Keinginan untuk menuntut ilmu di tempat terbaik membawa Elara, siswa berprestasi, menjejakkan kaki di Hantage School Academy—sekolah elit yang megah namun menyimpan aura dingin dan misterius. Berkat beasiswa penuh, ia merasa beruntung bisa bersekolah di sana, namun kebahagiaan itu segera berganti dengan ketakutan. Sejak hari pertama, Elara kerap mengalami hal-hal tak wajar: bisikan-bisikan tak kasat mata, bayangan gelap, dan kejadian mengerikan yang seolah menargetkan dirinya.
Bersama tiga sahabat barunya, Elara mulai menyelidiki asal-usul teror yang terjadi. Jejak demi jejak membawa mereka pada rahasia kelam masa lalu sekolah tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mustaqimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5-Penampakan Sosok Mengerikan
Jam pelajaran Matematika akhirnya usai. Suara bel istirahat berbunyi nyaring menandakan waktu makan siang telah tiba. Suasana kelas yang tadinya hening dan serius, seketika berubah menjadi riuh rendah. Murid-murid mulai berkemas, menyimpan buku, dan beranjak keluar dari kelas menuju tempat tujuan masing-masing.
"El! Elara!" panggil Keisha semangat sambil mengemasi tasnya. "Ayo ke kantin yuk! Perut aku udah keroncongan banget nih. Lagian kan kamu belum tahu dimana letak kantinnya, kan? Aku temenin ya!"
Elara tersenyum lebar melihat antusiasme sahabat barunya itu. "Ayo dong! Kebetulan aku juga laper banget. Ayo berangkat."
Mereka berdua pun bergandengan tangan meninggalkan kelas XII - Scientiae Magister dan berjalan menyusuri koridor yang luas menuju area kantin sekolah.
Sesampainya di sana, mata Elara takjub melihat kemewahan dan keluasannya. Kantin Hantage School Academy benar-benar berbeda dengan sekolah biasa. Lantainya mengkilap, langit-langitnya tinggi, dan tersedia berbagai stand makanan yang tertata rapi seperti di mal mewah. Ada yang menjual steak, pasta, sushi, hingga makanan tradisional dengan tampilan premium.
"Wah... mewah banget ya kantinnya, Kei," gumam Elara takjub.
"Iya dong, kan sekolah elit," jawab Keisha bangga. "Yuk kita pilih mau makan apa. Banyak banget pilihannya di sini, semua enak kok."
Mereka berjalan mendekati salah satu stand yang paling ramai. Elara melihat-lihat daftar menu yang terpampang di papan tulis. Namun, saat melihat angkanya, jantungnya sedikit berdebar.
'Wah... harganya selangit ya. Satu piring nasi goreng aja harganya bisa buat makan sehari di tempat biasa.'
Dengan ragu, Elara pelan-pelan mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi m-banking. Ia ingin mengecek sisa saldo yang ada.
Ting...
Layar ponsel menyala. Angka yang tertera membuat Elara menghela napas panjang. Saldo yang tersisa tinggal sedikit, cukup untuk keperluan darurat saja, tidak mungkin cukup untuk membeli makanan mewah di sini setiap hari.
"El, kamu mau pesan apa? Mau yang ayam panggang atau steak?" tanya Keisha yang sudah siap memesan.
Melihat harga yang tertulis dan mengingat saldonya, Elara buru-buru menutup ponselnya dan mencoba tersenyum santai.
"Eh... kayaknya aku nggak jadi pesan makanan deh, Kei," jawab Elara pelan.
"Hah? Kenapa? Kamu nggak laper?" tanya Keisha bingung sambil menoleh.
"Bukan gitu..." Elara menunduk sedikit, memainkan jarinya. "Makanan di sini mahal semua Kei. Lumayan banget harganya. Aku... aku nggak mau boros. Mungkin nanti aku beli roti yang murah aja atau tahan lapar sampai pulang."
Mendengar itu, wajah Keisha langsung berubah menjadi sedih, lalu ia langsung menepuk bahu Elara pelan.
"Ih apaan sih! Masa sahabat aku kelaparan cuma gara-gara hal kayak gini!" kata Keisha tegas tapi lembut. "Udah sana pesan aja apa yang kamu mau! Makanan sama minumnya nanti aku yang bayarin! Gak usah mikirin uang!"
"Jangan dong Kei, nanti aku jadi ngerasa ngerepotin kamu terus," tolak Elara halus. "Gak enak lho."
"Ah elah, gak papa kali!" potong Keisha sambil tersenyum lebar. "Kan kita udah sahabatan sekarang! Sahabat itu harus saling bantu dan saling jajanin! Lagian aku juga punya uang kok, orang tua aku kasih jajan banyak. Anggap aja ini traktiran pertemanan kita ya!"
Elara tersentuh mendengar ucapan Keisha. Hatinya terasa hangat. Di tempat asing ini, ia merasa sangat beruntung punya teman sebaik Keisha.
"Yaudah deh... makasih banyak ya Kei, kamu emang terbaik," ucap Elara tulus.
"Santai aja! Nah, kamu mau pesan yang mana nih?" tanya Keisha lagi.
"Aku ikutin kamu deh, kamu pesan apa aku juga itu," jawab Elara pasrah dan senang.
"Oke sip! Ditunggu ya!"
Keisha pun langsung berbalik menghadapi penjaga stand. "Mas, saya pesan dua paket spesial ya! Satu steak ayam sama saus jamur, sama satu lagi nasi goreng seafood. Minumnya dua es teh manis jumbo ya!"
"Baik kak, ditunggu sebentar ya," jawab pelayan stand itu sigap dan ramah.
Tidak butuh waktu lama, makanan pun siap. Disajikan di atas nampan berwarna perak, terlihat sangat mewah dan menggugah selera. Potongan daging yang besar, sayuran segar, dan minuman dingin yang segar.
"Makasih ya Mas," ucap Keisha sambil membayar.
Kemudian mereka berdua mencari tempat duduk yang kosong dan agak tenang di sudut kantin. Mereka pun duduk berhadapan, siap untuk menikmati makan siang pertama mereka bersama.
Suasana di meja mereka terasa sangat hangat dan menyenangkan. Elara menyantap makanannya dengan lahap, matanya berbinar-binar menikmati setiap suapan.
"Wah, masakan kantin sini enak banget ya Kei. Rasanya premium banget, gak nyangka," ucap Elara sambil mengunyah dengan senang.
"Iya kan? Emang makanan di sini jaminan enak semua, walau harganya emang agak 'menyakitkan' dikit," jawab Keisha sambil tertawa kecil. "Makan yang banyak ya El, biar kuat."
Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Aura di sekitar mereka tiba-tiba berubah menjadi dingin dan mencekam. Tiga sosok dengan gaya berjalan yang sangat sombong dan angkuh datang menghampiri meja mereka.
Tentu saja mereka adalah Beauty Girls—Valerie, Selena, dan Clarissa.
Valerie berhenti tepat di samping meja, menatap piring makan Elara dengan tatapan jijik dan mencibir.
"Aduh... aduhhh..." seru Valerie dengan nada yang dibuat-buat dan sangat menyebalkan. "Lahap banget sih makannya mulutnya. Pasti seumur hidup lo gak pernah nyicip makanan seenak dan semewah ini kan? Makanya pas dimentorin sama orang kaya, langsung lahap banget kayak orang kelaparan setahun."
Selena langsung menyahut dengan tawa jahat, "Iya banget Val. Namanya juga kan anak desa yang baru naik kelas. Mana pernah sih dia makan pake piring cantik gini, biasanya kan makan pake daun pisang atau piring plastik."
Mendengar hinaan itu, darah Keisha langsung mendidih. Ia langsung berdiri membela sahabatnya.
"HEH VALERIE! KAMU JANGAN KURANG AJAR DONG SAMA TEMEN AKU!" bentak Keisha keras. "Dia makan apa aja urusan dia, ngapain lo pada ikut campur dan ngehina gitu?!"
Valerie menoleh tajam ke arah Keisha, lalu melotot, "DIAM LO! JANGAN IKUT CAMPUR! URUSAN GUE SAMA DIA, BUKAN SAMA LO!"
Keisha masih ingin membalas dengan kata-kata yang lebih tajam, namun tiba-tiba tangan Elara menahan lengan Keisha pelan namun tegas. Elara menggeleng pelan memberi kode untuk tenang.
Dengan langkah yang tenang dan penuh wibawa, Elara pun berdiri dari tempat duduknya. Ia menatap mata Valerie lurus-lurus tanpa rasa takut sedikitpun.
"Kami lagi makan, Val," ucap Elara dengan suara rendah namun tegas. "Kalau mau makan ya makan, cari tempat sendiri. Jangan cari gara-gara dan bikin suasana jadi rusuh cuma karena iri."
Wajah Valerie terlihat kaget, tidak menyangka gadis baru ini berani menatap matanya. Ia lalu terkekeh sinis.
"Wahhh... berani banget ya lo ngomong gitu sama gue? Baru masuk sehari udah merasa hebat dan merasa paling benar?" Valerie mendekatkan wajahnya, menatap Elara dengan tajam. "Ingat baik-baik ya Elara, di sekolah ini GUE yang paling berkuasa! Gue ratunya di sini! Lo itu cuma kutu kecil yang numpang hidup pake beasiswa murahan! Gak ada harga dirinya!"
Elara tidak bergeming. Ia justru tersenyum miring, lalu membalas dengan kalimat yang mematikan.
"Aku numpang belajar pake otak dan usaha sendiri, bukan pake uang orang tua kayak kamu yang cuma bisa numpang nama," jawab Elara dingin. "Daripada kamu sibuk ngurusin hidup aku dan ngabisin waktu cuma buat ngehina orang, mending kamu urusin aja hidup kamu sendiri yang kosong melompong dan hobi nyiksa orang lain."
JEDER!
Kata-kata Elara tepat sasaran menghantam harga diri Valerie. Wajah Valerie langsung memerah padam menahan amarah yang meledak-ledak. Selena dan Clarissa pun ternganga lebar, tak percaya ada orang yang berani melawan Valerie sejauh ini.
"BERANI KAMU YA?!!" teriak Valerie histeris. "LO PIKIR LO SIAPA HAH?! CANTIK DIKIT SOMBONG BANGET SIKAPNYA! GUE HANCURIN MUKA LO YA SEKARANG JUGA?!"
Dengan penuh emosi, Valerie langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Ia siap menampar wajah Elara dengan keras. Keisha sudah siap mau menahan, tapi semuanya terjadi begitu cepat.
Namun... tepat di detik itu juga, mata Elara yang tadinya menatap Valerie, tiba-tiba menangkap sesuatu di balik bahu Valerie.
Pandangan Elara terpaku. Jantungnya seakan berhenti berdetak.
Di sana, tepat berdiri di belakang Valerie, terlihat jelas sosok yang membuat bulu kuduknya meremang seketika.
Seorang wanita mengenakan gaun panjang kuno berwarna putih yang kini sudah berubah menjadi merah gelap pekat, penuh dengan noda darah yang segar. Rambutnya hitam panjang, berantakan, dan menjuntai menutupi seluruh wajahnya hingga tidak terlihat bentuk mukanya sama sekali.
Wanita itu berdiri tegak, posisinya menunduk sedikit, seolah sedang menatap punggung Valerie dengan penuh kebencian dan dendam yang sangat dalam. Aura mengerikan itu terasa begitu nyata dan dingin, membuat udara di sekitar mereka seakan membeku.
Melihat sosok menyeramkan itu berdiri begitu dekat, ketahanan mental Elara runtuh seketika. Teriakan histeris meledak dari mulutnya.
"AAAAAAARRGGHH!! DI BELAKANG KAMU! ADA WANITA BERDARAH ITU! DI BELAKANG KAMU!!"
Suara teriakan Elara begitu nyaring dan panik hingga menggema ke seluruh penjuru kantin.
Semua orang yang sedang makan langsung berhenti dan menoleh kaget. Suasana kantin yang tadinya ramai seketika menjadi hening total.
Valerie, Selena, dan Clarissa sontak melompat kaget. Jantung mereka seakan copot.
"APA?! MANA?! MANA HANTUNYA?!" teriak Selena panik bukan main, wajahnya langsung pucat pasi dan ia memeluk lengan Clarissa erat-erat. "JANGAN NAKUTIN GUE ELARA! GUE TAKUT SAMA YANG GELAP! JANGAN DEKAT-DEKAT!"
Mereka bertiga buru-buru menoleh ke belakang dengan cepat, mata mereka melirik ke kanan-kiri mencari sumber bahaya.
Tapi...
Hening. Kosong.
Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya dinding kosong dan lantai keramik yang bersih. Tidak ada sosok wanita berdarah, tidak ada apa-apa.
Menyadari tidak ada apa-apa di belakangnya, kemarahan Valerie kembali meledak, kali ini lebih besar dari sebelumnya.
"LO GILA YA HAH?!" bentak Valerie sambil memukul meja. "MANA ADA HANTU! LO PIKIR GUE BODOH YA?! LO MAU NGERJAIN GUE DIDEPAN BANYAK ORANG GITU?! SINI LO! GUE BAKAL PUKUL MUKA LO SAMPAI BENGKAK!"
Tidak peduli lagi dengan citra cantiknya, Valerie melangkah maju dengan amarah yang memuncak. Ia ingin sekali menyerang dan memukul Elara saat itu juga.
Namun...
BYUR! JLEB!
Tiba-tiba, tanpa ada satu pun orang yang menyentuh atau mendorongnya, kaki kanan Valerie yang memakai heels tinggi itu tersandung sesuatu yang tak terlihat. Seolah-olah ada kaki tak kasat mata yang sengaja menjegalnya.
Pergelangan kakinya terpelintir keras ke samping.
"AAAAADUH!! KAKI GUE!! SAKIT BANGET!!"
Valerie berteriak kesakitan. Keseimbangannya hilang total. Tubuhnya yang tinggi menjulur itu terhuyung-huyung tak berdaya.
BRAKK!!
Dengan suara keras, Valerie jatuh tersungkur tepat ke lantai keramik yang keras dan dingin. Wajahnya hampir mencium lantai.
Lebih parahnya lagi, guncangan itu membuat nampan makanan milik Keisha dan Elara yang ada di meja ikut terguling dan jatuh tepat menimpa tubuh Valerie.
BYURRR!!
Nasi putih, kuah kari yang berwarna kecokelatan, dan potongan sayuran tumpah ruah membasahi seragam sekolah mahal milik Valerie. Seragam putih abu-abu itu kini kotor penuh noda, bahkan kuahnya sampai memercik ke wajah dan rambut indahnya.
Wajah cantiknya kini tertutup noda kuah, membuatnya terlihat sangat lucu dan menyedihkan.
Suasana hening sejenak... lalu...
"HAHAHAHAHAHAHAHA!!!"
Tawa meledak serentak dari seluruh penjuru kantin. Semua murid menertawakan Valerie tanpa ampun.
"Wih jatoh sendiri! Koplak banget sih!"
"Hahaha lihat tuh bajunya! Jadi seragam perang!"
"Sombong-sombong eh jatohnya konyol banget! Hahaha!"
Valerie memukul-mukul lantai karena marah dan malu. Ia ingin bangun tapi kakinya terasa sangat sakit.
Di sisi lain, Elara berdiri terpaku memandangi kejadian itu. Matanya terbelalak bingung.
'Kenapa... kenapa dia bisa jatuh sendiri? Apa... apa tadi sosok itu yang menolong aku?' batin Elara bertanya-tanya, merasa ngeri sekaligus heran.
Melihat Valerie terkapar di lantai dengan penampilan yang berantakan, Selena dan Clarissa buru-buru mendekat dan membantunya berdiri.
"Aduh Val... sini gue bantu bangun," kata Clarissa sambil menarik lengan Valerie. "Val, lo gak papa kan? Kaki lo bengkak gini nih."
Valerie menepis kasar tangan Clarissa, lalu memandang dirinya sendiri dengan ngeri. Baju seragamnya kotor penuh noda kuah, rambutnya berantakan, dan wajahnya pun belepotan.
"Gimana gak papa?! Nih lihat keadaan gue! Hancur semua! Bajunya kotor, rambut gue juga becek!" teriak Valerie histeris sambil membersihkan noda di bajunya dengan kasar tapi tidak berhasil.
Suara tawa dari murid-murid lain masih terdengar memekakkan telinga. Mereka menunjuk-nunjuk dan berbisik-bisik mengejek itu membuat amarah Valerie memuncak lagi.
"KALIAN DIAM SEMUA!!" teriak Valerie setengah berteriak, suaranya melengking tinggi memotong suara tawa itu. Wajahnya merah padam menahan malu yang luar biasa.
Seketika suasana menjadi agak hening, meski masih ada yang menyeringai.
Valerie menatap tajam ke arah Elara. Tatapannya penuh kebencian, dendam, dan murka yang tak terlukiskan. Matanya seakan ingin melukai Elara hanya dengan pandangan.
"Gue gak terima..." desis Valerie pelan tapi penuh ancaman. "Lo pikir menang gitu doang? Lo pikir ini selesai? Lo tunggu aja ya Elara... Gue janji demi nama keluarga Halim, gue bakal bikin hidup lo di sekolah ini jadi neraka banget. Lo bakal nyesel pernah lahir dan masuk ke sini! Gue bakal balas semuanya berkali-kali lipat!"
Tanpa menunggu jawaban, Valerie pun berjalan tertatih-tatih, dibantu oleh Selena dan Clarissa, meninggalkan kantin di tengah rasa malunya sendiri, sementara bisik-bisik dan tawa kecil masih terus mengiringi kepergian mereka.
Setelah 'badai' itu berlalu, suasana di kantin perlahan mulai kembali normal. Murid-murid kembali menyantap makanannya, meski topik pembicaraan mereka masih seputar kejadian dramatis tadi.
Keisha langsung memegang tangan Elara yang terlihat masih sedikit kaku dan pucat.
"El... kamu gak papa kan?" tanya Keisha cemas sambil menatap wajah sahabatnya. "Tadi kamu keren banget sih berani lawan Valerie, tapi aku sempet takut juga lho."
Elara menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya. "Aku gak papa kok Kei, tenang aja."
"Eh tapi..." Keisha mendekatkan wajahnya, berbisik pelan. "Tadi kamu beneran liat hantu di belakang Valerie? Kok bisa sih tiba-tiba dia jatoh gitu?"
Elara menatap Keisha serius, lalu menjawab dengan jujur. "Kei... aku beneran liat kok. Di belakang Valerie tadi, aku liat ada sosok wanita. Dia pake baju gaun panjang kuno warna putih, tapi bajunya penuh darah... banyak banget darah yang netes-netes. Rambutnya panjang banget nutupin muka, dan dia natap Valerie itu lho... tatapannya penuh banget sama dendam dan kebencian."
Mendengar deskripsi itu, Keisha sedikit merinding dan mengucek lengannya.
"Jujur ya El..." jawab Keisha pelan. "Sebenernya sih aku emang sering denger cerita orang-orang atau legenda kalau sekolah ini angker banget. Banyak yang bilang sering ada penampakan cewek baju putih berdarah, suara tangisan, atau langkah kaki di lorong kosong. Tapi kan selama ini aku kira itu cuma mitos doang! Cuma cerita buat nakutin anak baru!"
Keisha menggeleng, berusaha bersikap optimis. "Aku sendiri udah bertahun-tahun sekolah sini, gak pernah liat apa-apa kok. Mungkin... mungkin tadi kamu salah lihat."
Elara terdiam sejenak, menatap lantai keramik itu. Ia tahu betul apa yang dilihatnya bukan halusinasi, rasanya terlalu nyata. Tapi melihat Keisha yang berusaha menenangkannya, Elara pun mengangguk pelan.
"Iya juga sih Kei..." jawab Elara lemah. "Mungkin aku cuma salah liat aja karena lagi panik."
Meski berkata begitu, rasa dingin yang merayap di tulang punggungnya tadi masih terasa sangat jelas dan mengerikan.
"Nah kan! Udah ah jangan dipikirin!" seru Keisha ceria kembali, mencoba mencairkan suasana. "Mending lanjutin makan dulu, nanti dingin lho rasanya."
Tapi perut Elara rasanya sudah tidak enak dan mual. Selera makannya hilang seketika digantikan oleh rasa takut dan cemas. Jantungnya juga masih belum tenang.
"Kei..." panggil Elara pelan. "Aku mau ke toilet sebentar ya. Pengen cuci muka biar agak segeran dikit, kepala aku pusing dikit."
"Oh, oke siap!" jawab Keisha sigap. "Atau mau aku temenin aja? Biar kamu gak takut sendirian."
"Nggak usah Kei, kamu makan aja," tolak Elara halus sambil tersenyum tipis. "Aku bisa pergi sendiri kok. Nanti aku bakal ikutin petunjuk di dinding atau tanya satpam. Gak bakal nyasar kok."
"Oke deh. Hati-hati ya El! Jangan kelamaan, cepet balik!" pesan Keisha.
"Iya siap."
Elara pun segera berdiri dari kursinya, merapikan bajunya sedikit, lalu berjalan meninggalkan kantin yang ramai itu, menuju lorong-lorong sekolah yang mulai terasa lebih sepi dan menyeramkan.