NovelToon NovelToon
Bayi Ajaib yang Menyelamatkan Keluarganya

Bayi Ajaib yang Menyelamatkan Keluarganya

Status: tamat
Genre:Berbaikan / Keluarga & Kasih Sayang / Transmigrasi / Menjadi bayi / Tamat
Popularitas:42.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad

Keira baru saja menyaksikan kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan mobil.

Detik berikutnya, dia membuka mata -- dan menyadari dirinya terjebak di tubuh bayi berusia satu setengah tahun.

Ini bukan mimpi. Ini adalah kehidupan keduanya. Dan hari ini... adalah sehari sebelum Papa Jiankok dan Mami Sherly bercerai.

Di kehidupan pertamanya, perceraian itu menghancurkan segalanya. Papa kembali menjadi budak Oma Hoo -- nenek yang pernah mencubit bayi Keira sampai merah, yang menyebut cucunya sendiri "anak cewek nggak berguna," yang menggeledah kantong celana Jiankok sampai ke dalam untuk merampas uang terakhirnya. Mami Sherly berjuang sendirian sampai tubuhnya hancur. Dan pada akhirnya, mereka berdua pergi meninggalkan Keira selamanya.

Tapi kali ini, Keira tidak akan membiarkan itu terjadi.

Dengan otak dewasa di balik wajah bayi yang menggemaskan, Keira mulai bergerak. Langkah pertama: pastikan Papa tidak menyerahkan uang terakhirnya ke Oma. Langkah kedua: bantu Mami jualan nasi di pinggir proyek -- dari penghasilan dua puluh dua ribu per hari. Langkah ketiga: gunakan ingatan dari kehidupan sebelumnya untuk mengubah keluarga kecil ini dari nol... menjadi kerajaan bisnis bernilai miliaran.

Tapi mengubah nasib tidak semudah membalik telapak tangan.

Oma Hoo datang dengan rencana menculik Keira. Keluarga Goh menuntut Sherly jadi "ATM" untuk adik laki-lakinya. Dan ketika keluarga Hoo mulai kaya, seluruh kerabat yang dulu menginjak-injak mereka tiba-tiba datang mengetuk pintu dengan senyum manis.

Maka Keira merancang satu strategi besar: **pura-pura miskin**.

Di balik baju lusuh dan mobil butut, tersembunyi kekayaan yang tak seorang pun tahu.

Dan di antara semua kekacauan ini, ada seorang anak laki-laki pemurung bernama Yuchuan -- pewaris keluarga konglomerat Tjia -- yang tujuh tahun lalu pernah diselamatkan oleh seorang gadis kecil gemuk yang memanggilnya "teman."

Akankah Keira berhasil menyelamatkan keluarganya, menjaga rahasia kekayaannya, dan menemukan kembali cinta pertamanya... sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26: Dari Warung ke Kantin Sekolah

Yuchuan baru pergi tiga hari, tapi Warung Kei sudah terasa berbeda.

Bukan karena dapur lebih sepi. Dapur tetap panas, Daniel tetap berlari membawa termos, Shanshan tetap mencatat pesanan dengan suara lantang, dan Sisi tetap bisa menemukan kesalahan harga lebih cepat daripada kalkulator tua Sherly.

Yang berbeda adalah telepon.

Telepon Warung Kei berdering terus.

"Bu Sherly, ini dari kantor riset Bu Yunxia. Katanya mau pesan dua puluh nasi kotak."

Belum selesai Shanshan menulis, telepon berdering lagi.

"Bu Sherly, kami sebelah kantor riset. Bisa pesan juga? Kemarin teman kami bawa daging goreng, enak sekali."

Daniel berdiri di pintu dapur dengan helm di tangan. "Bos, kalau tambah rute lagi, motor ini yang menangis duluan."

Jiankok yang sedang mengangkat karung beras menatap motor tua di halaman. "Motor tidak menangis. Yang menangis punggungku kalau harus dorong."

Keira duduk di kursi kecil dekat kasir, melihat semua itu dengan mata berbinar.

Ong Yunxia menepati janji. Ia datang ke Warung Kei sekali bersama Yuchuan sebelum berangkat lagi ke luar negeri. Setelah itu, ia membawa beberapa kotak makanan ke kantornya. Dari satu meja, pesanan berpindah ke meja lain. Dari satu kantor, menyebar ke gedung sebelah.

Orang kaya suka makan enak.

Tapi orang sibuk lebih suka makanan enak yang datang tepat waktu.

Sherly membuka buku besar malam itu. Angka pesanan nasi kotak naik hampir dua kali lipat. Ia tidak langsung tersenyum. Justru dahinya berkerut.

"Kalau naik terus, kita butuh orang tambahan," katanya.

Jiankok mengangguk. "Daniel sudah tidak cukup."

Dari bawah terdengar suara Daniel bersin, seolah namanya dipanggil oleh nasib.

Keira menunjuk peta kecil di meja. "Rute harus dipisah."

Sherly menatapnya.

"Teman TK bilang," tambah Keira cepat. "Kalau banyak jalan, jangan semua satu motor."

Jiankok tertawa. "Teman TK kamu makin pintar."

"Iya."

Beberapa hari kemudian, Ong Yunxia menelepon dari luar negeri. Suaranya terputus-putus, tapi hangat.

"Kak Sherly, makanan kalian jadi pembicaraan di kantor. Mak Tjia juga dengar dari Chuan."

Sherly sedikit kaget. "Mak Tjia?"

"Mak Chuan dari pihak Tjia," jelas Yunxia. "Beliau punya kenalan di yayasan sekolah dekat daerah Kakak. Katanya sekolah itu sedang mencari pengelola kantin baru. Anak-anak sering bawa bekal basi karena jam sekolah panjang."

Sherly tidak langsung menjawab.

Keira yang duduk di dekat telepon langsung menegakkan punggung.

Kantin.

Pintu yang lebih besar daripada nasi kotak.

Ong Yunxia melanjutkan, "Mak tidak tahu banyak soal usaha Kakak. Hanya dengar Chuan bilang Warung Kei bersih dan makanannya enak. Kalau Kakak mau, saya bisa minta beliau memperkenalkan."

Sherly memandang Jiankok.

Jiankok juga menatapnya, mata melebar.

"Kami pikir dulu," kata Sherly akhirnya.

Telepon ditutup. Ruangan atas ruko sunyi beberapa detik.

"Kantin sekolah," gumam Jiankok. "Itu bukan main-main."

Sherly mengetuk buku catatan dengan pensil. "Bahan lebih banyak. Pegawai lebih banyak. Izin sekolah. Jadwal ketat. Kalau salah, nama Warung Kei ikut jatuh."

Keira turun dari kursi dan mengambil krayon. Ia menggambar kotak besar, lalu banyak lingkaran kecil di depannya.

"Murid banyak. Makan tiap hari."

"Justru karena tiap hari, tanggung jawabnya besar," kata Sherly.

"Tapi uang juga tiap hari."

Jiankok batuk menahan tawa.

Sherly menatap putrinya, antara ingin mencubit pipi dan ingin mencatat kalimat itu.

Keira menunjuk gambar lagi. "Mami masak bersih. Anak makan. Orang tua senang."

"Modalnya?"

Keira menunjuk buku tabungan. "Ada."

"Risikonya?"

Keira menepuk dada kecil. "Mami cek."

Sherly diam. Lalu ia menulis di kertas: lokasi, biaya renovasi, alat, pegawai, izin, menu, harga.

Keira tersenyum kecil.

Kalau Mami mulai membuat daftar, berarti pintu itu sudah setengah terbuka.

Dua hari kemudian, Sherly dan Jiankok pergi melihat sekolah itu. Keira ikut, duduk manis di kursi belakang motor, pura-pura hanya ingin jalan-jalan.

Bangunan sekolahnya tidak semewah TK Keira, tetapi cukup besar. Halamannya penuh suara anak. Kantin lama berada di sisi belakang, atapnya bocor sedikit, meja kayunya kusam, tetapi ruangnya luas dan dekat sumber air.

Seorang pengurus yayasan, Pak Hendra, menyambut mereka dengan ramah karena sudah mendapat telepon dari Mak Tjia.

"Kami butuh pengelola yang bersih dan disiplin," kata Pak Hendra. "Bukan sekadar murah. Orang tua mulai komplain soal makanan luar."

Sherly berjalan mengelilingi kantin lama. Ia menyentuh meja, melihat saluran air, menghitung jarak dari dapur ke area jualan. Wajahnya serius sekali.

Jiankok melihat atap. "Bocor bisa dibetulkan."

"Kompor harus baru," kata Sherly.

"Meja juga."

"Menu tidak boleh terlalu pedas. Anak-anak."

Keira menarik ujung baju Mami. "Ada susu kedelai kecil."

Pak Hendra tertawa. "Wah, anaknya ikut rapat."

Sherly mengusap kepala Keira. "Dia bagian quality control."

Keira mengangguk seolah jabatan itu resmi.

Keputusan diambil malam itu. Mereka akan mencoba. Bukan dengan seluruh uang, bukan dengan nekat, tetapi dengan perhitungan. Sherly menandatangani kontrak pengelolaan kantin untuk masa percobaan. Jiankok mengurus tukang kecil untuk memperbaiki atap dan meja. Shanshan membantu menyiapkan bumbu dasar, Sisi membuat daftar menu, Daniel mencari satu teman lama untuk membantu antar bahan.

Hari pembukaan kantin tiba saat tahun ajaran baru dimulai.

Aroma nasi hangat, ayam kecap, telur dadar, sayur sop, dan susu kedelai memenuhi halaman belakang sekolah. Anak-anak yang semula hanya penasaran mulai berbaris. Lalu barisan bertambah panjang.

Sebelum bel pertama berbunyi, Sherly sudah memeriksa sendok, uang kecil, tutup panci, dan daftar harga tiga kali. Ia bahkan meminta Jiankok mencuci tangan ulang karena melihat setitik debu di pergelangan.

"Lao Po, tanganku sudah lebih bersih dari piring," bisik Jiankok.

"Kalau melayani anak sekolah, bersihnya tidak boleh setengah-setengah."

Keira duduk di kursi kasir kecil dan mengangguk serius. Standar Mami memang harus begitu.

"Bu, ayamnya tambah!"

"Susu kedelai satu!"

"Telurnya masih ada?"

Sherly berdiri di belakang meja dengan celemek bersih. Wajahnya berkeringat, tetapi matanya menyala.

Jiankok bolak-balik membawa panci. Daniel hampir terbang dari dapur ke meja depan. Shanshan dan Sisi bergerak seperti sudah latihan berbulan-bulan.

Keira duduk di kursi kecil dekat kotak uang, memegang kantong kembalian.

"Lima ribu, terima kasih."

Anak yang membayar menatapnya bingung. "Kamu lebih kecil dari aku."

Keira tersenyum manis. "Tapi aku kasir."

Anak itu menerima kembalian, lalu lari sambil tertawa.

Pada akhir hari, meja hampir kosong. Panci bersih. Susu kedelai habis. Sherly duduk di kursi kantin lama, membuka buku catatan dengan tangan lelah.

Angka hari pertama membuat Jiankok bersiul pelan.

"Kalau begini terus," kata Sherly, suaranya pelan tapi bergetar, "suatu hari kita bisa ambil kantin satu lagi."

Keira melihat halaman sekolah yang mulai sepi.

Kantin satu lagi memang bagus.

Tapi di masa depan, yang menunggu mereka bukan cuma satu kantin.

"Nanti ada yang lebih besar, Mami," kata Keira.

Sherly menoleh.

Keira tersenyum polos.

"Jauh lebih besar."

1
Liana Simon
seru ceritanya
sukensri hardiati
makasiiih...🙏💪👍/Watermalon//Rose//Heart//Ok/
sukensri hardiati
lhaah....mosok lupa itu dirimu....
sukensri hardiati
waaaah....mi licai....mi nicai....mi achmad....👍💪🙏
Nur Sopiah
cerita nya seru gak ke tebak juga
jadi makin seru
Ending nya dapet banget
💪semangat thoor
awesome moment
Toxic bgts mrk smua
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!