Karang Wilis bukan sekadar desa terpencil. Di balik hamparan sawahnya yang hijau, ada ketegangan yang sudah mengakar bertahun-tahun — perebutan wilayah yang belum selesai, warga yang hidup dalam waspada, dan batas bambu yang tidak boleh didekati.
Dokter Nayla datang untuk menyembuhkan.
Letnan Raditya datang untuk melindungi.
Tapi di tempat seperti ini — siapa yang menyembuhkan si penyembuh? Dan siapa yang melindungi si pelindung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irsan Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis abu abu
Bab 26
Pos komando Karang Wilis tidak dirancang untuk pertemuan formal — hanya meja kayu panjang, empat kursi plastik, satu kursi kayu yang kaki kirinya lebih pendek dari yang lain. Tapi saat ini ada peta yang ditempel di dinding dengan lakban cokelat yang tepinya sudah mengering. Lampu gantung bergoyang tipis setiap kali angin masuk dari celah pintu yang tidak terkatup rapat.
Ruangan itu entah kenapa terasa kecil dan penuh.
Di satu sisi meja: Raditya, Dimas, Aldi.
Di seberangnya: dua orang berseragam cokelat. Polisi setempat.
Inspektur Wahyu.
Brigadir Hasan.
“Terima kasih sudah datang malam ini tujuan saya memanggil anda berdua karena kami kembali mendapat laporan ada warga karang wilis terluka lagi ,” ucapnya memulai. Tangannya membentangkan peta di atas meja — peta yang sudah penuh titik-titik merah, garis biru, dan angka-angka kecil yang hanya masuk akal bagi orang yang menggambarnya. “Langsung aja.”
Wahyu mengangguk. “Silakan, Letnan.”
Raditya menunjuk garis biru di tengah peta. “Ini batas wilayah resmi antara Karang Wilis dan Desa Margalaya. Ditetapkan berdasarkan peta kadastral tahun 1987.” Jarinya bergeser ke kiri. “Ini posisi hutan bambu yang selama ini jadi batas alami. Dan ini—” ia mengetuk titik merah di pojok kiri peta, “—Pos Tiga kami. Dua kilometer dari sini.”
“Saya tahu itu, Pak,” ucap Wahyu. Bukan memotong — hanya menyatakan.
“Kalau begitu Bapak juga pasti tahu bahwa tiga hari yang lalu, kembali ada pergerakan dari arah Margalaya yang melewati batas bambu.”
“Iya.” Wahyu membuka map di tangannya, mengeluarkan beberapa lembar kertas, meletakkannya di atas meja. “Kami juga menerima laporannya. Tapi dari sisi kami, ada klaim bahwa batas yang ditetapkan di peta 1987 itu tidak akurat. Pihak Margalaya bilang tanah di sekitar hutan bambu itu secara historis milik mereka.”
Dimas mendengus pelan. Ia hendak angkat bicara, tapi Aldi menyentuh lengannya. Isyarat: simak dulu.
“Klaim historis,” ulang Raditya. Suaranya tidak naik. “Begitu lah menurut mereka, Pak.”
“Klaim historis tidak mengubah fakta bahwa kemarin malam seorang warga Karang Wilis terluka di ladangnya sendiri. Ladang yang secara administratif berada di dalam batas Karang Wilis. Luka di kepala dan bahu kiri. Sekarang dalam penanganan dokter kami.”
Hasan mencatat.
“Letnan,” Wahyu membuka suara lagi, kali ini nadanya sedikit lebih hati-hati. “Saya tidak bermaksud membela pihak Margalaya. Saya di sini juga ingin masalah ini selesai. Tapi situasinya tidak sesederhana ‘mereka salah, kita benar.’”
“Saya tidak bilang sesederhana itu,” jawab Raditya.
“Tapi tindakan Bapak di lapangan bisa dibaca seperti itu oleh pihak sebelah.”
Raditya menatap Wahyu. Satu detik. Dua.
“Tindakan saya di lapangan,” ucapnya pelan, “adalah menempatkan empat prajurit di Pos Tiga, melarang patroli mendekati batas tanpa izin langsung saya, dan memastikan tidak ada provokasi dari pihak kami. Kalau itu dibaca sebagai ancaman — maka masalahnya ada di cara baca mereka, bukan di tindakan kami.”
Wahyu tidak langsung menjawab.
Dimas di sebelah Raditya menyandarkan punggung ke kursi. Wajahnya mulai menunjukkan ketidaksenangan. “Pak Inspektur.”
Wahyu menoleh.
“Pihak kepolisian sudah berapa kali melakukan mediasi langsung dengan tokoh Margalaya dalam tiga bulan terakhir?”
“Dua kali,” jawab Hasan dari sebelah Wahyu. Pelan.
“Cih,” Dimas.
“Ada masalah, Sersan?” tanya Wahyu.
“Kami sudah enam kali turun ke warga Karang Wilis sejak tiba dua minggu lalu. Bukan untuk patroli, hanya untuk duduk, ngobrol, makan di dapur mereka.” Ia melirik Raditya sebentar. “Kami tahu siapa yang sakit, siapa yang takut ke ladang, siapa yang tidak tidur karena khawatir. Bukan karena itu tugas kami — tapi karena itu satu-satunya cara kami tahu situasi sebenarnya.”
Raditya mengambil alih lagi. “Saya tidak bermaksud malam ini untuk menyalahkan siapa pun.” Tangannya kembali ke peta. “Tujuan kami datang karena kita perlu satu keputusan yang jelas sebelum situasinya keluar dari kendali semua pihak.”
“Keputusan apa?” tanya Wahyu.
“Tiga hal.” Raditya menunjuk peta. “Pertama — penetapan ulang batas sementara yang diakui semua pihak, sampai ada survei resmi dari BPN. Garis ini tidak bisa terus jadi abu-abu.”
“Itu butuh persetujuan kepala desa dari kedua pihak,” balas Wahyu.
“Saya sudah bicara dengan Pak Suwarno tadi sore. Beliau setuju. Margalaya lah yang perlu Bapak handle.”
Wahyu dan Hasan bertukar pandang.
“Kedua,” lanjut Raditya, “patroli gabungan. TNI dan kepolisian, dua kali seminggu, di koridor batas. Bukan untuk intimidasi — untuk menunjukkan ke kedua desa bahwa ada otoritas yang hadir.”
“Personel kami terbatas, Letnan,” ucap Hasan.
“Kalau itu, sediakan dua orang itu sudah cukup.”
Hasan mencatat lagi.
“Ketiga.” Raditya berhenti sebentar. “Tidak ada warga sipil dari kedua desa yang boleh mendekati zona batas tanpa pemberitahuan. Ini bukan larangan permanen — tapi sampai situasi benar-benar stabil. Petani yang ladangnya di dekat batas harus lapor ke pos terdekat sebelum berangkat.”
“Saya tidak setuju, Pak. Itu akan membuat mereka merasa seperti diawasi di tanah mereka sendiri,” protes Hasan.
“Mereka akan lebih tidak suka kalau ada yang terluka lagi,” jawab Raditya.
Keheningan turun ke meja.
Angin masuk dari celah jendela. Lampu bergoyang sekali.
“Baiklah, saya setuju,” ucap Wahyu akhirnya. Suaranya lebih pelan dari tadi. “Tapi saya perlu waktu dua hari.”
Raditya mengangguk. “Baik, dua hari. Tapi jika selama dua hari itu terlihat ada pergerakan lagi di batas bambu — saya tidak bisa menjamin prajurit saya akan terus menahan diri tanpa respons.”
Wahyu menatapnya. “Apakah itu semacam ancaman, Letnan?”
“Itu fakta lapangan, Pak Inspektur.”
Wahyu menghela napas — napas orang yang sudah terlalu lama berada di antara dua pihak yang sama-sama benar dan sama-sama keras. Ia mengetukkan jarinya di meja sekali. “Kalau begitu, kami permisi.”
Raditya mengangguk. “Terima kasih.”
Wahyu dan Hasan beranjak dari kursi. Setelah pintu tertutup, Dimas menyandarkan punggungnya ke dinding, menghela napas panjang. “Dua hari.”
“Dua hari,” ulang Aldi, menatap peta.
Raditya tidak bergerak dari tempatnya. Matanya di titik merah di pojok kiri peta — Pos Tiga, batas bambu, ladang Pak Sunaryo.
“Kalau dua hari itu tidak cukup?” tanya Dimas.
Raditya menjawab tanpa menoleh. “Maka siapkan opsi yang tidak ingin dipakai.”
Dimas dan Aldi tidak bertanya lebih lanjut. Mereka sudah cukup lama mengenal Raditya untuk tahu bahwa kalimat seperti itu bukan gertakan. Itu peringatan untuk diri mereka sendiri.
Raditya berdiri, melipat peta. Tangannya bergerak presisi — lipatan pertama, kedua, ketiga. Sudut bertemu sudut. Seperti selalu.
Tapi sebelum ia mengambil peta itu dari meja, matanya berhenti sebentar di titik lain — bukan titik merah Pos Tiga. Titik kecil tanpa warna di tengah peta, yang ia tandai dua hari lalu dengan pensil tipis.
Tenda medis.
Ia mengambil peta. Melangkah keluar.