NovelToon NovelToon
Sang Tuan Mafia

Sang Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:533
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Semua orang mengenal Bintang Prakasa sebagai pengusaha muda yang sukses, berwibawa, dan nyaris sempurna. Namanya terpampang di berbagai media sebagai pemimpin perusahaan besar yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan wajah tampan, kecerdasan tajam, dan kekayaan yang melimpah, ia menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.

Namun tidak ada yang tahu kehidupan sebenarnya di balik senyum tenangnya.

Di balik dunia bisnis yang gemerlap, Bintang adalah pria yang mengendalikan salah satu organisasi paling berpengaruh di dunia bawah. Namanya dihormati sekaligus ditakuti. Satu perintah darinya mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.

Meski memiliki segalanya, hidup Bintang tidak pernah benar-benar damai.

Lima belas tahun lalu, ayahnya meninggal dalam sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kecelakaan. Semua orang menerima penjelasan itu, kecuali Bintang. Ia yakin ada tangan-tangan kotor yang terlibat dalam kematian ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Ayah Rania

Suasana di dalam rumah tua itu mendadak sunyi, bahkan suara reruntuhan yang masih berjatuhan terasa menghilang setelah pria berpakaian hitam itu mengucapkan kalimat tersebut.

Rania menatapnya tanpa berkedip, antungnya berdegup begitu keras hingga terasa menyakitkan.

"Apa maksudmu?" tanyanya sambil melangkah mundur.

"Aku rasa kau sudah mendengarnya dengan jelas." Pria itu tersenyum tipis.

Bintang langsung berdiri di depan Rania.

"Jangan bicara omong kosong," bentaknya sambil mengepalkan tangan.

Pria itu tidak terlihat takut sedikit pun.

"Kalau aku berbohong, kenapa wajahmu terlihat seperti itu?" tanyanya sambil menatap pria yang mengaku ayah Bintang.

Tatapan semua orang langsung beralih, pria tua itu terlihat pucat.

"Kau mengenalnya?" tanya Bintang sambil menatap pria tersebut.

Pria tua itu tidak langsung menjawab, rahangnya mengeras seolah sedang menahan sesuatu.

"Kau mengenalnya?" ulang Bintang lebih keras.

"Iya." Pria itu akhirnya mengangguk pelan.

Jawaban singkat itu membuat suasana semakin tegang.

"Siapa dia?" tanya Rania dengan suara bergetar.

"Lihat? Mereka bahkan tidak pernah menceritakan apa pun padamu." Pria berpakaian hitam tertawa kecil.

"Diam!" bentak pria tua itu.

"Kenapa? Takut rahasianya terbongkar?"

"Seseorang jelaskan apa yang sedang terjadi!" Bintang mulai kehilangan kesabaran.

"Namaku Damar." Pria berpakaian hitam memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

Nama itu membuat pria tua tersebut langsung memejamkan mata, seolah nama itu adalah sesuatu yang selama ini ingin dilupakannya.

"Damar?" ulang Rania pelan.

"Aku mencarimu selama bertahun-tahun." Damar menatap wanita itu cukup lama.

"Aku tidak mengenalmu."

"Tentu saja tidak." Damar tersenyum pahit. "Karena seseorang telah memastikan kau tumbuh tanpa mengetahui siapa dirimu sebenarnya."

"Aku tidak peduli siapa kau. Kalau ingin mengatakan sesuatu, katakan sekarang." Bintang melangkah maju.

"Lima belas tahun lalu, ada tiga orang yang bersahabat." Damar mengalihkan pandangannya.

Tatapan Damar bergeser ke pria tua itu.

"Lalu ada aku." Kemudian ke arah yang lain. "Lalu ayahmu."

Dan terakhir ke arah Leonard yang tidak ada di sana, tetapi namanya tetap terasa hadir.

"Dan Leonard." lanjut Damar.

"Jadi kalian semua saling mengenal?" Rangga mengernyit.

"Lebih dari sekadar mengenal." Damar tertawa kecil. "Kami pernah menganggap satu sama lain sebagai keluarga."

Rania berdiri membeku, semakin banyak jawaban yang muncul, semakin besar kebingungan yang dirasakannya.

"Kalau kalian dulu bersahabat, kenapa semuanya menjadi seperti ini?" tanyanya sambil menatap Damar.

"Karena pengkhianatan." Senyum di wajah pria itu menghilang.

Siapa yang mengkhianati siapa?" tanya Bintang cepat.

Damar tidak langsung menjawab, ia justru menatap pria tua yang mengaku ayah Bintang.

"Kenapa tidak kau saja yang menceritakannya?"

"Bukan sekarang." Pria itu menggeleng.

"Bukan sekarang?" Damar tertawa keras. "Masih saja seperti dulu."

"Ini bukan waktunya."

"Lalu kapan?" Damar melangkah maju. "Berapa lama lagi kau ingin bersembunyi?"

Bintang memperhatikan keduanya dengan rahang mengeras, jelas ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang selama ini dibayangkannya.

"Aku muak dengan rahasia," ucapnya sambil menatap mereka satu per satu. "Mulai sekarang tidak ada lagi yang disembunyikan."

"Akhirnya ada yang bicara masuk akal." Damar mengangguk.

"Kalau begitu kau yang akan membuat semuanya semakin buruk." Pria tua itu menghela napas panjang.

"Bukankah kau yang memulainya?" balas Damar tajam.

Suasana kembali memanas.

Tiba-tiba suara ponsel terdengar, demua orang menoleh. Ponsel milik Damar, pria itu melihat layar lalu wajahnya langsung berubah.

"Ada apa?" tanya Bintang.

Damar tidak menjawab, ia justru mengangkat panggilan tersebut.

"Halo."

Beberapa detik kemudian ekspresinya semakin gelap.

"Sial!"

Panggilan langsung terputus.

"Apa yang terjadi?" tanya Rania.

"Mereka menemukannya." Damar menatap wanita itu.

"Menemukan siapa?"

Damar terdiam sesaat.

"Laras."

Nama itu membuat pria tua tersebut membelalak.

"Laras masih hidup?" tanyanya tidak percaya.

Damar mengangguk dan jantung Rania langsung berdegup lebih cepat, entah kenapa nama itu terasa sangat asing sekaligus sangat dekat.

"Siapa Laras?" tanyanya.

Tidak ada yang menjawab, sekali lagi semua orang diam.

"Luar biasa." Rania tertawa pahit.

"Rania..." ucap Bintang pelan.

"Tidak." Rania menggeleng. "Aku sudah lelah."

"Setiap kali aku bertanya, kalian hanya saling memandang." Ia menatap mereka satu per satu.

Tidak ada yang membantah karena itu memang benar.

"Kalau tidak ada yang mau bicara, aku akan pergi."

"Kau tidak bisa pergi sendiri." Bintang langsung melangkah mendekat.

"Kenapa tidak?"

"Karena mereka sedang mencarimu."

"Mungkin aku juga sedang mencari diriku sendiri." Rania menatapnya tajam.

Kalimat itu membuat Bintang kehilangan kata-kata.

.

.

.

Di tempat lain, Leonard berdiri di depan jendela besar ruang kerjanya.

Hujan mulai turun membasahi kaca.

"Tuan." Seorang pria datang menghampirinya.

"Mereka sudah bertemu Damar." Leonard tidak menoleh.

"Aku tahu."

"Langkah berikutnya?"

"Sudah waktunya." Leonard tersenyum tipis.

Leonard memutar tubuhnya perlahan, tatapannya terlihat dingin.

"Waktu untuk mempertemukan Rania dengan orang yang selama ini paling ingin menemuinya."

"Laras?" Pria itu terlihat bingung.

"Ya." Leonard mengangguk.

Senyum Leonard semakin lebar.

"Itulah yang kuinginkan."

.

.

.

Kembali ke rumah tua itu, suasana masih tegang. Bintang berdiri di samping Rania dan Damar berdiri beberapa langkah di depan mereka, sedangkan pria tua itu terlihat semakin gelisah.

"Aku akan membawa Rania menemui Laras," ucap Damar tiba-tiba.

"Tidak," jawab Bintang tegas.

"Kau tidak bisa menghentikanku." Damar mengangkat alis.

"Aku bisa."

"Kau yakin?"

"Aku tidak peduli siapa kau." Bintang menatapnya tajam.

"Aku juga tidak peduli siapa dirimu." Damar tersenyum tipis.

Ketegangan di antara keduanya langsung terasa. Rania memejamkan mata sejenak, kepalanya terasa pening namun sebelum siapa pun sempat berbicara lagi, suara mesin mobil terdengar dari luar lalu semakin banyak.

Rangga segera mengintip melalui jendela yang pecah dan wajahnya langsung berubah.

"Bintang."

"Ada apa?"

"Masalah besar." Rangga menelan ludah.

"Seberapa besar?"

"Leonard datang." Rangga perlahan menoleh.

Jantung semua orang seakan berhenti berdetak karena kali ini... Leonard tidak datang sendirian.

1
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya hari ini
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya dong torku
Glastor Roy
seru kali torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!