Naira Alesha telah lama mencintai Ravian Elvano, sahabat masa kecilnya. Namun hatinya hancur ketika Ravian justru memilih Selena, sahabat Naira sendiri.
Saat berusaha melupakan cintanya dan mengejar impian menjadi desainer fashion, Naira bertemu Mikael Arsen, pria tampan, kaya, arogan, dan tengil yang selalu membuatnya kesal.
Lebih menyebalkan lagi, Mikael ternyata sahabat sekaligus rekan bisnis Ravian.
Sebuah kesalahpahaman membuat Naira dan Mikael terpaksa berpura-pura menjadi pasangan. Awalnya mereka hanya bermain peran, tetapi semakin sering bersama, batas antara pura-pura dan cinta mulai menghilang.
Mikael jatuh cinta lebih dulu, sementara Naira perlahan menyadari bahwa hatinya telah berpindah.
Namun ketika sebuah rahasia terungkap, Naira merasa seluruh hubungan mereka hanyalah kebohongan.
Akankah cinta mereka bertahan, atau Naira kembali pada cinta pertamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15. Ravian
Pagi itu, Ravian baru saja selesai menandatangani beberapa dokumen di ruang kerjanya ketika Kirana datang dengan wajah berseri-seri.
"Kamu tahu tidak?" seru Kirana begitu masuk ke ruangan.
Ravian mengangkat wajah dari tumpukan kertas. Ia tersenyum tipis. "Berita apa yang membuatmu begitu bersemangat pagi-pagi sekali?"
"Berita tentang Naira dan Mikael!" Kirana duduk di kursi seberang meja.
Pena di tangan Ravian berhenti bergerak. Kalimat itu seakan melayang di udara beberapa detik sebelum masuk ke dalam pikirannya.
"Mereka memang benar- benar berpacaran!" ulang Kirana dengan antusias. "Aku sendiri juga tidak percaya pada awalnya. Tapi kemarin malam di acara makan malam, mereka terlihat begitu serasi, begitu dekat. Mikael menatap Naira seolah-olah tidak ada orang lain di ruangan itu. Dan Naira... dia terlihat bahagia, Ravian. Benar-benar bahagia."
Ravian terdiam. Ia menatap Kirana, tetapi pikirannya sudah melayang jauh. Naira? Dan Mikael?
"Itu... tidak mungkin," katanya akhirnya. Suaranya terdengar tenang, padahal di dalam dadanya ada sesuatu yang bergejolak. "Mereka selalu berdebat setiap kali bertemu. Mereka tidak pernah akur."
"Itulah yang aku pikirkan juga!" Kirana tertawa. "Ternyata di balik pertengkaran itu ada perasaan yang tumbuh pelan-pelan. Romantis sekali bukan?"
Ravian tidak menjawab. Ia kembali menunduk menatap dokumen di depannya, tetapi matanya tidak benar-benar membaca apa pun. Naira.
Perempuan yang selama bertahun-tahun selalu ada di dekatnya. Perempuan yang selama ini ia anggap miliknya, meskipun ia sendiri memilih perempuan lain. Dan sekarang... perempuan itu ternyata sudah menjadi milik orang lain.
Milik sahabatnya sendiri.
"Aku harus pergi," ucap Ravian tiba-tiba. Ia berdiri dari kursinya.
"Mau ke mana?" tanya Kirana heran.
"Mencari mereka."
Ravian berjalan cepat menuju ruang rapat di mana ia tahu Mikael dan Naira sedang membahas detail desain. Setiap langkahnya terasa berat.
Ada perasaan aneh yang mengganjal di dadanya, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bukan sekadar keterkejutan. Lebih dari itu. Sesuatu yang mirip dengan kehilangan.
Saat ia mendekati pintu ruang rapat, suara percakapan mereka terdengar dari dalam.
"Itu bagian kainnya harus diganti," kata Mikael. "Warnanya terlalu redup untuk koleksi musim ini."
"Tapi kalau kita ganti, biayanya akan naik," jawab Naira. Suaranya terdengar tegas namun lembut. "Dan kita sudah menetapkan anggaran."
"Kamu selalu begitu." Terdengar tawa rendah Mikael. "Selalu memikirkan segalanya sampai ke detail terkecil."
"Itulah sebabnya aku di sini, bukan?"
"Ya." Suara Mikael berubah lebih pelan, lebih hangat. "Dan aku sangat bersyukur akan hal itu."
Ravian berhenti di depan pintu. Ia tidak sengaja mendengar percakapan itu. Dan cara mereka berbicara, cara mereka saling menanggapi, itu bukanlah cara dua orang yang baru saja berpacaran.
Itu terlihat seperti dua orang yang sudah saling mengenal dan memahami satu sama lain sejak lama.
Ia mengetuk pintu pelan.
"Masuk," jawab Mikael.
Saat Ravian masuk, kedua orang di dalam ruangan itu menoleh. Naira yang sedang memegang sampel kain langsung berdiri. Wajahnya sedikit memerah.
"Ravian..."
Mikael juga berdiri. Ia tersenyum, tetapi senyum itu berbeda dari biasanya. Lebih waspada. Lebih menegaskan posisinya.
"Kamu mencari siapa?" tanya Mikael.
"Kalian berdua." Ravian menatap mereka bergantian. Matanya akhirnya tertuju pada Naira. "Benarkah apa yang dikatakan orang-orang?"
Naira menelan ludah. Ia melirik Mikael sekilas, lalu kembali menatap Ravian. "Memangnya orang-orang bicara apa?"
"Bahwa kalian berpacaran."
Keheningan menyelimuti ruangan sejenak. Naira meremas ujung kain di tangannya. Jantungnya berpacu cepat. Ini adalah momen yang paling ia takuti. Menghadapi Ravian dan harus berbohong kepadanya.
Mikael merasakan ketegangan Naira. Ia melangkah maju sedikit, berdiri di samping Naira. Bahu mereka hampir bersentuhan.
"Benar," jawab Mikael. "Kami berpacaran."
Ravian menatap Naira. Ia tidak menatap Mikael. Matanya tertuju penuh pada wajah perempuan yang selama ini ia kenal. "Naira?"
Naira menarik napas panjang. Ia harus tetap pada perannya. Ia tidak boleh membocorkan apa pun.
"Benar, Ravian," jawabnya pelan namun tegas. "Kami berpacaran."
Ravian masih menatapnya. Seolah-olah sedang mencari sesuatu di dalam matanya. Sesuatu yang mengatakan bahwa ini semua bohong. Bahwa Naira masih menunggunya. Bahwa tidak ada yang berubah.
Tapi yang ia lihat hanyalah wajah Naira yang tenang, dan di sebelahnya, Mikael yang berdiri seolah-olah melindunginya.
"Sejak kapan?" tanya Ravian. Suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.
"Beberapa minggu yang lalu," jawab Mikael. "Kami hanya belum siap untuk memberitahu siapa pun."
"Termasuk aku?" Ravian menatap sahabatnya. "Aku yang paling terakhir tahu."
"Kami ingin memastikan dulu," kata Naira. "Sebelum mengumumkannya kepada semua orang."
Ravian beralih menatap Naira. Tatapannya begitu dalam, begitu penuh pertanyaan yang tidak terucap. "Dan kamu... kamu benar-benar menyukainya, Nai?"
Pertanyaan itu menembus jantung Naira.
Aku hanya menyukaimu Ravian.
Tapi ia tidak bisa mengatakannya.
Tidak di sini. Tidak sekarang.
Naira menunduk sebentar, lalu kembali menatap Ravian. "Ya. Aku menyukai Mikael."
Ravian terdiam. Kata-kata itu terasa seperti pukulan di dadanya. Selama bertahun-tahun, ia selalu menganggap Naira akan selalu ada di sana. Di belakangnya. Menunggunya. Ia bebas pergi, bebas memilih perempuan lain, karena ia yakin Naira tidak akan pernah ke mana-mana.
Dan sekarang, saat ia baru saja menyadari betapa berharganya Naira, perempuan itu sudah berada di pelukan orang lain. Orang yang paling dekat dengannya.
"Kamu serius?" tanya Ravian lagi, seolah-olah berharap Naira akan menggeleng dan berkata bahwa ini semua hanya lelucon.
Naira melirik Mikael. Mikael menatapnya dengan tatapan yang menenangkan, seolah-olah berkata: Aku di sini. Jangan takut.
"Ya, aku serius," jawab Naira.
Ravian menghela napas panjang. Ia mundur selangkah. Kakinya terasa berat. Selama hidupnya, ia tidak pernah merasa sekacau ini. Tidak saat ia memutuskan memilih Selena. Tidak pernah.
"Siapa yang menyangka..." gumamnya pelan. "Kalian berdua..."
"Kami juga tidak menyangka," kata Mikael. "Tapi perasaan itu datang tanpa diundang."
Ravian menatap sahabatnya. Ada perasaan tidak nyaman yang menjalar di dadanya. Cemburu. Ia cemburu. Sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan akan ia rasakan terhadap Naira. Selama ini ia mengira perasaannya terhadap Naira hanyalah sebagai teman dekat. Hanya rasa nyaman karena selalu ada di sana.
Tapi melihatnya berdiri di samping pria lain, melihatnya menatap pria lain dengan tatapan yang dulu selalu ditujukan kepadanya, baru saat itulah ia menyadari betapa besarnya kehilangan itu.
"Kalau begitu..." Ravian berusaha tersenyum, tetapi senyum itu terlihat sangat menyakitkan. "Selamat untuk kalian."
"Terima kasih, Rav," kata Mikael.
Naira hanya bisa menunduk. "Terima kasih, Ravian."
Ravian menatapnya sekali lagi. Lama. Seolah-olah ingin mengingat setiap detail wajahnya, karena ia tahu mulai saat ini, Naira bukan lagi miliknya. Bukan lagi perempuan yang menunggunya.
"Semoga kalian bahagia," katanya pelan. Namun kata-kata itu terasa begitu pahit di lidahnya.
Ravian berbalik dan berjalan keluar ruangan. Begitu pintu tertutup di belakangnya, ia berhenti sejenak. Menyangga tubuhnya dengan bersandar pada dinding. Napasnya terasa berat. Dadanya terasa sesak.
Selama ini ia mengira Naira akan selalu ada. Selama ini ia mengira ia bisa kembali kapan pun ia mau. Tapi ia salah. Naira bukan lagi miliknya. Dan yang paling menyakitkan...
Naira terlihat bahagia. Tanpanya.
Di dalam ruang rapat, Naira baru saja mengembuskan napas panjang begitu Ravian pergi. Lututnya terasa lemas. Ia hampir jatuh ke kursi jika Mikael tidak segera memegang lengannya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Mikael pelan.
Naira menatap pintu yang baru saja dilewati Ravian. Matanya berkaca-kaca.
"Aku baru saja berbohong kepadanya," bisiknya.
Mikael menatapnya. Ada rasa simpati di matanya. "Kamu tidak punya pilihan lain."
"Aku tahu." Naira mengusap sudut matanya. "Tapi rasanya seperti aku benar-benar kehilangan dia. Padahal dia memang tidak akan pernah benar-benar menjadi milikku."
Mikael terdiam. Ia ingin mengatakan sesuatu. Sesuatu yang bisa menenangkan Naira. Tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokannya. Sebab di dalam hatinya, ia juga merasakan sesuatu. Sesuatu yang mirip dengan rasa bersalah. Karena ia tahu, Naira sebenarnya masih mencintai Ravian.
Sementara itu, Ravian berjalan menyusuri lorong kantor dengan pikiran yang kacau. Setiap langkah terasa berat. Selama bertahun-tahun ia tidak pernah menyadari betapa pentingnya Naira dalam hidupnya. Hingga hari ini... saat ia melihatnya bersama pria lain.
Dan yang lebih menyakitkan lagi... pria itu adalah sahabat terbaiknya sendiri.
Ravian berhenti di dekat jendela besar yang menghadap ke jalan raya. Ia menatap ke luar tanpa benar-benar melihat apa pun. Pertanyaan yang selama ini tidak pernah ia tanyakan pada dirinya sendiri kini muncul satu per satu.
Apakah ia benar-benar mencintai Selena? Atau ia hanya bersama Selena karena ia yakin Naira akan selalu menunggunya?
Dan sekarang, saat Naira sudah tidak lagi menunggunya, apa yang sebenarnya ia rasakan?
Apakah ia cemburu karena kehilangan Naira? Atau ia baru saja menyadari bahwa selama ini ia salah memilih?
Ravian tidak tahu jawabannya. Yang ia tahu hanyalah satu hal. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menyesal. Menyesal pernah membiarkan Naira pergi. Menyesal pernah mengabaikan perasaannya. Dan menyesal tidak pernah menyadari bahwa perempuan yang paling ia butuhkan selama ini selalu ada tepat di sampingnya.
mudah2an cocok 💪