Enam tahun membina rumah tangga, Kirana merasa pernikahannya dengan Aris adalah definisi kebahagiaan yang sempurna. Namun, semua hancur saat Kirana menemukan kenyataan bahwa Aris kembali menjalin hubungan rahasia dengan Sarah, mantan kekasihnya yang dulu gagal dinikahi karena terganjal restu. Alih-alih menangis dan meminta cerai begitu saja, Kirana memilih jalan yang lebih gelap: menghancurkan Aris dari dalam dengan mendekati Bimo, sahabat karib sekaligus rekan bisnis Aris. Sebuah permainan ego, pengkhianatan, dan cinta yang keliru pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinarta Firdaus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TANDA TANGAN DIBAWAH TEMARAM LAMPU
Malam itu, jam menunjukkan pukul sepuluh ketika Aris pulang ke penthouse. Kirana sudah menunggunya di ruang tengah, duduk di atas sofa beludru sambil membaca sebuah buku tentang arsitektur modern. Lilin aromaterapi kesukaannya telah dinyalakan, menciptakan suasana yang sangat tenang dan nyaman.
"Hai, Sayang. Kamu sudah pulang?" sapa Kirana lembut, berdiri untuk mengambil tas kerja Aris.
"Iya, Sayang. Hari ini melelahkan sekali," Aris mengecup pipi Kirana, lalu duduk di sofa sambil melonggarkan kancing kemejanya. Ia mengeluarkan sebuah map biru dari dalam tasnya. "Kirana, aku butuh bantuanmu untuk urusan penting perusahaan."
Kirana duduk di samping Aris, memasang wajah penuh rasa ingin tahu yang polos. "Bantuan apa, Aris? Kamu tahu kan aku tidak terlalu mengerti tentang bisnis propertimu?"
"Ini mudah kok, Sayang. Bimo menyarankan agar aku menunjukmu sebagai Financial Trustee untuk proyek baru kita di Bali. Ini hanya formalitas agar para investor asing merasa lebih aman karena ada keterlibatan keluarga dalam pengawasan. Tugasmu hanya menandatangani beberapa dokumen persetujuan pencairan dana setiap bulan yang sudah diverifikasi oleh Bimo terlebih dahulu. Kamu percaya pada Bimo, kan?"
Kirana menatap map biru itu, lalu menatap wajah suaminya. Di balik tatapan matanya yang tampak ragu-ragu, Kirana sedang menahan tawa sinis yang hampir meledak dari dadanya. “Aris, Aris... kamu benar-benar menyerahkan lehermu sendiri ke dalam tali gantung yang kusiapkan,” batinnya.
"Kalau Bimo yang memeriksa, aku pasti percaya, Aris. Dia kan sahabat terbaikmu," ucap Kirana dengan nada suara yang sangat manis. "Tapi... apa ini aman untukku? Aku tidak akan terkena masalah hukum kan jika ada apa-apa dengan proyek itu?"
"Tentu saja aman, Sayang! Aku tidak akan mungkin menjerumuskan istriku sendiri ke dalam masalah," Aris merangkul pundak Kirana, memberikan janji palsu yang terdengar begitu meyakinkan. "Kamu hanya perlu menandatangani dokumen ini sekarang, lalu kamu bisa kembali fokus pada hobi berkebunmu."
Kirana mengambil pulpen yang disodorkan Aris. Dengan gerakan yang sengaja dibuat sedikit ragu-ragu untuk menjaga penyamarannya, ia membubuhkan tanda tangannya di atas dokumen-dokumen tersebut.
Aris tidak tahu bahwa dokumen yang ditandatangani Kirana malam itu bukanlah dokumen trustee standar yang disiapkan untuk investor. Bimo telah menyelipkan beberapa lembar klausul khusus yang menyatakan bahwa sebagai Financial Trustee, Kirana memiliki hak mutlak untuk membekukan seluruh aset operasional PT Utama Karya Propertindo jika ditemukan adanya indikasi penyimpangan dana atau pelanggaran kode etik berat oleh direktur utama—yang mana bukti-buktinya sudah dikumpulkan oleh Kirana dan Bimo selama berminggu-minggu.
"Terima kasih ya, Kirana. Kamu memang istri terbaik yang pernah ada," Aris mengecup kening Kirana dengan penuh rasa lega, merasa masalah besarnya telah selesai.
"Sama-sama, Aris. Aku akan melakukan apa saja untuk... masa depan kita," jawab Kirana, memberikan penekanan samar pada kata "masa depan kita"—sebuah masa depan di mana Aris tidak lagi terdaftar di dalamnya.
Sejak malam penandatanganan dokumen itu, Kirana resmi menjalani kehidupan ganda yang sangat berbahaya. Di rumah, ia tetap menjadi Kirana si istri penurut yang menyiapkan kopi hangat untuk Aris. Namun, di balik layar, ia adalah arsitek utama dari sebuah konspirasi yang siap meruntuhkan hidup suaminya.
Hubungannya dengan Bimo pun berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih intens dari sekadar rekan konspirasi. Mereka mulai sering menyewa kamar di sebuah hotel butik kecil yang terpencil di pinggiran kota—bukan hotel Amethis tempat Aris dan Sarah berselingkuh, melainkan sebuah tempat rahasia yang hanya diketahui oleh mereka berdua.
Di dalam kamar hotel yang temaram itu, setelah mereka selesai membahas laporan keuangan dan draf gugatan hukum, batasan-batasan moral yang tersisa di antara mereka menguap sepenuhnya. Kirana membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan Bimo, memanfaatkan kehangatan pria itu untuk mengusir rasa dingin yang telah membekukan hatinya sejak malam pengkhianatan Aris terbongkar.
Bagi Bimo, setiap detik yang ia habiskan bersama Kirana adalah sebuah pemenuhan dari mimpi gila yang ia pendam selama enam tahun. Ia tahu bahwa hubungan ini salah, ia tahu bahwa ia sedang mengkhianati sahabatnya sendiri, dan ia tahu bahwa ia mungkin hanya dimanfaatkan oleh Kirana sebagai alat pembalasan dendam. Namun, Bimo terlalu mencintai Kirana untuk memedulikan semua itu. Pria itu telah menyerahkan seluruh jiwa, raga, dan karier profesionalnya ke dalam genggaman tangan Kirana yang dingin.
Setiap sentuhan yang sengaja, setiap tatapan mata yang penuh arti, dan setiap dokumen yang ditandatangani kini telah menyatu menjadi sebuah kekuatan raksasa yang tidak terbendung. Aris dan Sarah masih berdansa di atas panggung ilusi kesuksesan mereka, tidak menyadari bahwa di bawah kaki mereka, tanah telah digali sedemikian dalam oleh Kirana dan Bimo, siap runtuh dan menelan mereka bulat-bulat dalam waktu dekat.