Tak lebih indah dari intan permata
Mengurai ketulusan persemaian jiwa
Bukan dahaga pengemis duka
Bukan lara pelerai luka
Ikatan yang tak pernah berdiri
Diatas panggung perintih hati
Meski harus menari
Diatas duri-duri yang berbisik lirih
Demi ikatan yang berarti abadi
Sampai mata ini tertutup rapi
Dihadapan sang Ilahi.
***
Nadya Syafina (Nadin) harus rela dicabut uang bulanan nya oleh ayahnya. Setelah menolak dijodohkan dengan anak rekan bisnis ayahnya yang ternyata adalah mantan pacar Nadin.
Tanggung jawab terhadap Bunda nya yang sedang sakit dan adik kesayangannya memaksanya bekerja di sebuah kantin perusahaan.
Bagaimana Jika Bos perusahaan itu adalah musuh bebuyutannya dan seorang yang diam-diam mengaguminya dimasa lalu?
Bagaimana juga jika mantannya masih mengejarnya dan mengharapkannya kembali?
Lalu siapa yang akan dipilih Nadin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nasya kamila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Bertemu
Author Pov
Seorang lelaki paruh baya duduk di sebuah kursi kayu, disebelah lelaki itu duduk juga seorang gadis remaja. Cukup lama mereka duduk berdampingan namun sejak tadi tak ada satu patah kata pun yang keluar dari bibir mereka. Hanya ada keheningan di antara keduanya.Hingga.....
"Kalau tidak ada yg mau di bicarakan, saya mau masuk dulu, permisi"Ucap gadis itu lalu segera beranjak dari duduknya.
" Jeje tunggu"Suara lelaki paruh baya itu menghentikan langkah kaki gadis itu. Jeje berbalik dan menghadap ke arah lelaki itu.
"Jadi apa mau anda sebenarnya. Dari tadi kita sudah duduk berdua tapi anda diam saja sekarang saat saya mau pergi, anda mencegah saya. Maaf ya bapak Rasya Hendrawan saya juga masih banyak pekerjaan" Ucap Jeje.
Terlalu tidak sopan memang, tapi bagi Jeje luka hatinya sudah terlalu dalam.Semenjak Jeje mendengar langsung dari bibir ayahnya malam itu.
Ya... malam itu terjawab sudah semuanya. Alasan kenapa ayahnya tidak mau bertemu dengannya bahkan hanya untuk menyebut namanya.Ayahnya bahkan dengan teganya mengatakan kalau Jeje adalah anak haram. Lalu sekarang tiba-tiba saat tes DNA itu muncul dengan seenaknya lelaki yang pernah dipanggil Jeje ayah itu datang tanpa rasa bersalahnya.
"Maafkan ayah Je, ayah tau pasti kamu sangat membenci ayah. Tapi izin kan ayah memperbaiki semuanya. Bisakah kita mulai semua dari awal. Ayah akan berusaha menjadi ayah yang baik untuk kamu dan kak Nadin nak" Ucap Rasya lembut.
"Tapi Jeje tidak butuh ayah. Dari dulu Jeje juga bisa hidup kok tanpa ayah kenapa sekarang enggak. Bagi Jeje cukup ada bunda dan kak Nadin saja. Selebihnya Jeje gak butuh" Ucap Jeje lalu beranjak meninggalkan ayahnya sendirian.
Tes
Satu tetes bening jatuh dari pelupuk matanya. Meskipun bibirnya berkata seperti itu tapi hatinya berkata lain. Namun egonya terlalu besar untuk cepat memafkan ayahnya.
Selama 13 tahun Jeje menunggu hari ini. Namun di saat hari itu datang luka yang telah di torehkan sudah terlalu dalam dan Jeje sudah tidak bisa lagi memaafkan nya atau masih belum bisa memaafkan nya. Entahlah....
Biarlah orang berkata dirinya anak durhaka tapi bagi Jeje mereka tidak pernah merasakan apa yang di alaminya.
"Je.. maafkan ayah" Ucap Rasya sendu. Rasya benar-benar menyesal sekarang. Karena kebodohannya kini putri nya sangat membencinya.
"Sudahlah mas, kamu beri waktu Jeje dulu. Aku yakin cepat atau lambat Jeje akan memaafkan mu"Fina yang sejak tadi memperhatikan ayah dan anak itu akhirnya muncul saat suasana mulai tidak kondusif.
Rasya menghapus air matanya sambil mengangguk.
" Kita makan malam dulu ya mas, sepertinya kamu sudah sangat lama tidak merasakan masakanku"Hati Rasya sekali lagi menciut. Di tatap nya istrinya itu lekat-lekat.Rasya semakin sadar bahwa dosa yang telah diperbuat terhadap keluarga kecilnya ini sungguh besar. Pantas saja putri nya itu sekarang membencinya.
"Aku bukan pria yang baik, bukan juga suami yang sempurna. Bahkan aku juga ayah yang buruk. Tapi kamu masih saja memaafkan dan menerima ku Fina" Batin Rasya dalam hati lalu mengikuti langkah istrinya menuju meja makan.
***
Seorang laki-laki bule yang beberapa jam yang lalu menjemputku itu menggandeng tanganku dengan sangat posesif.Seakan tak ingin aku pergi menjauh darinya. Malam ini Ale datang kerumah dan mengajak ku nonton di bioskop.
Ya elah... kalau saja bukan demi ayah dan Jeje, mana mau aku jalan-jalan malam-malam gini.Setidaknya aku harus memberi kesempatan mereka untuk berbicara dan menghabiskan waktu berdua bukan. Beruntungnya ada bule nyasar yang pulang dari luar kota itu datang dan mengajakku, meskipun agak malas sih. Mengingat hatiku yang sedang mendung.
Ah... jadi ingat dengan masalah tadi sore kan? Kalau kemarin aku masih bisa menghadapi Mama Sonia dan Titan, kalau besok? Entahlah....
Apa sebaiknya aku ngundurin diri aja ya? Kan sekarang ayah udah balik lagi dengan bunda? Tapi kalau aku masih terus ngandelin ayah, kapan aku mandirinya coba yang ada aku harus gantungin ayah terus kan.Lagian ayah juga masih harus biayain Tante Cabelita dan Raya juga.
"Pusing... pusing.. pusing" Runtuk ku dalam hati dan tanpa sadar aku memukul-mukul kepalaku.
"Kenapa Nad, kepala kamu sakit? Kita kedokteran aja ya kalau gitu? " Pertanyaan Ale menyadarkanku atas tindakan bodoh ku.
Bodoh banget sih aku. Bisa-bisanya saat lagi jalan sama Ale aku kepikiran masalahku sama Titan. Kalau gak kerena ke usilan cowok satu itu mungkin aku gak akan galau seperti ini.
Dengan segera aku menggelengkan kepalaku.
"Gak apa-apa kok Le! " Ucapku kemudian. Ale tersenyum ke arahku dan mengacak sedikit rambutku.
"Mau nonton film apa? " Tanya Ale saat kami sudah berada di depan loket pembelian tiket.
"Ehmmm...." Aku berfikir sejenak kemudian menghadap ke arah Ale sambil nyengir.
"Jangan bilang kalau kamu mau nonton film doraemon Nadin"Tunjuk Ale padaku.
Senyumku makin lebar dan seketika Ale menepuk jidatnya.
"Segede gini masih suka film kartun kamu?Gak berubah dari dulu Kamu Nad "
"Biarin aku ngambek nih kalau gak mau? " Ucapku manyun dan membuat Ale terkekeh.
"Ok.. ok... ratuku yang paling cantik, kita nonton film doraemon. Gak usah ngambek kayak gitu, makin cantik tau? " Ucap Ale sambil mencubit pipiku gemas.
"Sakit tau" Ucapku manja sambil merangkul lengannya.
Ale segera membeli dua tiket film kesukaan ku. Dari dulu Ale memang selalu ngertiin aku. Apa yang aku mau dia selalu memenuhinya. Meskipun kadang dia sendiri tidak suka tapi dia lebih mementingkan kebahagian ku.Cowok idaman banget memang tapi satu hal yang ku benci darinya. Suka mainin hati perempuan. Hah....
Tak lupa Ale juga membeli satu pop corn ukuran besar dan dua botol minuman untuk teman nonton kami nanti.
Kini kami sudah berada di dalam bioskop. Lampu sudah di matikan tanda film akan segera di putar.
"Mama" Ucap anak kecil yang duduk disampingku.
Aku berusaha mengabaikan suara itu meskipun jantungku berdetak kencang. Semoga saja apa yang sedang aku fikirkan tidak benar. Semoga aku hanya salah dengar saja dan semoga panggilan itu tidak di tujukan padaku.
"Mama " Sekali lagi kudengar suara itu. Dan dengan sedikit keberanian ku tolehkan kepalaku ke arah kananku.
Dongggg
Benar dugaanku, lelaki kecil itu tersenyum kearahku sambil memperlihatkan gigi ompongnya.
"Mati aku ada Devan disini, kalau gitu pasti ada mama Sonia atau Titan disini" Batinku meringis.
Kenapa coba orang-orang yang coba aku hindari justru yang sering dipertemukan denganku. Kenapa ditempat yang luas ini aku selalu dipertemukan dengan mereka. Hah...
*
*
*
Ampun ya kak hari-hari ini jarang up. Biasa sibuknya emak-emak menjelang lebaran.
Maaf juga banyak Typo
Jangan lupa Like, komen and favorit in ya.
💕💕💕💕💕
mf y thor,ini cm pendpt q sndr aja🙏