Cerita tentang seseorang yang berasal dari Indonesia berpindah ke sebuah dunia fantasy, dimana terlihat gunung berbentuk pedang dan pulau melayang itu biasa. Untuk bertahan hidup dia yang tak memahami kemampuan peningkatan di fiksi memililih menggunakan Teknik dari Indonesia yang menggunakan Tenaga Dalam yang dia ubah beberapa caranya. Isi dari novel ini hanya perjalanannya mencari cara untuk membuat kemampuan tenaga dalam milik Indonesia bisa menyaingi peningkatan kemampuan di dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TrueRuler, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31: Daratan
{Suara bergemuruh
Laut mendapatkan ketinggian
Memuncak seperti gunung
Bersinar bagai Bintang
Melebarnya langit
Terbukanya lautan
Cair menjadi padat
Warna menjadi intrik
Berenang menjadi berjalan
Wewangian bertambah jenis
Rasa bertambah macam
Berdiskusi mengisi perbedaan}
Saat batu akhirnya memasuki orbit, terlihat di sekitar kristal utama muncul sebuah sabuk meteorit di sekitar orbit kristal tersebut. Saat itu juga bell berdentang sebanyak 10 kali.
*Tang!!! *Tang!!! *Tang!!! *Tang!!! *Tang!!! *Tang!!!
“Suara ini…” Cakra kaget.
*Tang!!! *Tang!!! *Tang!!! *Tang!!!
Monumen muncul berbunyi dan mulai berbicara.
“Peringkat Faksi dunia”
“1. Praktisi”
“2. Ksatria”
“3. Penyair”
“4. Penyihir”
“5. Pendekar”
“6. Elemental”
“7. Elf”
“8. Kepercayaan”
“9. Tenaga”
“10. Mithos”
.
“HAH?”
“10 faksi?”
“Dari mana semua Faksi ini?” Cakra masih berusaha memproses.
Setelah pengumuman paragraf lain mulai muncul.
“Membelah gunung mengisi laut”
“Menebas aturan dan ketiadaan”
“Mengatur yang berhak dan tidak”
“Memanfaatkan elemen yang ada”
“Mengambil porsi dunia”
“Keberadaan alam itu sendiri”
“Sang pembisik bunga”
“Hanya berserah kepada yang dipercayai”
“Hancur!! Hancur!! Hancur!!”
“Hanya bisa di ceritakan”
Marisa melihat Cakra.
“Kurasa aku akan menulisnya tapi satu persatu” Cakra berusaha mengalihkan topik.
“Lagipula kita belum tau dari mana faksi faksi itu”
.
“Tidak…”
“Hanya saja aku sepertinya bisa mengingatnya…”
.
“Ah itu bagus”
“Mungkin kau nanti bisa mencoba untuk menulisnya”
.
“Ya” Marisa tersenyum lebar.
Setelah Prasasti menghilang, getaran hebat terasa di benua itu Marisa, Cakra dan penghuni benua tersebut tiba tiba melayang sedikit kelangit dengan kondisi mata bercahaya. Pada saat itu mereka melihat di ujung lautan yang selama ini kosong sebuah daratan dengan pohon raksasa muncul dari air, lalu sebuah pulau yang cuacanya sangat berkabut juga muncul. Sebuah benua yang diisi oleh orang orang berpakaian putih muncul, benua dimana pohon pohon roboh juga muncul. Terakhir terlihat sebuah pulau kosong muncul dimana buku buku basah berada diatas pulau tersebut.
Orang orang yang melayang akhirnya terjatuh kembali ke tanah.
“Apa itu tadi?” Penduduk desa 1.
.
“Aku gak tau” Penduduk desa 2.
.
“Apakah dunia ini akan menjadi sangat sibuk?” Penduduk desa 3.
Desa desa menjadi sangat terang malam itu, kota yang tutup menjadi semuanya keluar. Sang Raja merasa ketakutan. Di gua tempat Marisa dan Cakra berada.
“Ugh”
“Apa itu?” Marisa terlihat menahan sakit.
.
“Itu”
“Pulau dan benua baru…”
.
“Benua baru?”
.
“Ya”
“Dunia ini melebar”
“Di dunia kami hal ini cukup langka hanya saja untuk benua baru muncul itu adalah sebuah keajaiban”
.
“Jadi menurutmu bagaimana?” Marisa terlihat bertanya sambil sedikit takut.
.
“Kurasa gak terlalu masalah…”
“Elemental, elf, tenaga, kepercayaan adalah faksi yang pernah kulihat di fiksi duniaku”
“Harusnya mirip”
“Hanya saja Elemental adalah Faksi yang tak bisa diganggu”
“Elf adalah faksi yang sombong”
“Tenaga adalah faksi yang senang menghancurkan”
“Sedangkan kepercayaan… mereka adalah orang orang fanatik”
“Dan kalau kulihat mereka memuja semacam dunia yang dipenuhi oleh mahluk mahluk yang bercahaya”
.
“Kalau Mythos?” Marisa ingin tau lebih.
.
“Aku gak yakin….”
“Tapi melihat pulau itu kosong dan hanya berisi buku kemungkinan mereka perlu diceritakan untuk bisa eksis”
“Mungkin saja ini meminjamkan kekuatan pada mahluk yang membacakannya”
.
“Apakah buku ini termasuk?” Sambil menunjukkan novel world of night dengan mata berbinar.
.
“Hmm aku gak yakin”
“Mungkin saja tapi sepertinya gak semudah itu”
“Mungkin…”
“Kalau kau menyebarkannya itu bisa menjadi mythos”
Marisa terlihat sangat senang dan lanjut membaca, Cakra kembali ke dapur untuk mulai memasak.
“Hmm mari kita mulai”
Cakra membersihkan keong mencucinya dengan air bersih.
Lalu cakra merebus keong tersebut.
Setelah air mendidih Cakra memasukkan santan, daun kering, sedikit kunyit, jahe dan lada giling.
Diaduk selama beberapa menit hingga tercampur.
Sambil menunggu saatnya memasak beras.
Seperti biasa mencuci 3 kali lalu air ditambahkan hingga diatas takaran beras bagian lebihnya.
Setelah tercium bau harum rebusan dibuka.
Saat terlihat tercampur aduk sebentar lalu biarkan lagi.
Setelah dikira matang biarkan api tetap hidup dengan nyala kecil.
Mengangkat keong untuk sekarang hanya setengah dari yang dimasak.
Cakra mengangkat wadah yang menampung keong dan kuahnya, lalu memindahan ke atas meja. Lalu dia mengambil nasi yang telah masak membiarkan di angin sehingga sedikit dingin dan akhirnya membawa ke meja. Cakra membuka wadah lauk, Marisa yang sedang membaca langsung menyadari jikalau makanan ini enak.
“Hmmm”
“Sangat wangi” Marisa memuji bau masakan ini.
.
“Ayo makan”
Marisa mengambil sepiring penuh Nasi lalu mengambil sepiring keong, dan menyiramkan kuah ke atas nasi miliknya hingga terasa tergenang. Cakra yang melihat tersenyum mengambil porsi yang sama dan jumlah yang sama dengan Marisa.
“Hmm”
“…”
“Bagaimana cara makan ini?” Marisa bingung.
.
“Ini” Cakra memberikan sebuah tusuk gigi yang telah dia rakit sebelumnya ke Marisa.
“Kau bisa mencungkilnya seperti ini” Cakra menunjukkan gerakan pada Marisa.
.
“OOOOh seperti itu.
Marisa lalu mencoba seperti yang Cakra lakukan tapi memerlukan bebapa percobaan baru berhasil.
“Ummm”
“Enak……”
“Daging nya kenyal, kuahnya gurih dan manis”
“Sama nasi ini lengkap!” *Munch *Munch Marisa mengunyah dengan lahap.
.
“Baguslah kalau kau suka”
.
“Tapi…”
“Ini bukannya hama ya?”
“Kata orang orang ini juga beracun?’
“Ukuran yang ini lebih kecil”
.
“Ya wajar ini keong yang hanya bisa kau temukan di laut”
“Aku juga gak tau gimana mereka bisa kesini”
“Dan hanya saat hujan aja orang orang bisa memanennya”
“Aku pernah memakannya dulu di Pulau yang namanya Letung, orang lokal menyebutnya tekuyung”
“Hasil laut mereka termasuk masih sangat melimpah”
“Untuk yang kau katakan beracun, mungkin ada di masalah pengolahannya”
“Karena keong itu adalah mahluk yang berada di lumpur jadi bakteri perlu benar benar mati baru bisa dimakan” Cakra menjelaskan dengan lihai.
.
“Oooh begitu”
“Orang desa dulu mencoba memakan dengan cara merebus saja”
“Dan banyak yang keracunan saat itu”
.
“Perlu dicampur dengan beberapa tumbuhan juga dan api besar untuk menghilangkan bakterinya”
“Mungkin apinya kurang besar”
“Dan tumbuhan untuk menetralkan belum diketahui”
“Harusnya jikalau ada racun pasti ada Penawar menurutku”
.
“Hmm”
“Aku pasti akan mengajari mereka itu nanti” Marisa bertekad.
.
“Ya”
“Tapi kau perlu tau dulu nanti kuajari tentang bahan bahannya”
Cakra dan Marisa terus makan, Marisa terlihat sempat menambah hingga nasi habis. Bahkan kuahnya gak luput dikeringkan oleh Marisa. Setelah makan Marisa membantu mengangkat wadah dan piring ke dapur, membantu Cakra untuk mencuci.
Hiss memang lagi mode survival tapi jangan kebanyakan atuh...