NovelToon NovelToon
CINTA YANG DULU KAU TOLAK

CINTA YANG DULU KAU TOLAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Kayla Rane

Wulan akhirnya terbebas dari pernikahan penuh luka setelah menceraikan Handi, suami yang kerap melakukan KDRT dan berselingkuh.

Demi menghidupi Delon dan Astrid, ia pergi ke kota dan menerima pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ART di sebuah rumah mewah.

Namun, Wulan tidak pernah menyangka pemilik rumah itu adalah Rian—lelaki yang pernah ia cintai saat kuliah, tetapi menolaknya karena menganggap Wulan bukan perempuan yang sesuai kriterianya.

Bertahun-tahun kemudian, keadaan justru berbalik. Rian mulai melihat ketulusan, ketegaran, dan kasih sayang Wulan kepada anak-anaknya. Di saat yang sama, Rian mulai menyesali pernikahannya dengan Nita, wanita karier yang lebih sibuk mengejar dunia model dan iklan daripada memperhatikan keluarga.

Rian yang dulu menolak Wulan kini perlahan jatuh cinta kepadanya. Tetapi Wulan bukan lagi gadis yang sama. Setelah melewati begitu banyak luka, mampukah ia membuka kembali hatinya untuk lelaki yang dulu pernah membuatnya merasa tidak cukup baik?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kayla Rane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 : DI ANTARA KEINGINAN DAN PERASAAN

...BAB 27...

...DI ANTARA KEINGINAN DAN PERASAAN...

Sejak percakapannya dengan Rian di taman beberapa waktu lalu, Clarissa mulai memikirkan banyak hal.

Ia masih ingat jawaban Rian ketika ditanya tentang tipe istri yang diinginkannya.

Sederhana. Lembut. Keibuan. Sayang anak-anak. Dan pintar memasak.

Kriteria itu terus terngiang di kepalanya.

Selama ini, Clarissa terbiasa tampil modis dengan pakaian bermerek, riasan sempurna, dan kesibukan yang membuatnya jarang berada di dapur. Namun, kalau memang itu yang disukai Rian, ia merasa tidak ada salahnya mencoba berubah sedikit.

Bukan berarti ia harus meninggalkan seluruh kebiasaannya. Ia hanya ingin menunjukkan bahwa dirinya juga bisa menjadi perempuan yang perhatian.

Karena itulah, siang itu Clarissa datang ke kantor Rian dengan penampilan yang sedikit berbeda. Ia mengenakan blus berwarna krem, celana panjang sederhana, dan riasan tipis. Di tangannya ada tas kecil berisi kotak bekal.

Ia bahkan bangun lebih pagi untuk menyiapkan makanan sendiri.

---

“Selamat siang, Pak Rian.”

Rian yang sedang membaca dokumen di ruang kerjanya mengangkat wajahnya terkejut.

“Clarissa? Kamu kok ke sini?”

“Aku kebetulan sedang tidak ada pekerjaan siang ini. Jadi, sekalian mampir.” Clarissa mengangkat tas bekalnya. “Aku juga bawakan makan siang buat kamu.”

Rian melirik tas itu. “Bekal?”

“Iya. Aku yang masak sendiri.”

Rian tersenyum sopan. “Wah, terima kasih. Merepotkan saja.”

“Nggak repot, kok. Aku memang sengaja membuatnya untuk kamu.”

Clarissa meletakkan tas bekal di atas meja. Rian menerimanya dengan senang hati. Ia menghargai usaha perempuan itu dan tidak ingin membuatnya merasa tersinggung.

Namun, ada satu hal yang tidak diketahui Clarissa.

Pagi tadi sebenarnya Rian sudah membawa bekal makan siang dari rumah. Dan bekal itu dibuat oleh Wulan.

Beberapa hari sebelumnya, Rian sendiri yang meminta Wulan menyiapkan makanan untuknya. Ia bosan membeli makan siang di luar dan penasaran dengan masakan rumahan perempuan itu.

Pagi tadi, Wulan menyiapkan nasi, ayam kecap, tumis buncis, dan telur dadar. Sederhana, tetapi cukup membuat Rian bersemangat menunggu jam makan siang.

“Rian, coba dibuka dulu,” ujar Clarissa.

Rian membuka kotak bekal yang dibawanya.

“Wah, kelihatannya enak.”

“Coba dimakan.”

Rian baru saja hendak mengambil sendok ketika Clarissa mengambilnya lebih dahulu.

“Sini, aku suapi.”

Gerakan itu membuat Rian terdiam. “Eh, nggak usah, Clarissa. Aku bisa makan sendiri.”

“Nggak apa-apa, kok. Ayo, coba.” Clarissa menyodorkan sendok ke arahnya.

Rian menggeser kursinya sedikit ke belakang. “Serius, aku bisa sendiri.”

Senyum Clarissa perlahan memudar. “Oh...”

Rian segera menyadari perubahan ekspresinya. “Bukan berarti aku nggak menghargai perhatianmu. Aku benar-benar berterima kasih. Hanya saja, aku lebih nyaman makan sendiri.”

Clarissa menurunkan sendoknya. “Baiklah. Kalau begitu, kamu makan saja. Aku temani.”

Rian melirik jam tangannya. Ia mulai merasa canggung, apalagi Clarissa tampaknya ingin menghabiskan waktu lebih lama di ruangannya.

“Maaf, Clarissa. Aku baru ingat ada beberapa dokumen yang harus kupersiapkan untuk rapat.”

“Sekarang?”

“Iya. Sepertinya aku harus memeriksanya dulu.”

Clarissa akhirnya berdiri. “Kalau begitu, aku nggak akan mengganggu. Besok-besok aku mampir lagi, ya.”

“Iya. Terima kasih sudah membawakan makanan.” ucapnya yang langsung diangguki Clarissa.

Setelah Clarissa pergi, Rian mengembuskan napas panjang.

Ia tidak bermaksud menyakiti hati perempuan itu. Namun, ia juga tidak bisa berpura-pura nyaman hanya demi menyenangkan orang lain.

Rian membuka tas kerjanya dan mengeluarkan kotak bekal dari Wulan.

Aroma masakan rumahan langsung tercium.

Ia tersenyum kecil. “Ini baru makan siang.” gumamnya.

*****

Malam harinya, rumah Rian mulai tenang.

Delon dan Astrid sudah tertidur di kamar mereka. Rana pun terlelap setelah seharian bermain. Mira juga sudah beristirahat di kamarnya.

Rian yang baru selesai bekerja di ruang keluarga merasa haus. Ia berjalan menuju dapur untuk mengambil air dingin dari kulkas.

Namun, langkahnya terhenti ketika melihat seseorang duduk di kursi dekat meja dapur.

Wulan... Perempuan itu sedang menggulung sedikit lengan bajunya. Di atas meja terdapat salep dari Dokter Maya, kapas, dan segelas air.

Rian mengernyit. “Wulan?”

Wulan tersentak kecil lalu menoleh. “Eh, Pak Rian. Saya kira semua orang sudah tidur.”

“Aku mau ambil minum.” Rian melirik lengannya. “Kamu sedang apa?”

Wulan buru-buru menarik lengan bajunya, tetapi gerakannya justru membuatnya sedikit meringis.

“Nggak apa-apa, Pak. Saya cuma sedang mengoleskan salep.”

“Salep dari Dokter Maya?”

“Iya. Dokter Maya bilang masih harus dipakai sampai lukanya benar-benar membaik.”

Rian mendekat. “Kenapa nggak minta Mira bantu?”

Wulan menggeleng pelan. “Mira sudah tidur. Saya nggak enak membangunkannya. Lagi pula, saya bisa sendiri.”

Rian memperhatikan lengan Wulan yang masih menyisakan bekas luka bakar. Luka itu memang sudah jauh lebih baik, tetapi beberapa bagian kulitnya masih terlihat kemerahan.

“Coba sini.”

Wulan menatapnya bingung. “Kenapa, Pak?”

“Aku bantu oleskan. Bagian itu kelihatannya susah kamu jangkau sendiri.”

“Nggak usah, Pak. Saya bisa.”

“Wulan, kalau memang bisa, dari tadi kamu nggak akan kesulitan begitu.”

Wulan terdiam.

Rian mengambil salep dari meja, lalu menarik kursi dan duduk di sampingnya.

“Ulurkan tanganmu.”

Dengan ragu, Wulan menyodorkan lengannya.

Rian mengoleskan salep itu perlahan. Ia berhati-hati agar tidak menekan bagian kulit yang masih sensitif.

“Kalau sakit, bilang,” ucapnya.

“Iya, Pak.”

Sentuhan jemari Rian membuat Wulan mendadak diam.

Sudah lama tidak ada seseorang yang menyentuhnya dengan begitu hati-hati.

Selama bertahun-tahun, sentuhan yang ia kenal justru sering meninggalkan rasa sakit dan ketakutan.

Namun, tangan Rian berbeda.

Tidak kasar. Tidak terburu-buru.

Laki-laki itu bahkan tampak begitu serius memperhatikan luka di lengannya.

Rian sendiri juga mulai menyadari betapa dekat jarak mereka saat itu. Ia bisa melihat wajah Wulan dengan jelas. Perempuan itu menunduk, berusaha menyembunyikan kegugupannya.

“Sudah,” kata Rian setelah selesai mengoleskan salep. “Besok pakai lagi, ya.”

Wulan mengangguk. “Terima kasih, Pak.”

“Sama-sama.”

Rian hendak meletakkan salep, tetapi ketika menoleh, ia mendapati Wulan sedang memandangnya.

Pandangan mereka bertemu.

Sesaat, keduanya sama-sama terdiam.

Ada sesuatu yang bergetar di dada Wulan. Ia buru-buru memalingkan wajah, pura-pura sibuk merapikan kapas di atas meja.

Rian memperhatikan gerakannya. Ia tahu Wulan menyadari tatapannya. Namun, ia memilih tidak menggodanya.

“Wulan,” panggilnya pelan.

“Iya, Pak?”

“Aku boleh ngobrol sebentar?”

Wulan mengangguk, meskipun hatinya mulai bertanya-tanya.

---

Rian mengambil segelas air dari kulkas, lalu duduk kembali di kursi seberang Wulan.

“Masa iddah kamu sudah selesai, kan?”

Wulan mengangguk. “Iya, Pak. Sudah.”

“Berarti sekarang kamu sudah bisa mulai memikirkan kehidupan kamu ke depannya.”

“Saya memang sudah memikirkannya, Pak.”

“Lalu, apa yang kamu inginkan?”

Wulan menunduk sebentar. “Saya cuma ingin fokus membesarkan Delon dan Astrid. Saya ingin mereka bisa sekolah dengan baik, punya kehidupan yang lebih tenang, dan nggak perlu mengalami hal-hal buruk seperti dulu.”

Rian mendengarkan dengan saksama.

“Saya nggak ingin mereka merasa kekurangan,” lanjut Wulan. “Saya tahu hidup saya belum mudah. Tapi selama saya masih bisa bekerja dan menjaga mereka, saya akan berusaha melakukan yang terbaik.”

Rian mengangguk pelan. “Aku tahu kamu sayang sekali sama mereka.”

“Mereka segalanya buat saya, Pak.”

Rian terdiam sebentar sebelum melanjutkan.

“Tapi, Wulan... Delon dan Astrid juga pasti sangat membutuhkan sosok ayah.” ucapnya tiba-tiba.

Wulan mengangkat wajahnya.

Rian segera menambahkan, berusaha menjaga nada suaranya tetap santai. “Maksudku, mereka masih sangat kecil. Akan ada banyak hal yang mungkin lebih mudah kalau mereka punya seseorang yang bisa mereka jadikan tempat bersandar. Seseorang yang bisa mendampingi mereka tumbuh besar.”

Wulan terdiam. Ia tahu Rian tidak sedang bermaksud menyakitinya. Namun, ucapan itu menyentuh bagian hatinya yang selama ini berusaha ia tutupi.

“Saya tahu, Pak,” jawabnya lirih. “Tapi bukan berarti saya bisa langsung menikah lagi.”

“Aku nggak bilang kamu harus buru-buru menikah.” Rian menatapnya. “Aku cuma bertanya, apa kamu benar-benar nggak punya keinginan untuk membangun keluarga lagi suatu hari nanti?”

Wulan mengusap jemarinya sendiri. “Saya nggak tahu.”

“Belum tahu?”

Wulan mengangguk. “Pernikahan pertama saya gagal, Pak. Saya sudah berusaha bertahan selama bertahun-tahun. Saya pikir kalau saya cukup sabar, semuanya akan membaik. Tapi ternyata...” Suaranya melemah. “Saya malah semakin terluka.”

Rian terdiam.

Wulan menarik napas panjang, berusaha menahan perasaan yang mulai mendesak keluar. “Saya takut mengalami hal yang sama lagi. Saya takut anak-anak harus melihat saya menangis lagi. Saya nggak mau mereka tumbuh dengan mengingat bagaimana ayah mereka memperlakukan ibunya.”

Rian mengepalkan jemarinya di bawah meja.

Ia masih sulit menerima kenyataan bahwa Wulan pernah mengalami semua itu.

“Jadi, untuk sekarang, saya hanya ingin membahagiakan anak-anak. Saya ingin mereka merasa aman. Kalau soal menikah lagi...” Wulan menggeleng pelan. “Saya belum sanggup memikirkannya.”

Rian mengangguk. “Aku mengerti.”

Namun, sebenarnya masih ada sesuatu yang ingin ia tanyakan. Ia ingin tahu apakah Wulan masih menyimpan sedikit perasaan kepadanya. Apakah perhatian yang selama ini ia berikan pernah membuat perempuan itu berharap lebih.

Namun, ia tidak ingin bertanya secara langsung. Akhirnya, ia memilih menyindir dengan cara yang lebih halus.

“Kalau suatu hari ada seseorang yang benar-benar menyayangi kamu dan anak-anak, kamu tetap akan menolaknya?”

Wulan terdiam cukup lama. “Kalau memang ada orang seperti itu, saya tentu akan menghargainya, Pak. Tapi saya nggak mau memberikan harapan sebelum saya sendiri yakin.”

Rian menatapnya tertegun. “Berarti masih ada kemungkinan?”

Wulan tersenyum tipis, tetapi senyum itu terasa sedih. “Saya nggak tahu, Pak. Saya cuma nggak mau salah melangkah lagi.”

Jawaban itu membuat Rian terdiam. Ia ingin Wulan memahami bahwa dirinya tidak sedang bertanya tanpa alasan. Namun, ia juga belum cukup berani untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya mulai tumbuh di hatinya.

Terlebih lagi, ia masih teringat keinginan Bundanya yang ingin menjodohkannya dengan Clarissa.

Di satu sisi, ia tidak ingin mengecewakan ibunya.

Di sisi lain, ia mulai menyadari bahwa keinginan untuk menikah dengan seseorang seharusnya datang dari hatinya sendiri, bukan karena tekanan siapa pun.

Dan ketika memikirkan sosok perempuan yang bisa membuatnya merasa nyaman, wajah Wulan kembali muncul dalam benaknya.

---

“Maaf, Pak,” ujar Wulan ketika menyadari suasana menjadi hening. “Kalau boleh, saya ingin istirahat. Besok anak-anak harus bangun pagi.”

Rian segera tersadar. “Oh, iya. Tentu. Maaf sudah menahan kamu.”

“Nggak apa-apa, Pak.”

Wulan berdiri dan membawa salepnya. “Selamat malam.”

“Selamat malam, Wulan.”

Perempuan itu berjalan meninggalkan dapur.

Rian tetap duduk beberapa saat, menatap gelas air di tangannya. Ia tahu Wulan belum siap membuka hati lagi. Luka yang ditinggalkan pernikahan pertamanya bukan sesuatu yang bisa hilang hanya karena ada seseorang yang bersikap baik kepadanya.

Rian juga tidak ingin memaksanya. Namun, ia mulai menyadari satu hal. Ia ingin menjadi seseorang yang bisa membuat Wulan merasa aman.

Bukan karena kasihan. Bukan pula karena ingin menggantikan masa lalunya.

Hanya saja, setiap kali melihat perempuan itu tersenyum bersama anak-anak, ada perasaan hangat yang sulit ia jelaskan.

Rian mengembuskan napas panjang. “Bunda pasti nggak akan mudah menerima ini,” gumamnya.

Ia masih belum tahu bagaimana harus menghadapi keinginan Bundanya tentang Clarissa.

Sementara itu, Wulan sudah berada di kamarnya. Ia duduk di tepi ranjang, memandangi bekas luka di lengannya yang baru saja diolesi salep oleh Rian.

Sentuhan lembut pria itu masih terasa dalam ingatannya.

Wulan memejamkan mata. Ia tidak ingin salah mengartikan perhatian Rian kepadanya selama ini.

Pria itu baik kepada dirinya dan anak-anak. Itu saja sudah lebih dari cukup. Ia tidak boleh berharap terlalu jauh.

Sebab, setelah semua yang pernah terjadi, satu-satunya hal yang benar-benar ingin ia perjuangkan sekarang adalah kebahagiaan Delon dan Astrid.

Bersambung...

1
Lisa
Moga dgn berjlnnya waktu..Wulan dpt menerima Rian.
Lisa
Rian harus tegas..milih Wulan atau Clarisa..
falea sezi
laki g punya pendirian klo.mau ma. Clarisa jauhin wulan😒 serakah jd. laki. jangan php
falea sezi
cari krja di tempat lain aja rian aja plin plan🤣
araaself
lanjutt
Lisa
Clarisa ini ganggu suasana rumah aj..tiap hari dtg ke rmhnya Rian..moga aj Rian g tertarik pd Clarisa 🤭
Lisa
Aduh Bu Ranti dtg lg..ganggu aj nih
Lisa
Pasti Rian g mau menerima perjodohan itu
Lisa
Bu Ranti ini cerewet banget..
falea sezi
cari krja di tempat lain wulan😒
falea sezi
pergi aja wulan cari krja lain 😒 ngapain di injak2 gt meski cm. pembokat 😒
Lisa
Bu Ranti aj yg pergi dr rumahnya Rian..benar Rian kmu harus tegas terhadap ibumu..Wulan ga salah..
falea sezi
klo ikut ngatur krja g nyaman keluar aja cari krja lain😒 bawel amat lampir
Lisa
Ranti ini ikut campur aj dlm RT nya Rian..udh mending balik ke rmhmu sana Bu 🤭😊
Lisa: 😊😊 ya Kak
total 2 replies
Lisa
Ibunya Rian ini mengganggu ketenangan aja..udh biarkan Rian mengatur hidupnya sendiri.
Lisa
Ngapain juga Handi peduli sama Wulan..toh mrk udh bercerai dan dari dulu Handi terpaksa nikah dgn Wulan
Lisa
Rian mulai jatuh cinta lg nih 😊
falea sezi
🤣🤣mampus sok cari yg modern makan itu cwek. modern😒😒😒 sukurin dapet istri spek jalang
✨Kayla Rane✨: hahaaa😂 bener k
total 1 replies
Lisa
Handi emg kejam bgt..cpt sembuh y Wulan dr luka fisik & luka batinnya..skrg kmu punya Rian yg selalu ada utkmu..
Lisa
Udh Handi g usah ngawasi Wulan terus..urus aj hidupmu sendiri.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!