Kecelakaan tragis menimpanya, dianggap sudah mati. Rinda kembali ke rumah setelah beberapa bulan.
Namun ketika kembali, bukan sebuah sambutan selamat datang, melainkan sebuah pesta pernikahan megah antara suami dan kakaknya.
"Jasad ku tak kau cari, Gani! Dan kalian malah menikah lalu menggelar pesta megah? Ingat, aku masih istrimu, dan aku masih pimpinan TBBA!"
Semua mata menatap Rinda dengan tubuh yang bergetar takut. Seolah dirinya bangkit dari kematian. Tak terkecuali dengan Gani dan Teani
Namun diantara ketakutan semua orang, ada satu orang yang tersenyum atas kembalinya dirinya. Sang asisten pribadi, Jexen. Pria muda itu terus saja tersenyum ke arahnya.
Lalu, apakah Rinda akan bertahan dalam pernikahannya lalu menerima Teani sebagai madunya, atau melepaskannya?
Dan bagaimana reaksi Rinda ketika Jexen mengungkapkan perasaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Hidup 26
"Ma, aku tidak bisa di sini terus. Bagaimanapun caranya kita harus kembali ke rumah."
Teani terus menerus berkata demikian. Namu Nania memilih diam dan tidak menanggapi ucapan anaknya. Ia tahu bahwa dirinya salah, dan bukan sebuah kesalahan jika Rinda mengusir mereka.
"Ma, kenapa Mama diam saja. Mama kan ada hak di rumah itu juga," ucap Teani. Sedari tadi mondar-mandir, akhirnya Teani duduk juga. Dia menatap sang ibu dengan tajam. Nani sama sekali tak bereaksi. Bahkan dia juga tidak melayangkan protes terhadap pengusiran yang dilakukan Rinda.
"Ma, bicara!" pekik Teani. Dia menjadi kesal karena Nania tidak berkata apa-apa.
"Mama harus bilang apa? Tindakan Rinda itu sangat wajar. Dan soal rumah itu, Mama tidak memiliki hak barang satu inci pun. Rumah itu adalah milik mendiang ibu nya Rinda. Jadi Mama tidak berhak sedikit pun."
Teani mengeratkan giginya. Dia tahu akan hal itu, tapi Teani pikir bahwa setidaknya mereka tetap memiliki hal di sana.
"Lalu, apa yang Papa tinggalkan untuk kita?"
"Rumah ini. Yang sungguh-sungguh Papa mu tinggalkan atas hasil uangnya sendiri hanya rumah ini. Ahli waris hanya Rinda. Dan kamu juga tahu kan Teani, saham sebanyak 5% yang diberikan itu pun bukan sepenuhnya milikmu. Melainkan milik kita berdua."
Brak!
Teani tidak lupa akan hal itu. Saat ayah mereka meninggal, hanya saham 5% lah yang diberikan kepadanya. Tapi meski demikian, Teani juga diberikan posisi direktur oleh Rinda selama Rinda menjadi pimpinannya.
Selama hidup, Nadisyah malah tidak memberikan posisi itu kepada Teani. Teani hanya ada di posisi staf biasa. Namun setelah Nadisyah meninggal, Rinda mengangkat kakak beda ibu itu ke salah satu posisi penting dalam TBBA.
"Sial. Semuanya sama sekali tidak berjalan sesuai dengan keinginanku," geram Teani.
"Sudahlah, mending kamu besok kembali bekerja aja. Tapi berita di luar sungguh sangat panas. Jadi bersiap jika ada orang yang menggunjing mu. Lalu soal Gani bagaimana? Apa benar kamu mau mempertahankan dia?"
Nania juga membaca berita diluaran sana. Ada banyak spekulasi tentang kecelakaan Rinda. Jujur dia takut, bagaimana bisa mereka berpikir demikian.
Nania akui bahwa dia tutup mata dengan hubungan Teani dan Gani. Namun sampai mencelakai Rinda, Nania sama sekali tak pernah terpikirkan. Meski dia tak sepenuhnya menyayangi Rinda dan tak bisa menganggap Rinda adalah anaknya sendiri, tapi Nania tidak sekeji itu untuk menghilangkan nyawa Rinda.
Nania juga terpikirkan soal Gani. Hubungan pernikahan ini menjadi rumit. Nania awalnya mendukung Teani untuk mempertahankan Gani. Tapi sekarang Nania tak lagi berpikir seperi itu.
"Datang kembali ke kantor, aku jelas akan melakukannya. Bagaimanapun aku dalah direktur di sana. Sedangkan Gani, aku masih belum tahu Ma. Aku jadi ragu melanjutkan hubungan ku dengan Gani. Dia tampak benar-benar menolak ku. Kecuali aku hamil, ini akan jadi kunci kuat untuk mengikat Gani selamanya dengan ku."
Teani mengambil nafasnya dalam-dalam. Dia pun juga merasa ragu ternyata dengan pernikahannya dengan pria yang masih sah menjadi suami adiknya. Rasa cintanya kepada Gani memang besar, tapi penolakan berkali-kali dari pria itu membuatnya menjadi sangat ragu.
Cinta itu sendiri, Teani tidak tahu apakah Gani sungguh mencintainya atau tidak.
"Tea, apa sungguh harus Gani? Maksud Mama, kenapa kamu tidak melepaskan pria itu? Mama rasa, Gani tidak sepolos kelihatannya," ucap Nania tiba-tiba. Kening Teani langsung berkerut mendengar ucapan sang ibu.
"Kenapa Mama bicara begitu?"
"Entahlah, Mama cuma merasa tidak nyaman saja dengan Gani setelah Rinda kembali. Dia seperti menjadi pribadi yang lain."
Teani masih tidak mengerti maksud Nania. Ya memang Gani berbeda. Sikapnya kepada dirinya sebelum dan sesudah Rinda muncul, sangat berbeda.
Dulu Gani terlihat sangat mencintai Teani, namun dia langsung berbalik tak acuh saat Rinda kembali. Padahal sebelum kecelakaan itu, Gani juga tampak begitu mencintai Teani sehingga mereka terlibat asmara terlarang di belakang Rinda.
"Sudahlah jangan dipikirkan. Sekarang lebih baik kamu beristirahat untuk besok. Kamu harus ke kantor dan menghadapi tatapan orang-orang. Cara pandang mereka terhadap mu pasti tak lagi sama," ujar Nania.
Teani paham, namun itu bukan hal yang ditakutkan oleh nya. Teani akan bersikap seperti biasa. Dia bertekad untuk tetap menegakkan kepalanya dan tak akan menunduk meski hanya sekejap.
Teani punya tekat yang kuat untuk kembali ke kantor dan berniat untuk mengabaikan orang-orang. Sedangkan Rinda, dia tengah menyiapkan seluruh berkas untuk melakukan gugatan ke pengadilan negeri. Perceraian, Rinda akan segera mengurusnya. Dia tak ingi berlama-lama memikul status istri dari Gani Prawirorejo.
"Mbak, udah ada pengacaranya belum? Mau aku carikan?"
Jexen duduk di depan Rinda sambil membawakan segelas susu hangat. Ia meletakkan gelas itu tepat di depan sang nona.
Rinda mengehentikan tangannya. Dia menegakkan tubuhnya dan matanya menatap lurus ke arah Jexen
"Kamu ada kenalan, Jex? Kalau ada boleh juga. Besok buat janji, biar bisa lansung di urus," ucapnya.
"Ada, Mbak. Nanti aku hubungi dan besok kita ketemuan," jawab Jexen cepat. Dalam hati Jexen bersorak keras sekali. Dia sangat senang akrena akhirnya Rinda mengurus berkas gugatannya.
"Mbak, apa Mbak sudah punya cukup bukti?" tanya Jexen. Dia baru ingat akan hal tersebut.
Rinda tersenyum. Wanita itu sama tidak menjawab pertanyaan Jexen. Dan malah memberi Jexen pertanyaan lain.
"Lalu Jex, mau sampai kapan kamu di sini hmm?"
"Sampai semuanya aman. Sampai mereka tak lagi mengganggu mu. Dan sampai kamu lepas sepenuhnya dari pria itu," jawab Jexen cepat.
"Serius?"
"Yap, serius. Tuh."
Mulut Rinda menganga, matanya membelalak saat mengikuti arah tangan Jexen yang sedang menunjuk koper besar yang ada di depan pintu kamar tamu.
"Itu?
"Bajuku."
"Kapan?"
"Tadi sore pas Mbak tidur."
Rinda menepuk keningnya pelan. Dia tidak menyangka bahwa Jexen benar-benar akan tinggal. Ia pikir ucapan brondong satu itu hanya guyonan semata.
"Kamu tidak bilang?" ujar Rinda.
"Mbak pasti tidak akan setuju. Makanya aku tidak bilang. Mbak, kamu ini sedang rawan. Kondisi tubuhmu belum sepenuhnya kembali sehat. Aku tidak mau ambil resiko dengan membiarkanmu sendirian. Terlebih aku yakin mereka masih akan mengusik mu. Jadi biarkan aku tinggal," ucap Jexen panjang lebar.
Rinda menghela nafasnya panjang.
"Baiklah, terimakasih Jex. Kamu sungguh baik."
Jexen tersenyum tipis. Nuraninya tersenggol dengan pujian yang baru saja Rinda ucapkan.
"Baik? Apa benar aku baik? Entahlah apa benar demikian. Karena aku melakukan semua ini juga untuk kepentinganku sendiri. Aku, aku tidak ingin jauh dari mu. Aku juga tak ingin kamu kembali dengan pria busuk itu.
TBC
Manteman, kalau ada kata yang salah. Atau yang rancu, di komen aja ya. Maap kadang othor sambil ngantuk" nulisnya hehhe. Makasih yaaaa