Dahayu Nayanika Arutala (Naya), siswi baru yang tidak pernah terkesan pada popularitas, harus berulang kali berhadapan dengan Narain Shankara Naradhipta (Nara) — bintang basket sekolah sekaligus seniornya di SMA yang ia anggap sombong dan menyebalkan. Namun, di balik pertengkaran dan saling ejek, Naya menemukan sosok Nara yang sebenarnya, seorang pemuda yang tertekan oleh tuntutan keluarga dan hanya dapat menjadi dirinya sendiri ketika bersamanya. Saat kedekatan mereka memicu penolakan Reksa - Kakak lelaki Naya dan kemarahan para penggemar Nara. Naya harus memilih tetap menyangkal perasaannya atau memperjuangkan cinta kepada orang yang dahulu paling ia benci, sebelum pertandingan terakhir dan kelulusan memisahkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Kartika Mundikasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTARUHAN HUBUNGAN DAN MASA DEPAN (2)
"Aku diterima di Stanford University." Hening. Nara dapat mendengar napas Naya dari hadapannya karena suasana perpustakaan sekolah yang saat ini begitu lengang. Gadis itu yang sejak tadi membaca bukunya mendadak menghentikan aktivitasnya dan menatap Nara dalam.
"Stanford?" ulang Naya perlahan. “Yang di Amerika Serikat itu?”
Naya kembali terdiam. Pikirannya kembali diputarnya ketika mereka pergi ke toko buku pertama kalinya bersama. Ia mengingat buku apa yang dibeli Nara pada saat itu. Salah satunya mengenai pendidikan di luar negeri. Ia meremas pinggir buku yang dipegangnya. Ia merasa malu sendiri karena merasa salah menilai Nara. Rupanya Nara begitu serius dengan ucapannya.
"Iya. Keterima di Jurusan Business Management."
"Itu… luar biasa, Kak." Tapi Nara dapat merasakan ada sesuatu yang berubah pada suara Naya. Kebahagiaan, keterkejutan, kesedihan bercampur menjadi satu.
"Emailnya sebenarnya masuk dari dua minggu lalu," lanjut Nara. "Aku belum cerita karena aku takut. Tapi ucapanmu tentang trust issue kepada Kimi kemarin membuatku berpikir dalam semalam di rumah."
"Kamu takut aku marah?"
"Aku takut kehilanganmu." Hening kembali memenuhi percakapan. Naya menatap dalam kearah Nara. Tak ada satu katapun terucap karena tak menyangka jawaban jawaban itu yang keluar dari seorang Nara. Matanya berkaca-kaca.
"Kakak kapan harus berangkat?" tanya Naya akhirnya.
"Beberapa bulan lagi, setelah acara kelulusan."
"Dan Kak Nara akan pergi?" Pertanyaan itu terasa seperti batu yang diletakkan di atas dada Nara suara Naya terdengar bergetar.
Tapi untuk pertama kalinya ia tahu jawaban yang harus diberikan. "Aku ingin pergi," katanya jujur. "Tapi bukan berarti aku ingin meninggalkanmu."
Naya menarik napas panjang. "Aku sedih Kak Nara baru cerita sekarang. Aku berharap Kak Nara cukup percaya kepadaku untuk membicarakan hal sebesar ini sejak awal."
"Aku tahu. Maaf…"
"Tapi aku juga tidak mau menjadi alasan Kak Nara menolak kesempatan itu…"
"Nay..."
"Hubungan kita memang baru dimulai," lanjut Naya. "Tapi bukan berarti hubungan ini harus langsung berakhir hanya karena ada jarak. Jangan memutuskan bahwa hubungan kita gagal sebelum kita benar-benar menjalaninya Kak."
Nara menunduk dalam. "Aku takut semuanya berubah."
"Seperti yang Kakak bilang sebelumnya bahwa semua orang bisa berubah," jawab Naya. "Kak Nara akan tinggal di tempat baru, bertemu orang-orang baru, belajar banyak hal, mungkin menjadi versi diri Kak Nara yang berbeda. Aku juga akan berubah di sini. Tapi berubah tidak selalu berarti saling kehilangan. Ada satu rahasia yang kupendam dan awalnya tidak ingin aku sampaikan kepada Kak Nara. Kakak masih ingatkah dengan pertemuan pertama kita di halte SMP-ku dulu?"
Nara mengangguk pelan.
“Sebenarnya salah semangatku untuk dapat masuk ke SMA Perguruan TA adalah Kak Nara.”
Sepasang bola mata Nara membesar. Naya tersenyum sambil menarik tangan kiri Nara untuk meredakan keterkejutannya. “Disaat aku bingung harus kemana melanjutkan ke jenjang SMA dan sadar kemampuan akademisku hanya rata-rata, pertemuanku dengan Kak Nara di halte itu memberikan pencerahan arah kemana aku harus menantang diriku untuk mencapai apa yang kuinginkan meskipun terasa mustahil digapai. Tak kusangka ternyata Kak Nara masih di SMA yang sama ketika aku memasukinya. Walaupun yah, Kak Nara sendiri tahu apa yang terjadi setelahnya.”
Nara tertawa geli mendengarkan ungkapan rasa dari Naya. Ia memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. Untuk pertama kalinya sejak menerima email itu, ia merasa mampu bernapas dengan lebih lega. "Aku tidak bisa janji semuanya akan mudah. Aku juga tidak bisa janji kita tidak akan pernah bertengkar atau merasa lelah. Tapi aku bisa janji kita akan mencoba, selama kita sama-sama masih ingin mempertahankannya."
"Jadi, pergilah ke Stanford dengan tenang."
"Tapi…"
"Pergilah," ulang Naya, kali ini lebih tegas. "Belajar yang benar. Raih semua hal yang selama ini Kakak impikan dan jangan pulang membawa penyesalan hanya karena pernah takut meninggalkanku." Air mata akhirnya jatuh di pipi Naya.
"Bagaimana kalau kita gagal?"
"Kalau kita gagal setelah mencoba, setidaknya kita tidak akan saling menyalahkan. Tapi kalau Kak Nara mengorbankan Stanford hanya demi aku, aku takut suatu hari Kak Nara akan membenciku." Ucapan Naya hampir sama dengan yang disampaikan oleh Ayahnya. Cinta tidak seharusnya menjadi penjaga. Cinta seharusnya memberi keberanian untuk tumbuh, bahkan ketika prosesnya menuntut jarak dan pengorbanan.”
Nara memberanikan diri memeluk Naya. Awalnya Naya terkejut namun berusaha menerima. Tangisnya semakin pecah dalam diam.
“Aku mencintaimu Naya…” Kalimat itu keluar begitu saja. Tidak direncanakan, tapi terasa lebih jujur daripada apa pun yang pernah ia ucapkan.
Naya terdiam beberapa detik kemudian membalas pelukan Nara tak kalah erat. "Aku juga mencintai Kak Nara," jawabnya. "Karena itu aku tidak akan membiarkan Kak Nara mengubur masa depan Kakak."
“Terima kasih Naya atas dukungannya.”
***