Sebuah musibah merenggut keluarganya dan dia ditolong oleh seorang pendekar yang pernah jaya dimasanya. Yuk kita sama sama melihat jalan ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tio Bukilsum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ilmu Aneh
Lepaskan dirimu dan biarkan dia merespons.
Ketika telapak tangan sosok bertopeng babi itu hampir mengenai mukanya, tiba tiba didalam perut Tio Buki ada hawa sangat kuat mencoba ingin keluar. Dorongan itu tak sanggup Tio Buki tahan.
Dan pas tangan Sosok bertopeng babi itu satu inci lagi menyentuh wajahnya. Tio Buki dengan refleks berbalik badan.
Brusssss....
Sebuah suara keras terdengar dibelakang punggung Tio Buki. Sosok bertopeng babi itu terpental sangat jauh menabrak sebuah batu besar dan mati seketika.
Brakkk...
Batu itu hancur berkeping-keping. Melihat itu, Tio Buki membeku ditempanya.
"Apa yang sedang terjadi? Apakah ini ilmu warisan yang diberikan oleh kakek Hua San. Bagaimana sebuah kentut bisa membunuh ahli silat begitu kuat?" Banyak pertanyaan timbul dalam otak Tio Buki.
Setelah duduk termenung cukup lama diatas tebing goa itu, Tio Buki merasa kalau melepaskan ilmu ini dia akan menjadi pendekar aneh.
Ketika pagi tiba Tio Buki kembali kedalam goa dan duduk didepan kakek Hua San.
"Hahaha. Jadi kamu sudah memahami dan merasakannya? Bagaimana hasilnya, luar biasakan kan..!" Ucap kakek Hua San tertawa terbahak bahak.
Tio Buki mengagguk. "Iya!"
"Biar kamu tau, kakek guru belum pernah mengeluarkan ilmu itu satu kali pun. Karena aku tidak berjodoh dengan ilmu itu. Aku tidak bisa mempelajarinya, aku terlalu bodoh. Hahaha" Kakek Hua San masih aja tertawa.
"Iya, benar. Kakek benar bodoh, tolol. Hahaha" Ucap Tio Buki tertawaan terbahak-bahak.
Argh...Apa yang telah kau ucapkan, kau berani ya Tio mengatakan itu kepada kakek guru. Dasar anak setan!" Teriak Hua san marah dan langsung mengigit pundak Tio Buki.
Tio Buki masih saja tertawa. Tapi tiba tiba dia merasakan rasa sakit dan terdengar suara bisik halus ditelinganya.
"Tahan, buka mulutmu dan jangan keluarkan suaranya. Tutup matamu, jangan melawan. Apapun yang kamu rasakan. Mengerti kau!" Ucapnya.
Tio Buki tidak menyahut, mengangguk pun tidak. Dia sebisa mungkin menahan rasa sakit yang sangat menusuk dibahunya, apa lagi ketika dia merasakan sesuatu derak derak petir masuk kedalam tubuhnya.
"Apa yang kakek guru lakukan, apa dia ingin membunuhku?" Membatin Tio Buki.
Seluruh tubuhnya laksana dipanggang lautan petir, sakitnya tak bisa diucapkan dengan kata kata. Sebisa mungkin Tio bertahan tidak menutup mulut dan mengeluarkan suara. Keringat dingin keluar dari tubuhnya seperti siraman air.
Tapi itu tidak berlangsung lama, lambat laun hawa panas berubah jadi sejuk, dan tenang kembali.
Beberapa saat kemudian terdengar bisikan ditelinganya, dan gigitan dibahunya tidak terasa lagi. Seluruh tubuhnya seperti tidak terjadi apa apa.
"Tio, kau boleh membuka matamu" Ucapnya.
"Ahhhh.....Ahhhhhh"
Tammmm....
"Aduh, kenapa kepalaku di pukul, kek Sakit tau!" Ucap Tio Buki seraya memegang kepalanya.
"Kenapa! kumat lagi gila mu? Kok berteriak ngak ada angin dan hujan?" Tanya kakek Hua San.
"Ach, ngak kek. Tadi aku belum sempat berteriak! Sekarang ya baru sempat. Hehehe" Jawab Tio Buki cengengesan.
"Dasar aneh! Hahaha. Hahaha" Ucap kakek Hua San seraya tertawa terbahak-bahak.
"Kakek yang aneh. Selalu aja tertawa kayak kakek guru Thio Sam Hong. Apa kakek Hua San juga sama ya! Sama sama gila" Ucap Tio Buki.
"Dengar ya, Anak setan. Kakek bukan gila orangnya. Tapi suka tertawa sendiri, terasa bebas dan lepas hidup ini" Ucapnya.
"Ach, Itu kan sama saja sebelas dua belas" Ucap Tio Buki mendesah pelan.
"Hahaha. Hahaha"
"Sekarang kau coba praktekkan ilmu itu dan hantam kearah dinding goa ini" Ucap Hua Dan memerintah dan berhenti tertawa.
"Baik kek! Tapi, apa ngak runtuh goa ini nantinya?"
Bersambung ke episode selanjutnya....