NovelToon NovelToon
Kamu Satu Dari Sejuta

Kamu Satu Dari Sejuta

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hsnwy

Seseorang yang mengharapkan cinta dari orang yang paling ia cintai, justru adalah orang yang paling menyakiti. Hingga suatu saat mungkin harapan itu akan muncul dan menemukan seseorang jauh dan mampu memberikan rasa nyaman dan cinta.

Raisa harus menanggung perjodohan yang di sebabapkan Ardi, sang papa memiliki banyak hutang kepada seorang pengusaha kaya raya, sebagai ganti tidak bisa membayar utang tersebut, Raisa harus menjadi pengganti atau jaminan semua utang keluarganya.

Raisa adalah gadis yang baik, namun dia tidak seperti wanita pada umumnya yang di berikan cinta seluas samudera, berharap bahwa suatu saat nanti akan ada cahaya di balik kegelapan yang menyelimuti hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 - Rasa Khawatir

Bab 26 - Rasa Khawatir

Malam semakin larut, namun tak menyurutkan semangat para tamu undangan yang berdansa diiringi alunan musik yang menggema memenuhi seluruh ruangan resepsi pernikahan Senopati dan Raisa. Banyak tamu yang tak henti memuji dan terkagum akan kemegahan serta keanggunan pesta pernikahan keduanya.

Senopati dan Raisa pun turut serta berdansa bersama para tamu. Namun tiba-tiba, tubuh Raisa terhuyung hampir jatuh karena kehabisan tenaga—beruntung Senopati sigap menahan tubuh istrinya dengan erat.

"Kamu kenapa? Sudah sangat lelah ya?" tanyanya dengan nada sedikit panik, sambil menatap lekat wajah Raisa.

"Tidak apa-apa kok," jawab Raisa pelan. Ia tak ingin meninggalkan pesta lebih dulu, takut kepergiannya akan membuat para tamu merasa sungkan atau mengganggu suasana meriah ini.

Senopati hanya mengangguk pelan, lalu kembali melanjutkan dansa. Meski begitu, matanya tak pernah berhenti mengamati raut wajah Raisa yang mulai pucat dan terlihat sangat kelelahan.

Suasana ruangan semakin riuh saat MC mengumumkan akan diadakannya beberapa permainan berpasangan, dengan hadiah menarik bagi pasangan yang berhasil menjuarai tantangan hingga akhir. Pengumuman itu disambut sorak sorai bahagia; para tamu segera mencari pasangan masing-masing, dan perlombaan pun siap dimulai.

"Baiklah, saat ini tercatat ada dua belas pasangan yang mendaftar, benar bukan?" suara MC terdengar jelas dari pengeras suara, mengatur susunan acara agar permainan berjalan lancar tanpa kendala. "Kalian akan melewati serangkaian tantangan hingga tersisa pasangan terbaik di babak puncak!"

Para peserta tampak sangat antusias, namun hal itu tak dirasakan Raisa. Perlahan ia melangkah menuju kursi tamu di sudut ruangan untuk beristirahat sejenak. Tubuhnya kali ini benar-benar tak sanggup lagi dipaksa berdiri lama atau menyambut tamu satu per satu. Dari kejauhan, ia memberi kode kepada Senopati yang saat itu sedang berbincang dengan beberapa kenalan dan rekan bisnisnya.

"Mohon maaf, saya permisi sebentar ya," pamit Senopati singkat tanpa menunggu jawaban, lalu segera berjalan menghampiri Raisa. "Ada apa,Raisa?" tanyanya setelah duduk di sebelah wanita itu.

"Mas Seno... bisakah aku naik ke kamar lebih dulu? Tubuhku benar-benar sudah tak bertenaga sekarang," pinta Raisa dengan suara lemah.

"Tentu saja. Aku antar kamu ke atas sekarang, supaya kamu bisa segera beristirahat," jawab Senopati sigap.

Ia membantu Raisa berdiri dan menopang tubuh istrinya saat berjalan menuju lift. Begitu pintu lift tertutup dan hanya tersisa mereka berdua, Raisa mulai memijat pelan pelipisnya yang terasa berdenyut sakit sejak tadi. Rasanya hari ini begitu panjang, menguras seluruh tenaga dan emosinya.

"Raisa...?"

Belum sempat Senopati menyelesaikan kalimatnya, tubuh Raisa tiba-tiba melorot lemas—ia pingsan. Sekali lagi Senopati menahannya tepat waktu, agar Raisa tidak jatuh terbentur lantai lift.

"Raisa, bangunlah..., tolong buka matamu," Senopati menepuk pelan pipi istrinya, nada bicaranya mulai bergetar. "Ayolah, jangan membuatku ketakutan seperti ini, Raisa."

Tak bisa dipungkiri, panik kini menguasai dirinya. Begitu pintu lift terbuka, ia segera menggendong tubuh Raisa dengan sangat hati-hati menuju kamar hotel, lalu membaringkannya perlahan di atas kasur berukuran king size.

"Halo Radit? Segera ke kamar pengantin sekarang, aku menunggumu di sini," ucap Senopati singkat saat menelepon, lalu langsung mematikan sambungan. Ia kembali mendekati kasur, berusaha membangunkan Raisa berulang kali, namun wanita itu tetap tak sadarkan diri.

Meski ketakutan menyelimuti hati, sikap Senopati tetap tenang dan berwibawa. Namun sorot matanya tak bisa menyembunyikan kekhawatiran mendalam—mereka baru saja bersatu dalam ikatan pernikahan. Meskipun ia sendiri belum sepenuhnya memahami perasaan yang tumbuh di hatinya.

Di lantai bawah, suasana resepsi semakin meriah dan penuh semangat saat permainan berpasangan pun resmi dimulai. Namun Tiara dan Angel sejak tadi tak kunjung menemukan keberadaan Raisa maupun Senopati di antara kerumunan tamu.

"Apakah mereka sudah meninggalkan acara?" tanya Tiara, matanya tak berhenti menyapu setiap sudut ruangan dengan cemas.

"Sepertinya begitu... tapi aneh sekali, kenapa Raisa tidak pamit dulu sama kita?" Angel tampak gelisah, mencoba menerka apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar.

"Itu Radit! Asisten pribadi Senopati! Ayo kita tanya dia sekarang," tunjuk Tiara menuju sosok yang baru saja melangkah masuk ke dalam aula.

Mereka berdua segera bergegas menghampiri, namun langkah mereka terhenti saat melihat seseorang bergegas menemui Radit, lalu keduanya segera masuk ke dalam lift.

"Bukannya orang yang barusan itu seorang dokter?" tanya Angel ragu.

"Iya, aku juga mengenali seragam medisnya. Tapi siapa yang sakit?"

"Jangan-jangan... ada sesuatu yang menimpa Raisa?"

Perasaan tidak tenang kini menguasai mereka berdua. Tanpa menunggu lama, mereka berlari menuju lift dan menekan tombol panggil berulang kali, berniat segera menyusul Radit dan dokter tersebut.

Sementara itu, Radit dan Dokter Bram sudah tiba di depan pintu kamar pengantin. Radit segera membuka kunci pintu dan mempersilahkan dokter masuk lebih dulu.

"Selamat malam, Tuan Senopati," sapa Dokter Bram dengan nada sopan sekaligus sigap.

"Selamat malam juga, Dok. Tolong segera periksa istri saya, tadi dia tiba-tiba pingsan di dalam lift," ujar Senopati sambil menyingkir, memberikan ruang luas bagi dokter untuk memeriksa kondisi Raisa.

Senopati tak berhenti menatap lekat-lekat setiap gerak-gerik dokter. Begitu melihat Dokter Bram melipat kembali stetoskopnya, ia segera bertanya dengan tak sabar: "Bagaimana keadaan istri saya, Dokter Bram?"

"Kondisinya tidak terlalu mengkhawatirkan, Tuan. Namun beliau benar-benar mengalami kelelahan yang luar biasa, dan tenaga dalam tubuhnya sangat terkuras. Beliau harus beristirahat total selama beberapa hari ke depan agar pulih sepenuhnya. Saya akan meresepkan vitamin dan obat penambah tenaga untuknya," jelas dokter itu tenang.

Tak lama kemudian Dokter Bram pamit pulang, dan Radit mengantarnya hingga ke lobi hotel.

Sialnya, Tiara dan Angel kembali gagal bertemu mereka berdua—karena Radit memilih lewat akses pintu samping yang lebih dekat, sementara mereka berdua masih sibuk mencari-cari di lorong lain. Belum lagi mereka sama sekali tidak mengetahui di lantai berapa atau nomor berapa kamar Senopati berada, sehingga wajar jika mereka sempat bingung dan tersesat sejenak.

Di sisi lain, keluarga besar Raisa baru saja tiba di kediaman mereka. Mereka memutuskan untuk pulang lebih awal dari acara karena tubuh dan pikiran mereka juga sudah terasa sangat lelah setelah seharian mengurus persiapan pesta.

"Ah, hari yang sangat melelahkan!" Marla menjatuhkan dirinya di atas sofa empuk, hari ini tenaganya banyak terkuras karena acara yang menurutnya tidak penting itu.

"Papa mau kemana? Kok tidak istrahat dulu sama kita?" Indri yang melihat Ardi menaiki lantai dua segera bertanya.

"Papa, mau mandi dulu badan papa sangat lengket rasanya." Setelah itu Ardi kembali melanjutkan langkahnya menaiki tangga menuju lantai dua.

"Alah paling juga papa kamu itu pergi menangis karena putrinya telah menikah" Marla mencibir suaminya.

"Ma, mama nggak boleh ngomong gitu tentang papa aku." Indri yang kesal meninggalkan Marla sendirian di sofa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!