Sebulan pernikahan sirinya, Jingga harus berhadapan dengan kenyataan baru yang menyakitkan. Aris, suami yang dicintainya menikah resmi dengan perempuan lain.
Menjadi yang pertama tapi serasa yang kedua. Pada akhirnya Jingga menyerah. Perceraian dengan Aris pun tak terelakkan.
Di saat bersamaan Rangga yang merupakan sahabat Aris juga bercerai dengan istrinya. Kesamaan kisah membuat mereka Rangga dan Jingga semakin dekat.
Aris kembali datang dengan kepastian dan perjuangan yang lebih nyata. Membuat Jingga goyah. Kembali pada cinta lama atau memulai cinta yang baru ?
Persahabatan Aris dan Rangga pun di pertanyakan.
Di hati manakah cinta Jingga akan berlabuh ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kartu As belum keluar
Melihat Jingga menangis terisak, Rangga semakin tidak tega. Semua bukan sepenuhnya salah Aris. Sahabatnya itu juga korban keadaan. Aris juga terluka. Rangga membiarkan Jingga sendiri sebentar dan memilih mengejar Aris.
" Ris !!! " teriak Rangga, tepat sebelum Aris memasuki mobilnya.
Aris tetap masuk ke dalam mobil, tapi membiarkan pintu mobilnya terbuka sempurna.
" Mas, minta tolong belikan saya peralatan mandi ya " ucap Rangga pada driver Aris seraya memberikan dua lembar uang seratusan ribu. Rangga masuk ke dalam mobil dan duduk di jok samping Aris.
" Aku harus bagaimana Ngga, mana yang harus aku lepas. Aku tidak selalu ada buat Jingga bukan karena aku senang - senang. Aku pun tersiksa. Aku bukan sengaja menikah, aku bukan sengaja mengkhianati Jingga. Bukan salah Jingga, tapi apa aku juga salah ? " Aris bertanya pada Rangga dengan mata berkaca - kaca.
" Ris, ada hal yang tidak bisa kita lakukan dan dapatkan secara bersamaan. Segala sesuatu pasti membutuhkan pengorbanan. Kalau kita menginginkan sesuatu, ada harga yang harus dibayar. Pikirkan baik - baik, jangan mengambil keputusan saat emosi. Mungkin Jingga hanya butuh waktu " ucap Rangga.
" Aku hanya berharap janin di rahim Jingga baik -baik saja Ngga. Hanya itu kekuatan yang bisa menyatukan kami saat ini. Aku hanya sedang ingin membuktikan sesuatu, tapi kalaupun aku bisa mengungkap sedikit kebenaran pasti masih akan ada kebenaran yang belum terungkap. Aku takut melibatkan dan membahayakan Jingga, Jika memang dugaanku benar, Jingga akan terancam jika disampingku. Aku butuh waktu, tapi waktu yang aku butuhkan juga tidak pasti. Entah sebentar atau lama " ucap Aris.
" Apa rencanamu sekarang Ris ? Masih lanjut rencana kemarin ? " tanya Rangga.
" Hasil DNA keluar paling cepat sepuluh hari lagi Ngga, resepsi yang diinginkan mami tujuh hari lagi. Jadi, pura - pura kritis mungkin adalah pilihan terbaik. Aku sudah meminta Antoni mengatur semuanya. Tapi aku harus menghunungi Rio, karena dia mengira aku akan pura - pura sampai lusa saja. Aku tidak mau resepsi itu terjadi. Kalau sampai terjadi aku tidak hanya mematahkan hati Jingga sekali lagi, bisa jadi aku akan kehilangan Jingga selamanya " jawab Aris, beban berat jelas terlihat di raut wajahnya.
" Ada dua pilihan Ris. Jujur tentang semua rencanamu pada Jingga, katakan baik buruknya jika dia terlibat. Biar dia yang memutuskan dia mau mendukungmu atau tidak. Kalau aku lihat dari pribadi dan sikapnya selama ini, jelas dia pasti akan bersedia mendukungmu. Yang kedua, untuk sementara kamu tinggalkan Jingga dan fokus pada rencanamu. Jangan datang pergi sesukamu, itu meninggalkan kesan buruk bagi Jingga. Untuk pilihan pertama kamu wajib menceraikan Irma, untuk pilihan kedua kamu harus bersiap jika Jingga meninggalkanmu " ucap Rangga, mencoba memberi pandangan sesuai pemikirannya.
" Jika semudah itu aku pasti akan memilih option pertama Ngga. Aku yakin Jingga cukup tangguh melalui apapun berdua bersamaku. Tapi sepertinya masalah keluargaku tidak sesederhana yang dilihat orang. Masalah tidak akan berhenti begitu saja ketika benar terbukti aku bukan anak kandung papi mamiku. Aku tidak bisa membawa Jingga lebih jauh, aku takut mami menyakiti Jingga " tutur Aris.
" Apa bedanya sekarang ? Jingga pun sudah tersakiti dan kamupun tanpa sadar ikut andil menyakiti hati Jingga saat ini " Rangga sedikit kesal karena Aris tidak bisa tegas memutuskan.
Sebenarnya Aris bukannya tidak tegas, tapi ada beberapa hal yang tidak bisa dia ungkapkan sebelum dia sendiri yakin akan kebenarannya.
" Sudahlah Ngga, sementara begini saja dulu. Aku titip Jingga ya. Tolong jaga Jingga baik - baik, jangan sampai ada laki - laki lain yang mendekati Jingga. Aku harap tidak terlalu lama, tapi aku sudah terlanjur berjanji akan menyelesaikannya dalam waktu satu bulan. Aku akan mengerahkan semua kemampuanku untuk membuat semuanya lebih cepat. Aku harus ke rumah sakit, sebelum papi mamiku dan bonekanya sampai. Kirimi aku kabar dan foto Jingga di nomerku yang baru " Aris pamit begitu driver sampai dengan membawa satu kresek putih berisikan pesanan Rangga.
" Hati - hati Ris, semoga sukses. Aku akan mengunjungimu sesekali. Semoga rencanamu berjalan lancar " ucap Rangga.
Rangga kembali ke kamar rawat Jingga setelah mobil yang ditumpangi Aris menghilang dari pandangannya.
Sementara itu, kepanikan kembali dirasakan bu Laura, pak Gunawan dan juga Irma. Pasalnya, mereka baru menerima kabar dari pihak rumah sakit bahwa Aris di rujuk ke rumah sakit dengan fasilitas yang lebih lengkap di Jakarta. Mereka mengatakan bahwa kondisi kesadaran Aris semakin menurun. Merekapun kini sedang dalam perjalanan kembali ke Jakarta.
" Mi, bagaimana ini kalau mas Aris meninggal ? " Irma menangis manja di pelukan maminya.
" Kita pastikan dulu kondisinya, jangan berfikiran yang tidak - tidak " ucap pak Gunawan.
" Pi, kali ini mami memang agak khawatit pi. Mami nggak tenang. Evan meninggal karena kecelakaan itu. Sekarang Aris kritis. Kita harus bagaimana pi kalau Aris sampai meninggal. Mami nggak mau bayangin pi, Kita harus berdoa dan pastikan Aris bisa bertahan " ucap bu Laura.
" Aris anak kuat, pasti dia bertahan mi " Kata pak Gunawan.
Ketiganya menjadi lebih pendiam, sibuk dengan pemikiran masing - masing. Jelas bu Laura dan Pak Gunawan berharap Aris bisa melewati masa krisisnya dengan baik.
Setelah hampir dua kali waktu permainan sepakbola, mereka sampai di rumah sakit tempat Aris berada. bu Laura yang paling takut kehilangan asetnya berjalan terburu - buru lebih depan dibanding yang lain.
Seorang perawat menunjukkan di mana Aris berada. Tapi sayangnya mereka masih hanya boleh melihat dari cendela kaca berukuran satu kali dua meter di atas tembok seukuran dada orang dewasa.
Aris tampak tergolek lemah dengan berbagai alat termasuk ventilator. Bu Laura memundurkan badannya perawat kembali enutup kaca dengan kelambu putih kehijauan. Membuat tubuh Aris tidak lagi terlihat oleh ketiganya.
" Kenapa di tutup sus, saya ingin melihat anak saya ? "tanya bu Laura terlihat sekali kekhawatirannya. Bukan sungguh - sunggih khawatir, tapi kehilangan Aris sekarang malah akan membuatnya kehilangan segalanya. Bu Laura sudah lama menantikan waktu ini. Pernikahan Aris dan Irma adalah obsesi sekaligus cara pintas mendapatkan gengsi dan harta Aris yang selama ini hanya bisa dia nikmati dengan semu karena Andy begitu ketat menjaga wadiat Malino. Jangankan Laura, Aris sendiri untuk hal - hal tertentu masih membutuhkan disposisi dari Andy.
" Dokter akan melakukan tindakan pada kaki pak Aris bu, karena kakinya yang terluka berat sepertinya ada infeksi. Kondisi pak Aris juga masih naik turun, butuh ketenangan dan ruangan yang cukup steril agar membantu memulihkan kesadarannya dengan cepat " ucap perawat bayaran tersebut dengan hati - hati.
" Baiklah sus, terimakasih " ucap bu Laura pelan.
" Apa kita harus menghubungi Andy pi ? " tanya bu Laura.
" Buat apa mi ? " tanya pak Gunawan.
" Papi jangan lupa, kita masih mempunyai kartu As yang akan membuat Andy atau Aris tidak ada pilihan lain " ucap bu Laura meski ragu - ragu tetap diucapkan.
mereka merasa bersalah pada pria lain tapi sama sekali tidak merasa bersalah pasa suaminya
dan lucu sikap kayak gini dibenarkan oleh novel ini
coba author bayangkan suaki author merasa bersalah pada wanita lain tapi tidak peduli dengan perasaan author yang tidak suka dan cemburu???
saran sebelum mengatang cerita banyak pada diri author dulu itu baik atau tidak
lihat juga dari sudut pandang lain, sudut pandang pemeran utama pria jangan hanya karena author wanita author hanya lihat dari sudut pandang pemeran utama wanita
coba author menila sesuatu pake penilaian dari diri author baik tidak yang dilakukan jingga hanya karena rasa bersalah dan menjaga perasaan pria lain dia mengabaikan perasaan cemas, sakit hati karena cemburu suaminya sendiri
Gak ada surat nikah juga... kasihan anakmu nanti.