Vero terjebak dalam Time Loop. Dia adalah satu-satunya orang yang mengingat ledakan itu. Dia harus menemukan pelakunya, menjinakkan bom, dan menyelamatkan seisi kota Jakarta. Namun, takdir memiliki aturan main yang kejam: Setiap kali Vero gagal dan mati, waktu yang dimilikinya berkurang satu menit.
Loop pertama: 60 menit.
Loop kedua: 59 menit.
Loop ketiga: 58 menit.
Dengan waktu yang terus tergerus, Vero dipaksa belajar menjadi detektif, tentara, dan penyusup dalam hitungan jam yang berulang. Di tengah kepanikan massal dan teror psikologis, dia menyadari satu hal mengerikan: Pelakunya mungkin bukan orang asing, dan ledakan ini hanyalah permulaan.
Ketika hitungan mundur mendekati nol, Vero tak hanya bertaruh nyawa—dia bertaruh pada keberadaan itu sendiri.
Bisakah dia menghentikan kiamat kecil ini sebelum waktunya habis total?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: 08:01
Bip... Bip... Bip...
Suara itu.
Ritme yang konstan. Monoton.
Sama seperti hitungan mundur bom.
Sama seperti detik jam tangan sebelum kematian.
Vero menyentakkan matanya terbuka.
"TIDAK!"
Dia mencoba melompat bangun, tapi tubuhnya menolak. Rasa sakit yang luar biasa—nyata, tajam, dan memberatkan—menjangkar tubuhnya ke kasur. Bahunya terasa seperti ditusuk besi panas. Rusuknya menjerit setiap kali dia menarik napas.
"Pak! Pak! Tenang!"
Sepasang tangan menahan bahunya. Bukan tangan besi Silas. Bukan tangan kasar Unit Delta. Tangan itu lembut, berbau sabun cuci tangan rumah sakit.
Vero mengerjapkan mata, mencoba mengusir silau cahaya putih yang menyengat.
Ini bukan cahaya ledakan. Ini cahaya lampu neon.
Dia melihat sekeliling dengan panik.
Dinding putih. Tirai hijau pastel. Tiang infus. Monitor EKG yang berkedip hijau seirama dengan jantungnya.
Seorang perawat wanita berdiri di sampingnya, wajahnya cemas.
"Jam berapa?!" Vero berteriak, suaranya parau dan kering seperti orang yang menelan pasir. Tenggorokannya sakit—efek dicekik Silas.
"Pak, Bapak baru sadar setelah operasi..."
"JAM BERAPA?!" Vero mencengkeram lengan perawat itu, mengabaikan selang infus yang tertarik tegang di punggung tangannya.
Perawat itu ketakutan, tapi dia menunjuk jam dinding bulat di atas pintu.
Jarum jam menunjukkan pukul 10:15.
Vero menatap jam itu. Napasnya memburu.
10:15.
Itu sudah lewat jam 08:00.
Jauh lewat.
"Tanggal?" tanya Vero lagi, matanya liar. "Hari apa ini?"
"Ini hari Selasa, Pak. Tanggal 18," jawab perawat itu pelan, berusaha melepaskan cengkeraman Vero.
Selasa.
Vero melepaskan tangan perawat itu. Dia jatuh kembali ke bantal.
Hari Senin sudah berakhir.
Hari Senin yang terkutuk itu akhirnya berlalu.
Air mata menetes dari sudut mata Vero. Bukan air mata sedih, bukan air mata bahagia. Tapi air mata pelepasan. Beban ratusan kematian, beban ribuan menit yang berulang, akhirnya diangkat dari pundaknya.
"Saya... hidup," bisik Vero. "Besok datang."
Perawat itu merapikan selimut Vero. "Bapak ditemukan tidak sadarkan diri di lobi Menara Obsidian tadi pagi. Bersama dua wanita. Polisi sedang menunggu di luar untuk minta keterangan, tapi dokter bilang Bapak butuh istirahat."
"Dua wanita..." Vero menoleh cepat. "Di mana mereka? Sarah? Maya?"
"Wanita yang satu, yang rambutnya dikuncir (Sarah), ada di kamar sebelah. Dia cuma luka ringan dan lecet-lecet. Dia ngotot mau ketemu Bapak dari tadi."
"Panggil dia," pinta Vero. "Tolong."
Perawat itu mengangguk, lalu keluar ruangan.
Vero menatap langit-langit.
Tubuhnya hancur. Bahu kanan digips. Dada dibebat perban tebal. Wajahnya penuh plester.
Ini adalah "oleh-oleh" dari pertarungan terakhir melawan Silas.
Di timeline ini, luka itu nyata. Tidak terhapus oleh reset.
Pintu terbuka.
Sarah masuk.
Dia mengenakan baju pasien rumah sakit, lengan kirinya diperban, ada plester di pipinya. Tapi dia berdiri tegak.
Sarah melihat Vero. Vero melihat Sarah.
Tidak ada kata-kata selama sepuluh detik.
Hanya tatapan saling mengerti antara dua prajurit yang baru saja kembali dari neraka yang sama.
Sarah berjalan terpincang-pincang mendekati ranjang Vero, lalu duduk di kursi pengunjung. Matanya berkaca-kaca.
"Sudah jam 10," kata Sarah pelan.
"Ya," jawab Vero. "Hari Selasa."
Sarah tertawa kecil, lalu tawa itu berubah menjadi isak tangis. Dia menundukkan kepala, bahunya berguncang.
"Kita berhasil, Vero. Benda itu... cahayanya... aku pikir kita mati."
"Mesinnya hancur. Loop-nya putus," kata Vero. Dia mengulurkan tangannya yang tidak diinfus.
Sarah menggenggam tangan itu erat-erat. Tangan mereka hangat. Nyata.
"Maya?" tanya Vero.
Wajah Sarah berubah muram. Dia menunjuk ke arah televisi kecil yang tergantung di sudut ruangan.
"Lihat berita."
Sarah mengambil remot di meja nakas dan menyalakan TV.
Volume dibesarkan.
Layar menampilkan Breaking News. Helikopter menyiarkan gambar udara dari Jakarta Utara.
TRAGEDI STASIUN PUSAT: EVAKUASI KORBAN TERUS BERLANJUT.
TOTAL KORBAN TEWAS DIPERKIRAKAN MENCAPAI 2.000 ORANG.
Gambar itu mengerikan. Stasiun bersejarah itu kini hanyalah kawah raksasa penuh puing beton dan besi bengkok. Asap hitam masih membubung. Petugas pemadam kebakaran terlihat seperti semut di tengah reruntuhan.
Vero memalingkan wajahnya. Rasa bersalah menghantamnya seperti palu godam.
Dia membiarkan itu terjadi.
Di loop terakhir, dia memilih membiarkan Adrian meledakkan stasiun demi menyelamatkan masa depan.
Tapi melihat mayat-mayat itu di TV... rasanya berbeda dengan melihatnya di dalam loop. Ini permanen. Mereka tidak akan bangun lagi jam 7 pagi besok.
"Kita tidak bisa menyelamatkan semua orang," bisik Sarah, seolah membaca pikiran Vero. "Kau bilang begitu di taksi."
"Rasanya tetap saja..." suara Vero tercekat.
"Ada berita lain," sela Sarah. Dia mengganti saluran.
Berita ekonomi.
SAHAM TRIAD INDUSTRIES ANJLOK 80% SETELAH CEO ADRIAN WIDJAJA DITEMUKAN TEWAS.
Vero menoleh. "Adrian tewas?"
"Mayatnya ditemukan di reruntuhan Ruang Kontrol Stasiun," jelas Sarah. "Polisi bilang dia korban. Tapi ada bocoran dokumen..." Sarah tersenyum miring. "...dokumen yang dikirim secara anonim ke semua redaksi media besar pagi ini, tepat pukul 08:01."
"Dokumen apa?"
"Segalanya," kata Sarah. "Project Omega. Project Zero. Bukti suap. Bukti limbah medis. Dan daftar nama politisi yang mem-backing Triad. Semuanya bocor ke publik."
Vero tersenyum lemah. "Maya."
"Ya. Maya tidak cuma menghancurkan mesin waktu," kata Sarah. "Sebelum sistemnya purge, dia mengunggah semua data kotor Triad ke cloud server publik. Dia membakar Triad sampai ke akar-akarnya."
"Di mana dia sekarang?"
Sarah menggeleng. "Dia menghilang. Saat tim SWAT masuk ke Menara Obsidian karena ledakan di Penthouse, Maya sudah tidak ada. Dia meninggalkan ini di saku bajumu saat kau pingsan."
Sarah merogoh saku baju pasiennya, mengeluarkan secarik kertas kecil yang kusut.
Dia menyerahkannya pada Vero.
Vero membukanya.
Tulisan tangan yang buru-buru.
> Terima kasih sudah mempercayaiku di saat aku sendiri tidak percaya.
> Jangan cari aku. Aku harus memastikan kode ini tidak pernah dibuat ulang oleh siapapun.
> Nikmati hari Selasa kalian.
> - M.
>
Vero melipat kertas itu, menggenggamnya erat.
Maya pergi membawa beban pengetahuan itu sendirian. Dia menjadi pelarian, hantu yang menjaga agar pintu waktu tidak pernah dibuka lagi.
"Jadi..." Vero menghela napas panjang, merasakan sakit di rusuknya tapi juga kelegaan yang luar biasa. "Dunia selamat. Triad hancur. Adrian mati. Kita hidup."
"Dan aku punya berita eksklusif terbesar abad ini," tambah Sarah, naluri jurnalisnya kembali menyala meski matanya masih bengkak. "Judulnya: 'Bagaimana Saya Menghabiskan 20 Kali Hari Senin'."
Vero tertawa. Kali ini tawa yang tulus, meski sakit.
"Jangan tulis namaku. Aku cuma mau jadi akuntan lagi. Aku butuh liburan panjang. Sangat panjang."
Pintu kamar terbuka lagi.
Dua orang polisi berseragam masuk, diikuti seorang pria berjas rapi—mungkin detektif.
"Selamat siang," kata Detektif itu, menatap Vero dan Sarah dengan tatapan curiga. "Bapak Vero? Ibu Sarah? Kami punya banyak pertanyaan. Mulai dari kenapa kalian ada di Penthouse gedung dengan keamanan tertinggi, kenapa ada banyak mayat tentara bayaran di sana, dan kenapa stasiun kereta meledak."
Vero dan Sarah saling berpandangan.
Mereka tersenyum.
Setelah melawan pasukan cyborg, menjinakkan bom, dan mati puluhan kali... interogasi polisi terasa seperti obrolan ringan di warung kopi.
"Bapak Detektif," kata Vero tenang. "Siapkan kopi yang banyak. Ceritanya bakal panjang."
"Dan sangat tidak masuk akal," tambah Sarah.
Di luar jendela rumah sakit, matahari bersinar terik. Langit Jakarta masih abu-abu oleh polusi, klakson masih berisik, dan kemacetan masih menggila.
Dunia yang tidak sempurna. Dunia yang kacau.
Tapi bagi Vero, itu adalah pemandangan paling indah yang pernah dia lihat.
Karena waktu bergerak maju.
JAM DINDING BERDETAK:
10:16... 10:17...
Vero menutup matanya sejenak, menikmati setiap detiknya.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
about a time,project almanac ,edge of tomorrow,the butterfly effect,until dawn dsb...time loop sendiri didunia nyata mustahil terjadi ..🤔🤔🤔