Adera mencintai Ezra selama dua tahun, tapi cintanya diremehkan dan ditolak mentah-mentah. Saat hatinya mati dan ia memilih fokus pada diri sendiri, Ezra justru menyesal dan panik.
Namun terlambat, karena kini hadir Damar pria yang jauh lebih sempurna yang ternyata adalah calon suaminya.
Akankah Damar mampu menghidupkan kembali rasa cinta Adera yang bertekad untuk tidak jatuh cinta lagi?
Simak kisah cinta mereka bertiga, di novel ini akan disuguhi komedi yang lucu agar tidak terlalu mengantuk ketika membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Sejak hari itu, sesuatu yang aneh dan tak wajar mulai terjadi di lorong-lorong rumah sakit.
Ezra, yang biasanya dikenal sangat dingin, tertutup, dan fokus penuh pada pekerjaannya, kini sering terlihat mondar-mandir tanpa tujuan jelas di dekat ruangan Adera. Dia sibuk mencari-cari alasan yang masuk akal hanya untuk bisa masuk dan melihat gadis itu walau hanya sebentar.
Mulai dari alasan klasik "memastikan obat diminum tepat waktu", "memeriksa ulang hasil lab", sampai alasan konyol seperti "ingin memastikan suhu ruangan cukup nyaman atau tidak".
Tapi sayangnya... setiap kali dia berhasil masuk ke dalam ruangan itu.
Respon Adera selalu sama persis. Datar. Dingin. Dan sangat sopan... hingga kesopanannya itu terasa begitu menyakitkan dan menusuk hati jauh lebih dalam daripada kemarahan.
Siang itu, Ezra memberanikan diri masuk membawa sekotak buah tangan mahal. Dia mencoba tersenyum ramah, berusaha sekuat tenaga mencairkan suasana yang sedari awal sudah membeku menjadi es batu.
“Adera, saya bawakan sedikit buah. Untuk tambahan vitamin biar cepat pulih,” ucap Ezra sembari meletakkan kotak itu dengan hati-hati di atas meja samping ranjang.
Adera yang sedang asyik membaca buku hanya melirik sekilas tanpa ada minat sedikit pun di matanya. Tatapannya hampa.
“Terima kasih, Dok. Tapi tolong taruh di situ saja. Nanti saya kasih ke Kakak saya atau dibagi ke perawat saja,” jawab Adera santai, matanya tak lepas dari halaman buku yang dibacanya, seolah Ezra hanyalah pengantar barang biasa.
Ezra terdiam kaku. Tangannya terulur ingin menyentuh bahu gadis itu, tapi urung dilakukan karena ingat betul bagaimana respon Adera sebelumnya yang menolak sentuhannya dengan kasar.
“Kamu… masih marah ya?” tanya Ezra pelan, suaranya terdengar tidak enak dan sangat canggung.
Adera akhirnya menutup bukunya perlahan. Dia menoleh, menatap Ezra dengan tatapan datar tanpa emosi.
“Dokter Ezra, saya sudah bilang berkali-kali. Saya tidak marah,” ucap Adera santai namun tegas.
“Marah itu berarti saya masih peduli, masih ada harapan. Tapi saat ini… perasaan saya sama sekali netral. Hampa.”
Adera tersenyum tipis. Senyum yang tak sampai ke mata. Senyum yang paling menyedihkan dan menakutkan untuk dilihat.
“Jadi jangan merasa bersalah atau apalah. Lakukan tugas Dokter seperti biasa. Jangan bikin suasana jadi canggung dan aneh,” tambah Adera dingin.
Ezra menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak sekali. Selama ini dia begitu sombong dan percaya diri. Dia mengira Adera akan selalu ada di sana, menunggunya dengan cinta yang tak bersyarat. Dia merasa aman karena tahu ada wanita yang begitu menyayanginya tanpa syarat.
Tapi sekarang…
Saat wanita itu benar-benar pergi dan tak lagi mempedulikannya, Ezra baru sadar betapa besar kekosongan yang diciptakan Adera di dalam hidupnya.
“Der…” Ezra mencoba pendekatan lain. Dia duduk di kursi yang biasa ditempati Denial, menatap Adera dalam-dalam. “Apa salah saya? Bilang sama saya. Biar saya perbaiki. Kita bisa kembali seperti dulu kan? Teman baik…”
Adera terkekeh pelan. Tawa yang terdengar begitu dingin dan menusuk di telinga Ezra.
“Kembali seperti dulu? Maksud Dokter… saat saya yang selalu ngejar-ngejar Dokter kemana-mana? Saat saya yang selalu cari topik biar Dokter mau ngobrol sedikit saja? Saat saya yang rela nunggu berjam-jam di lorong dingin cuma buat nemenin Dokter istirahat?” ucap Adera dengan nada yang penuh penekanan.
Gadis itu menggeleng pelan namun tegas.
“Maaf ya Dok, tapi saya sudah tidak mau jadi orang bodoh seperti itu lagi. Dulu saya lakukan semua itu karena saya pikir ada harapan. Tapi sekarang saya tahu kenyataannya. Jadi… tolong hormati keputusan saya untuk menjaga jarak.”
“Tapi saya tidak nyaman, Adera!” Ezra akhirnya meledak, suaranya meninggi sedikit karena frustrasi dan panik. “Saya tidak terbiasa kamu bersikap sedingin ini padaku! Selama ini kan kamu yang selalu…”
Ezra menghentikan ucapannya di tengah jalan. Dia sadar dia hampir mengatakan sesuatu yang konyol dan memalukan.
“Selalu apa, Dok?” potong Adera cepat, matanya mulai menatap tajam, memancarkan amarah yang selama ini ditahannya. “Selalu apa? Selalu ada? Selalu setia? Atau selalu mencintai Dokter tanpa Dokter harus membalas apa-apa? Hah! Dokter kira saya ini akan bodoh selamanya gitu? Lucu sekali anda ini.”
Setiap pertanyaan Adera seperti tamparan keras yang melukai ego Ezra yang tinggi.
“Kamu jahat juga ya kalau sudah begini,” bisik Ezra, wajahnya tampak kecewa dan terluka.
“Justru ini saya sedang baik, Dok,” jawab Adera tenang namun mematikan. “Saya sedang berusaha menyelamatkan sisa harga diri saya. Dan kalau menurut Dokter itu jahat… yasudah. Anggap saja saya memang jahat.”
Adera kembali membuka bukunya, memberikan kode yang sangat jelas bahwa pembicaraan ini sudah selesai dan tidak ada lagi yang perlu dibahas.
“Kalau Dokter sudah selesai bicara, silakan lanjut tugas. Jangan ganggu saya lagi,” ucap Adera ketus, jelas-jelas ingin mengusir.
Ezra terpaku. Dia benar-benar tak berdaya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasakan pedihnya kehilangan sesuatu yang sebenarnya sudah ada di genggamannya, tapi dia biarkan pergi karena kesombongan sendiri.
Penyesalan itu datang… tapi sayangnya, datang terlambat. Karena hati Adera kini sudah berubah menjadi tembok baja yang tak bisa ditembus lagi.
Di luar pintu, ternyata Denial sudah berdiri cukup lama mendengar seluruh percakapan itu dari celah pintu yang terbuka sedikit.
Bibir pria itu tersenyum tipis, penuh kepuasan.
“Bagus, Der. Bagus…” batin Denial berteriak puas. “Akhirnya lo bisa liat gimana rasanya, Zra. Rasanya dicuekin, rasanya dianggap angin lalu. Jangan harap adek gue bakal melirik lo lagi. Lo udah hancurin semuanya.” gumam Denial dalam hati.
Hari berganti hari. Kondisi fisik Adera semakin membaik. Tubuhnya sudah tidak separah dulu, tapi yang paling berubah drastis adalah auranya.
Adera sekarang terlihat lebih tenang, lebih dewasa, dan… jauh lebih dingin dari sebelumnya.
Dia tidak lagi mencari-cari keberadaan Ezra. Dia tidak lagi menunggu berjam-jam di depan ruang dokter. Bahkan jika berpapasan di koridor, Adera hanya akan menunduk sopan atau sekadar lewat begitu saja, seolah Ezra adalah tembok tak bernyawa yang tidak penting.
Sikapnya itu membuat Ezra semakin gelisah dan gila. Setiap kali melihat punggung Adera yang menjauh, dada pria itu terasa sesak dan sakit. Dia ingin memanggil, ingin menghentikan, tapi kata-kata Adera tempo hari terus terngiang di telinganya:
"Anggap kita tidak pernah kenal."
Siang itu, jadwal pemeriksaan rutin.
Adera duduk bersandar di ranjang, sedang mendengarkan musik dengan earphone, wajahnya santai tanpa beban, damai sekali.
Pintu terbuka.
“Permisi, saya masuk untuk memeriksa kondisi pasien.”
Suara itu... bukan suara Ezra.
Adera melepas earphone-nya perlahan, lalu menoleh dengan wajah datar.
Di ambang pintu berdiri seorang pria. Tidak mengenakan jas laboratorium tebal, hanya menggunakan kemeja putih dengan jas dokter tipis yang membuatnya terlihat sangat bersih, rapi, dan hangat.
Wajahnya tampan dengan senyum yang sangat ramah dan tulus, berbeda jauh dengan Ezra yang biasanya kaku dan angkuh.
“Oh, maaf… Anda dokter piket hari ini ya? Dokter Ezra tidak bertugas hari ini?” tanya Adera santai, tanpa rasa penasaran sedikitpun.
Pria itu tertawa kecil, suara tawanya renyah dan membuat suasana ruangan jadi lebih cerah seketika.
“Saya dokter pengganti untuk hari ini. Nama saya Dr. Candra Gupta. Boleh panggil Dokter Candra saja,” jawabnya ramah.
“Wah, Pasti nama anda terinspirasi dari film India yang berjudul Asoka ya?” canda Adera spontan, membuat suasana langsung cair.
“Hah? Mungkin saja, hehehe. Emang suka nonton series India ya kok sehafal itu?” tanya Dokter Candra sambil tertawa lepas.
“Emm, enggak juga sih. Pernah denger aja sekilas,” jawab Adera sedikit tersipu, tapi senyumnya tetap terlihat.
Dokter Candra berjalan mendekat dengan langkah santai namun tetap profesional. Dia membawa berkas rekam medis, lalu menarik kursi dan duduk dengan posisi yang sangat nyaman, tidak terlalu dekat tapi juga tidak menjauh.
“Jadi… kamu Nona Adera ya? Saya sudah baca rekam medisnya. Kondisinya sudah jauh lebih baik dibanding saat masuk dulu. Bagus sekali,” ucap Candra ramah.
Adera hanya mengangguk kecil. “Iya Dok, terima kasih.”
Dia bersiap untuk diam dan kaku seperti biasa saat diperiksa. Tapi Dokter Candra benar-benar berbeda.
“Sambil saya periksa, boleh ngobrol santai saja kok. Jangan tegang,” kata Candra sambil menyiapkan alat tensi dengan gerakan tangan yang rapi dan cepat. “Saya tahu rasanya dirawat di sini pasti bosan setengah mati. Jadi jangan kaku ya, anggap aja lagi ngobrol sama teman.”
Adera sedikit terkejut dan tersentuh.
Biasanya Ezra akan memeriksa dengan wajah datar, dingin, dan hanya bicara seperlunya saja, membuat suasana mencekam. Tapi pria di depannya ini… benar-benar membuatnya merasa nyaman dan dihargai.
“Tensi nya bagus. Nadi juga stabil,” ujar Candra sambil mencatat, lalu dia tersenyum lebar menatap Adera. “Nah, sekarang coba liat ke sini. Buka mulutnya sedikit, saya cek tenggorokannya ya.”
Adera menurut dengan tenang. Saat Candra memeriksa, dia tidak menyentuh sembarangan. Tangannya sangat hati-hati, dan tatapannya fokus penuh pada pekerjaannya, tidak ada tatapan menggoda atau aneh-aneh. Benar-benar profesional namun hangat.
“Semuanya sudah sembuh kok. Tinggal istirahat total saja dan perbaiki nutrisinya,” kata Dokter Candra ceria.
“Makasih Dok,” jawab Adera, kali ini suaranya lebih lembut dan tulus. Tidak dingin seperti saat bicara pada Ezra.
“Sama-sama. Oh iya, kalau ada apa-apa atau merasa kesepian, bisa panggil saya. Ruangan saya ada di seberang sana kok,” Candra menunjuk arah dengan dagunya, masih dengan senyum manisnya. “Atau kalau mau ditemani ngobrol, saya juga siap. Asal jangan pas saya lagi operasi ya, hehehe.”
Adera tanpa sadar ikut tersenyum lebar. Senyum yang tulus, senyum yang sudah lama hilang.
“Iya Dok. Nanti kalau bosan saya panggil,” jawab Adera ceria.
“Siap! Oke kalau begitu saya permisi dulu ya. Istirahat yang cukup, Nona Adera.”
Candra melambaikan tangan santai lalu keluar dari ruangan dengan langkah ringan dan bahagia.
Meninggalkan Adera yang terdiam memandangi pintu.
Hati Adera terasa sedikit lebih hangat. Tidak ada debaran gila dan deg-degan tidak karuan seperti dulu saat melihat Ezra, tapi ada perasaan tenang, nyaman, dan damai yang asing namun sangat menyenangkan.
Di luar pintu, ternyata Ezra baru saja mau masuk membawa obat.
Langkahnya terhenti mendadak saat melihat Candra keluar dari ruangan Adera dengan wajah ceria dan berseri-seri.
“Wah, pasien lo asik juga ya Zra! Cantik, sopan, dan ramah banget,” celoteh Dokter Candra sambil menepuk bahu Ezra tanpa tahu hubungan rumit dan rumit di antara mereka. “Gue jadi pengen sering ganti shift deh kalau pasiennya gini.”
Ezra tidak menjawab sepatah kata pun.
Wajahnya mengeras, rahangnya mengencang. Tangannya mengepal kuat di samping tubuhnya sampai buku-buku jarinya memutih.
Dadanya terasa panas, terbakar oleh api cemburu yang luar biasa.
" Adera terlihat nyaman mengobrol dengan Candra?". batin Ezra.
Melihat Adera tersenyum lebar, tertawa, dan terlihat begitu nyaman… dengan orang lain.
Rasa cemburu itu membakar habis dadanya.
Ezra menatap pintu ruangan itu dengan tatapan penuh kebencian dan ketidakrelaan.
Angin baru memang datang. Angin yang membawa kehangatan bagi Adera.
Tapi bagi Ezra, angin itu terasa sangat menyakitkan, sangat dingin, dan mematikan.