NovelToon NovelToon
LOOP ZERO

LOOP ZERO

Status: tamat
Genre:Action / Sistem / Fantasi / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Vero terjebak dalam Time Loop. Dia adalah satu-satunya orang yang mengingat ledakan itu. Dia harus menemukan pelakunya, menjinakkan bom, dan menyelamatkan seisi kota Jakarta. Namun, takdir memiliki aturan main yang kejam: Setiap kali Vero gagal dan mati, waktu yang dimilikinya berkurang satu menit.
​Loop pertama: 60 menit.
Loop kedua: 59 menit.
Loop ketiga: 58 menit.
​Dengan waktu yang terus tergerus, Vero dipaksa belajar menjadi detektif, tentara, dan penyusup dalam hitungan jam yang berulang. Di tengah kepanikan massal dan teror psikologis, dia menyadari satu hal mengerikan: Pelakunya mungkin bukan orang asing, dan ledakan ini hanyalah permulaan.
​Ketika hitungan mundur mendekati nol, Vero tak hanya bertaruh nyawa—dia bertaruh pada keberadaan itu sendiri.
​Bisakah dia menghentikan kiamat kecil ini sebelum waktunya habis total?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: 08:01

Bip... Bip... Bip...

Suara itu.

Ritme yang konstan. Monoton.

Sama seperti hitungan mundur bom.

Sama seperti detik jam tangan sebelum kematian.

Vero menyentakkan matanya terbuka.

"TIDAK!"

Dia mencoba melompat bangun, tapi tubuhnya menolak. Rasa sakit yang luar biasa—nyata, tajam, dan memberatkan—menjangkar tubuhnya ke kasur. Bahunya terasa seperti ditusuk besi panas. Rusuknya menjerit setiap kali dia menarik napas.

"Pak! Pak! Tenang!"

Sepasang tangan menahan bahunya. Bukan tangan besi Silas. Bukan tangan kasar Unit Delta. Tangan itu lembut, berbau sabun cuci tangan rumah sakit.

Vero mengerjapkan mata, mencoba mengusir silau cahaya putih yang menyengat.

Ini bukan cahaya ledakan. Ini cahaya lampu neon.

Dia melihat sekeliling dengan panik.

Dinding putih. Tirai hijau pastel. Tiang infus. Monitor EKG yang berkedip hijau seirama dengan jantungnya.

Seorang perawat wanita berdiri di sampingnya, wajahnya cemas.

"Jam berapa?!" Vero berteriak, suaranya parau dan kering seperti orang yang menelan pasir. Tenggorokannya sakit—efek dicekik Silas.

"Pak, Bapak baru sadar setelah operasi..."

"JAM BERAPA?!" Vero mencengkeram lengan perawat itu, mengabaikan selang infus yang tertarik tegang di punggung tangannya.

Perawat itu ketakutan, tapi dia menunjuk jam dinding bulat di atas pintu.

Jarum jam menunjukkan pukul 10:15.

Vero menatap jam itu. Napasnya memburu.

10:15.

Itu sudah lewat jam 08:00.

Jauh lewat.

"Tanggal?" tanya Vero lagi, matanya liar. "Hari apa ini?"

"Ini hari Selasa, Pak. Tanggal 18," jawab perawat itu pelan, berusaha melepaskan cengkeraman Vero.

Selasa.

Vero melepaskan tangan perawat itu. Dia jatuh kembali ke bantal.

Hari Senin sudah berakhir.

Hari Senin yang terkutuk itu akhirnya berlalu.

Air mata menetes dari sudut mata Vero. Bukan air mata sedih, bukan air mata bahagia. Tapi air mata pelepasan. Beban ratusan kematian, beban ribuan menit yang berulang, akhirnya diangkat dari pundaknya.

"Saya... hidup," bisik Vero. "Besok datang."

Perawat itu merapikan selimut Vero. "Bapak ditemukan tidak sadarkan diri di lobi Menara Obsidian tadi pagi. Bersama dua wanita. Polisi sedang menunggu di luar untuk minta keterangan, tapi dokter bilang Bapak butuh istirahat."

"Dua wanita..." Vero menoleh cepat. "Di mana mereka? Sarah? Maya?"

"Wanita yang satu, yang rambutnya dikuncir (Sarah), ada di kamar sebelah. Dia cuma luka ringan dan lecet-lecet. Dia ngotot mau ketemu Bapak dari tadi."

"Panggil dia," pinta Vero. "Tolong."

Perawat itu mengangguk, lalu keluar ruangan.

Vero menatap langit-langit.

Tubuhnya hancur. Bahu kanan digips. Dada dibebat perban tebal. Wajahnya penuh plester.

Ini adalah "oleh-oleh" dari pertarungan terakhir melawan Silas.

Di timeline ini, luka itu nyata. Tidak terhapus oleh reset.

Pintu terbuka.

Sarah masuk.

Dia mengenakan baju pasien rumah sakit, lengan kirinya diperban, ada plester di pipinya. Tapi dia berdiri tegak.

Sarah melihat Vero. Vero melihat Sarah.

Tidak ada kata-kata selama sepuluh detik.

Hanya tatapan saling mengerti antara dua prajurit yang baru saja kembali dari neraka yang sama.

Sarah berjalan terpincang-pincang mendekati ranjang Vero, lalu duduk di kursi pengunjung. Matanya berkaca-kaca.

"Sudah jam 10," kata Sarah pelan.

"Ya," jawab Vero. "Hari Selasa."

Sarah tertawa kecil, lalu tawa itu berubah menjadi isak tangis. Dia menundukkan kepala, bahunya berguncang.

"Kita berhasil, Vero. Benda itu... cahayanya... aku pikir kita mati."

"Mesinnya hancur. Loop-nya putus," kata Vero. Dia mengulurkan tangannya yang tidak diinfus.

Sarah menggenggam tangan itu erat-erat. Tangan mereka hangat. Nyata.

"Maya?" tanya Vero.

Wajah Sarah berubah muram. Dia menunjuk ke arah televisi kecil yang tergantung di sudut ruangan.

"Lihat berita."

Sarah mengambil remot di meja nakas dan menyalakan TV.

Volume dibesarkan.

Layar menampilkan Breaking News. Helikopter menyiarkan gambar udara dari Jakarta Utara.

TRAGEDI STASIUN PUSAT: EVAKUASI KORBAN TERUS BERLANJUT.

TOTAL KORBAN TEWAS DIPERKIRAKAN MENCAPAI 2.000 ORANG.

Gambar itu mengerikan. Stasiun bersejarah itu kini hanyalah kawah raksasa penuh puing beton dan besi bengkok. Asap hitam masih membubung. Petugas pemadam kebakaran terlihat seperti semut di tengah reruntuhan.

Vero memalingkan wajahnya. Rasa bersalah menghantamnya seperti palu godam.

Dia membiarkan itu terjadi.

Di loop terakhir, dia memilih membiarkan Adrian meledakkan stasiun demi menyelamatkan masa depan.

Tapi melihat mayat-mayat itu di TV... rasanya berbeda dengan melihatnya di dalam loop. Ini permanen. Mereka tidak akan bangun lagi jam 7 pagi besok.

"Kita tidak bisa menyelamatkan semua orang," bisik Sarah, seolah membaca pikiran Vero. "Kau bilang begitu di taksi."

"Rasanya tetap saja..." suara Vero tercekat.

"Ada berita lain," sela Sarah. Dia mengganti saluran.

Berita ekonomi.

SAHAM TRIAD INDUSTRIES ANJLOK 80% SETELAH CEO ADRIAN WIDJAJA DITEMUKAN TEWAS.

Vero menoleh. "Adrian tewas?"

"Mayatnya ditemukan di reruntuhan Ruang Kontrol Stasiun," jelas Sarah. "Polisi bilang dia korban. Tapi ada bocoran dokumen..." Sarah tersenyum miring. "...dokumen yang dikirim secara anonim ke semua redaksi media besar pagi ini, tepat pukul 08:01."

"Dokumen apa?"

"Segalanya," kata Sarah. "Project Omega. Project Zero. Bukti suap. Bukti limbah medis. Dan daftar nama politisi yang mem-backing Triad. Semuanya bocor ke publik."

Vero tersenyum lemah. "Maya."

"Ya. Maya tidak cuma menghancurkan mesin waktu," kata Sarah. "Sebelum sistemnya purge, dia mengunggah semua data kotor Triad ke cloud server publik. Dia membakar Triad sampai ke akar-akarnya."

"Di mana dia sekarang?"

Sarah menggeleng. "Dia menghilang. Saat tim SWAT masuk ke Menara Obsidian karena ledakan di Penthouse, Maya sudah tidak ada. Dia meninggalkan ini di saku bajumu saat kau pingsan."

Sarah merogoh saku baju pasiennya, mengeluarkan secarik kertas kecil yang kusut.

Dia menyerahkannya pada Vero.

Vero membukanya.

Tulisan tangan yang buru-buru.

> Terima kasih sudah mempercayaiku di saat aku sendiri tidak percaya.

> Jangan cari aku. Aku harus memastikan kode ini tidak pernah dibuat ulang oleh siapapun.

> Nikmati hari Selasa kalian.

> - M.

>

Vero melipat kertas itu, menggenggamnya erat.

Maya pergi membawa beban pengetahuan itu sendirian. Dia menjadi pelarian, hantu yang menjaga agar pintu waktu tidak pernah dibuka lagi.

"Jadi..." Vero menghela napas panjang, merasakan sakit di rusuknya tapi juga kelegaan yang luar biasa. "Dunia selamat. Triad hancur. Adrian mati. Kita hidup."

"Dan aku punya berita eksklusif terbesar abad ini," tambah Sarah, naluri jurnalisnya kembali menyala meski matanya masih bengkak. "Judulnya: 'Bagaimana Saya Menghabiskan 20 Kali Hari Senin'."

Vero tertawa. Kali ini tawa yang tulus, meski sakit.

"Jangan tulis namaku. Aku cuma mau jadi akuntan lagi. Aku butuh liburan panjang. Sangat panjang."

Pintu kamar terbuka lagi.

Dua orang polisi berseragam masuk, diikuti seorang pria berjas rapi—mungkin detektif.

"Selamat siang," kata Detektif itu, menatap Vero dan Sarah dengan tatapan curiga. "Bapak Vero? Ibu Sarah? Kami punya banyak pertanyaan. Mulai dari kenapa kalian ada di Penthouse gedung dengan keamanan tertinggi, kenapa ada banyak mayat tentara bayaran di sana, dan kenapa stasiun kereta meledak."

Vero dan Sarah saling berpandangan.

Mereka tersenyum.

Setelah melawan pasukan cyborg, menjinakkan bom, dan mati puluhan kali... interogasi polisi terasa seperti obrolan ringan di warung kopi.

"Bapak Detektif," kata Vero tenang. "Siapkan kopi yang banyak. Ceritanya bakal panjang."

"Dan sangat tidak masuk akal," tambah Sarah.

Di luar jendela rumah sakit, matahari bersinar terik. Langit Jakarta masih abu-abu oleh polusi, klakson masih berisik, dan kemacetan masih menggila.

Dunia yang tidak sempurna. Dunia yang kacau.

Tapi bagi Vero, itu adalah pemandangan paling indah yang pernah dia lihat.

Karena waktu bergerak maju.

JAM DINDING BERDETAK:

10:16... 10:17...

Vero menutup matanya sejenak, menikmati setiap detiknya.

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
Sarah
Satunya bikin heran... ini nihh. Kadang Pembom terlihat seperti rela mati demi misi... (kayak di loop 2) pas karena provokasi jadi bomnya diledakkan lebih cepat. Tapi kadang juga pengen hidup. Yang bener yang mana sih? Tokohnya kurang konsisten.
Sarah
Ceritanya bagus, menarik, keren dan lorenya dalem. Ceritanya kompleks banget. Aksinya juga keren. 🤩

Untuk karakter... aku gak banyak komen.
Aku suka banget MC-nya sih...
Si Vero tuh... jenius banget, jeli mengamati sekitar dan cepet hafal. Dia keren banget. Aku udah terpukau sejak bab 5 sama dia.
Cuma...kekurangan di karakternya ada yang terasa nyaris mustahil buat seorang akuntan biasa: lompat pindah kereta (dan selamat), berdiri di motor yang jalan, dan lari sambil ditembak tapi gak kena padahal dia juga gak bawa senjata. Tapi ketiga aksi tadi terasa gak wajar, terlalu...
“Beruntung”.
Kalau dia agen, mata-mata, detektif atau polisi, baru masuk akal. 🧐

Ceritanya kompleks dan dalem, tapi terlalu padat dibungkus cuma 27 bab. Kalau bagiku pribadi sih, Lebih enak kalau stop di lawan Adrian saja. Adrian final boss. Novel online 27 bab itu termasuk pendek, jadi rasanya agak terlalu penuh. Meskipun ini menurutku sih.

Satu hal belum terjawab: kenapa harus Vero yang jadi looper? Ini masih jadi celah besar, padahal yang lain sudah terjawab karena lorenya dalam. 🤨

Intinya tetap bagus, kekurangannya sedikit banget kok, itu aja. Worth it banget dibaca.

Rekomendasi: Cocok buat yang suka aksi, alur cepat, cerita kompleks, plot twist, konflik berat, ketegangan tinggi, dan bikin pusing bacanya. Terima kasih untuk karyanya yang luar biasa, Author. 🙂👍❤
Sarah
Bagus, author pantas dapat (gift) kopi dariku~☕
Sarah
Pokoknya aku bakal rate cerita ini sih, tapi tidak sekarang.... karena aku masih capek banget dengan kerumitan ceritanya. 😂
Sarah
Gila sih ceritanya, thor. Aku baca dari jam setengah tiga sore kawat dikit kemarin, sampai jam setengah tujuh langsung tamat 27 bab ini. 😂
Sarah
Oke, dia punya poin paling besar untuk membenci hari Senin. Karena dia membenci hari senin bukan karena sekadar rasa malas. 😂
Sarah
BANGG!





LU AKUNTAN APA AKUNTAN SIH?!! 😭
Sarah
Unit 01 yang tadinya antagonis ngeri sekarang jadi NPC yang bikin aku ketawa tiap kali Vero kembali datang dan “Meminjam Pistol”. 😂
Sarah
Lho? Dia tahu namanya Adrian...


dari mana??
Sarah
“Berdoa pada Tuhan yang dia ingat” Jadi Tuhanmu siapa? Di Indonesia gak ada atheis lho. 😂
Sarah
WOY LAH APA-APAAN INI?! BOM BISA DIHENTIKAN DENGAN USAHA MESKI SULIT, TAPI GEMPA? WOYY ITU KEHENDAK ALAM! GAK BISA DIKONTROL!! 😭
Sarah
Santai karena terbiasa. 😭🙂
Sarah
Tapi Si Vero fisiknya kok kuat banget yah? Emangnya akuntan... ada hubungannya sama fisik? Bukannya angka?
Sarah
Aku sudah menebaknya karena dia “Menang” di bab baru 16 dari 27 bab. 😭✋
Sarah
Emang Sarah bakal ingat?
Sarah
Fix, Sarah ini... pasti heroine novel ini sih. 😂
Sarah
Ughh, akun sudah merasakannya sejak bab 5... MC satu ini kerenn bangett. ✋😐✋
Sarah
Busettt. 💀
Sarah
Aku temani kok, mas. Tapi kalau aku temani ceritamu doang soalnya Sarah yang satu ini cuma pembaca. ✋😂
Sarah
😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!