NovelToon NovelToon
Lux In Winter

Lux In Winter

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:361
Nilai: 5
Nama Author: Ryn Takumi

Kinan harus memilih antara dua pilihan yang ada. Apakah dia akan terus bersembunyi dalam musim dingin yang damai atau berani melangkah menghadapi kenyataan yang sempat ia sangkal dan merasakan sesuatu yang baru. Karena terkadang, kita harus kehilangan segalanya agar kita bisa benar-benar menemukan jati diri.

Lux in Winter yang akan berisi 40 chapter ini, bukan hanya sekedar kisah tentangnya semata. Ini adalah sebuah perjalanan panjang melepaskan, mencintai dan menemukan cahaya di tempat yang paling tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Takumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4 - Kanvas Toska

Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh lebih lima belas ketika Kinan keluar dari kamarnya. Ia sudah tampil rapi, menyandang tas selempang putih kecil favoritnya, sebuah buku titipan untuk Alya di tangan kiri serta di tangan kanannya menenteng tas yang berisi laptop.

Gaun midi putih bermotif bunga merah-cokelat yang ia kenakan memberikan kesan kasual. Rambut hitam pekatnya terurai bergelombang hingga hampir sepinggang, dipadu poni tipis yang tampak natural dan bervolume. Senyum manis yang menghiasi wajahnya membuat Kinan terlihat makin ceria.

"Bu, Kinan mau berangkat dulu ya. Nanti sepulang dari perpustakaan langsung mau sekalian ke berangkat tempat kerja," ucapnya sambil berjalan mendekat ke arah dapur, dimana ibunya sedang mencuci sayur.

Ibu Kinan menoleh dan langsung menghentikan aktivitasnya, "Loh, bekalmu sudah? Atau perlu Ibu yang siapkan?" tanyanya sembari membersihkan tangan. "Kok kamu tidak bilang dari tadi. Ibu masakin telur sebentar, ya."

"Gak perlu, Bu. Hari ini Kinan gak bawa bekal dulu. Nanti mau beli aja di dekat tempat kerja."

Kinan bergegas berjalan ke arah ibunya, memegang tangannya lalu menciumnya. "Doain Kinan semoga hari ini semua urusan Kinan lancar ya, Bu."

"Iya, Nak. Ibu pasti selalu doakan yang terbaik buat Kinan bahkan tanpa Anak ibu minta pun," tutur ibunya sembari mengusap kepala Kinan dengan lembut. "Hati-hati di jalan. Nanti pelan-pelan saja kalau naik motor, jangan ngebut."

"Iya, Bu. Kinan kan juga udah gede," balasnya tersenyum lebar.

Untuk sesaat, ibunya menatap Kinan dengan raut wajah sayu. Dalam hati, ia tak menyangka waktu berlalu begitu cepat berlalu. Anak semata wayangnya kini sudah tumbuh dewasa, sebuah kenyataan yang tanpa sadar membuatnya terpaku melamun.

"Bu?"

Tegur pelan Kinan seketika membuyarkan lamunannya. "Ah, iya. Anak ibu sekarang udah gede. Bahkan sudah lebih tinggi dari Ibu lho," ujar Ibu Kinan sembari menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca.

"Hehe. Kan anak Ibu ini udah 21 tahun," kata Kinan sembari tersenyum. "Yaudah, Kinan mau berangkat dulu, Bu. Nanti pulang dari tempat kerja bakal Kinan bawain kue deh khusus buat Ibuku tercinta."

"Beneran, ya? Awas Ibu tagih nanti malam," canda ibunya sembari mengantarkan Kinan ke depan rumah.

Cuaca siang yang lumayan terik membuat Kinan mengenakan jaketnya, tak lupa memakai helm untuk keselamatan. Tak lama, derum halus mesin motornya menyala, memecah keheningan di antara mereka.

"Kinan berangkat dulu, Bu. Assalamualaikum."

"Wa'alaikumsalam," jawab Ibu Kinan pelan. Matanya terus menatap sang anak sampai akhirnya Kinan menghilang dari pandangannya.

Matahari bersinar begitu terik tepat di atas ubun-ubun. Jalan-jalan tampak padat lancar tanpa adanya kemacetan yang berarti. Hanya butuh waktu kurang dari 20 menit dari rumah Kinan untuk sampai di perpustakaan kota.

Sesampainya Kinan di tempat itu, tak banyak kendaraan yang tampak di area parkir. Tidak seperti di hari-hari biasa karena meskipun perpustakaan buka setiap hari, keadaan cukup ramai hanya saat di hari Senin hingga Jumat. Khusus di akhir pekan, hanya ada akan segelintir orang yang datang.

Setelah memarkirkan motornya, Kinan langsung bergegas masuk ke perpustakaan. Tak jauh langkah kakinya dari pintu masuk, ia kemudian disapa oleh seorang penjaga perpustakaan.

"Hallo, Nan. Sendirian aja ke perpus? Tumben banget bisa ngelihat dirimu di akhir pekan kayak gini," sapa orang itu dengan ramah.

"Ah, Mbak Della. Aku gak sendiri kok, Mbak. Nanti ada dua temanku juga yang nyusul kesini."

"Oalah, kirain. Ngomong-ngomong, sehat kamu, Nan? Udah hampir sebulan lebih lho ya kamu gak kesini. Sibuk kencan sama cowokmu, ya? Atau karena emang lagi libur kuliah aja?" tanya Della dengan nada penasaran.

"Lagi liburan semester aja, Mbak. Jadinya ya, sering cuman rumah aja kalo pas gak lagi kerja atau gak ada urusan diluar."

"Walah. Mumpung lagi liburan kayak gini harusnya kamu main kemana gitu kek, Nan. Ke pantai atau naik gunung bareng temen-temenmu pasti seru tuh."

"Mungkin kapan-kapan kalo udah ada rencana, Mbak." jawab Kinan sembari sedikit tersenyum.

Della dan Kinan adalah sesama anggota perpustakaan. Mereka berdua sudah cukup lama saling kenal dan juga sering curhat atau hanya sekedar ngobrol santai walau hanya dari satu sisi, dimana Kinan lebih sering mendengarkan dan menanggapi.

Sebenarnya usia mereka tak jauh berbeda, hanya terpaut dua tahun saja. Namun, Kinan selalu memanggil Della dengan sebutan 'Mbak', meskipun di awal kenal dulu Della sering kali memprotes hal tersebut karena ia merasa bahwa mereka itu seumuran serta hanya membuat dirinya jadi terkesan tua. Tapi kalau untuk sekarang, Della tampak lebih pasrah menerima itu semua dan tidak mempermasalahkannya lagi.

"Oh iya, Nan. Minggu depan ini ada bazar buku lho di sebelahnya Mega mall. Kalo kamu gak lagi sibuk, jangan lupa kamu datang ya," pinta Della santai.

"Minggu depan ya? Aku gak berani janji sih, tapi... nanti aku usahain ya, Mbak."

"Selain ada bazar, nanti juga ada acara bedah buku dan talkshow juga. Dijamin seru deh pokoknya. Kamu kan juga udah lama gak kumpul-kumpul."

Kinan hanya membalas dengan senyuman. "Ah, iya. Kalo gitu aku duluan ya, Mbak."

"Oke, Nan. Kapan-kapan kita ngobrol-ngobrol dan curhat lagi."

Kinan bergegas dan melangkah ke dalam. Suasana perpustakaan hari ini sesuai dugaannya: tenang dan tak terlalu ramai. Tampak hanya ada beberapa orang yang duduk saling berjauhan, sementara sekelompok anak muda hampir seusianya berkumpul di sudut ruangan.

Kinan terus melangkahkan kakinya menuju tangga ke lantai dua. Kondisinya tampak hampir sama dengan yang di lantai satu. Ia menatap ke salah satu tempat duduk di sudut ruangan masih tampak kosong yang merupakan spot duduk favoritnya. Suasana begitu tenang dan tak banyak kebisingan, hanya sesekali ada suara gesekan meja ataupun kipas angin yang pelan.

Kinan menaruh tas laptopnya di atas meja dan segera menuju rak buku untuk mencari beberapa buku yang diperlukan. Jemarinya menyusuri punggung buku yang berjajar rapi. Matanya fokus melihat satu per satu label buku untuk referensi tugas di semester ini. Hampir seperempat jam kemudian, akhirnya Kinan berhasil menemukan semuanya.

"Ahhh... Akhirnya ketemu juga semua bukunya. Mayan susah nyarinya dari tadi," gerutunya sembari berjalan kembali ke tempat duduknya.

Kinan mulai membuka buku yang pertama. Halaman demi halaman ia baca dengan seksama lalu mencatatnya di buku tulis jika menemukan beberapa hal yang dirasa penting. Sesekali ia menatap ke arah tempat duduk lain dan juga mengintip ke arah jalan dari jendela hanya untuk mendistraksi kesendiriannya sejauh ini.

Dua puluh lima menit kemudian, langkah cepat disertai tawa kecil terdengar mendekat ke arah Kinan. Suara yang sungguh sudah familiar di telinganya. Ia menoleh ke arah tangga lantai satu dan benar saja, dua sosok yang ia tunggu pun datang.

"Tadaaa!"

Mika berjalan lebih dulu di depan Alya dengan gaya khasnya yang ceria dan energik. Ia mengenakan baby tee putih serta cardigan rajut tipis berwarna denim dan disempurnakan dengan bawahan rok lipit biru muda selutut. Rambutnya kini lebih pendek hampir sebahu, dengan poni tipis yang membuat penampilannya tambak lebih segar.

"Gimana? Kece, kan? Komentarnya dong," ujarnya antusias sembari memutar badannya sedikit ke samping meja Kinan.

Dari belakangnya, Alya memberi isyarat tangan ke Kinan untuk tetap diam saja dan tidak memberi tanggapan. Kinan langsung tersenyum melihat kedua sahabatnya itu.

"Hmm, cocok banget dengan dirimu, Mik. Jadi kelihatan lebih muda seperti masih SMA. Kekinian banget," ucap Kinan sedikit bercanda.

"Tentu aja dong. Salon langgananku emang gak pernah gagal. Terbaik emang," ucap Mika dengan senyuman yang terus terpampang di wajahnya.

"Tapi, katamu dulu lebih suka rambut panjang. Kok sekarang kamu potong pendek. Diwarnain pula itu."

"Tau tuh. Mungkin abis patah hati cintanya ditolak sama cowok," timpa Alya sambil memasang muka pura-pura heran.

"Sok tau Alya ini. Emang trendnya tuh sekarang gini. Dulu ya dulu, sekarang ya sekarang. Sesimpel itu," bantah Mika sembari meletakkan sebuah kantong kertas di atas meja. "Nih, aku bawain burger buat kamu karena udah sabar menunggu aku dan Alya."

"Terima kasih. Kebetulan banget aku emang lagi gak bawa bekal."

"Tadi setelah dari salon sekalian mampir ke fast food karena perutku udah gak bisa diajak kompromi lagi. Padahal tadi udah sarapan roti cukup banyak," keluh Mika.

"Gini kok ngeluh kalo timbangannya naik." timpa Alya sembari duduk di depan Kinan.

"Apa coba Alya ini..."

Mika juga ikut duduk disebelah Alya dan langsung juga mengeluarkan laptopnya. Sementara itu Kinan tak lupa memberikan buku yang Alya pinta dari kemarin hari.

Detik demi detik dan menit demi menit pun berlalu. Mereka bertiga tampak serius membaca buku di depan mereka masing-masing serta saling mencatat hal yang perlu dicatat. Tak banyak obrolan di antara mereka, mungkin hanya sesekali untuk saling menanyakan sesuatu serta sesekali melirik ke meja lain atau ke pemandangan diluar jendela.

Suasana di sekitar mereka mulai sepi dan terasa lambat. Kinan meraih ponselnya di atas meja dan melihat waktu tak terasa sudah hampir jam setengah satu. Mika meregangkan bahunya sambil menguap kecil, lalu perlahan menutup laptopnya.

"Ah, cukup. Aku udah gak kuat lagi. Kayaknya otakku mulai berasap," keluhnya sambil menyandarkan punggungnya ke kursi dengan ekspresi lelah.

"Harus segera panggil pemadam kebakaran nih, Kin." Alya kembali menggoda Mika. "Atau perlu aku telepon mamimu?"

Kinan hanya tertawa melihat interaksi keduanya itu.

"Sepertinya aku sudah mencapai batas maksimal ku," ucapnya sedikit lemas. Tak lama setelah itu, tiba-tiba ia menatap Kinan dan Alya. Matanya berubah berbinar penuh antusias, seakan ada sesuatu hal penting yang ingin ia lontarkan.

"Eh, kamu tau, Kin. Tadi ya, waktu pas beli burger..."

"Mulai," gumam Alya pelan sebelum mika sempat menyelesaikan kalimatnya.

Mika menepis protes ke Alya. "Ihhh... dengerin dulu! Kebiasaan deh Alya ini. Aku yakin Kinan pasti tertarik dengan ceritaku yang satu ini."

"Cerita apa emang? Sepertinya emang beneran menarik."

"Jadi, gini. Tadi itu ya, pas aku dan Alya antri buat beli burger, aku tuh ngeliat ada cowok yang duduk sendirian di dekat pintu menatap terus ke arah jendela. Kayaknya lagi mikirin sesuatu gitu deh, atau emang lagi ada masalah."

"Terus?" ucap Kinan yang mulai penasaran.

"Dan, kalo aku perhatiin dari tampang dan gayanya, umurnya mungkin kisaran 25 tahun. Tapi, tapi... yang bikin menarik itu adalah dia cakep bener, sumpah. Cool parah, gila. Serius deh."

Alya hanya melirik singkat tanpa menanggapinya. Sementara Kinan mengangguk pelan sambil tersenyum samar. Mereka berdua sudah terbiasa dengan cerita-cerita seperti ini dari Mika. Cerita-cerita yang tak jauh dari cowok-cowok ganteng yang Mika temui.

Kinan menatap Mika sambil menyipitkan kedua matanya. "Terus? Gak kamu samperin orangnya, Mik?"

"Mana mungkin berani dia. Dilirik dikit aja udah hampir jatuh kepleset tadi," sahut Alya cepat.

"Ya gimana ya?" Mika mencoba menutupi rasa malunya.

Kinan tertawa kecil. "Kesempatan emas itu padahal, Mik. Dan gak bakal datang untuk dua kali lho. Kita gak tau, kali aja dia jomblo dan emang sedang mencari kekasih hatinya."

Kali ini Mika hanya tersenyum lebar tanpa tahu harus berkata apa lagi.

"Lagian kamu itu ya, gampang banget tergoda dan terpesona sama cowok cuman dari parasnya doang," lanjut Kinan.

"Biarin. Kan normal itu. Emang beneran cakep kok. Mau gimana lagi." Mika nyengir sedikit malu.

Kinan dan Alya tersenyum menahan tertawa bersamaan. Suasana selalu ringan seperti ini saat mereka bertiga ngobrol bersama. Tidak semua obrolan memang perlu dijawab atau ditanggapi. Namun, keberadaan Mika selalu berhasil mengisi ruang-ruang hening di antara mereka dengan keceriaan yang tak pernah habis.

Beberapa saat kemudian, mereka mengembalikan beberapa buku ke raknya masing-masing, membereskan meja dan kursi mereka, serta membawa beberapa buku untuk dipinjam.

Sengatan panas siang hari yang kian terik langsung menyambut kulit mereka ketika berjalan keluar dari perpustakaan dan menuju area parkir. Alya menyalakan motor matiknya, sementara Mika duduk di belakangnya memakai helm di kepalanya sambil mengipas-ngipaskan tangan.

"Serius deh, panas banget gila hari ini," gerutunya.

Alya mengabaikannya dan melirik ke arah Kinan. "Abis ini mau ikut kami sekalian gak, Kin?"

Mika ikut menimpali kata-kata Alya. "Iya, Kin. Sekalian kita refreshing terus beli yang seger-seger. Cocok banget kan, ya."

Alya langsung menoleh ke arah Mika. "Heee... inget. Kita abis ini mau ke bengkel, terus sorenya mau belanja ke supermarket."

"Oh, iya."

Kinan hanya tersenyum sambil merapikan tas selempangnya. "Maaf ya, kalian berdua. Aku mau langsung ke tempat kerja abis ini. Shift penuh hari ini."

Mika cemberut, lalu menghela napas panjang. "Yaaaah. Yaudah deh. Kerja terus Mbak Kinan kita ini."

"Nanti deh pas libur, kita jalan-jalan bareng. Janji," ujar Kinan.

"Deal!" Seru Mika begitu semangat, bahkan sampai mengacungkan jari kelingkingnya.

Alya melambaikan tangannya ke arah Kinan. "Kita duluan ya, Kin."

"Dadaaaa... Kinan." Mika ikut melambaikan tangannya.

"Kalian juga. Hati-hati di jalan," balas Kinan.

Setelah Alya dan Mika meninggalkan area parkiran, Kinan berjalan menuju ke area motornya terparkir. Ia berdiri sejenak, merapikan jaketnya lalu mengenakan helmnya.

Terik panas di tengah kota memang sangat menyengat. Bahkan hanya sesaat pun sudah membuat keringat keluar. Kinan menarik napas cukup panjang sebelum menyalakan motornya, bersiap untuk menempuh sisa harinya yang masih panjang. Namun tiba-tiba ponselnya berdering. Ia langsung membuka kembali tasnya dan mengangkat panggilan telepon itu.

"Maaf ganggu. Kamu udah jalan belum?" Suara Belinda terdengar agak tergesa-gesa di ujung sana.

"Belum, Mbak. Ini masih di parkiran perpustakaan dan baru mau berangkat ke cake shop."

"Syukurlah kalo begitu."

"Ada apa emang, Mbak?'

"Nanti bisa mampir beliin madu dan stroberi gak? Yang kayak biasanya. Baru inget kalau hari ini stoknya sisa dikit. Mau beli sendiri tapi pesanan lagi banyak. Tolong ya, Kin," ujar Belinda.

"Oh, bisa Mbak. Kebetulan jalan ke tempat kerja searah ngelewatin freshmart. Cuma itu aja, Mbak?"

"Iya, itu aja. Makasih sebelumnya. Nanti jangan lupa notanya."

"Siap, Mbak."

Setelah menutup panggilan dari Belinda, Kinan memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, lalu langsung tancap gas menuju ke freshmart sebelum akhirnya ke tempat kerja.

Ia memang cukup sering dimintai tolong oleh Belinda untuk urusan-urusan sederhana perihal kerjaan seperti ini. Meskipun belum cukup lama kenal, namun mereka berdua lumayan cepat akrab. Kinan pun merasa nyaman dengan Belinda karena tampak bukan seperti seorang senior di tempat kerja, tapi lebih seorang sosok kakak baginya.

1
Crestfall
Mika favoritku sih
Crestfall
👍👍👍
Rey
Cukup menarik. sepertinya aku bakal stay ngikutin ini
Ryn Takumi: Makasih, Kak.
Jangan bosen bacanya 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!