Di novel Author yang kedua ini, Author akan menceritakan sebuah peliknya kehidupan seorang pemuda tampan, yang dimana kehidupannya selalu di selimuti kesedihan yang sangat perih di dalam dirinya.
pengalaman hidup, akan kehilangan orang orang yang sangat di sayangi, membuatnya berpikir, dia belajar dan terus belajar menjadi orang yang sangat kuat, dan tak ingin lagi menjadi sosok seorang lelaki yang lemah cengeng dan manja.
Hingga pada suatu masa, ketika ia telah dewasa. Dirinya terjebak di sebuah dunia, dimana ketika itu, tak ada kehidupan canggih seperti zaman sekarang ini.
Berat memanglah berat, kehidupan yang di jalaninya. Mungkinkah Leon bisa bertahan sekaligus melewati petualangan hidupnya.
Simak dan baca terus, kisah perjalanan Leon Scott Kennedy dalam mengarungi bahtera kehidupanya yang sangat pelik dan epic.
Jangan lupa like rate and comment karya terbaru saya,
Salam Author
Arby Yingjun
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arby yingjun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OBROLAN PAGI HARI
Ray yang merasa malu akan godaan kekasih hatinya, memilih bangun dari tempat duduknya dan mengantar Leon berangkat ke sekolahnya.
"Leon, hari ini. Tante yang bakal anter Leon ke sekolah ya." Ray mengulurkan tanganya pada Leon.
"Baik, Tante." Leon mengangguk dan bangun dari duduknya.
"Salim dulu sama Om Virzanya jangan lupa!" Ray mengingatkan.
Leon menghampiri Virza, dan mencium punggung tangannya.
"Om, Leon berangkat sekolah dulu ya." Leon melambaikan tangan pada Virza dan berlalu pergi bersama Raylene.
Leon masuk ke dalam mobil, ia duduk di bangku belakang, sedang Ray di bangku depan kemudinya.
"Tunggu!" Virza menghampiri mobil yang di tumpangi Leon dan Ray.
"Ada apa Om?" tanya Leon.
"Belajar yang baik ya!, dan jangan nakal. Nanti Om akan jemput ketika Leon pulang." ucap Virza.
"Siap Om." Leon mengacungkan jempolnya.
"Leon, lihat itu!" Virza menunjukan sesuatu dengan tanganya ke arah luar jendela.
Leon mengikuti kemana arah telunjuk tangan Virza.
"Cups." dengan cepat membungkuk dan mencium pipi Ray sedang fokus memegang setirnya.
"I love you Ray." Bisik Virza di telinga Ray.
Lagi lagi, rona merah di sertai senyum yang mengembang muncul di wajah cantiknya Raylene.
"Me too." Ray menunduk malu.
"Mana Om?" tanya Leon yang tak mendapati apa apa yang di lihatnya.
"Sudah lupakan saja Leon!, mungkin Om Virza salah lihat." Virza berkilah dengan sedikit dustanya.
"Aku berangkat dulu." Ray berlalu meninggalkan Virza tuk mengantar Leon menuju sekolahnya.
Virza mengangguk sambil tersenyum dan melambaikan tanganya, melihat mereka yang semakin menjauh.
Virza berbalik melangkah kembali masuk ke dalam rumahnya.
Tidid.. Tidid..
Suara klakson mobil yang tak asing di telinga, membuat Virza menghentikan langkahnya.
Mobil itu masuk, dan berhenti tepat di depan rumah Virza.
"Selamat pagi, Pak Yosep." Virza mengawali percakapanya.
"Pagi juga, Virza." Yosep yang baru keluar dari mobilnya.
"Mari masuk Pak." ajak Virza.
"I ya." Yosep mengikuti Virza masuk ke dalam rumahnya.
Di dalam rumah, Yosep di persilahkan duduk. Seperti biasa, Virza akan membuatkan segelas kopi hitam kesukaan Yosep.
Tak berselang lama, Virza telah kembali membawa segelas kopi untuk di sajikan kepada Yosep.
"Virza, kedatanganku kali ini, hanya ingin memastikan kepadamu saja. Bahwa jadwal keberangkatanmu ke Singapura adalah nanti sore. Jadi aku harap kau sudah mempersiapkan segalanya.
"I ya, Pak Yosep."
"Bagus, aku suka orang yang tidak berbelit belit." Yosep menyalakan rokoknya dengan pemantik.
"Pak, saya..saya." Virza tidak melanjutkan kata katanya.
Kepulan asap putih keluar dari mulut Yosep.
"Ada apa lagi, Virza? Yosep mengangkat gelas kopi dan meminumnya secara perlahan.
Virza menarik nafasnya dengan dalam, dan menghembuskanya secara perlahan. Ia menncoba menenangkan hati dan dirinya.
"Saya titip Leon, kepada Bapak." Virza menatap penuh harap.
"I ya, Virza. Percayalah padaku!, aku akan menjaganya dengan segenap jiwa dan ragaku." tegas Yosep untuk meyakinkan Virza.
"Terima kasih, Pak." ucapan tulus dari mulut dan hatinya.
"Tidak usah tegang seperti itu, merokok lah dulu, agar kau lebih relax." titah Yosep.
Virza menunduk merasa tidak enak hati, dan menerima tawaran Yosep untuk mengambil sebatang rokok dan menghisapnya.
"Nah, gitu dong!, hilangkan keteganganmu. Kupastikan kepadamu, takan terjadi apa apa pada Leon. Karena dia sudah ku anggap anaku sendiri." tegas Yosep dengan wibawanya.