Diusir keluarga karena hamil di luar nikah dan ditinggalkan pria yang menghamilinya, Kemala bertahan hanya demi satu alasan, yaitu bayinya.
Namun dua hari setelah melahirkan, putranya menghilang tanpa jejak.
Takdir mempertemukannya dengan Bastian Rothmere, pewaris keluarga konglomerat yang sedang putus asa mencari ibu susu bagi seorang bayi yang kehilangan ibu kandungnya.
Sebagai imbalan, Bastian berjanji membantu mencari putra Kemala yang hilang.
Namun tinggal di kediaman Rothmere justru menyeret Kemala ke dalam perang dingin keluarga kaya raya. Terutama ketika istri sah Bastian terang-terangan menolak keberadaan sang bayi pewaris.
Di tengah rahasia, ambisi, dan perebutan kekuasaan yang semakin berbahaya, Kemala mulai menyadari bahwa hilangnya putranya mungkin bukan sekadar kebetulan.
Hingga suatu malam, Bastian menghantam meja rapat dan berkata dengan suara dingin,
“Siapa pun yang berani menyentuh pewaris Rothmere atau anak Kemala, akan kubuat menyesal telah dilahirkan!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N A R I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Datang Tepat Waktu
Malam itu Bastian tak langsung pulang ke Kediaman Rothmere. Mobil sport yang dibawanya justru berhenti di sebuah gedung operasional milik Rothmere Security yang terletak tak jauh dari pusat bisnis Jakarta.
Gedung itu tak terlalu besar dibandingkan kantor pusat Rothmere Group. Namun hanya sedikit orang yang mengetahui fungsi sebenarnya. Di sinilah Bastian membentuk tim keamanan independennya bertahun-tahun lalu. Tim yang tak berada di bawah kendali Kediaman Rothmere. Tak pula berada di bawah pengaruh Madam Eleanora.
Ketika pintu ruang rapat terbuka, Alya yang sedang memeriksa dokumen langsung berdiri.
"Pak Bastian."
Bastian melemparkan satu map ke atas meja. "Lihat."
Alya membuka dokumen itu. Butuh beberapa detik sampai dahinya berkerut.
"Ini laporan pencarian Arkana," ucap Alya yang telah membuka dokumen tersebut.
"Benar," jawab Bastian yang masih berdiri dihadapan Alya di seberang meja.
"Ada yang salah?" tanya Alya memastikan kembali kepada atasannya tersebut.
Bastian tak langsung menjawab. Pria itu berjalan ke arah jendela besar yang menghadap ke gemerlap lampu Jakarta. Kedua tangan Bastian masuk ke saku celana. Tatapan pria itu melihat sangat jauh.
"Saya tidak lagi mencari siapa yang memperlambat pencarian ini," ujar Bastian dengan suara yang begitu dalam.
Alya langsung menatap punggung atasannya. Nada suara itu tak asing bagi sekretaris Bastian itu. Nada yang selalu muncul ketika Bastian sudah sampai pada sebuah kesimpulan.
"Anda sudah tahu pelakunya?" tanya Alya memastikan kembali.
Hening memenuhi seisi ruangan itu sesaat. Bastian masih menatap keluar jendela cukup lama. Terlihat pria itu mengembuskan napas cukup panjang.
"Saya punya dugaan." Bastian mengeluarkan tangannya dari saku celananya. "Saya berharap dugaan saya salah."
Alya membeku. Kalimat itu terasa lebih berat daripada kemarahan. Karena Alya hampir tak pernah melihat atasannya seperti ini, ini pertama kali Alya melihat keraguan dalam diri Bastian.
"Mulai malam ini." Bastian berbalik. "Periksa seluruh alur komunikasi tim keamanan kediaman …."
"Seluruh laporan yang berkaitan dengan Arkana." Bastian melanjutkan perintahnya sambil mengetuk dokumen laporan di atas meja.
"Siapa pun yang menyentuh berkas ini." Tekanan ketukan terakhir terdengar lebih tegas dari sebelumnya sebelum jemari Bastian akhirnya diam.
Alya mengangguk. "Baik, Pak."
"Dan lakukan diam-diam," tatapan Bastian mengeras. "Saya tidak ingin siapa pun menyadari bahwa mereka sedang diperiksa."
***
Sementara itu di Kediaman Rothmere. Nathan baru selesai menyusu. Kemala sedang menggendong bayi itu sambil berjalan perlahan mengelilingi ruang bayi. Sudah hampir dua bulan wanita polos itu berada di rumah megah itu. Namun terkadang Kemala masih merasa semuanya seperti mimpi.
Pintu ruangan tiba-tiba diketuk. Kemala segera menoleh.
"Masuk," ucap Kemala masih membawa Nathan dalam dekapannya.
Pintu terbuka. Seorang wanita bergaun elegan berdiri di sana. Kemala langsung mengenali wanita anggun itu, Clarissa Rothmere. Sepupu Bastian yang sempat menarik Kemala masuk ke foto keluarga saat ulang tahun Madam Eleanora.
Kemala buru-buru membenarkan cara berdirinya. "Bu Clarissa."
Clarissa tersenyum hangat. "Kamu tidak perlu setegang itu."
Kemala sedikit salah tingkah. "Maaf."
"Aku hanya ingin melihat Nathan." Clarissa berjalan mendekat.
Nathan yang berada dalam gendongan Kemala menguap kecil. Pemandangan itu membuat Clarissa tertawa pelan.
"Dia jauh lebih lucu dari yang kubayangkan," ujar wanita anggun itu sambil mendekatkan wajahnya ke arah Nathan.
Kemala ikut tersenyum. "Belakangan dia memang lebih sering tersenyum."
"Itu karena kamu merawatnya dengan baik." Clarissa langsung menatap Kemala dengan tatapan hangat yang dibuatnya.
Kemala langsung menggeleng. "Saya hanya melakukan pekerjaan saya."
"Kalau begitu kenapa hampir semua orang di rumah ini menyukaimu?" tanya Clarissa yang kemudian menaruh tas mahalnya di meja yang ada di ruangan Nathan.
Pertanyaan itu membuat Kemala terdiam. Clarissa tertawa kecil. "Sudahlah. Aku tidak sedang menginterogasi."
Suasana langsung mencair. Baru kali ini sejak datang ke Kediaman Rothmere, Kemala merasa berbicara dengan anggota keluarga Rothmere yang benar-benar santai.
Hari itu Clarissa tak banyak bertanya. Wanita anggun itu justru lebih banyak bercerita. Clarissa menceritakan tentang cabang perusahaan yang wanita anggun itu kelola, tentang para sepupunya yang selalu bersaing. Bahkan tentang bagaimana hidup di keluarga besar Rothmere tak seindah yang terlihat dari luar.
Kemala mendengarkan dengan antusias. Sangat jarang ada orang yang mau berbicara panjang dengan wanita desa itu tanpa menghakimi. Ketika Clarissa hendak pulang, wanita anggun itu mengeluarkan kartu nama dari tasnya.
"Ini nomor pribadiku." Clarissa mengulurkan kartu nama itu perlahan kepada Kemala.
Kemala terkejut. "Untuk saya?"
Clarissa mengangguk. "Kamu terlihat kesepian."
Wajah Kemala memanas mendengar ucapan Clarissa.
"Aku tidak bermaksud menyinggung." Clarissa tersenyum. "Tapi kalau suatu hari kamu ingin mengobrol, hubungi aku."
Kemala menerima kartu itu dengan kedua tangan. "Terima kasih."
"Tidak perlu formal seperti itu." Clarissa melambaikan tangan. "Kita bisa berteman."
Kalimat sederhana itu membuat hati Kemala hangat. Karena sudah sangat lama tak ada yang menyebut wanita polos itu sebagai teman.
Hari-hari berikutnya berlalu. Nathan semakin sehat. Jadwal menyusu berjalan teratur. Tangis bayi itu semakin jarang terdengar. Di sela-sela kesibukan mengurus Nathan, Kemala mulai bertukar pesan dengan Clarissa. Awalnya hanya obrolan ringan tentang makanan, tentang cuaca, tentang kampung halaman. Namun perlahan percakapan mereka menjadi lebih pribadi.
Clarissa selalu tahu bagaimana membuat Kemala merasa nyaman. Wanita elegan itu tak pernah menghakimi, tak pernah memaksa, dan hanya mendengarkan. Tanpa sadar, Kemala mulai mempercayai Clarissa Rothmere.
Malam itu Nathan sudah tertidur. Kemala duduk di atas ranjang sambil memandangi foto USG yang mulai kusam. Foto yang selalu wanita desa itu simpan. Foto yang selalu mengingatkan Kemala pada Arkana. Rasa rindu kembali datang. Seperti malam-malam sebelumnya.
Kemala membuka ponsel. Lalu mengetik.
[Claris... sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku ceritakan.]
Balasan datang hampir seketika.
[Tentang anakmu?]
Kemala membeku. Lalu mengetik pelan.
[Iya.]
Tak lama kemudian panggilan masuk.
[Clarissa Rothmere]
Kemala mengangkatnya. Di tengah rasa rindu yang semakin mendalam yang melanda hati Kemala. Tanpa sadar, wanita polos itu menceritakan semuanya. Kemala menceritakan tentang kehamilannya, tentang Arkana, tentang rumah sakit, tentang hari ketika bayinya menghilang, dan tentang pencarian yang sampai sekarang belum membuahkan hasil.
Suara Kemala beberapa kali bergetar. Namun Clarissa mendengarkan dengan sabar. Sampai akhirnya Kemala menyampaikan sesuatu yang membuat Clarissa mendengar lebih seksama.
"Ada satu hal yang menggangguku," ucap Kemala yang sudah menghapus air matanya yang mengalir.
"Apa?" tanya Clarissa di balik telepon.
"Dulu ada pelayan yang bilang ..." Kemala berhenti sejenak. "Katanya ada seseorang di rumah ini yang tidak ingin anakku ditemukan."
Di seberang telepon Clarissa terdiam. Matanya perlahan menyipit. "Dia bilang siapa?"
"Tidak sempat," jawab Kemala singkat.
"Kenapa?" tanya Clarissa lagi.
"Karena Madam lewat waktu itu," jawab Kemala yang masih duduk di ranjang kamar tidurnya.
Keheningan kembali muncul. Namun kali ini bukan karena simpati. Melainkan karena Clarissa sedang menyusun potongan-potongan informasi di kepalanya yang sangat menarik.
Keesokan harinya Clarissa kembali datang. Kali ini lebih lama. Madam Eleanora sedang menghadiri pertemuan reuni kelas atas. Raline berada di luar. Sedangkan Bastian masih bekerja.
Kediaman utama terasa jauh lebih sepi. Kemala dan Clarissa duduk di ruang santai dekat kamar Nathan. Nathan sendiri sedang tertidur.
"Kalau Arkana ditemukan nanti …" Clarissa memulai. "Apa yang akan kamu lakukan?"
Kemala tersenyum kecil. Senyum yang dipenuhi kerinduan. "Aku akan pulang."
"Pulang ke kampung?" tanya Clarissa yang bersandar santai di kursi mewah itu.
Kemala mengangguk. "Aku datang ke Jakarta hanya untuk mencarinya."
"Kalau Arkana sudah ketemu ..." Kemala mengembuskan jeda napas cukup panjang sambil memegang secangkir teh dengan kedua tangannya. "Aku tidak punya alasan lagi untuk tetap di sini."
Clarissa menatap wanita sederhana itu beberapa detik lalu tersenyum. Persis seperti jawaban yang sudah wanita anggun itu perkirakan.
"Kamu tidak ingin tinggal di Jakarta?" tanya Clarissa menegakkan badannya seolah akan merasa kehilangan Kemala.
"Tidak." Kemala menggeleng. "Aku hanya ingin hidup tenang bersama anakku."
Tangan wanita desa itu terlihat semakin erat menggenggam cangkir teh. "Aku hanya ingin menjadi ibunya."
Untuk sesaat air mata tampak menggenang di pelupuk mata Kemala. Clarissa segera mendekat dan menggenggam tangan Kemala.
"Aku akan membantumu," ujar Clarissa menatap Kemala dengan wajah yang dibuat ramah.
Kemala terkejut. "Benarkah?"
"Tentu," jawab Clarisa singkat.
"Tapi ...." Kemala merasa akan langsung merepotkan teman barunya.
"Aku serius." Tatapan Clarissa terlihat begitu tulus. "Aku akan melakukan apa yang bisa kulakukan."
Mata Kemala memerah. "Terima kasih … Terima kasih banyak."
Clarissa hanya tersenyum. Karena tepat seperti yang perhitungan wanita elegan itu, wanita desa itu sudah mempercayai Clarissa sepenuhnya.
Dari ujung koridor. Mira memperhatikan semuanya. Tatapan pelayan setia Raline itu mengikuti langkah Clarissa yang kembali menuju ruang Nathan bersama Kemala.
Insting pelayan setia yang selalu berada dalam intrik itu langsung berbunyi. Ada sesuatu yang tak beres. Mira melihat, sepertinya Clarissa akan bersiap pergi setelah dari ruang Nathan. Mira segera menghubungi Raline.
"Nyonya," ucap Mira dengan nada tergesa-gesa.
"Ada apa?" tanya Raline yang mengetahui ada sesuatu yang tak biasa.
"Nona Clarissa baru saja menemui Kemala lagi," ujar Mira penuh penekanan.
Keheningan sesaat. Lalu suara kursi bergeser terdengar dari seberang telepon. "Dia masih di sana?"
"Sepertinya sebentar lagi akan keluar," ucap Mira yang masih memantau ruangan Nathan dari kejauhan.
"Aku pulang sekarang."
Telepon terputus.
Sore menjelang malam. Clarissa berjalan santai menuju gerbang utama. Rencana wanita elegan itu berjalan jauh lebih mulus daripada yang dibayangkan. Namun langkah Clarissa terhenti ketika sebuah suara memanggilnya.
"Berhenti."
Clarissa menoleh.
Raline berdiri beberapa meter di depan wanita elegan itu. Raline masih mengenakan pakaian gaun mahalnya seperti biasa. Tatapan wanita itu begitu tajam, tak ramah, dan tak berpura-pura. Raline berjalan mendekat lalu berhenti tepat di hadapan Clarissa.
"Kita tidak perlu basa-basi." Raline mulai melepaskan tangannya yang tadi menggenggam rok gaun mewahnya saat berjalan.
"Aku juga tidak suka basa-basi." Clarissa tersenyum tipis.
"Kamu jelas bukan orang baik!" Raline menyilangkan tangan.
"Terima kasih. Aku anggap itu pujian." Senyum Clarissa sedikit melebar.
Wajah Raline langsung mengeras. "Jangan main-main denganku!"
Tatapan kedua wanita itu saling bertabrakan. Sama-sama tajam dan sama-sama berbahaya.
Tanpa mengalihkan tatapan, Raline mengangkat telunjuknya dan menyentuh pelan dada Clarisa Rothmere lalu berkata pelan.
"Jadi katakan padaku … untuk apa kamu membantu mencari bayi si gembel itu?"
Like+ bunga🌹 , semangat thor ✍️
kalo berkenan mampir juga y😉