NovelToon NovelToon
The Cure Was You

The Cure Was You

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta Terlarang
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Xereaa

Dua kali gagal menikah membuat Rellunae berhenti percaya pada cinta. Baginya, semua orang hanya datang untuk pergi, tidak ada pria yang benar-benar mencintai dirinya dengan tulus. Sampai ia bertemu Orion. Seorang pasien dengan masa lalu kelam yang dipindahkan dari satu rumah sakit jiwa ke rumah sakit jiwa lainnya karena tak seorang pun mampu menanganinya.
Awalnya Rellunae hanya ingin menyembuhkan. Namun ia tidak menyadari bahwa setiap senyuman, perhatian, dan kebaikan yang diberikannya perlahan membuat dirinya menjadi pusat dunia pasiennya. Bagi Orion, Rellunae bukan hanya sekedar psikiater, melainkan seseorang yang harus tetap berada di sisinya apa pun yang terjadi. Tapi bagaimana jika satu-satunya orang yang mencintainya dengan tulus adalah seseorang yang mencintainya terlalu dalam hingga berubah menjadi obsesi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24 | Penjahat (++)

Kepanikan murni menyengat seluruh saraf Luna. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdengung. Pelacak GPS?! Pria ini benar-benar gila, manipulatif, dan sudah bertindak layaknya seorang stalker berbahaya yang tak tersentuh hukum! batin Luna dengan napas tak teratur.

​Rasa takut yang bercampur dengan lonjakan adrenalin memberi Luna kekuatan mendadak.​"Kamu... kamu benar-benar penjahat gila, Orion!" jerit Luna dengan suara bergetar hebat.

Tanpa memikirkan akibatnya, Luna memanfaatkan momen saat bibir Orion masih menyapu sudut bibirnya. Ia mendorong dada tegap Orion menggunakan seluruh tenaga yang tersisa di tubuhnya. Sentakan kuat dan tak terduga itu berhasil membuat kuncian lengan Orion di pinggangnya terlepas sepersekian detik.

​Luna melompat turun dari pangkuan Orion. Dengan jemari bergetar hebat dan napas memburu, ia menarik paksa gelang platina itu hingga pengaitnya merenggang dan melukai sedikit kulit pergelangan tangannya.

Tring!

Gelang mewah itu dicopotnya paksa dan dilemparkan begitu saja ke ubin lantai rooftop, menggelinding hingga berhenti di dekat kaki Orion.

​"Jangan pernah mendekati saya lagi!" tangis Luna pecah, air mata ketakutan akhirnya menetes deras membasahi pipinya.

Tanpa menoleh sedikit pun, Luna membalikkan badan dan berlari sekencang-kencangnya menuju pintu rooftop. Sepatu heels dokternya berketuk keras di atas ubin saat ia menerobos pintu, menuruni tangga darurat dengan langkah terburu-buru, meninggalkan area rooftop yang mencekam itu.

​Sementara itu, Orion masih duduk kaku di atas bangku taman kayu.

Iris abu-abunya menatap dingin gelang platina berharga fantastis yang kini tergeletak tak berharga di atas tanah, lalu beralih menatap pintu yang baru saja dilewati Luna. Ibu jarinya perlahan mengusap bibir bawahnya sendiri yang masih menyisakan jejak aroma manis dan hangat dari napas Luna.

​Bukannya marah karena didorong dan ditolak mentah-mentah, sudut bibir Orion justru perlahan terangkat miring, membentuk sebuah senyuman tipis yang teramat kelam dan sarat akan kegilaan mutlak.

​"Makin kamu lari dan ketakutan, Nanae..." bisik Orion rendah, suaranya ghaib tertelan angin siang rooftop.

​Orion membungkuk, memungut gelang platina itu dan menggegamnya erat-erat di dalam telapak tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. ​"...makin besar keinginanku untuk mengurungmu di tempat dimana hanya ada aku dan kamu."

☆☆☆

Luna berlari tanpa arah di sepanjang koridor Rumah Sakit Silver Oak, tak peduli pada tatapan bingung dari beberapa staf dan pasien yang berpapasan dengannya. Begitu sampai di ruang praktiknya yang sepi, ia langsung mengunci pintu rapat-rapat dan menyandarkan punggungnya di pintu.

​Tubuhnya gemetaran hebat. Luna perlahan meluruh ke lantai ubin yang dingin, memeluk kedua lututnya rapat-rapat. Air mata ketakutan dan rasa frustrasi yang ditahannya sejak tadi akhirnya pecah tak terkendali.

Isakannya memenuhi ruangan yang sunyi itu. Ia berada di titik terendahnya. Ditekan oleh masalah kode etik di RSJ, diteror mantan tunangannya, diintimidasi Xabiru, dan kini dipojokkan oleh obsesi gila Orion yang siap melahapnya hidup-hidup. Luna merasa benar-benar sendirian, terkepung, dan hampa. ​Ia butuh seseorang. Ia butuh tempat bersandar sebelum akal sehatnya benar-benar runtuh.

Dengan jemari yang tremor parah, Luna merogoh saku jubah dokternya dan mengambil ponselnya. Nama Maya menjadi satu-satunya nama yang muncul di benaknya. Maya adalah satu-satunya orang yang tau seluruh rahasia dan kelemahannya tanpa pernah menghakiminya.

Luna menekan tombol panggil.

​​"Halo, Luna?" suara hangat dan ceria Maya menyapa dari seberang telepon. Sayangnya, ada suara riuh angin dan latar belakang bandara yang bising. "Duh, maaf banget Lun, aku baru selesai seminar di Surabaya dan ini lagi mau boarding pesawat balik. Ada apa, Lun? Suaramu kok–"

​"Maya..." panggil Luna dengan suara yang pecah dan tercekik oleh tangis. "Maya, tolong... aku... aku udah ngga kuat lagi..."

Suara bising di seberang telepon seketika seolah tak berarti. Maya yang menyadari tangisan sahabatnya langsung menghentikan langkahnya. "Luna?! Kamu kenapa?! Kamu dimana sekarang?!"

​"Aku di ruang praktik, May... aku takut banget..." bisik Luna parau sembari membenamkan wajahnya diantara kedua lutut. "Semua orang mau ngendaliin aku... Orion, dia... dia makin gila, May. Dia pengen aku pake gelang yang udah dia taruh GPS di dalemnya, dia kabur dari bangsal cuma buat ngancem aku di rooftop... Aku ngerasa hampir gila, May. Aku butuh kamu..."

Di seberang sana, Maya menghela napas panik dan cemas luar biasa mendengarkan kerapuhan sahabatnya yang biasanya sangat kuat itu.

​"Lun, dengerin aku. Tarik napas pelan-pelan, okey?" bujuk Maya dengan nada lembut khas seorang psikolog yang mencoba menenangkan pasien krisis. "Tarik napas... buang pelan-pelan. Kamu aman di dalam ruanganmu sekarang. Kamu udah kunci pintunya, kan?"

Luna mengangguk pelan. "S-sudah, May..."

​"Aku transit sebentar dan penerbanganku mendarat malam ini jam 8 di Jakarta," lanjut Maya tegas namun penuh kasih sayang. "Begitu mendarat, aku langsung naik taksi ke rumahmu. Jangan ke mana-mana setelah jam praktikmu selesai, paham? Pulang ke rumah, kunci pintunya, dan tunggu aku di sana. Kita omongin semuanya nanti malam."

​"Makasih, May... maaf aku ganggu kamu..." lirih Luna pelan.

​"Jangan ngomong gitu, kamu sahabatku! Bertahan sebentar ya, Lun. Aku jalan sekarang," ucap Maya sebelum akhirnya mematikan sambungan telepon untuk bergegas naik ke pesawat.

Luna memeluk ponselnya rapat-rapat di dada. Setidaknya, harapan bahwa nanti malam ia memiliki tempat untuk menumpahkan seluruh bebannya memberikan sedikit kekuatan pada hatinya yang sudah hancur lebur.

☆☆☆

Malam harinya, kediaman megah keluarga Keller yang berdiri kokoh di kawasan elit tampak begitu sepi. Ayah Luna yang merupakan seorang pengusaha properti ternama sedang berada di Australia untuk perjalanan bisnis selama dua minggu ke depan. Rumah berlantai dua yang mewah itu terasa amat luas dan terlalu dingin untuk Luna yang sedang rapuh.

Setelah memastikan seluruh pintu utama dan jendela terkunci rapat, Luna duduk di sofa ruang tamu. Ia mengenakan piyama kasual, memeluk bantal dengan kedua lutut terangkat. Matanya terus melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 20.30 WIB.

Ting tong... Ting tong...

​Suara bel rumah bergema di dalam kediaman yang sepi itu.

​Mata Luna seketika berbinar. "Maya!" gumamnya lega. Meyakini sahabat psikolognya yang baru mendarat dari Surabaya telah tiba, Luna bangkit berdiri dan berlari kecil menuju pintu utama tanpa memikirkan hal lain.

Sambil memutar kunci dan menggeser slot besi pintu kayu jati tebal itu, Luna berseru, "May, akhirnya kamu nyampe juga! Aku beneran udah mau–"

​Klek.

​Pintu terbuka lebar. Kata-kata Luna terhenti seketika di tenggorokan.

Bukan Maya dengan koper perjalanannya yang berdiri di bawah lampu teras, melainkan seorang pria bertubuh jangkung yang dibalut mantel hitam panjang. Pakaian rumah sakitnya sudah berganti sepenuhnya dengan pakaian kasual serba hitam yang makin mempertegas aura aristokratnya yang berbahaya.

​"Malam, bintangku," sapa Orion lembut, suaranya mengalun seperti melodi yang mematikan.

Wajah Luna seketika pucat pasi. Seluruh persendiannya serasa meloloskan diri. "O-Orion...?! Bag—bagaimana bisa kamu disini?!"

​Tanpa menunggu diundang, Orion melangkah masuk, memotong jarak hingga Luna refleks mundur beberapa langkah ke belakang. Pria itu menutup pintu kayu jati di belakangnya, memutar kunci, dan menggeser slotnya kembali dari dalam, mengunci mereka berdua di dalam rumah mewah yang sepi itu.

​"Sudah kubilang, tidak ada tembok yang cukup tinggi untuk menahanku kalau itu berkaitan denganmu, Nanae," gumam Orion santai. Ia melangkah makin dalam ke dalam rumah, matanya meneliti interior mewah rumah keluarga Keller dengan binar tertarik.

​"Kamu... kamu benar-benar penjahat!" pekik Luna gemetar, kepanikan murni kembali melahapnya. "Keluar dari rumah saya sekarang, Orion! Keluar!"

Orion mengabaikan jeritan itu. Ia berjalan mendekati Luna, menatap raut ketakutan dan mata sembap wanita itu dengan tatapan mengintimidasi yang sangat tajam.

​"Siapa yang sedang kamu tunggu, hm?" tanya Orion rendah, melangkah perlahan hingga Luna terdesak mundur dan punggungnya menempel rapat pada pilar kayu di ruang tamu. "Maya? Sahabat psikologmu itu?"

Napas Luna tercekat. "B-bagaimana bisa kamu..."

​Sebuah senyuman miring yang dingin terukir di bibir Orion. Ia mencondongkan tubuhnya, mengurung Luna diantara pilar kayu dan tubuh tegapnya.

​"Aku mengenalmu luar dalam, Rellunae," bisik Orion tepat di depan wajah Luna, napas hangatnya menyapu pipi sang psikiater. "Aku tau betul kalau kamu sedang terdesak, kamu akan lari mencari tempat bersandar. Dan begitu aku tahu kamu menelepon si psikolog itu tadi siang... rasa bahayaku langsung menyala."

Orion merunduk sedikit, jemarinya yang dingin menyusup ke balik tengkuk Luna, memaksa wanita itu menatap langsung ke dalam iris abu-abunya yang pekat akan kegilaan mutlak.

​"Aku tidak suka ada orang lain yang mencampuri urusan kita, Nanae," bisik Orion sangat pelan namun menyerap ketakutan hingga ke tulang. "Apalagi seorang psikolog yang mencoba memengaruhi pikiranmu untuk menjauh dariku. Jadi... sebelum dia sampai di rumah ini dan mendengar ceritamu, aku harus memastikan kamu mengunci mulutmu rapat-rapat."

Luna menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kering, dan debaran di dadanya sudah mencapai batas maksimal. Ancaman terselubung di mata abu-abu Orion membuatnya mengerti: pria ini benar-benar datang ke sini untuk memutus satu-satunya jalur pertolongan dan pelarian yang ia miliki malam ini.

​"Orion... kumohon, sadarlah," bisik Luna gemetar, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya karena rasa putus asa. "Apa yang sebenarnya kamu inginkan dari saya? Saya cuma seorang dokter... hidup saya sudah berantakan gara-gara semua ini. Jangan buat saya makin hancur..."

Mendengar nada suara Luna yang hampir patah, kilatan kelam di mata Orion sedikit melunak. Jemarinya yang menangkup tengkuk Luna bergerak naik, ibu jarinya dengan sangat lembut mengusap air mata yang lolos menetes di pipi wanita itu.

​"Aku tidak ingin menghancurkanmu, Nanae," bisik Orion rendah, suaranya berubah menjadi begitu intim dan memuja. "Aku hanya ingin kamu utuh... hanya untukku. Di dunia luar, kamu dikelilingi oleh orang-orang bodoh yang tidak tau cara menghargaimu. Mantan tunanganmu, kakak polisimu, bahkan sahabat psikologmu itu... mereka semua hanya parasit yang mencoba merebut bintangku."

​"Mereka tidak merebut apa-apa!" sangkal Luna lirih, mencoba melawan meski tubuhnya terkurung tak berdaya. "Kamu yang merusak semuanya! Kamu datang ke hidup saya kayak badai dan maksa ngendaliin segalanya!"

​"Karena cuma aku yang pantas memilikimu," pangkas Orion mutlak, tanpa sedikit pun keraguan di suaranya.

​Sebelum Luna sempat membuka mulut untuk membantah, Orion menundukkan kepalanya. Pria itu menyambar bibir Luna dalam sebuah ciuman yang menuntut, posesif, dan penuh dominasi mutlak. Luna sempat mencoba mendorong dada bidang Orion dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, namun ciuman itu begitu menghanyutkan sekaligus menakutkan, melumpuhkan perlawanannya dalam hitungan detik.

Tangan kiri Orion yang bebas merayap memeluk pinggang Luna dengan erat, mengangkat tubuh kecil wanita itu sedikit hingga tidak ada celah tersisa di antara mereka. Ciuman yang awalnya menuntut itu perlahan berubah menjadi kehangatan yang memaksa Luna untuk menyerah pada takdir gila yang dibentuk oleh pria di hadapannya.

​Ting tong... Ting tong...

1
Rian Moontero
mampiiirr👍😄
Sia Rivera: thankss sudah mampirr🙌🏻
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut thor
yaya
when ya dapet mertua yang royal...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!