NovelToon NovelToon
Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Diandra, seorang CEO tangguh, dikhianati oleh adik tirinya sendiri dan didorong dari lantai delapan hingga koma. Namun, maut belum menjemputnya. Jiwa Diandra terbangun di dalam tubuh Gia, seorang siswi SMA yang tewas setelah disiksa dan dibunuh oleh kekasihnya, Ferdian, beserta geng perundungnya.

​Terjebak dalam identitas baru yang rapuh, Diandra bersumpah akan menuntut balas. Ia tidak hanya akan menghancurkan Ferdian di sekolah, tapi juga merancang kejatuhan adik tirinya yang kini mengincar nyawa Pratama, suaminya sendiri.

​Tantangan terbesar Diandra bukan hanya kemiskinan Gia, melainkan meyakinkan Pratama bahwa jiwa istrinya ada di dalam tubuh gadis remaja tersebut. Di tengah skeptisisme sang suami, Diandra harus berpacu dengan waktu sebelum rencana pembunuhan berikutnya merenggut satu-satunya orang yang ia cintai.

​"Gia mungkin sudah mati, tapi Diandra baru saja dimulai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Bip... Bip... Bip...

Di tengah keheningan ruang VIP yang hanya diisi oleh suara ketikan laptop dan dengung pelan mesin medis, sebuah pergerakan halus memecah konsentrasi Diandra.

Jemari besar yang sejak tadi digenggamnya erat mendadak memberikan remasan balik yang sangat lemah, namun nyata.

Diandra tersentak. Ia langsung menutup layar laptop militer di sampingnya dan menoleh cepat.

Kedua kelopak mata Pratama bergerak lambat, bergetar hebat sebelum akhirnya terbuka sedikit demi sedikit.

Netra elang yang selama beberapa hari ini meredup akibat koma, kini perlahan kembali menemukan fokusnya, menatap langsung ke arah langit-langit kamar sebelum bergulir ke samping—tepat ke arah Diandra.

Pratama melihat tangan istrinya yang masih agak kaku menari di atas papan ketik, keras kepala mengurus urusan korporasi dari atas ranjang pesakitan.

Sebuah senyuman yang teramat tipis dan letih terukir di sudut bibirnya yang kering di balik masker oksigen.

"Sayang... jangan... diforsir," gumam Pratama dengan suara yang sangat serak, pecah, dan nyaris tenggelam oleh deru napasnya sendiri.

Mendengar panggilan itu, pertahanan Diandra runtuh seketika.

Dadanya bergemuruh oleh rasa haru yang luar biasa dahsyat.

Air mata kebahagiaan langsung merebak di sudut matanya, menetes tanpa bisa ditahan.

Ia membawa punggung tangan Pratama ke bibirnya, mengecupnya berulang kali dengan tubuh yang gemetar.

"Mas... Alhamdulillah... Ya Allah, Mas Pratama..." isak Diandra, suaranya tercekat di tenggorokan.

"Kamu bangun, Mas. Kamu benar-benar kembali padaku."

Pratama hanya mampu mengedipkan matanya perlahan sebagai jawaban, tenaganya masih terlalu lemah untuk sekadar mengangguk.

Namun, binar mata pria itu memancarkan kelegaan yang amat sangat melihat wanita yang dicintainya kini telah kembali ke raga aslinya yang cantik dan utuh.

Sadar bahwa suaminya baru saja melewati masa kritis yang panjang, Diandra dengan cepat menghapus air matanya menggunakan tangan kiri.

Ia meraih tombol darurat (emergency button) yang tergantung di kepala ranjangnya, lalu menekannya berulang kali dengan tergesa-gesa.

"Dokter! Suster! Tolong ke sini sekarang! Suami saya sudah sadar!" seru Diandra memanggil dokter melalui interkom dinding dengan nada suara yang campur aduk antara panik dan bahagia luar biasa.

Hanya dalam hitungan detik, langkah kaki yang terburu-buru terdengar menggema di koridor luar.

Pintu kamar rawat VIP mereka didorong terbuka lebar, dan tim dokter spesialis beserta barisan perawat bergegas masuk dengan wajah penuh kesiagaan, siap memeriksa keajaiban berikutnya yang baru saja terjadi di ruangan itu.

Tim dokter dengan sigap melakukan serangkaian pemeriksaan neurologis dasar pada Pratama.

Senter medis kecil diarahkan ke kedua pupil matanya untuk memeriksa refleks cahaya, sementara dokter spesialis saraf mulai memberikan beberapa pertanyaan standar guna memastikan tidak ada trauma otak pasca-kritis.

"Pak Pratama, bisa Anda dengar suara saya? Tolong ikuti gerakan jari saya," tutur dokter dengan nada lembut namun fokus.

Pratama menganggukkan kepalanya perlahan, mengikuti instruksi medis itu dengan saksama meskipun kelopak matanya masih terasa berat.

"Bagus. Sekarang, apakah Anda tahu Anda sedang berada di mana? Dan, apakah Anda mengingat siapa nama Anda dan wanita yang berada di sebelah Anda?" tanya dokter lagi, bersiap mencatat jika ada indikasi disorientasi atau hilangnya memori jangka pendek.

Mendengar pertanyaan itu, Pratama mengalihkan tatapannya dari dokter langsung ke arah Diandra.

Sudut bibirnya yang pucat kembali terangkat, membentuk seulas senyuman tipis yang sarat akan kehangatan dan rasa cinta yang teramat dalam.

Pria itu meremas pelan jemari tangan Diandra yang sejak tadi digenggamnya, menyalurkan seluruh sisa kekuatannya.

"Saya tidak amnesia, Dok," ucap Pratama dengan suara yang serak dan parau, namun terdengar sangat tegas dan penuh kesadaran.

Ia menjeda kalimatnya sejenak, menatap lekat-lekat wajah Diandra yang kini merona merah dengan air mata yang masih menggenang di sudut matanya.

"Bagaimana mungkin saya bisa melupakan wanita ini? Istri saya, sangat cantik sekali. Dialah satu-satunya alasan saya memilih untuk bangun dan pulang kembali ke dunia ini."

Mendengar pujian spontan di depan tim medis, pipi Diandra seketika memanas.

Rasa haru dan bahagia yang membuncah di dalam dadanya membuat air matanya kembali luruh, namun kali ini diiringi oleh senyuman manis yang telah lama hilang.

Dokter dan para perawat di dalam ruangan itu saling berpandangan, lalu tersenyum lega.

"Fungsi kognitif dan memori jangka panjang pasien bekerja dengan sangat sempurna, Nyonya Diandra. Tidak ada tanda-tanda trauma otak. Pak Pratama benar-benar telah kembali secara utuh kepada Anda."

Diandra mendekatkan wajahnya, menempelkan keningnya pada pelipis Pratama yang masih terasa hangat oleh sisa peluh.

Genggaman tangan mereka kian mengerat, seolah-olah semen yang merekatkan dua jiwa ini telah mengering dan mengunci mereka dalam satu takdir yang utuh.

"Jangan tinggalkan aku lagi, Mas," bisik Diandra parau, menyuarakan ketakutan terdalam yang selama lima tahun ini menggerogoti jiwanya dalam kegelapan koma.

"Cukup beberapa waktu lalu kita terpisah oleh raga yang beku. Jangan pernah buat aku mengemis pada maut lagi."

Pratama menganggukkan kepalanya dengan perlahan namun penuh kemantapan. Matanya menatap Diandra dengan tatapan bersalah sekaligus penuh janji suci.

"Tidak akan, Sayang. Aku tidak akan pernah melepaskan tanganmu lagi."

Setelah tim medis selesai merapikan peralatan dan perlahan keluar dari ruangan untuk memberikan privasi, keheningan kembali merayap.

Pratama menatap sekeliling kamar VIP, menyadari bahwa ruangan ini hanya diisi oleh dirinya dan Diandra dalam raga aslinya.

Ingatannya mendadak melayang pada detik-detik mengerikan di gudang logistik tua itu.

Bayangan seorang gadis remaja dengan seragam yang kotor, yang menepuk pipinya dengan histeris dan memanggil namanya dengan suara parau, seketika melintas di benaknya.

Pratama menoleh ke arah Diandra, gurat kecemasan mendadak muncul di wajahnya yang pucat.

"Dimana Gia? Bagaimana keadaannya, Diandra?"

Mendengar nama Gia disebut, binar kebahagiaan di mata Diandra seketika meredup, digantikan oleh kabut duka yang teramat pekat.

Diandra menggelengkan kepalanya perlahan, menunduk dalam-dalam karena tidak sanggup menatap langsung sepasang netra suaminya.

"Gia, sudah tiada, Mas," ucap Diandra dengan suara yang bergetar menahan tangis.

Pratama tertegun, napasnya sempat tercekat di dada.

"Waktunya di dunia ini memang sudah habis sejak malam bajingan Ferdian memukul dan membuangnya ke sungai," lanjut Diandra, air matanya kembali menetes ke atas selimut.

"Raganya hanya bertahan untuk menampung jiwaku demi bisa menyelamatkanmu. Setelah rantai besimu terlepas dan jantungmu kembali berdetak di ambulans, raga Gia gagal merespons. Jiwanya memilih untuk pulang ke keabadian. Aku dan Papa sudah memakamkan Gia, Mas. Kami memakamkannya secara layak di tanah pemakaman eksklusif keluarga kita."

Mendengar kenyataan pahit itu, Pratama memejamkan matanya rapat-rapat.

Dadanya naik-turun menahan sesak yang mendalam.

Seorang gadis remaja yang tidak tahu-menahu tentang pusaran dendam korporasi mereka, harus kehilangan masa depannya demi menjadi martir bagi bersatunya kembali cinta mereka.

Satu titik air mata menetes melewati pelipis Pratama, membasahi bantal rumah sakit.

Pratama meneteskan air matanya, meratapi kepergian jiwa suci yang telah menukarkan sisa hidupnya demi kehidupan baru bagi dirinya dan Diandra.

"Terima kasih, Gia..." bisik Pratama dalam hati, suaranya bergetar penuh penghormatan terakhir.

"Pengorbananmu tidak akan pernah sia-sia."

1
Anne Soraya
lanjut
Tian Selli
lanjutannya mana ya
Tian Selli: judul nya apa?
total 2 replies
cici
seru kali smpek yg baca ikut panik tiap episode
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
my name is pho: iya kak 🥰
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjuttt
Asra
waah, makin menarik aja, next kak🙌💖
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Asra
semangat n ditunggu up nya lagi kak
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!