Lima tahun lalu, Reihan Wijaya—pewaris konglomerat paling berkuasa di Jakarta—lenyap tepat di hari kontrak triliunannya diteken, meninggalkan Nathania yang tengah mengandung dan seluruh utang keluarga Lie yang mencekik.
Lima tahun kemudian, Nathania pulang. Bukan lagi gadis yang dulu terpuruk, tapi pendiri Astera Group yang berdiri di atas kakinya sendiri—dengan satu rahasia kecil bernama Meira, putrinya yang berusia lima tahun.
Di sebuah sudut jalan, Meira menarik tangan seorang pria gembel yang kehilangan ingatan. "Ma… itu Papa," katanya, sambil menggenggam sehelai foto lusuh.
Hasil DNA membuat tangan Nathania gemetar: 99,99%.
Pria "bodoh" yang ia bawa pulang, yang mencuci piring dan menjaga Meira, yang dijuluki "suami simpanan" oleh keluarganya sendiri—ternyata adalah taipan yang seluruh kota kira sudah mati. Dan di tangannya, tergenggam brankas, dendam lima tahun, serta satu Surat Perjanjian yang pernah mengunci Nathania dalam sangkar emas.
Saat topeng terbuka di depan seluruh Jakarta, saat kebohongan lima tahun terkuak… apakah Nathania akan memaafkan pria yang membiarkannya menyalakan dupa untuk "mendiang"-nya sendiri?
Dengan satu putri kecil sebagai mak comblang paling nekat, sang konglomerat siap menurunkan seluruh harga dirinya—demi merebut kembali istri dan anaknya.
"Berapa pun maharnya, akan kubayar. Asal kalian pulang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26: Siapa Kamu Sebenarnya?
"Bu Nathania, sebelum meeting dimulai, saya harus bicara soal kalung itu."
Nathania baru saja turun dari mobil di lobi gedung SCBD ketika Denny berjalan cepat menghampirinya. Di tangannya ada tablet, map presentasi, dan wajah orang yang semalam tidak tidur.
"Kalau ini soal Rp 9.900, aku juga belum percaya."
"Bukan cuma tidak percaya." Denny merendahkan suara. "Saya cek katalog private collection. Batu itu masuk keluarga pigeon blood ruby, dan desain dudukannya mirip koleksi lama Wijaya."
Langkah Nathania berhenti.
"Wijaya?"
"Saya belum berani memastikan. Tapi di sisi belakang liontin ada mikro-ukiran."
Nathania otomatis menyentuh kalung Bara di balik blazernya. "N.L."
"Ibu sudah lihat?"
"Han tidak tahu aku lihat."
Denny menatapnya. "Atau dia tahu, dan menunggu Ibu bertanya."
Pintu lift terbuka. Beberapa eksekutif keluar, membuat mereka harus menepi.
Nathania menarik napas. "Hari ini kita presentasi dulu."
"Bu, ini penting."
"Aku tahu. Tapi orang di lantai dua puluh lima tidak datang untuk mendengar kisah kalungku. Mereka datang untuk melihat apakah Astera masih bisa dipercaya tanpa Papa Lie."
Denny menutup mulut.
Di ruang presentasi, tim dari Sentra Medika Digital sudah menunggu. Mereka membawa konsultan asing, pengacara, dan satu pesaing Nathania yang tersenyum terlalu manis, Laras Pramesti dari NexaCore.
Laras berdiri menyambut. "Bu Nathania. Saya kira Astera mengirim direktur teknis."
"Saya pendirinya."
"Tentu. Tapi proyek ini sangat teknis."
Denny hampir maju, tetapi Nathania mengangkat tangan kecil.
"Kalau Bu Laras ingin menguji teknis, kita mulai dari data anomali klaim BPJS simulasi minggu lalu."
Senyum Laras mengendur.
Salah satu komisaris Sentra Medika, Pak Arif, menatap Nathania. "Anda menemukan anomali?"
Nathania menyalakan layar. "Tiga puluh tujuh pola klaim duplikat, delapan vendor fiktif, dan satu jalur approval yang sengaja dibuat melewati sistem audit."
Ruang itu langsung hening.
Laras tertawa pendek. "Itu tuduhan serius."
"Ini bukan tuduhan. Ini log."
Nathania menggeser slide. Angka, waktu akses, dan alur approval muncul rapi. Tidak ada kalimat panjang. Tidak ada drama. Hanya bukti.
Pak Arif mencondongkan tubuh. "Dari mana Astera mendapat ini?"
"Dari data uji coba yang Bapak kirim sendiri. Masalahnya, vendor lain hanya membaca data bersih. Astera membaca jejak data yang dibersihkan."
Denny menambahkan, "Sistem kami tidak mengganti tim audit manusia. Ia menunjukkan ke mana manusia harus melihat."
Laras mencoba memotong. "Model semacam itu bisa bias."
"Benar," jawab Nathania. "Karena itu saya bawa hasil false positive, bukan hanya temuan. Silakan lihat lampiran tiga."
Pak Arif membuka lampiran. Wajahnya berubah.
Selama dua puluh menit berikutnya, Nathania tidak memberi ruang bagi siapa pun untuk meremehkannya. Ia menjawab soal compliance, server lokal, perlindungan data pasien, sampai biaya integrasi. Ketika konsultan asing bertanya dengan nada menguji, ia menjawab dalam bahasa Inggris singkat lalu kembali ke Indonesia agar semua komisaris paham.
Di akhir presentasi, Pak Arif menutup map.
"Bu Nathania, kami pilih Astera untuk pilot tiga rumah sakit."
Laras memucat. "Pak, proses tender belum..."
"Proses tender menilai kesiapan. Hari ini Astera menunjukkan mereka paling siap."
Denny menahan senyum.
Nathania hanya mengangguk. "Terima kasih. Kami akan kirim timeline final sore ini."
Saat mereka keluar, Denny berbisik, "Ibu baru saja memukul orang pakai slide."
"Lebih bersih daripada pakai kursi."
"Saya ingin bertepuk tangan."
"Jangan. Nanti terlihat kampungan."
"Saya bangga, Bu."
Nathania berhenti di depan lift. Kata itu menghantam bagian dirinya yang jarang diberi makan. Bertahun-tahun ia mendengar bahwa ia bertahan karena nama Papa Lie, karena kasihan orang, karena anak kecil membuat orang iba.
Hari ini, di ruangan dingin itu, ia menang dengan otaknya sendiri.
"Denny."
"Ya?"
"Jangan bilang Han dulu."
"Soal tender atau kalung?"
"Dua-duanya."
"Kenapa?"
Nathania menatap angka lantai lift yang turun perlahan. "Karena aku ingin tahu apakah dia akan tahu tanpa kuberi tahu."
Denny menghela napas. "Itu terdengar seperti ujian."
"Memang."
Malamnya, Han tahu.
Ia tidak bertanya dari Nathania. Ia menunggu di ruang tengah dengan Meira yang memegang kertas gambar. Di kertas itu ada tiga orang, satu anak kecil, satu perempuan memakai kalung merah, dan satu laki-laki tinggi dengan tulisan tidak rapi: Papa pintar diam.
Nathania membaca tulisan itu. "Papa pintar diam?"
Meira mengangguk. "Papa sering diam kalau Mama tanya."
Han menatap anaknya. "Mei."
"Benar kan?"
Nathania melepas sepatu. "Selamat malam juga untuk kalian."
Han berdiri. "Selamat."
"Untuk apa?"
"Pilot Sentra Medika."
Denny tidak mungkin secepat itu. Nathania menatapnya.
"Dari mana kamu tahu?"
"Berita internal. Astera masuk grup WhatsApp vendor."
"Kamu ada di grup vendor?"
"Tidak."
"Lalu?"
Han diam.
Meira mengangkat gambar. "Mama menang?"
"Mama dapat proyek."
"Berarti Mama hebat?"
"Sangat," kata Han.
Nada Han membuat Nathania melunak sebelum ia sempat marah. Ia tidak berkata seperti orang memuji untuk menyenangkan. Ia berkata seperti orang yang sejak lama tahu.
"Jangan mengalihkan."
"Aku tidak."
"Kamu tahu soal proyekku. Kamu tahu soal Bram. Kamu memberi kalung yang mungkin milik keluarga Wijaya. Kamu selalu muncul sebelum bahaya datang." Nathania maju satu langkah. "Han, siapa kamu sebenarnya?"
Meira menurunkan gambar. "Mama marah?"
Nathania segera melembut. "Tidak, Sayang. Masuk kamar dulu sama Bik Inah."
"Tapi Mei mau dengar Papa jawab."
"Mei."
Han berjongkok. "Papa akan jawab yang bisa Papa jawab. Mei tidur dulu."
"Kalau Papa bohong, hidung Papa panjang?"
"Mungkin."
"Nanti Mei cek."
Setelah Meira pergi, ruang tengah terasa terlalu terang.
Han menyentuh cincin di jarinya. "Aku bukan orang yang ingin menyakiti Nia."
"Itu bukan identitas."
"Aku tahu."
"Kamu punya hubungan dengan Wijaya?"
Jeda itu pendek, tetapi cukup.
"Punya."
Nathania menggenggam tali tasnya. "Sebagai apa?"
"Orang yang harus menyelesaikan sesuatu dengan mereka."
"Jawabanmu selalu separuh."
"Karena separuh lain belum aman."
"Untukku atau untukmu?"
"Untuk kamu dan Mei."
Nathania tertawa tanpa suara. "Laki-laki selalu memakai kalimat itu ketika ingin memegang kendali."
Han tampak terluka, tetapi tidak membela diri.
"Kalung ini," Nathania menarik Bara keluar dari balik blazernya, "punya siapa?"
Mata Han turun ke batu merah itu.
"Aku memberikannya untuk Nia."
"Bukan itu pertanyaanku."
"Dulu, kalung itu disiapkan untuk Nia."
Darah Nathania seperti berhenti. "Dulu kapan?"
Han membuka mulut.
Ponselnya bergetar. Nama Bram muncul.
Nathania melihatnya, lalu tersenyum dingin. "Tentu saja."
"Nia, ini..."
"Angkat. Mungkin separuh jawabanmu ada di sana."
Han tidak mengangkat. Ia mematikan layar.
Nathania malah semakin pucat. "Kamu mematikan panggilan untuk membuatku merasa dipilih?"
"Aku memilihmu."
"Tidak. Kamu memilih kapan aku boleh tahu."
Ia masuk kamar dan menutup pintu.
Han berdiri di ruang tengah dengan panggilan Bram yang kembali bergetar di saku.
Kali ini ia mengangkat.
Suara Bram masuk cepat. "Bos, Balai Lelang Astaguna sudah mengirim undangan TARO. Vincent masuk daftar bidder utama."
Han menatap pintu kamar Nathania.
"Mulai tahap berikutnya," katanya pelan.
Di balik pintu, Nathania bersandar dengan tangan di dada. Batu Bara terasa panas di kulitnya.
Ia menang hari ini.
Tetapi di rumahnya sendiri, ia masih belum tahu siapa laki-laki yang menatapnya seperti masa lalu yang belum berani menyebut nama.