Kumpulan cerita horror yang tak pernah dialami oleh orang awam.
Cover by Mpuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V a L L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sanggar Tari 1
Senin, 29 Februari 1989
Tagelan
Aku bersama teman-temanku bersiap-siap untuk melakukan perjalanan yang sudah kami tentukan saat meeting 2 Minggu lalu. Aku, Dita, Sari dan Niyan sebagai anggota perempuan yang menyiapkan peralatan untuk kami camping di acara itu. Seperti panci, minyak, bumbu dapur, dan sebagainya kami tidak akan lupa hal itu. Bahkan keperluan sendiri untuk diri sendiri seperti selimut dan paper bed juga penting. Selain itu, Farhan, Julius, dan Udin, mempersiapkan barang-barang kelengkapan camping yang tersisa, seperti tenda dan lain-lain.
Aku, Hana sebagai koordinator perjalanan kali ini. Jujur sih, aku gak pernah sama sekali traveling jauh-jauh sama temen-temen. Dan ini first time nya aku sama temen-temen. Padahal aku gak bisa jadi koordinator juga, entahlah ini semua gegara Dita. Dita yang usulin aku jadi koordinator, padahal ada Sari dan Niyan yang emang anak pecinta alam dan kerjaannya bagian koordinasi.
"Udah, Hana aja jadi koordinator kita kali ini. Lagian nih, itung-itung lu belajar, Han... Asik tau jadi koordinator," Jelas Dita dan mengusulkan pada meeting kita kemarin di depan teman-teman.
Aku hanya bisa tersenyum samar dan bergumam dalam hati, "Apaan sih Dita ngaco..."
Aku yang basicnya anak manajemen di kampus disuruh koordinasi yang beginian, haha ya pusing karena ke kampus cuma buat bolos. Itu sekilas tentangku, mari kita kembali ke story'.
...****************...
Selasa, Kliwon
1 Maret 1989
Tagelan
Hari ini kami sudah bersiap menuju desa wisata yang sudah kami sepakati untuk kunjungi bersama. Desa wisata itu terletak jauh dari perkotaan, sekitar 500km. Dan di sana hanya sedikit pemukiman warga yang tinggal. Desa yang minim dengan masyarakat sekitar yang sedikit banyak masyarakatnya merantau ke daerah perkotaan untuk mencari pekerjaan.
"Dit, semua udah beres? Gak ada yang ketinggalan?" teriakku dari latar depan rumah Udin.
Rumah Udin ini terbilang cukup besar, oleh karena itu kami memutuskan untuk menitik tumpukan pertemuan kami dirumahnya. Selain lokasi yang strategis, berada ditengah-tengah antara arah rumah kami, dan hanya memakan waktu 10 menit menuju tol
"Udah beres... para gentleman gimana nih, diam-diam baek... aman gak nih?" timpal Dita kemudian.
Farhan menyahut dari arah bagasi mobil, "Aman, Ta. Lu gak usah meragukan kita deh kalau soal beginian."
"Elah, Onyet, sok banget. Lu kan asli pelupa kalau gak diingetin Udin juga lu udah lupa," sahut Julius.
"Udah gak usah ribut. Yang penting mah kita solid udah. Gak ada yang tertinggal, saling bahu membahu maksudnya," sahut Udin yang baru keluar dari rumahnya sambil menbopong tas ranselnya.
"Kemariin ransel lu, Din," pinta Farhan.
Tanpa banyak bicara, Udin langsung melempar ranselnya ke arah Farhan. Dan menyambutnya dengan sedikit oleng.
"Gila lu, Din, bawan lu kek orang bener aja! Berat anjir...," Farhan mengomentari ransel yang sudah berada ditangannya.
"Hahaha, udah cepetan simpan. Kita udah telat 5 menit dari jadwal nih," ingat Niyan.
Sedangkan aku, Sari, Dita yang sudah masuk ke dalam mobil dan memegang sebuah kertas petunjuk arah itu fokus untuk mempelajarinya agar tak tersesat.
"Din, Jul, lu dibelakang aja ya..." Farhan memberi tahu.
Udin dan Julius hanya mengangguk tanda mengiyakan, sedangkan Niyan yang duduk disamping kemudi pun menarik seat belt nya untuk bersiap, sedangkan Farhan pun bersiap menarik tuas dan menginjakkan gas untuk memulai perjalanan.
Aku, Sari, dan Dita yang duduk di bagian tengah mobil itu masih asyik dengan tatapan tak bergeming ke arah kertas yg dipegang oleh Sari.
Perjalanan pun dimulai ....
...****************...
yang baca like, komen, dan lain-lain ya...
see ya...
thanks
Vall