Alana tidak menyangka pernikahannya dengan Rendi harus berahir di tengah derasnya air sungai,Rendi dan Lisa selingkuhannya,dengan teganya membuang Alana kesungai untuk menghabisinya dan menguasai harta peninggalan orang tua Alana .Untung saja ada Arka yang menolongnya,dengan di bantu Arka,Alana kembali bangkit membalas penghianatan Suaminya dan mengambil hartanya yang sudah dirampas Rendi dan Lisa
Bagaimana selanjutnya kehidupan Alana Dan Arka ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Boikot Skenario Arka
Angka satu triliun rupiah mendarat di rekening utama Adiguna Group tepat pukul sembilan pagi berikutnya.
Bagi Rendy Pratama, deretan angka nol yang berbaris di layar monitor komputer keuangannya adalah sebuah simfoni kemenangan yang paling indah. Ia merasa seperti seorang raja yang baru saja memenangkan pertempuran besar melawan kebangkrutan.
Tanpa membuang waktu, Rendy langsung memerintahkan Hendra untuk mencairkan sebagian dana tersebut guna melunasi tunggakan para vendor utama dan membiayai percepatan pembangunan Adiguna City. Ia ingin membuktikan kepada Elena Van Doren bahwa ia adalah mitra yang bergerak secepat kilat.
Namun, euforia itu hanya bertahan tidak lebih dari dua puluh empat jam.
Keesokan paginya, ruang kerja Rendy di kantor pusat Adiguna Group mendadak dihujani oleh panggilan telepon darurat dari lokasi proyek.
Suara sirine tanda bahaya seolah berbunyi di dalam kepala Rendy ketika Joko, kepala pengawas lapangan Adiguna City, menelepon dengan suara yang dipenuhi kepanikan yang luar biasa.
"Tuan Rendy! Kita punya masalah besar di lapangan!" teriak Joko dari seberang telepon, mengalahkan suara gemuruh angin dan mesin-mesin berat yang mendadak mati di latar belakang. "Tiga distributor semen utama kita baru saja membatalkan pengiriman secara sepihak untuk bulan ini. Bukan hanya itu, truk-truk pembawa baja tulangan yang seharusnya tiba subuh tadi juga tidak ada yang datang!"
Rendy terbelalak, ia langsung berdiri dari kursi kulitnya hingga cangkir kopinya terguncang. "Apa maksudmu membatalkan sepihak, Joko?! Kita baru saja mentransfer pelunasan utang dan uang muka baru untuk seratus ribu ton semen kemarin sore! Mereka tidak punya alasan untuk berhenti menyuplai!"
"Saya sudah menghubungi pihak manajemen mereka, Tuan," suara Joko terdengar semakin putus asa. "Mereka bilang seluruh pasokan semen curah jenis khusus yang kita butuhkan untuk struktur fondasi menara utama telah diborong habis oleh pihak ketiga dengan sistem kontrak eksklusif selama tiga bulan ke depan. Pasar domestik mendadak kosong, Tuan! Jika kita tidak mendapatkan semen dan baja itu dalam waktu tiga hari, proses pengecoran fondasi akan gagal, dan struktur yang ada bisa mengalami retak fatal!"
Rendy membanting ponselnya ke atas meja marmer. Wajahnya yang semula kemerahan penuh kebanggaan kini mendadak pucat pasi. Ia segera memerintahkan sekretarisnya untuk menyambungkan saluran telepon ke seluruh direktur utama pemasok bahan bangunan di pulau Jawa. Namun, jawaban yang ia terima selalu sama: seolah-olah ada tangan raksasa yang tak kasat mata telah menyapu bersih seluruh pasokan material konstruksi di pasar domestik hanya dalam waktu satu malam.
Tangan raksasa itu tidak lain adalah milik Arka.
Di saat yang sama, di dalam ruang kendali investasinya yang super rahasia, Arka sedang duduk dengan tenang seraya mengamati grafik pergerakan komoditas bahan bangunan di bursa logistik nasional.
Di sekelilingnya, dinding layar monitor menampilkan transaksi pembelian masif yang dilakukan oleh belasan perusahaan cangkang (shell companies) yang berbasis di Singapura, Hong Kong, dan Kepulauan Cayman,semuanya bermuara pada satu pemilik akhir yang sama: Arka.
Arka telah menggelontorkan dana tunai dalam skala yang mampu mengguncang kestabilan pasokan logistik nasional. Ia tidak hanya membeli semen dan baja; ia menyewa seluruh gudang penyimpanan utama di sekitar pelabuhan dan membeli hak distribusi eksklusif dari para produsen utama.
Arka sengaja menimbun material tersebut, membiarkannya membusuk di dalam gudang miliknya daripada membiarkan satu sak semen pun jatuh ke tangan Rendy.
Budi melangkah masuk ke dalam ruangan, membawa laporan operasional terbaru. "Tuan Arka, boikot logistik telah berjalan seratus persen efektif. Proyek Adiguna City hari ini resmi mengalami kelumpuhan total. Para pekerja bangunan di lapangan mulai melakukan aksi mogok kerja karena mereka tidak memiliki bahan untuk dikerjakan. Sesuai dengan draf kontrak yang ditandatangani Rendy dengan Madam Elena, hari ini adalah hari pertama dari lima hari batas maksimal mangkrak yang diizinkan."
Arka menyesap teh hitamnya perlahan, ekspresi wajahnya yang tegas tampak sangat dingin di bawah temaram cahaya monitor. "Rendy mengira uang satu triliun dari Elena bisa menyelesaikan segalanya. Dia lupa bahwa di dunia bisnis modern, memiliki uang tidak ada artinya jika kau tidak memiliki kendali atas jalur pasokan fisik. Biarkan dia panik. Semakin dia panik, semakin besar tekanan yang akan dia rasakan."
Arka menoleh ke arah sudut ruangan tempat Elena sedang berdiri menatap jendela besar. Elena mengenakan gaun sutra berwarna hitam dengan potongan yang sangat anggun. Matanya berkilau menyaksikan penderitaan awal dari pria yang dulu mencampakkannya.
"Apakah kau siap memberikan tekanan pertama, Elena?" tanya Arka dengan nada suara baritonnya yang menenangkan.
Elena berbalik, menarik sudut bibirnya membentuk senyuman yang penuh dengan racun pembalasan. "Aku sudah menyiapkan skenarionya, Arka. Aku akan meneleponnya sekarang."
Di kantornya yang berantakan karena berkas-berkas yang berserakan, ponsel Rendy berdering. Nama "Elena Van Doren" muncul di layar. Rendy menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan suaranya yang gemetar sebelum mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, Elena," ucap Rendy, mencoba terdengar seramah dan setenang mungkin, meskipun keringat dingin mengucur deras di pelipisnya.
"Selamat siang, Tuan Rendy," sahut Elena dari seberang sana. Nada suaranya terdengar sangat formal, dingin, dan tanpa basa-basi,sangat kontras dengan kelembutan yang ia tunjukkan di taman dua malam lalu. "Saya baru saja menerima laporan harian dari tim pengawas lapangan yang saya tempatkan di Adiguna City. Mengapa satelit pemantau kami menunjukkan bahwa tidak ada aktivitas alat berat sama sekali di lokasi proyek hari ini? Mengapa para pekerja Anda terlihat duduk-duduk di area kantin?"
Jantung Rendy serasa melompat ke tenggorokan. Ia tidak menyangka Elena memiliki sistem pengawasan seketat itu hingga menggunakan pemantauan satelit.
"Oh ... mengenai hal itu, Elena," Rendy terbata-bata, otaknya berputar cepat mencari kebohongan yang masuk akal. "Kami sedang melakukan ... pemeliharaan rutin pada mesin-mesin berat dan kalibrasi sistem fondasi. Ini hanya prosedur keselamatan standar, besok pembangunan akan kembali berjalan normal."
"Jangan membodohi saya, Rendy!" potong Elena dengan nada suara yang tiba-tiba meninggi, memancarkan otoritas seorang investor raksasa yang merasa dikhianati. "Tim intelijen bisnis saya tahu bahwa Anda sedang mengalami kelangkaan material karena kegagalan manajemen logistik Anda sendiri! Anda tidak memiliki semen dan baja!"
"Elena, mohon dengarkan saya dulu,"
"Dengar, Rendy," Elena memotong kembali dengan nada yang sangat kejam. "Van Doren Group tidak menginvestasikan satu triliun rupiah untuk melihat lahan kosong yang mangkrak dan mendengarkan alasan kekanak-kanakan dari Anda. Bisnis adalah bisnis. Di dalam kontrak utama yang Anda tanda tangani kemarin, tertera dengan sangat jelas pada halaman delapan puluh empat: jika pembangunan berhenti selama lebih dari lima hari kerja berturut-turut, perusahaan Anda akan dinyatakan wanprestasi secara mutlak."
Suara Elena di telepon terdengar seperti vonis hakim yang menjatuhkan hukuman mati. "Hari ini adalah hari pertama. Anda memiliki waktu empat hari tersisa untuk menggerakkan kembali mesin-mesin itu. Jika pada hari kelima proyek Adiguna City masih membeku, tim hukum saya akan langsung mengambil alih seluruh kepemilikan saham mayoritas Anda sesuai klausul jaminan silang. Dan jangan harap Anda bisa membawa kasus ini ke pengadilan lokal, karena kontrak kita dilindungi oleh hukum arbitrase internasional di Singapura."
Klik. Panggilan diputus secara sepihak oleh Elena.
Rendy mendengarkan nada putus-putus di ponselnya dengan mata yang melotot karena syok. Halaman delapan puluh empat. Kata-kata itu terngiang-ngiang di dalam kepalanya seperti kutukan. Ia teringat bagaimana Januar, kepala tim legalnya, sempat memperingatkannya untuk memeriksa halaman tersebut, namun ia justru membentak Januar demi mengejar tanda tangan Elena.
"Halaman delapan puluh empat ..." bisik Rendy dengan suara parau yang bergetar. Ia segera meraih dokumen kontrak bersampul hitam itu, membuka halaman delapan puluh empat dengan tergesa-gesa hingga kertasnya robek di bagian pinggir.
Ketika matanya membaca baris demi baris klausul terkubur yang menyebutkan tentang pengalihan saham otomatis secara mutlak tanpa peradilan jika proyek mangkrak lima hari, lutut Rendy mendadak lemas. Dokumen itu terlepas dari genggaman tangannya dan jatuh ke lantai.
Pria yang beberapa jam lalu merasa sebagai penguasa properti baru di kota ini, kini menyadari bahwa ia telah menandatangani surat kematian finansialnya sendiri. Ia telah masuk ke dalam jebakan yang dirancang begitu sempurna, dan waktu untuknya kini terus berjalan mundur dengan kejam.