NovelToon NovelToon
Assalamualaikum Pengagum Rahasia

Assalamualaikum Pengagum Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen School/College / Romansa-Teen school
Popularitas:59.9k
Nilai: 5
Nama Author: Elisa_nafiah

Bagaimana perasaanmu ketika dibersamakan dalam ikatan halal bersama ia yang mengagumimu dalam diam?
Ini tentang kisah mereka yang saling terkagum dalam diam dan do'a. Tak berani mendekat dengan sesama, melainkan mendekatkan diri kepada Sang Pemilik Hati terlebih dahulu.
Karena Allah tak pernah ingkar dengan janji-Nya. Bagi mereka lelaki baik untuk perempuan baik, dan bagi mereka lelaki tidak baik untuk perempuan tidak baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elisa_nafiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25- MASA SMA - Jalan Terbaik

Jika berjodoh, Allah tak akan menjauhkan, melainkan ia akan mendekatkan. 

-

-

-

-

✿✿✿

    "Eh, Lisaa...," sambut Laili riang ketika aku baru sampai di depan pintu kelas. "Udah selesai gladi bersihnya di perpus?" tanyanya membuat aku mengangguk. Membuat Laili hanya ber-oh-ria.

   Laili terdiam, mungkin peka terhadap raut wajahku, dia mengangkat alis. "Susah ya? Sampe muka kamu jadi kusut gitu? Ya Allah, berdo'a aja biar Allah lancarin semuanya," lanjutnya berceramah.

   Dia tidak tahu apa sebab mukaku seperti ini. Untung saja Laili tidak terlalu menyadari mata sembabku.

   Aku hanya mengangguk dan tersenyum kalem, mengucapkan 'aamiin' dengan pelan dan berpamit padanya untuk menuju bangkuku.

   Zaskia dan yang lainnya masih sibuk fokus menatap layar, menikmati drama Korea terbaru yang telah ia download.

   Aku menghela nafas, lalu merunduk membuka tas untuk mencari minum yang sengaja ku bawa dari rumah. Aku bisa melihat Hashim yang sudah sibuk menatap handphone miringnya bersama Rahman dan Deni bermain game dipojok samping meja guru.

   Aku mencibir kecil. Dasar cucu lambe turah! 

   Aku mulai membaca basmallah dan meneguk air putih tersebut. Tenggorokanku yang terasa kering saat balik dari musola membuat tegukan air putih ini terasa melegakan.

  Selesai itu, aku menoleh ke belakang. Ada Zaskia dan yang lain, akhirnya memilih bergabung.

   "Haiii, Lisa," sambut Zaskia kini menggeser tubuhnya dan menyisakan tempat untukku.

  Akupun balas menyambut dengan senyuman, lalu duduk dan bergabung. Dia sedang menonton Moment at Eighteen, drama terbaru yang dibintangi oleh Ong Seongwoo yang menjadi favoritku.

  Ya, jiwa K-pop ku muncul sejak Zaskia membuka gerbang untuk aku memasuki dunia K-pop. Sesat memang, tapi aku harus pintar-pintar membatasi. Aku hanya sakadar suka. Jangan sampai terlalu kecanduan.

 

    Sedang asik-asiknya menonton, aku yang tak sengaja mendongak menatap ke arah pintu mendapati Vian yang baru saja memasuki kelas dengan santai.  Yang tak lama bergabung dengan Hashim dipojok samping meja guru. Mengeluarkan handphone dan mulai masuk ke dalam game.

   "Sa, udah solat dhuha?" tanya Zaskia membuat aku memekik kecil kaget.

   "Haah?" reflekku, tapi segera menguasai diri dan mengangguk, "sudah."

  Kedua alis Zaskia terangkat. "Kenapa?"

   Astagfirullah.

  Aku menghela nafas,  bisa dihitung sudah berapa orang yang menanyai 'kenapa' pada diriku.

    Kenapa mereka tidak langsung bilang,

'Ada masalah ya, dari raut wajah kamu itu kentara sekali. Kalau ada sini cerita sama aku.'

  Ahhh, itu hanya hallu. Aku jarang sekali mendapati orang seperti itu.

   Jika aku tak mendapati orang yang seperti itu, orang yang peka terhadap lingkungan, orang yang membuka diri sebagai tempat curhat. Tak salah jika aku menjadi salah satu orang seperti itu kan?

  Itu kenapa sebabnya mereka yang kadang punya masalah lebih suka lari ke aku, katanya aku adalah pendengar yang baik dan bisa memberi saran. Membukakan hati dan pikiran mereka. Padahal itu semua berkat Allah.

   Alhamdulillah jika hidupku bermanfaat walau hanya sebagai tempat curhat, setidaknya membuat hati mereka yang dirundung gelisah jadi tenang.

  

   Terkadang yang memberi saran dan yang bisa menyelesaikan masalah orang lain, namun tak mampu menyelesaikan masalah sendiri dan memberi semangat pada diri sendiri.

  Bahkan jika aku lari ke teman untuk sakadar curhat, mereka hanya mendengar tanpa mampu memberi solusi yang aku inginkan.

Itu sebabnya aku lebih sering lari ke Allah, mengadukan segalanya ke Allah. Selain merasa  tenang, yakinlah suatu saat dalam waktu cepat atau lambat Allah akan memberi petunjuk.

   

  "Lo gapapakan, Sa?" tanya Syifa juga menoleh, menyadari aku yang dian tak menjawab sejak tadi.

  "Lisa kayaknya moodnya lagi dibawah rata-rata KKM kelas, dari tadi diem mulu," kata Laili berjalan ke arah kami dan mengomel. Ia jadi mendudukkan diri di depanku. Menompang dagu dengan kedua tangannya menatapku, membuat kedua pipi bulatnya mau tumpah.

  Dia gemesin, imut, dan lucu.

   "Hah? Enggak kok, gapapa. Aku biasa aja. Oh iya kalian belum solat dhuhakan? Sana gih solat dhuha, jangan jadi orang yang merugi!" kataku mengalihkan pembicaraan, menyuruh mereka segera mengerjakan solat dhuha, baru jam sepuluh. Tadi aku ke musola sekitar jam setengah sepuluh. Masih diperbolehkan solat dhuha.

   "Aku libur," saut Nadya yang sejak tadi menghadap ke arahku dan hanya menyimak kini angkat bicara.

   Zaskia menghela nafas, lalu beranjak. "Ya udah ayok solat dhuha dulu," ajaknya pada Laili dan Syifa.

Aku tersenyum, senang memiliki sahabat seperti mereka. Yang saling mengingatkan dalam kebaikan.

    Mencarinya sangat susah. Beruntung sekali aku dipersatukan dengan mereka.

   Makin lama aku makin sadar, aku tak perlu menyesal harus berpisah kelas dengan sahabat-sahabatku dulu. Memang tak bisa menggantikan sosok sahabat yang konyol seperti Zulfa, Cece, dan Faniya.

  Tapi bukankah Allah selalu mendatangkan orang baik di sekitar kita, jika kita juga berniat untuk menjadi baik?

  Janji Allah benar. Allah Maha Adil, Maha Penyayang, dan juga Pengasih.

  Apa-apa yang telah Allah hadirkan untuk kita sepatutnya kita mensyukurinya. Allah lebih tahu mana yang terbaik bagi hamba-Nya.

   Akhirnya hanya tersisa aku dan Nadya yang kini menonton drakor.

  "Engga curhat?" tanya Nadya memancing membuat aku menoleh ke arahnya. Ah iya, ada satu sahabat yang tadi aku inginkan. Nadya.

  Ia sudah seperti malaikat yang didatangkan Allah untukku. Selalu bisa membuat aku sadar dan tenang.

  Aku bergumam kecil, bingung harus mulai cerita darimana. Aku terdiam sebentar, mencoba menyusun kalimat.

   "Aku bingung deh, ga nyangka aja gitu," kataku. Nadya mengernyit, kini sama-sama tak menggubris drakor yang terpampang jelas dilayar laptopnya Zaskia.

  "Why?"

   Aku menghela nafas, kalau tadi pada nanya 'kenapa' kini versi Nadya beda. Dia memakai Bahasa Inggris.

  "Yang kita kira baik belum tentu baik ya pada akhirnya," kataku melanjutkan tapi hanya setengah-setengah. Tetapi Nadya masih diam, membiarkan aku melanjutkan penuh. "Fariz," kataku pelan hampir berbisik tidak dengar.

   Aku memiringkan kepala, pandangaku tertuju ke atas menatap dinding - dinding langit, mencoba mencari kata yang tepat dan tidak terlihat menyinggung. Tapi jadi sadar sesuatu.

  "Oh iya, kamu belum aku ceritakan tentang kejadian selama festival kemarin ya?" tanyaku pada Nadya yang mengangguk.

  Akhirnya aku mulai bercerita tentang kejadian selama festival, dimulai dari Vian yang sudah baikan sama aku lagi setelah aku menghindarinya sampai  kejadian Fariz mendekatiku di saat puncak festival yang mengajak aku fotbar.

  Nadya yang mendengar cerita runtut itu melotot tak percaya, dari raut wajahnya merasa kecewa. Berkali-kali ia mengucapkan istighfar.

  Aku menggembungkan kedua pipi, yang tak lama mengulum bibir ke dalam.

  Aku mengambil nafas panjang dan menghembuskannya pelan. "Ya begitulah, aku baru mengetahui semuanya tadi. Aku bersyukur mengetahui segalanya dengan cepat daripada terlambat. Allah Maha Baik, luka yang diberikan lebih cepat dibanding diwaktu yang tepat," kataku dengan lirih.

   Aku merunduk, memainkan jari-jariku.

"Saat kau gantungkan segala harapmu pada manusia, saat itu pula Allah timpakan padamu apa itu rasa kecewa," kata Nadya membuat aku mendongak, mengiyakan perkataannya barusan yang menyentuh sekaligus menampar diriku.

  

     "Kamu percayakan skenario Allah indah daripada skenario yang kamu inginkan?"

Nadya kini menatap lurus ke arahku, "udah mau menginjak semester dua setelah itu kita akan naik ke kelas dua belas. Daripada kamu menyibukkan diri mengagumi seseorang kenapa tidak kamu sibukkan diri untuk mengagumi nikmat yang Allah berikan? Kenapa tidak menyibukkan diri dengan cara memperbaiki diri? Allah berjanjikan, wanita yang baik untuk lelaki yang baik. Dan juga kalau jodoh Allah semakin mendekatkan bukan menjauhkan. "

     Nadya mengambil nafas sesaat, "lebih baik mulai sekarang memperbaiki diri dan menyibukkan diri dengan belajar. Belajar mencintai Allah, kelak jika kamu sudah mencintai Allah, kamu dipertemukan dia penyempurna agamamu, tak ada alasan lain mencintai dia karena Allah."

   Mendengar rangkaian kata Nadya, perempuan yang pendiam dan anggun sekaligus cantik wajah dan akhlaknya membuat aku hampir menangis. Tatapanku padanya berubah jadi nanar.

  "MasyaAllah, puitis banget kamu," ceplosku kagum. Membuat Nadya yang tadi menatap serius jadi mendengus.

"Sya, aku beneran loh!" tegurnya.

  Aku terkekeh, "iya iya, jazakillahu khairan ya atas ceramahnya. Aku tidak tahu harus mengatakan apalagi sama kamu. Kamu memang ditakdirkan Allah sebagai tempat curhat ku ya?" tanyaku menggoda. Nadya tersenyum.

  "Aku juga bersyukur bisa bersahabat dengan kamu," lanjutnya.

 

  Dan aku lebih bersyukur atas karunia Allah menghadirkan kamu untuk aku.

  Aku menggumam dalam hati.

  Ya Rabb, terimakasih telah menghadirkan sahabat-sahabat yang dapat menunjukkan ke jalan yang Engkau ridhoi setelah sekian lama aku kehilangan arah.

Ya, aku bukanlah perempuan kalem, baik, anggun, dan taat. Aku baru memulai hijrah saat aku berteman dengan mereka. Allah memberi aku hidayah melalui mereka.

  

   Allah hadirkan Nadya padaku, membuat aku merasakan mengagumi seseorang karena Allah. Rasanya lebih indah dan nyaman, dibanding dulu aku lebih banyak menggantung harap pada seseorang di saat aku SD.

Lucu, aku yang masih polos menyukai teman satu kelas yang tak menyukaiku. Sehingga Allah timpakan aku rasa kecewa mendalam. Jika dibandingkan dengan Fariz,  rasa kecewa ini tak seberapa. Aku mengagumi Fariz karena Allah dan aku meminta pada Allah jika dia pantas ku kagumi, Allah tak akan meleburkan rasa kagumku padanya.

   Namun setelah tadi mendengar semuanya, seolah rasa ini lenyap. Seolah selama ini aku tak punya rasa kagum dengan pria itu.

  Mulai hari ini aku telah memudarkan rasa kagumku padanya.

✿✿✿

Assalamu'alaikum 💜

1
suharlina
udah ngak dilanjut ya
🍒⃞⃟🦅
klepek2 uy 😻🤭
Ara Muybella
ini ko g up terus y udah hampir 2 thn ceritanya mewakili banget masa" sekolah dulu up lg dong
y
next ka
y
next
Nabila
lanjut dong kk
Nabila
lnjt kk
Nabila
bgus kk
Nabila
p
Nabila
semangat kk
Nabila
wkwkw
Nabila
bikin penasaran aj kk
Ana Ini
lanjut dong kak😊
Cummee ClluluphLuph Jendol
kk author kmn yah, kq novelnya berhentiiii. lanjut lahhhh
Reni Nuraeni
lanjut dong ka;)
M4r$@nd@~~~
Up lagi dong kak seru lohh seriusss bagus banget aku udah nunggu nunggu lohh ❤
Melly Kamili
lanjut lagi kk.
Cummee ClluluphLuph Jendol
kpan yg up dek..
Pina
haloo saya baru belajar menulis karyaku, mampir yu ke novel saya 😊😊


Disepertiga malamku

terima kasih sebelumnyaa😉
Sa'adah Nurjanah
nungguuu
Pina: haloo saya baru belajar menulis karyaku, mampir yu ke novel saya 😊😊


Disepertiga malamku

terima kasih sebelumnyaa😉
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!