Analepsis : Pertemuan yang mendatangkan perpisahan
Ini bukan soal mempertaruhkan waktu di usia muda tuk masa depan. Ini hanya tentang siapapun yang berusaha untuk bertahan hidup jauh lebih baik lagi.
Jika kita bisa sedikit menghargai kehadiran orang lain di hidup kita. Mungkin batin tidak akan merasa perih untuk merasakan penyesalan, karena sulit mempertahankannya tuk tetap menunggu esok hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Analepsis ^ 01
...Baik tidaknya, izin lah terlebih dahulu. Karena mencuri milik orang lain itu tidak baik sama sekali!...
...- Ardanayudha -...
Tujuan hidup memanglah bukan kerja tanpa henti, terus-menerus menambah saldo dalam rekening agar tidak ada satupun orang yang mampu merendahkan harga diri ini.
Hanya karena keadaan yang membuat raga tuk bertingkah seperti automata. Tidak kenal rasa lelah, gila akan kerja, mengabaikan kesehatan yang seharusnya menjadi prioritas utama untuk dilindungi. Agar jiwa tetap aman, jauh dari bisikan mental.
Tapi entah kenapa, usaha yang selalu dia usahakan terus dihancurkan dengan prakata kecil yang begitu menusuk relung sukma. Hingga pikiran buruk senang sekali menguasi kepala. Sampai senyum hangat itu menjadi penutup, jika raganya benar-benar sudah lelah.
Sayangnya, menyerah untuk saat ini adalah hal yang paling dia takuti. Karena mau sampai kapanpun Yudha harus tetap bekerja untuk dirinya sendiri. Jika Yudha bergantung hidup pada orang lain, itu akan membuat dirinya seperti benalu yang begitu menjijikkan.
Yudha harus tetap bertahan, apapun itu masalah.
"Jika kau tidak becus menjalankan tugasmu. Bukankah lebih baik kau mengundurkan diri dari pekerjaan mu saat ini?"
Kalimat yang setiap menit telinga Yudha dengar. Tidak membuat kepalan tangan kekarnya di belakang tubuh, melayang menyapa pipi mulus milik pria di hadapannya. Jika pun ini masalah pekerjaan. Dan seharusnya bukan hanya Yudha yang menanggungnya. Tapi tanggung jawab utama ada ditangan Yudha, saat tanda tangan kontrak itu dilakukan.
"Untuk apa kau bertahan? Jika masih melakukan kesalahan yang sama. Apa kau tidak lelah mendengar ocehan ku?" Sekilas alis tebal itu naik ke atas. Menatap Yudha penuh emosi yang masih bisa dia tahan.
"Ini bukan kali pertamanya kau melakukannya. Seharusnya kau lebih hati-hati saat membiarkannya pergi diluar jadwalnya. Jika dia memintamu untuk pulang lebih dahulu. Bukankah dari situ kau memiliki kecurigaan padanya?"
Sejujurnya tidak hanya lelah, Yudha sebenarnya juga sudah muak dengan semuanya. Ingin mengakhiri hidup pun terselip dalam pikirannya setiap Yudha bernapas. Tapi lagi, dan lagi Yudha harus bertahan demi melihat senyum tulus dari seseorang yang senang memberinya semangat untuk tetap hidup dalam kesederhanaan ini.
"Maafkan saya, pak. Saya telah lalai menjalankan tugas saya. Seharusnya saya memperingati lagi." Rendah Yudha, dengan kepala yang sedikit menunduk.
Tepukan pelan di pundak Yudha dari atasannya, membuat sang empu merasa sedikit lega. Dan terus berpikir. Jika ini hanya masalah kerjaan, bukan pertemanan.
Huh,
Tersenyum kecil, menguatkan benak tuk melupakan apa yang telah terjadi. Walau sekilas bayang-bayang itu masih terlintas di kapala Yudha.
Jika pun fisiknya tidak mendapat goresan luka, tapi batinya terus mendapat pukulan keras dari para insan yang senang melempar kesalahan diri sendiri pada orang lain. Tapi mau bagaimana lagi, Yudha ada di tempat ini memang butuh. Dan jika Yudha mengirimkan surat pengunduran diri. Belum tentu Yudha mendapat pekerjaan yang jauh sedikit lebih tentram dari ini.
Itu jauh lebih menyakitkan, ketimbang berjalan di atas besi panas tanpa alas kaki. Kalimat seperti itu pernah terbesit di batin Yudha, saat pikirannya tengah kacau. Mungkin ini hanya lelah.
Melangkah pelan dengan isi kepala yang berisik, sesekali tersenyum pada beberapa insan di sekitarnya. Mengingat petuah dari banyak orang yang sering mencetus tentang, 'ini hanya masalah waktu. Jika kau berusaha tanpa melupakan do'a, kesuksesan yang kau impian akan datang mendekat padamu.'
Yudha sudah melakukan apa yang dia mampu. Yudha pun juga sering melangitkan permintaannya pada pencipta alam semesta. Tapi sampai saat ini, Yudha belum melihat titik terang dari semua usahanya selama ini.
Sampai kapan Yudha harus bertahan?
Ardanayudha, pria muda yang lahir pada bulan Mei 1995. Kini tengah memperjuangkan hidupnya ke arah yang jauh lebih baik lagi. Yudha hanyalah pria sederhana yang punya kesadaran penuh akan posisinya. Yudha juga akan diam saat teman-temannya mulai membicarakan keluarga mereka. Membanggakan apa yang telah mereka miliki.
Sedangkan Yudha sendiri memilih untuk tidak mengatakan apapun tentang keluarganya pada siapapun. Bukannya Yudha tidak ingin mereka tahu. Hanya saja, Yudha tidak lagi mau di pandang menyedihkan. Akan pedihnya kehidupannya
Untuk saat ini, Yudha masih berada diambang kebimbangan yang membuat dirinya perlahan ragu pada usahanya sendiri selama ini. Tapi disisi lain, Yudha juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja.
Jika kesuksesan tidak akan pernah sudi singgah di hidupnya, Yudha berharap langkah kakinya mendapat penghalang tombok kokoh bukan kayu yang telah rapuh. Agar air mata batinya tidak lagi meratapi kegagalannya, ataupun menyesali keadannya saat ini.
Sabar, ikhlas, bersyukur yang hanya bisa Yudha kuatkan untuk tetap waras.
Terus melangkah dengan pandangan melihat sekitar, hingga senyum kecil tercetak jelas di wajah lelahnya. Saat seorang teman melambaikan sebentar tangan kanannya untuk menyapa.
Setidaknya rekan kerjanya tidak pernah sekalipun menghakiminya. Karena, kita memiliki posisi yang sama.
"Walaupun aku membencinya, tapi hanya dia yang senang bicara denganku." Gumam Yudha, sembari mengangguk kecil. "Aku harus tetap bersikap baik padanya."
Beralih pada beberapa karyawan baru, yang berjalan tidak jauh dari Yudha berdiri saat ini. Mengingatkan Yudha, akan dirinya sendiri yang pernah berada di posisi itu.
"Kau butuh anak buah?" Cetus seorang teman yang kini berdiri di sisi kanan Yudha, dengan pandangan lurus kearah karyawan baru.
"Aku tidak ingin melihat gadis-gadis itu menangis karena ocehan tidak jelas dari atasan." Balas Yudha. Terfokus pada seorang gadis cantik nan manis, yang terlihat seperti baru saja lulus dari sekolah.
Karena di antara tiga karyawan baru, hanya gadis itu yang terlihat seperti anak kecil. Apalagi saat kedua pipi berisinya itu mengembung. Membuat Yudha tersenyum tipis. Rasanya Yudha ingin menyembunyikan gadis itu di dalam kardus. Agar siapapun tidak dapat menemukannya.
"Bukankah, jika kita mengambil salah satu dari mereka. Itu jauh lebih baik, dan meringankan pekerjaan kita bukan?" Kening pria di samping Yudha mengerut samar. Kini menatap Yudha, penuh harap. Agar di ruangan pengap itu mendapat pemandangan yang menyejukkan mata.
"Setahuku tidak ada bagian kosong untuk mereka di tempat kita. Jikapun ada, pak Tirtha pasti akan mengambil karyawan lama dari pada yang baru." Timpal Yudha, sekilas membalas tatapan temannya satu itu. Elvarrio.
"Kenapa kita harus mendapat persetujuan pak Tirtha, jika pemimpin kita pak Tama?" Skakmat, yang membuat Yudha terdiam sejenak.
Perkataan Elvarrio memang ada benarnya, tapi setahu Yudha. Pak Tama juga harus mengajukannya terlebih dahulu pada pak Tirtha. Karena peraturan yang tertulis sebelum Yudha bergabung di perusahaan itu sudah ada.
"Posisi pak Tama berada di bawah kepemimpinan pak Tirtha. Jadi semua keputusan itu ada di tangan pak Tirtha." Yudha menelan ludahnya. "Kau harus ingat itu!!"
Lengkungan tidak sempurna Yudha tunjukkan, sebelum melangkah ke arah di mana ruang kerjanya berada. Meninggalkan Elvarrio sendiri yang masih berada di posisinya dengan helaan napas gusar.
Pandangan Elvarrio kini beralih, tidak sengaja bertemu dengan milik salah satu karyawan baru yang juga sempat Yudha amati. "Kenapa aku tidak asing dengan wajah itu? Sepertinya aku pernah bertemu dengannya." Gumam Elvarrio. Kini berjalan pergi dari tempatnya berdiri, karena job baru dari Tirtha membuat Elvarrio mau tidak mau harus menuntaskannya. Jika tidak, Elvarrio harus siap menerima pesangon dari Tirtha.