Esmera, gadis yatim piatu yang dibesarkan oleh pelayan istana, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah Raja Edris Ruan memilihnya.
Mereka menikah, namun pernikahan itu serasa neraka bagi Esmera. Dan puncaknya, muncul seorang gadis bernama Lyra Arabella, dia mengaku sebagai adik kandung Esmera. Dan akan menggantikan posisi kakaknya sebagai Ratu.
Saat itulah Esmera mengetahui kebenaran yang mengerikan. Pernikahannya dengan Edris bukan sekadar kisah cinta. Dia telah dipersiapkan sejak bayi untuk menjadi pengantin keturunan raja pengkhianat, demi mematahkan kutukan keluarga Raja Edris.
Esmera dibunuh oleh Lyra, adiknya sendiri. Karena Lyra berpikir, jika kakaknya masih hidup, dia akan selalu menjadi yang kedua.
Namun keajaiban itu datang. Esme kembali ke masa lalu, disaat dia belum menjadi Ratu.
Kali ini Esmera tahu apa yang akan terjadi.
Sebelum Raja Edris menemukannya, Esmera akan melarikan diri dan mengubah takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran Edris Ruan
Dahulu, ada saat-saat ketika Esmera begitu mendambakan pria yang kini sedang duduk tenang di hadapannya itu.
Hanya dengan satu tatapan dari Edris Ruan, hatinya sudah mampu berdebar tak karuan. Dahulu, Esmera bahkan pernah membayangkan kehidupan indah bersamanya, menjadi seorang istri yang dicintai, hidup berdampingan dengan pria yang selama ini menjadi pusat dari seluruh dunianya.
Namun, semakin tinggi harapannya, semakin dalam pula luka yang dia terima.
Mimpi-mimpi manis yang dulu dia rangkai seorang diri pada akhirnya berubah menjadi mimpi buruk yang membuatnya kehilangan segalanya dan meninggalkan duka mendalam hingga menjadi sebuah trauma.
Ketidakpedulian Edris menjadikan rasa percaya diri Esme perlahan sirna. Dia menjadi ratu yang tidak percaya diri, merasa tidak cantik, tidak menarik, tidak pantas, itu sungguh sangat menyedihkan.
Sekarang, Esmera tidak akan lagi berani membayangkan hal-hal semacam itu.
Dia sudah pernah mencintai Edris dengan seluruh hatinya. Dan dia tidak ingin mengulang kebodohan yang sama untuk kedua kalinya.
"Aku akan tetap pergi," jawab Esmera ketus.
Tatapannya tetap tertuju pada pria di hadapannya, tetapi tidak ada lagi kelembutan yang dulu pernah dia tunjukkan. Yang tersisa hanyalah kewaspadaan dan keteguhan hati.
"Aku sudah memutuskan untuk hidup sebagai rakyat biasa. Aku tidak mau lagi terlibat dengan konflik kerajaan."
Edris mengangkat alisnya sedikit. Sepertinya penolakan Esmera sama sekali tidak membuatnya menyerah."Aku tidak akan melibatkanmu," katanya tenang."Kau cukup menjadi istriku, melayaniku dan..."
"Aku tidak tertarik, Yang Mulia. Terima kasih atas tawaran Anda." Esmera langsung memotong ucapannya. Jawabannya begitu tegas sampai senyum tipis di wajah Edris menghilang sesaat.
Pria itu menatap Esmera lekat-lekat. Jelas sekali dia tidak terbiasa ditolak. Terlebih lagi oleh seorang wanita yang seharusnya merasa terhormat karena mendapatkan tawaran menjadi ratunya.
Sayangnya, Esmera tidak peduli dengan semua itu. Dia justru sudah bersiap menghadapi segala macam bujukan dari pria tersebut.
"Apa kau tahu Esmera? Aku akan selalu mendapatkan apa pun yang kuinginkan."
Nada suara Edris terdengar santai. Namun, justru itulah yang membuat Esmera meradang. Bagaimana bisa pria ini berbicara seolah-olah semua orang dan segala sesuatu di dunia ini berada di bawah kendalinya?
Esmera mengepalkan tangannya di bawah meja. Biar bagaimanapun, dia tidak boleh terpancing.
Tidak. Esmera jangan terpancing oleh kata-kata manisnya. Itu semua hanya kebohongan.
Dia sudah tahu seperti apa akhirnya jika dirinya kembali mempercayai Edris.
Esmera mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya kembali membuka mulut.
"Biar kuperjelas lagi, Yang Mulia." Kali ini suaranya terdengar jauh lebih serius."Jika kita menikah, Anda tidak akan memiliki anak. Karena tujuan Anda menikah adalah untuk memiliki keturunan, maka pernikahan kita hanya akan menjadi sesuatu yang sia-sia." Esmera sengaja menekankan setiap perkataannya."Tetapi jika Anda memilih Lyra, maka itu akan berbeda."
Nama itu membuat tatapan Edris berubah sedikit.
Namun, Esmera tidak berhenti."Jadi jangan membuang-buang tenaga untuk hal yang tidak berguna hanya untuk memberi makan ego Anda, Yang Mulia."
Suasana ruang makan seketika menjadi hening. Esmera menatap Edris tanpa gentar.
Untuk pertama kalinya, dia merasa puas karena berhasil menyampaikan semuanya tanpa membiarkan emosinya menguasai diri.
Dia sudah memberikan alasan yang cukup masuk akal. Seharusnya Edris mengerti. Seharusnya pria itu berhenti memaksanya. Namun, bukannya marah, Edris justru mengulas senyum tipis.
Senyum yang entah mengapa membuat Esmera merasa tidak nyaman."Sepertinya aku sudah mulai menyukaimu, Esmera."
Esmera terdiam. Untuk sesaat, dia hanya menatap Edris dengan wajah datar.
Pria ini benar-benar menguji kesabaran. Apa yang ada di dalam kepalanya?
Esmera menarik napas panjang. Dia sudah tidak ingin memperpanjang percakapan yang menurutnya tidak akan menghasilkan apa pun."Aku sudah selesai." Gadis itu kemudian berdiri dari tempat duduknya."Percuma saja berbicara pada Anda. Permisi."
Tanpa menunggu jawaban, Esmera segera berbalik. Langkahnya cepat meninggalkan ruang makan. Dia tidak ingin memberi kesempatan kepada Edris untuk mengatakan sesuatu lagi. Katakan dia lancang karena sudah meninggalkan seorang raja di meja makan, dia tidak peduli.
Sebab dia tahu, semakin lama berada di dekat pria itu, semakin sulit baginya untuk mempertahankan keteguhan hatinya.
Pintu ruang makan akhirnya tertutup setelah Esmera keluar. Meninggalkan Edris Ruan seorang diri di meja makan. Pria itu tidak mengejarnya.
Dia hanya menyandarkan tubuhnya pada kursi, kemudian kembali mengulas senyum tipis. Tatapannya tertuju pada pintu tempat Esmera menghilang.
Bukannya kesal karena ditolak dan ditinggalkan begitu saja, Edris justru terlihat semakin tertarik. Sepertinya penolakan Esmera barusan malah membuatnya semakin yakin pada satu hal.
Wanita itu jauh lebih menarik daripada yang dia bayangkan.
***
Setelah sarapan, Edris akhirnya meninggalkan kastil dan kembali menuju istana.
Masih ada begitu banyak urusan yang menunggunya. Bagaimanapun juga, dia adalah seorang raja. Seharusnya sejak awal dia tidak menghabiskan malam di kastil hanya untuk mengurusi urusan seorang gadis yang berusaha melarikan diri.
Namun entah mengapa, kali ini dia tidak bisa begitu saja mengabaikannya.
Begitu tiba di istana, Edris bahkan belum sempat melangkah jauh ketika Bidam sudah menyambutnya. Berbeda dari biasanya, wajah ksatria itu tampak serius, seolah membawa kabar yang tidak bisa ditunda.
“Kami menemukan sesuatu, Yang Mulia.”
Edris menghentikan langkahnya. Tatapannya langsung tertuju pada Bidam. Namun, sebelum dia sempat menanggapi laporan tersebut, terdengar langkah kaki dari arah belakang.
Seorang wanita paruh baya berjalan mendekat. Penampilannya begitu elegan dengan gaun panjang berwarna emas yang membuatnya terlihat anggun dan berwibawa. Meskipun usianya tidak lagi muda, wajahnya masih menyimpan kecantikan yang membuatnya mudah dikenali sebagai salah satu wanita penting di istana.
Raut wajahnya tampak cemas.
“Yang Mulia,” panggil wanita itu."Aku begitu khawatir. Apa gerangan yang menyebabkan Baginda tidak segera kembali ke istana dan harus diwakilkan oleh Bidam?”
Edris hanya meliriknya sekilas.“Nanti saja, Bibi. Aku harus mengurus sesuatu.” Nada suaranya terdengar tegas, seolah tidak ingin membicarakan hal itu sekarang.
Kemudian Edris menoleh kepada Bidam.
“Bidam, ikut aku.” Tanpa menunggu jawaban, Edris kembali berjalan dengan langkah cepat menuju bagian dalam istana.
Bidam segera menyusul.
Wanita paruh baya itu hanya bisa berdiri di tempatnya, memperhatikan punggung Edris yang semakin jauh. Tatapan cemas di wajahnya perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih sulit ditebak.
Begitu Edris dan Bidam tidak lagi terlihat, wanita itu menghela napas panjang. Kemudian dia menoleh kepada pelayan yang berdiri tidak jauh darinya.
“Panggil Mily ke tempatku.”
Pelayan itu langsung menundukkan kepala.“Baik, Yang Mulia.”
Wanita tersebut kembali menatap ke arah lorong tempat Edris menghilang. Sorot matanya kini berubah dingin.“Sepertinya,” ucapnya pelan, “aku harus memberikan pelajaran kepadanya.”
Tangannya mencengkeram kain gaun emasnya dengan kesal.“Karena tidak becus mengurus gadis itu sampai membuat masalah seperti ini.”
Setelah mengatakan itu, dia berbalik dan berjalan pergi dengan langkah tenang. Namun di balik wajah elegannya, tersimpan kemarahan yang jelas ditujukan kepada satu orang, Mily.
Dan jika Mily sampai dipanggil olehnya, jelas bukan untuk sebuah percakapan yang menyenangkan.