Sebuah rasa, yang mungkin tidak seharusnya ada.
Kenapa? karena aku sadar tidak ada yang bisa memaksa cinta hadir kepada siapa, dan harus seperti apa.
Menikah adalah impian setiap orang. Aku selalu memimpikan menjadi pengantin wanita yang sangat bahagia.
Bagaimana perasaan kalian jika harus menikah, karena keadaan yang memaksa.
Ok, penasaran bagaimana kelanjutannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ina Ambarini (Mrs.IA), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Getaran
Di ruang rawat Kirei, dua orang pria yang sedari tadi saling membungkam mulutnya kini mulai merasa bosan dan membuka percakapan.
"Al, ini sudah jam 9 malam, sebaiknya kamu pulang saja !"pinta Gibran pada Al.
"Tidak apa-apa Gib, aku masih ingin disini menemani Kirei !" sahut Al.
"Besok kan kau harus bekerja, Al."
Gibran masih bersikukuh meminta Al untuk segera pulang ,karena memang besok Al harus bekerja.
Oh iya, Al memiliki bisnis Laundy yang sudah memiliki cabang di beberapa kota besar di Indonesia. Ia merintis bisnis itu dari nol bersama Ibunya, saat usahanya semakin sukses ibu Al mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya.
"Gib, aku bebas kok mau bekerja atau tidak, aku kan bosnya ! yang harusnya pulang itu kau ! ingat istrimu di rumah !" tutur Al.
Gibran terdiam sejenak, ia bingung harus berkata apa pada Al. Gibran terlanjur mengenalkan Kirei kepada Al sebagai teman, bukan istrinya. Gibran masih belum siap mengakui pada Al bahwa Kirei adalah istrinya, ia mencari alasan lain untuk menjelaskan semuanya pada Al.
"Al Kirei itu tidak memiliki sanak saudara disini, dan istriku juga mengenalnya bahkan ia juga menyuruhku menunggu Kirei disini."
Gibran berharap Al bisa menerima penjelasannya itu, dan tidak berpikir hal-hal aneh padanya.
"Jadi Kirei hidup sebatang kara disini? Kasian sekali, yasudah kalau Kirei sudah di perbolehkan pulang dari sini, biarkan dia tinggal di Apartemenku saja Gib !" sahut Al.
"Tidak boleh!" Jawab Gibran dengan nada yang sedikit tinggi, sampai membuat Al mengernyitkan dahinya.
"Kenapa tidak boleh? Aku hanya ingin membantunya Gib," ujar Al.
"Maksudku begini, kalau dia tinggal di Apartemenmu lalu kau mau tinggal dimana?" tanya Gibran dengan hati-hati.
"Aku bisa tidur di kantorku Gib, aku tidak masalah kok !" sahut Al.
"Al, istriku sempat berpesan kalau Kirei sudah diperbolehkan pulang, dia menyuruhku untuk mengajak Kirei tinggal bersama kita, ada dua kamar kok di apartemenku."
Gibran masih berusaha untuk meyakinkan Al dengan berbagai alasan, dan Al mencerna perkataan sahabatnya itu.
"Yasudah kalau begitu, aku pulang !" Al berpamitan pada Gibran , dan segera beranjak pergi meninggalkannya.
"Hati-hati !" sahut Gibran, ia menghela nafasnya pelan.
"Akhirnya dia pulang juga," Gibran mengelus dadanya, ia merasa deg-degan karena harus berbohong pada Al.
Gibran melirik kearah Kirei yang terlelap dalam tidurnya, ia juga segera membenahkan tubuhnya di sofa mencari posisi ternyamannya.
*****
Seperti biasa, Kayla tengah bersiap-siap untuk berangkat kerja. Kayla memoles riasan tipis di wajahnya, ia juga mengucir rambutnya yang panjang.
Toktoktok.
"Siapa yang bertamu pagi-pagi?" guman Kayla dalam hatinya.
Kayla bergegas membukakan pintu rumahnya, Kayla menautkan alisnya saat melihat seseorang yang kini ada dihadapanya.
"Randu? Ada apa pagi-pagi kerumahku?" tanya Kayla.
"Mengajakmu untuk pergi bersama ke Resto," jawab Randu dengan santainya.
"Randu, aku kan sudah bilang tidak usah mengantar jemputku!" tutur Kayla.
Randu meraih tangan Kayla, dan menggenggamnya erat.
"Kay, aku mohon jangan menjaga jarak denganku ! Biarkan aku membuktikan perasaanku padamu !"
Kayla tertegun melihat perlakuan Randu padanya, ia merasa bahwa Randu benar-benar tulus padanya.
"Yasudah, aku akan berusaha membuka hatiku untukmu ?" jawab Kayla dengan pasti.
"Benarkah? Kau tidak bercanda?" Randu melebarkan senyumnya, ia merasa sangat bahagia saat ini.
"Iya, aku tidak bercanda."
Randu tidak bisa menahan bahagianya, ia memeluk Kayla dengan erat.
Kayla hanya diam saat Randu memeluknya, ia juga tidak membalas pelukan Randu ataupun menolaknya.
"Yasudah, ayo kita berangkat sekarang!"Randu menarik tangan Kayla untuk menuju mobilnya.
Kayla mengangguk, dan kini mereka masuk ke dalam mobil untuk segera berangkat ke tempat mereka bekerja.
*****
Kirei menggeliat dari tidurnya, ia mengusap matanya dan perlahan mata itu terbuka.
Kirei mengedarkan pandangannya, dan terhenti saat melihat Gibran yang masih meringkukkan tubuhnya di atas sofa.
"Selamat pagi, nona Kirei? Apa kau sudah merasa baikkan?" tanya Dokter yang baru saja masuk ke dalam ruangan Kirei.
"Eh, iya Dok aku merasa baikan sekarang."
Dokter itu meminta izin untuk memeriksa kondisi Kirei, ia mengecek beberapa bagian tubuh Kirei seperti detak jantung, mata, lidah, juga bekas luka sayatan di lengan Kirei.
"Wah, kalau seperti ini nanti sore nona sudah boleh pulang!" tutur Dokter pada Kirei.
"Benarkah? Terimakasih Dok."
Kirei tersenyum girang saat ia di perbolehkan pulang oleh Dokter, dan segera memanggil Gibran untuk memberitahunya.
"Gibran! Bangun! Dokter bilang aku sudah boleh pulang!" Kirei berteriak teriak memanggil Gibran, tapi ia tidak mendapatkan sahutan dari suaminya itu.
"Biar saya saja yang membangunkannya, nona."
Dokter jaga itu berjalan mendekati Gibran, dan menepuk bahu Gibran.
"Pak, bangun!" Dokter itu menggoyangkan lengan Gibran.
Gibran menggeliat, ia terkejut saat melihat Dokter yang sudah berdiri di hadapannya.
"Dokter ! Sejak kapan anda ada disini?" tanya Gibran yang masih mengumpulkan nyawanya.
"Sejak tadi, Pak !" jawab Dokter itu dengan menerbitkan senyumnya.
"Ada apa Dok?" tanya Gibran yang mulai mendapatkan kesadarannya.
"Nona Kirei nanti sore sudah diperbolehkan pulang Pak," tutur Dokter pada Gibran.
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu ! Terimakasih Dok."
Dokter itu mengangguk, dan segera berpamitan pada Gibran dan Kirei.
"Akhirnya, aku bisa kembali ke kampus dan bertemu Novi!" ujar Kirei.
"Jangan dulu ke kampus, istirahat saja dulu di rumah !" pinta Gibran pada Kirei.
"Tapi aku kan harus menyelesaikan tugas akhir, dan aku juga merindukan Novi."
Kirei memasang wajah kecewa, bahkan bibirnya sedikit maju karena kesal dengan Gibran.
Gibran merasa gemas saat melihat tingkah lucu istrinya itu, ia berjalan mendekati Kirei.
"Nanti, suruh sahabatmu main ke rumah saja !" Gibran tersenyum dan mengelus puncak kepala Kirei.
Kirei terkesiap saat merasakan usapan lembut dari tangan Gibran, ia bahkan tidak berani menatap mata suaminya itu.
"Kenapa pipimu merah? Apa kau demam?" Gibran panik, ia menangkup pipi Kirei dan menempelkan tangannya di kening.
Kirei semakin merasa gugup dibuatnya, ia bahkan merasa dadanya kini bergemuruh.
"Tidak Gib, Aku tidak apa-apa!"
Gibran menatap mata Kirei, tangannya masih menempel di pipi Kirei.
"Perlakukan dia dengan baik Gibran ! Tepati janjimu pada Kayla !" pinta Gibran pada dirinya sendiri.
Bersambung...
Hay readers, gimana? Masih setia nungguin update'an novel ini?
Kalau begitu, bantu like dan votenya yah 🤗
sad ending ❌
aneh ending ✔️