'Uang adalah segalanya'
Begitulah prinsip hidup Resti Belangi. Yang sejak kecil sudah giat mencari uang untuk menghidupi dirinya sendiri karna keluarganya yang miskin. Dia tidak percaya dengan ungkapan yang menyatakan uang bukanlah segalanya.
Resti hanya ingin hidup nyaman tanpa mengkhawatirkan besok bisa makan atau tidak. Dia sudah lelah bekerja keras, yang ternyata tidak mengubah apapun dihidupnya.
Saat ia hampir menyerah, ketidak beruntungan kembali menghampirinya bersama seorang pria dingin bernama Jun. Yang ternyata adalah pewaris tahta kerajaan GD Group, tempatnya bekerja.
*setiap tokoh, tempat, dan kejadian hanya fiksi semata. (cuma ada diotak kriting Mak ya).
*karya ini hanya terbit di NovelToon. Tidak di platform lain.
*cus follow ig➡️ makee949
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mak Ee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep26. Awas Nanti Jatuh Cinta (part2)
Jun sedang rapat bersama dengan Irba dan juga Dika. Sebenarnya hanya Irba sajalah yang punya urusan kepada Jun. Sedangkan Dika hanya menemani kakaknya itu.
“Trimakasih Tuan, aku akan sangat menghargainya. Trimakasih banyak anda sudah mau berinvestasi diperusahaan kami.” Jelas Irba kemudian sambil menjabat tangan Jun.
“Sama-sama.” Jawab Jun seadanya.
Entah, kenapa dia menjadi kaku begitu. Sejak ia melihat Resti yang tersenyum lebar didepan Irba, hati kecilnya mulai tidak menyukai pria itu. Tapi dia harus bersikap profesional. Dia tidak tau seperti apa hubungan Irba dan Resti, tapi sepertinya mereka cukup dekat. Tapi dia tetap harus memisahkan urusan pribadi dan pekerjaan.
“Kalau begitu, kami permisi dulu, Tuan.” Pamit Irba kemudian. Dan dijawab dengan anggukan kepala dari Jun.
“Yusuf, tolong antar mereka kebawah.” Perintah Jun kepada sekretarisnya.
“Baik, Tuan.” Jawab pria kurus berkacamata itu dengan sigap.
“Trimakasih.” Jawab Irba kepada Yusuf.
Seperti apa yang diperintahkan oleh Jun, Yusuf mengantarkan Irba dan Dika sampai dilobi. Kemudian ia kembali lagi keruangannya.
Diruangan lain, Resti sedang sibuk dengan fikirannya sendiri, menerka-nerka, apakah Irba sudah pulang atau belum.
Saat ponselnya berbunyi, Resti buru-buru menjawabnya tanpa melihat itu telfon dari siapa.
“Ya?” Jawab Resti antusias. Ia berfikir itu adalah telfon dari Irba.
“Kalau sudah pulang, tunggu aku di tempat parkir.” Ujar suara pria diseberang.
“Apa?” Tanya Resti agak bigung. Kemudian ia menjauhkan ponsel dari telinganya untuk melihat nomor si penelfon.
Sialan. Rupanya Jun. Dengusnya dalam hati.
“Memangnya kenapa? Aku bisa pulang sendiri. Biasanya juga pulang sendiri.” Celetuk Resti.
“Jangan kepedean dulu. Baru saja Mama menelfon, mama meminta kita kesana.” Jelas Jun lagi.
Chh! Dasar anak Mama. Resti kembali mendengus.
“Iya. Baiklah.” Akhirnya ia mengalah. Kemudian memutus sambungan telfon itu segera.
Jam kantor telah berakhir. Resti menghela nafas panjang demi mengingat pesan dari Jun. Dia mencibir sendiri, lalu beranjak dari tempat duduknya.
“Butuh tumpangan?” Tawar Dimas yang berjalan dibelakangnya.
“Ha? Tidak. Trimakasih Dimas. Lain kali saja.” Tolak Resti dengan halus.
“Tumben tidak mau,” seloroh Dimas kemudian.
Ya, Resti memang sudah beberapa kali menumpang dengan Dimas. Sat ia ingin pulang kerumah untuk menemui Yusniar dan sikecil Ariga. Tapi sekarang, dia tidak bisa. Karna ia harus pergi kerumah mertuanya bersama Jun.
“Aku harus mampir kesuatu tempat dulu.” Jelas Resti kemudian.
“Oh. Oke, baiklah. Kalau begitu, aku duluan ya.” Pamit Dimas kemudian.
Resti hanya mengangguk, karna dia belum selesai membereskan mejanya.
Setelah selesai membereskan mejanya, ia segera menyambar tasnya dari atas meja kemudian berjalan turun kelobi.
Saat sedang berjalan, ponselnya kembali berbunyi. Entah kenapa Jun kembali menghubunginya.
“Hm?” Jawab Resti dengan malas.
“Aku masih ada rapat sebentar. Kau tunggulah dimobil.” Ujar Jun dari seberang.
“Kau menyuruhku menunggu ditempat parkir?”
“Kau bisa mengambil kunci mobilku di meja resepsionis.” Jelas Jun kembali sebelum pria itu menutup ponselnya.
Ch! Apa-apaan ini. Menyuruhku menunggu sesuka hatinya saja. Dengus Resti sambil mencibir.
Setelah ia memasukkan ponselnya kedalam tas, ia melirik kearah meja resepsionis. Antara berani dan tidak berani, Resti melangkahkan kakinya mendekati meja itu.
“Permisi, mbak. Ehmmm,,, saya mau mengambil kunci mobil Pak Direktur. Beliau menyuruh saya untuk mengambilkan sesuatu didalam mobilnya.” Jelas Resti ragu.
“Oh, iya. Ini.” Jawab resepionis wanita itu dengan menyerahkan kunci mobil Jun kapada Resti.
“Trimakasih.” Ujar Resti sambil menerima kunci mobil itu. Kemudian berbalik dan berjalan menuju ketempat parkir.
Sesampainya ditempat parkir, ia mengedarkan pandangannya keseluruh area untuk mencari dimana mobil Jun berada.
Mobil milik Jun diparkir ditempat khusus untuk direktur.
Ah. Tentu saja. Kenapa aku tidak berfikir kesana? Batin Resti. Ia kemudian berjalan menuju kemobil itu kemudian langsung masuk kedalamnya.
Hari semakin sore. Sudah hampir satu jam Resti menunggu didalam mobil, tapi Jun belum juga menampakkan batang hidungnya. Ia bermain ponsel sampai baterainya hampir habis.
“Ch! Kenapa lama sekali sih?! Gerutunya dalam hati.
Sudah berkali-kali Resti melirik jam tangannya. Dia sudah menunggu hampir dua jam. Dan dia sudah mulai bosan. Menunggu selama itu membuatnya mengantuk saja.
Perlahan, kelopak mata Resti mulai terasa berat. Dan tidak menunggu waktu lama, ia sudah sepenuhnya terlelap di dalam mobil dengan posisi kepala yang bersandar di kaca pintu mobil.
Jun yang baru saja selesai rapat, berlari kecil demi cepat sampai ke tempat parkir. Ia sempat meirik jam tangannya. Sudah lewat jam 7 malam. Ternyata rapat yang awalnya dijadwalkan hanya akan berlangsung 30 menit, malah molor sampai hampir empat jam.
Sesampainya ditempat parkir, Jun segera menghampiri mobilnya dan langsung masuk dan duduk didepan kemudi.
“Maaf. Rapatnya baru selesai.” Ujar Jun kepada Resti. Ia belum sadar kalau Resti sudah tertidur.
Setelah tidak mendapatkan respon dari Resti, ia menoleh kesamping dan mendapati Resti yang sedang terlelap. Gadis itu bahkan sedikit mendengkur.
Jun yang semula akan mengancingkan sabuk pengamannya, tidak jadi melakukan hal itu. Ia malah mendekatkan wajahnya demi melihat wajah Resti dengan lebih dekat. Ia memperhatikan setiap inci wajah gadis itu. Ia bahkan dengan berani menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Resti dengan tangannya.
“Maaf, aku sudah membuatmu menunggu lama.” Lirihnya. Walaupun ia tau kalau Resti tidak akan mendengarkannya karna gadis itu sedang tertidur. Kalau Resti sedang tidak tertidur, tentu dia tidak akan berani melakukan hal itu.
Resti yang merasa terganggu hanya mengubah posisinya saja tanpa tersadar. Ia benar-benar terlelap sepenuhnya.
Karna gerakannya itu, kepala Resti jadi berpindah kekanan dan hampir saja terjatuh. Untung dengan cekatan Jun langsung menangkapnya.
Kini, telapak tangan Jun sudah berada dipipi mulus Resti demi menahan kepala gadis itu. Dengan hati-hati ia menahan agar ia tidak membangunkan Resti.
Dan dengan hati-hati pula, ia kembali menyandarkan kepala Resti sambil memundurkan jok mobilnya. Agar Resti merasa lebih nyaman.
Saat Jun melakukan hal itu. Ia terkesiap karna wajahnya kini berada sangat dekat dengan wajah Resti.
Dadanya bergemuruh. Hatinya berdesir tidak karuan. Membuat wajahnya memerah saja. Nafasnya bahkan sempat tersengal sebentar.
Tapi bukannya ia menjauhkan dirinya. Jun justru semakin menikmati wajah cantik milik Resti. Dan tanpa ia sadari, perlahan senyumannyapun mulai mengembang. Dia seperti sedang menikmati perasaan aneh yang menggelitik yang muncul dihatinya.
Setelah tersadar, Jun akhirnya memundurkan tubuhnya kemudian melepaskan jasnya. Dengan perlahan pula ia menyelimuti tubuh Resti dengan jasnya itu.
“Kenapa kau sangat tidak menyukaiku?” Tanya Jun lirih. Tentu saja Resti tidak akan menjawabnya.
Jun seperti tidak ingin melepaskan pandangannya sedikitpun dari wajah Resti. Ia sangat menikmati momen itu. Lagi-lagi. Dia tersenyum simpul. Hatinya merasa bahagia bisa melakukan hal itu.
Entahlah. Aneh memang, tapi itulah yang sedang dirasakannya.
Apa dia sedang jatuh cinta?