Rama. Setelahnya Ia keluar dan menghitung mundur.
"tiga ... dua.... Satu."
Dan benar saja, tepat hitungan ketiga tampak Maura keluar dari ruangan Rama dengan wajah berkeringat dan mencari toilet. Semua karyawan pun menutup mulutnya tertawa. Sarmin lebih heboh sampai Ia terpingkal-pingkal.
Sementara Rama dan Syakira masih berdebat. "Sayang percaya padaku. kamu bisa panggil Sarmin sebagai saksi."
"Benarkah?" ucap Syakira mulai jinak.
"ham ... kamu bisa panggil Sarmin. Tanyakan semua apa yang tadi dia lihat."
"Tetap saja aku tidak suka dan cemburu melihat kamu dan Maura. Aku cemburu." jujur Syakira. "Karena aku terlanjur cinta padamu. Kau membuatku selalu merindukanmu, Dan takut akan kehilanganmu, " ujar Syakira.
Rama mendekat, "kukira cuma aku merasakan hal itu, kukira selama ini perasaanku akan bertepuk sebelah tangan, kukira selama ini Syakira istriku tidak akan pernah mengatakan hal itu, ternyata aku salah."
Rama pun kembali meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi dan memeluk istrinya. Tiba-tiba Sarmin nongol dan mendapati bosnya akur bersama sang istri.
"ups... maaf bu bos, pak bos. lanjutkan." Sarmin keluar dan melompat-lompat seperti anak-anak yang mendapat hadiah.
"Woi, Sarmin lho kenapa lagi, hah?" tegur resepsionis di sana. "lagi datang bulan?"
"Ye ..., Bibir merah, gue lagi bahagia, tahu tidak."
"Sarmiiiiiiin! pekiknya. " Awas saja ya. lain kali lho panggil gue bibir merah, gue tonjok lho."
"Coba saja. Gue kasih bibir lho jadi hitam dengan menggunakan bibir gue, mau lho."
"Ih ... amit-amit. Gue Ogah." ketus resepsionis itu dan langsung diam melihat bosnya keluar bersama istrinya dari ruangan.
"Siang, bos, bu bos." Sapa mereka.
"Sarmin!" Panggil Rama. "dimana dia?" tanya Rama.
"Iya, bos. Sarmin disini," sahut Sarmin yang baru keluar dari persembunyiannya karena sebelumnya takut akan dilempar buku oleh si bibir merah (resepsionis kantor tersebut yang bernama Sofia).
"Apa Maura sudah kembali?" tanya Rama.
"Sudah aku bereskan, bos. Sebersih mungkin," ujar Sarmin.
"Apa?" pekik Syakira salah paham. Ia mengira Sarmin membunuh Maura. "Sarmin, apa kamu tahu membunuh itu sangat dilarang dalam agama kita." jelas Syakira. "Apa kamu tahu dosanya sebesar apa? Dan apa kamu tidak takut akan masuk penjara? Dan bagaimana dengan keluargamu jika sampai polisi menangkap mu?"
"Maksudnya, bu bos? Dan siapa yang membunuh? Ih ... ngeri dengarnya." ucap Sarmin juga kaget.
"Nah, yang tadi barusan Sarmin bilang apa?"
Rama pun tertawa mendengar penuturan istrinya yang salah paham. para karyawan baru kali ini melihat langsung Rama tertawa lepas.
"Sayang, maksudnya Sarmin itu bukan membunuh, tapi mengusir Maura dengan caranya."
"Memang, bagaimana caranya ia mengusir Maura?"
Rama mengangkat bahunya tanda tidak tahu dan menarik kembali tangan istrinya masuk di ruangannya. Syakira penasaran apa yang telah dilakukan Sarmin pada Maura. Kenapa semua karyawan tampak terkekeh mendengar nama Maura disebut.
"Kak, ada CCTV?" Rama yang baru akan menandatangani dokumen yang bertumpuk cukup kaget istrinya menanyakan CCTV.
"Nih ponsel aku." kata Rama menyodorkan ponselnya.
"Bukan ponsel, sayang." Syakira melihat ponsel Rama. "Tapi, CCTV."
"Di ponsel itu bisa kamu lihat semua kejadian di kantor ini. Ponsel itu sudah tersambung dengan CCTV kantor."
Syakira mengangguk. ketika, ia membuka ponsel tersebut Syakira kaget. Selama ini ia tidak tahu jika CCTV dirumahnya tersambung dengan ponsel milik suaminya.
"kenapa melihatku seperti itu, sayang?"
"Kak, apa ini? mengapa kamar kita kamu pasangkan juga CCTV? Jadi selama ini kamu...."
Rama tersenyum. "aku sengaja, sayang. tidurmu pun aku ingin mengontrolnya. Dalam beberapa jam tidak melihat wajahmu aku merindukanmu. jadi, di mana-mana CCTV aku pasang."
"Mengontrol apa mes..., kok CCTV juga ada di kamar?"
Rama tertawa melihat wajah kesal istrinya. "kalau pun aku melihatnya gak haram, kan?"
"Tidak. Kan kamu suamiku," suara Syakira terdengar kecil.
"Nah itu tahu." jawab Rama melihat kearah istrinya sambil melacak terus ponselnya.
"Iya. Tapi kan ...."
"Kenapa, malu lagi dengan suami? suamimu sudah melihat dan menjelajahi kota bersih itu tanpa tersisa."
"kak....!" pekik Syakira lagi dan melemparkan bantal kursi ke arah suaminya membuat Rama kembali tertawa."
Namun tawa Rama tiba-tiba terhenti memegang perut bagian bawahnya. Syakira melihat wajah suaminya berubah seperti pucat. Ia pun segera mendekat.
"Kak, kamu baik saja, kan? Maaf ya. aku melempar cukup keras, ya ....? Yang mana sakit, sayang?" Syakira mengira sakit Rama karena dirinya.
Rama pun memilih menyembunyikan sakit yang dirasakannya dan mendudukkan tubuh istrinya di pangkuannya. "Tidak. Aku hanya ingin memelukmu."
Syakira pun kembali memukul bahu suaminya. Dan Rama pun memaksakan diri seperti tidak terjadi apa-apa.
"Sayang, maafkan aku." batin Rama menyembunyikan sakit yang belum ia tahu apa itu.
Ia tidak ingin untuk saat ini menganggu konsentrasi Syakira yang kini tengah berjuang dalam meraih impiannya sebagai mahasiswa dengan keadaannya yang sekarang.
maaf ya kak..sedikit masukan.syakira ini kan anak pondok pesantren.tp knp setiap kali berbicara lwt tlpn kog gak mengucapkan salam bahkan lgsg mematikan tlpn.jangan gt donk kak...meskipun ini cm di novel tp klo bisa dikoreksi lg🙏🙏itu aza dr saya semoga berkenan dan maaf jika ada kata yg tdk berkenan dihati kak author.selamat berkarya tetep semangat..dan sukses slalu..wassalamualaikum
salam dari "My Lovely Bodyguard" mampir juga ya kak🙈🥰
yuuk berteman di instagram bersama author. Ig @Anihijab15
Untuk Syakira semoga lahirannya lancar dan memperbolehkan Marwa untuk bersama merawat anak-anaknya kelak,,