NovelToon NovelToon
Bukan Pembantu, Aku Istrinya

Bukan Pembantu, Aku Istrinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Amoreiza Aneta

Tiga tahun menikah, tiga kali pula Rena harus kehilangan buah hatinya akibat kelelahan fisik dan mental. Di rumah besar milik ibu mertuanya di Solo, Rena bukan dianggap sebagai menantu, melainkan pembantu tanpa gaji yang harus melayani seluruh keluarga besar suaminya tanpa kenal lelah. Ketika kesabarannya habis dan nyawanya terancam, sebuah keputusan besar diambil: Keluarga atau rumah petak sederhana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Licik

Malam semakin larut, namun kegelisahan di dalam kamar Mira seolah enggan reda. Gadis itu terus mondar-mandir di atas lantai kamar tidurnya yang berukuran luas. Bayangan kesuksesan Rena, plang nama "Dapur Berkah Rena", serta kontrak besar dengan pabrik sawit terus berputar di kepalanya bagaikan teror yang memuakkan. Bagi Mira, melihat Rena hidup makmur dan disegani jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan fasilitas mewahnya sendiri.

Di kepala Mira yang penuh dengan rasa iri dan dengki, sebuah rencana kotor mulai terbentuk. Ia tahu persis bahwa dirinya tidak bisa lagi terang-terangan mendatangi warung Rena tanpa diusir oleh Gunawan. Oleh karena itu, ia harus menggunakan cara lain—cara yang tidak melibatkan namanya secara langsung, namun mampu menghancurkan reputasi bisnis Rena dalam sekejap.

Keesokan paginya, dengan dalih hendak pergi ke pasar tradisional untuk berbelanja kebutuhan dapur rumah tangga, Mira diam-diam menemui seseorang di sebuah warung kopi terpencil di ujung kampung. Orang itu adalah Jefri, seorang pemuda pengangguran yang dikenal kerap menjadi-*freelance* suruhan untuk berbagai pekerjaan kotor jika diiming-imingi sejumlah uang.

"Kamu tahu kan warung katering besar bernama Dapur Berkah Rena di dekat ruko simpang jalan itu?" bisik Mira penuh rahasia saat Jefri duduk di hadapannya.

Jefri mengangguk sambil menyeruput kopi hitamnya. "Tahu, Mbak Mira. Kenapa memangnya? Mau pesan nasi uduk buat acara?"

"Pesan kepala kamu!" dengus Mira sinis, lalu mengeluarkan selembar uang pecahan seratus ribuan dari dalam dompetnya dan meletakkannya di atas meja sebagai uang muka. "Aku nggak mau kamu pesan makanan di sana. Aku mau kamu buat warung itu hancur reputasinya! Caranya gampang, cari celah atau selipkan sesuatu ke dalam bungkusan katering mereka saat pesanan dikirim ke pabrik, atau buat seolah-olah makanan mereka tidak higienis dan bikin orang keracunan!"

Jefri tertegun sejenak, menatap uang kertas di meja lalu beralih menatap Mira dengan ragu. "Wah, kalau bikin orang keracunan atau sabotase besar begitu risikonya berat, Mbak. Bisa berurusan sama polisi kalau ketahuan pemiliknya."

"Makanya jangan sampai ketahuan, bodoh!" potong Mira tajam, menambahkan dua lembar uang lagi ke atas meja. "Ini uang mukanya. Kalau kerjaan kamu beres dan warung itu sepi atau ditutup karena protes karyawan pabrik, aku bakal kasih sisa pelunasannya tiga kali lipat dari ini. Pikirkan baik-baik!"

Tergiur oleh jumlah uang yang ditawarkan, Jefri akhirnya mengangguk pelan, menyetujui rencana licik tersebut. Mira tersenyum puas penuh kemenangan, merasa di atas angin karena mengira sebentar lagi ia akan melihat kejatuhan Rena dengan mata kepalanya sendiri.

Sementara itu, di **"Dapur Berkah Rena"**, hari itu dimulai dengan semangat yang luar biasa tinggi. Dua orang pegawai baru hasil rekrutmen warga sekitar telah mulai bekerja di dapur belakang bersama Bu Siti dan Enka. Proses memasak dua ratus porsi katering untuk pabrik sawit berjalan sangat terorganisir, higienis, dan sesuai standar kualitas tinggi yang ditetapkan oleh Rena.

Rena sendiri sedang sibuk mengecek daftar menu harian di ruang kerjanya sambil membalas pesan-pesan dari para pembaca setianya di platform novel *online*. Hatinya merasa tenang dan bersyukur karena segala urusan bisnis dan kepenulisannya berjalan beriringan dengan sangat seimbang. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa di luar sana, sebuah ancaman tersembunyi sedang merayap mendekati usaha halal yang ia bangun dengan cucuran keringat dan air mata.

Menjelang siang hari, kotak-kotak katering siap saji tersusun rapi di dalam mobil jemputan pihak pabrik yang datang tepat waktu. Pengiriman berjalan lancar tanpa ada hambatan apa pun. Rena menghela napas lega, merasa bahwa hari itu akan kembali ditutup dengan kesuksesan manis.

Namun, badai yang sesungguhnya tidak pernah datang dengan aba-aba. Di balik kelancaran pengiriman tersebut, tangan-tangan kotor Jefri mulai bergerak menjalankan misi gelapnya, menunggu waktu yang tepat untuk menebar fitnah dan menjatuhkan nama baik Rena di hadapan para petinggi pabrik sawit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!