NovelToon NovelToon
999 ISYARAT CINTA

999 ISYARAT CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Duda
Popularitas:556
Nilai: 5
Nama Author: Agung Khan

Bercerita tentang Kisah cinta Beda usua.
Bandung, pria berusia empat puluh tahun, telah lama menutup hatinya setelah masa lalu yang pahit membuatnya percaya bahwa cinta bukan lagi bagian dari hidupnya. Hingga ia bertemu Luna, guru muda berusia dua puluh empat tahun yang masih memiliki seorang tunangan. Pertemuan mereka perlahan menumbuhkan benih cinta yang tak pernah mereka akui. Saat akhirnya Bandung menyatakan perasaannya, Luna hanya mengangguk dan memberikan satu syarat: buktikan cintamu dengan seribu kata cinta dalam tiga bulan. Bandung pun memulai tantangan itu, meski ia tak pandai merangkai kata romantis. Namun setelah mengirim kata cinta ke-999, Luna tiba-tiba menghilang tanpa membaca atau membalas pesan tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEBUAH KEYAKINAN

Umi langsung memukul pelan lengan Bandung sambil tertawa.

“Kurang ajar lu!”

Tawa mereka kembali memenuhi sudut galeri lukisan. Suasana yang semula dipenuhi obrolan serius perlahan mencair, menyisakan kehangatan di antara dua sahabat yang sudah cukup lama saling mengenal.

Umi kemudian kembali menatap Bandung. Dia mengepalkan tangan, menekuk siku, lalu mengangkat lengannya di depan wajah dengan gaya orang yang sedang membakar semangat.

“Semangat, Brother!” serunya. “Kalau lu udah yakin sama perasaan lu, sekarang saatnya kejar dia dan dapatkan dia!”

Bandung menatap sahabatnya itu. Senyum perlahan terukir di bibirnya. Ada sesuatu yang terasa berbeda kali ini. Bukan sekadar keberanian sesaat, melainkan keyakinan yang selama ini selalu dia kubur jauh-jauh.

“Terima kasih, Mi.” Bandung mengangguk kecil. “Kali ini gue nggak mau jadi pecundang lagi!”

“Nah, gitu dong!” Umi menepuk pundaknya. “Tapi ingat, jangan sampai gara-gara urusan cinta, pesanan lukisan gue malah terbengkalai. Tolong segera selesaikan, ya!”

Bandung terkekeh.

“Buset! Lagi ngomongin perjuangan cinta, ujung-ujungnya tetap nagih lukisan.”

“Ya, iyalah! Cinta boleh diperjuangkan, tapi lukisan gue juga harus diselesaikan. Gue kan bayar, bukan cuma modal doa!”

Bandung menggeleng sambil tertawa. Dia kemudian menjabat tangan Umi sebelum menarik sahabatnya itu ke dalam pelukan singkat.

“Terima kasih, Mi. Buat semua nasihat dan dukungan lu. Soal lukisan, tenang aja. Malam ini juga gue beresin.”

“Gue pegang omongan lu, ya!”

“Siap, Bos!”

Mereka kembali tertawa.

Setelah berpamitan, Bandung berjalan menuju meja resepsionis. Di sana, Ika masih sibuk membereskan beberapa perlengkapan di dekat mesin kopi.

Bandung mengeluarkan selembar uang kertas dari dompetnya, lalu mengulurkannya kepada gadis itu.

“Hai, manis. Jangan bengong aja. Nih, buat bayar kopi gue tadi.”

Ika yang semula hendak mengambil uang itu mendadak menghentikan gerakannya. Dia melirik Umi, seolah meminta izin sebelum menerima pemberian Bandung.

Umi tersenyum melihat tingkahnya.

“Udah, terima aja, Ika. Nggak bagus juga nolak rezeki.”

Ika akhirnya mengulurkan tangan dan menerima uang tersebut.

“Terima kasih, Om Bandung. Sering-sering main ke sini, ya.”

Umi langsung menyambar ucapan itu dengan senyum jahil.

“Nah, bener tuh! Bandung, sering-sering main ke sini. Nanti tinggal minta dibikinin kopi aneka rasa sama Ika.”

Ika langsung menoleh kepada Umi dengan wajah sedikit merengut.

“Kopi aneka rasa apaan, Umi? Di sini paling adanya rasa pahit, asin, sama pedas!”

Bandung tertawa lepas.

“Waduh, kalau ada rasa pedas, gue jadi penasaran. Itu kopi apa sambal?”

“Ya, kopi buatan Ika!” jawab Umi enteng.

“Umi!” protes Ika, wajahnya mulai memerah.

Sekali lagi, tawa mereka memecah suasana galeri. Beberapa pengunjung yang sedang menikmati lukisan menoleh ke arah mereka. Bahkan, ada yang ikut tersenyum mendengar percakapan konyol tersebut.

Setelah puas bercanda, Umi dan Ika mengantarkan Bandung sampai ke depan galeri.

Bandung masuk ke dalam Ferrari merahnya. Sebelum menutup kaca jendela, dia melambaikan tangan kepada kedua perempuan itu.

Umi membalasnya dengan mengepalkan tangan dan menekuk siku, mengulang gerakan penyemangatnya tadi.

“Semangat, Brother!”

Bandung mengacungkan jempol.

“Doain gue!”

“Kalau lu serius, pasti gue doain!”

Bandung tersenyum, kemudian menutup kaca jendelanya. Mesin Ferrari merah itu menyala, lalu perlahan meninggalkan halaman galeri.

Malam mulai menyelimuti ibu kota. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya di permukaan aspal, sementara lalu lintas masih bergerak dalam irama khas Jakarta.

Bandung memacu mobilnya menuju galeri lukisan miliknya. Sepanjang perjalanan, pikirannya berkali-kali kembali kepada Luna.

Kali ini, dia tidak ingin lagi bersembunyi di balik alasan bahwa dirinya sudah terlalu lama hidup sendiri. Dia juga tidak ingin terus-menerus meyakinkan dirinya bahwa perasaan itu hanyalah kekaguman sesaat.

Dia tahu apa yang dia rasakan.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia ingin memperjuangkannya.

 

Sesampainya di galeri, Bandung langsung menuju kamar mandi. Dia mencuci muka, membiarkan air dingin membasahi wajahnya, lalu mengusapnya dengan handuk kecil.

Setelah itu, dia melangkah menuju gudang penyimpanan perlengkapan melukis. Beberapa saat kemudian, dia kembali dengan membawa sejumlah kanvas, cat, kuas, serta gambar-gambar referensi yang diberikan Umi.

Dia meletakkan semuanya di ruang kerja, kemudian mulai bekerja.

Kuas demi kuas bergerak mengikuti inspirasi yang muncul di kepalanya. Sesekali dia berhenti untuk mencampurkan warna, memiringkan kepala guna menilai komposisi, lalu kembali menggoreskan cat ke atas kanvas.

Waktu berlalu tanpa terasa.

Ketika langit di luar mulai berubah pucat, empat lukisan telah selesai dia kerjakan.

Bandung menyandarkan tubuhnya di kursi, lalu memandangi hasil karyanya satu per satu.

“Lumayan,” gumamnya.

Namun, saat hendak membereskan peralatan, matanya tertuju pada satu kanvas kosong yang masih berdiri di sudut ruangan.

Dia menoleh ke meja. Semua gambar referensi milik Umi sudah habis digunakan.

Seharusnya dia berhenti dan beristirahat. Tubuhnya mulai lelah, sementara matanya terasa berat.

Namun, entah kenapa, kanvas kosong itu justru membuat pikirannya kembali melayang kepada seseorang.

Luna.

Bandung berdiri, lalu berjalan menuju mesin espresso. Dia membuat secangkir kopi, mengambil bangku kayu, dan membawanya ke dekat kanvas kosong tersebut.

Dia duduk, meletakkan gelas kopinya di atas bangku kecil di sebelah kiri, kemudian menyeruputnya perlahan.

Setelah itu, dia memejamkan mata.

Untuk beberapa saat, ruangan terasa sunyi. Hanya terdengar dengung lembut mesin pendingin dan suara kendaraan yang sesekali melintas dari kejauhan.

Bandung mencoba mengingat wajah Luna.

Senyumnya.

Cara perempuan itu berbicara ketika sedang menjelaskan sesuatu kepada Oreo.

Tatapan matanya saat mereka tanpa sengaja saling berpandangan.

Bahkan, hal-hal kecil yang dahulu dianggapnya biasa saja kini muncul satu demi satu dalam ingatannya.

Tanpa sadar, sudut bibir Bandung terangkat.

“Kenapa, sih, lu selalu muncul di kepala gue?” gumamnya pelan.

Dia membuka mata, meraih kuas, lalu mencelupkannya ke dalam cat.

Kali ini, tangannya bergerak tanpa keraguan.

Dia mulai dengan beberapa garis sketsa. Perlahan, bentuk wajah seorang perempuan muncul di atas kanvas. Dia menambahkan lekuk rambut, sorot mata, dan senyum yang selama ini tersimpan begitu jelas dalam ingatannya.

Setelah sketsa selesai, Bandung mulai memainkan warna. Sapuan kuasnya bergerak lincah, menghidupkan sosok perempuan yang sejak tadi memenuhi pikirannya.

Sedikit demi sedikit, lukisan itu mulai memperlihatkan gambaran yang utuh.

Seorang gadis manis sedang duduk di atas Ferrari merah dengan kap mobil terbuka. Rambutnya bergerak lembut tertiup angin. Dia tersenyum sambil melambaikan tangan, seolah sedang menyapa seseorang yang berdiri di hadapannya.

Bandung berhenti melukis.

Dia memandangi hasil karyanya cukup lama.

Senyum kecil muncul di bibirnya.

“Luna…”

Nama itu keluar begitu saja dari mulutnya, terdengar seperti sebuah pengakuan yang selama ini terlalu sulit dia ucapkan.

Dia meletakkan kuas, lalu berdiri di depan kanvas tersebut.

Kali ini, dia tidak lagi mencoba menyangkal perasaannya.

“Gue nggak boleh jadi pecundang lagi,” bisiknya.

Tatapannya mengeras, seolah sedang meneguhkan janji kepada dirinya sendiri.

“Mau lu terima atau lu tolak, gue harus datang ke pernikahan lu.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, bagi Bandung, itulah keputusan terbesar yang berhasil dia ambil setelah sekian lama membiarkan ketakutan menguasai hidupnya.

Dia tidak tahu bagaimana akhir dari perjuangannya nanti.

Dia hanya tahu satu hal: kali ini, dia tidak ingin menyesal karena tidak pernah mencoba.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!