NovelToon NovelToon
Lencana Cinta Sang Kapten

Lencana Cinta Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Militer
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Adeeva Zamira Arjunka tidak pernah menyangka bahwa sifat pemberontaknya justru menjadi alasan ia terjebak dalam pernikahan militer. Seharusnya, Kak Adiba—kembarannya yang sholehah dan lembut—lah yang bersanding dengan Kapten Shaheer Ali. Namun, sang perwira pasukan khusus itu secara mengejutkan justru menjatuhkan pilihan pada Adeeva, si gadis keras kepala yang terang-terangan membenci dunia militer.
Terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Adeeva masuk ke kehidupan Shaheer dengan dendam dan penolakan. Baginya, lencana dan seragam hijau Shaheer adalah simbol pengekangan. Namun, perjalanan takdir adiba ke tanah Mesir dan kehadiran buah hati di balik pagar pinus perlahan mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di balik pintu kenangan

Malam jatuh dengan tenang di Pondok Al-Arjun. Suara lantunan selawat dari asrama santri terdengar sayup-sayup, menjadi latar belakang sunyi bagi rumah utama yang kini terasa lebih hangat setelah ketegangan di ruang tamu mereda.

Karena malam sudah terlalu larut untuk kembali ke asrama, Umi bersikeras agar mereka menginap. Adeeva membawa Shaheer menuju kamarnya—ruangan yang selama sembilan belas tahun menjadi saksi bisu air mata dan pemberontakannya.

Begitu pintu dibuka, aroma kayu manis dan kertas tua menyambut mereka. Kamar itu masih sama: rak buku yang penuh dengan majalah desain tersembunyi di balik kitab-kitab, dan sebuah meja gambar tua di sudut jendela.

"Selamat datang di 'penjara' lamaku, Kapten," bisik Adeeva sambil meletakkan tasnya.

Shaheer melangkah masuk, memperhatikan seisi ruangan. Matanya tertuju pada sebuah foto kecil yang terselip di pinggiran cermin—foto Adeeva dan Adiba saat masih sangat kecil, mengenakan mukena yang kebesaran.

"Ruangan ini tidak terasa seperti penjara bagiku," sahut Shaheer. Ia duduk di pinggir ranjang kayu yang ditutupi seprai bunga-bunga lusuh namun bersih. "Ruangan ini terasa seperti tempat seorang gadis hebat tumbuh."

Adeeva duduk di kursi meja gambarnya, memutar tubuh menghadap Shaheer. "Dulu, aku selalu bermimpi bisa keluar dari kamar ini dan tidak pernah kembali. Aku merasa Abi menaruh beban seluruh dunia di pundakku hanya karena aku lahir di sini."

Shaheer menepuk sisi ranjang di sampingnya, memberi isyarat agar Adeeva mendekat. Begitu Adeeva duduk, Shaheer merangkul bahunya.

"Sekarang kamu kembali sebagai istriku. Beban itu tidak lagi kamu pikul sendiri," ujar Shaheer. Ia mengecup kening Adeeva perlahan.

Suasana di kamar masa kecil itu terasa jauh lebih intim dibandingkan kamar hotel di Kairo. Di sini, di bawah atap rumah ayahnya, Adeeva merasa benar-benar telah menyerahkan hatinya. Tidak ada lagi jarak yang sengaja dibuat. Tidak ada lagi bantal pembatas di tengah ranjang.

Saat mereka bersiap untuk tidur, Adeeva merasa sedikit canggung. Ini adalah pertama kalinya ia berbagi ranjang sempit masa kecilnya dengan pria sebesar Shaheer. Ranjang yang biasanya terasa luas bagi Adeeva, kini tampak penuh dengan keberadaan suaminya.

"Ranjangnya kecil sekali untukmu, ya?" Adeeva berbisik saat mereka sudah berbaring bersisian.

Shaheer menarik selimut untuk menutupi mereka berdua. Ia berbaring miring, menopang kepalanya dengan satu tangan sambil menatap Adeeva. "Aku sudah bilang, aku bisa tidur di mana saja. Tapi tidur di sini, di sampingmu, di rumah tempat kamu dibesarkan... rasanya sangat istimewa."

Adeeva tersenyum, lalu menyusup ke dalam dekapan Shaheer. Ia memejamkan mata, mendengarkan detak jantung Shaheer yang menyatu dengan kesunyian malam pondok.

"Shaheer..."

"Ya?"

"Terima kasih sudah membela Kak Adiba tadi. Kalau bukan karena kamu, mungkin Abi sudah memutuskan hubungan dengan kami semua."

Shaheer mengusap punggung Adeeva dengan gerakan teratur. "Keluargamu adalah keluargaku juga, Deeva. Menjaga kebahagiaan Adiba berarti menjaga senyummu juga."

Malam itu, di kamar yang dulu penuh dengan keputusasaan, Adeeva akhirnya menemukan kedamaian yang sesungguhnya. Ia tertidur lelap di pelukan suaminya, tidak lagi merasa seperti gadis yang terperangkap, melainkan wanita yang telah menemukan pelabuhannya.

Di ruang tengah, Abi masih terduduk diam, menatap dokumen yang ditinggalkan Shaheer. Umi menghampirinya, meletakkan secangkir teh hangat.

"Bah," panggil Umi lembut. "Lihatlah Adeeva. Dia berubah sejak bersama Shaheer. Dia lebih tenang, lebih dewasa. Tidakkah itu cukup bagi kita untuk percaya bahwa pilihan anak-anak kita tidak selalu salah?"

Abi menghela napas panjang, sebuah embusan napas yang terdengar seperti pelepasan beban berat. "Shaheer pria yang baik. Sangat baik. Mungkin... aku memang harus mulai belajar melepaskan genggamanku."

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Fauziah Rahma
👍
Ana
lbjut
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor moga konfliknya nggak trllau berat 😍😍😍
Ana
lnjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!