Di tahun 2030, hujan darah mengubah dunia menjadi neraka penuh monster.
Yara mati tragis… namun terbangun kembali lima bulan sebelum kiamat di tubuh seorang wanita gemuk bernama Elara Quizel, istri presedir yang tak dicintai.
Dengan bantuan Sistem NOX, ia diberi kesempatan kedua untuk mengubah takdirnya.
Dari wanita yang diremehkan, Elara perlahan bangkit menjadi sosok yang dingin dan tak tersentuh.
Kali ini, ia tak hanya ingin bertahan hidup tetapi menguasai dunia yang akan hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 : LIMA JENIUS DAN PELARIAN TERLARANG
Kegelapan di bagian timur Sektor 3 terasa lebih pekat daripada biasanya. Di balik dinding beton tebal Laboratorium Penelitian Militer Pusat, udara terasa berat oleh aroma bahan kimia dan ketegangan yang nyaris meledak. Di bawah lampu neon yang berkedip-kedip, sebuah perdebatan panas sedang berlangsung sebuah perdebatan yang mempertaruhkan sisa-sisa kemanusiaan.
"Jenderal, ini terlalu berbahaya! Jika kita gagal, kita bukan hanya kehilangan subjek, tapi juga menghancurkan struktur genetik murni yang tersisa!" seru seorang ilmuwan senior, tangannya gemetar saat memegang laporan hasil uji coba.
Jenderal Markus, seorang pria dengan rahang kokoh dan mata yang haus akan kekuasaan, menatap dingin ke arah tabung-tabung reaksi berisi cairan berwarna perak metalik. "Kalau begitu, pastikan jangan sampai gagal. Aku tidak butuh alasan, aku butuh hasil."
"Tapi Jenderal, persentasenya sangat rendah! Kita tidak bisa terus melakukan ini. Jumlah manusia sudah sangat sedikit akibat tragedi hujan darah itu. Setiap nyawa yang kita korbankan adalah langkah menuju kepunahan!"
Jenderal Markus berbalik, langkah sepatunya bergema di lantai laboratorium. "Justru karena itu! Jika serum ini berhasil, manusia akan selamat. Orang-orang lemah yang tidak memiliki kemampuan khusus mereka yang hanya menjadi beban di kamp pengungsian akan memiliki kekuatan. Kita akan menciptakan pasukan yang tidak bisa mati!"
"Sudah terlalu banyak uji coba yang kita lakukan, Jenderal... dan semuanya berakhir menjadi mutan tanpa akal. Mereka kehilangan kemanusiaannya!"
Markus menyeringai, sebuah senyum yang lebih mengerikan daripada seringai zombi di luar sana. "Kalau begitu, kali ini jangan gunakan narapidana atau warga sipil yang lemah. Gunakan diri kalian sendiri sebagai wadah uji cobanya. Bukankah kalian ilmuwan? Bukankah kalian yang paling mengerti cara kerja serum ini?"
Keheningan mencekam jatuh di ruangan itu. Para ilmuwan tua saling tatap dengan wajah pucat pasi. Namun, di sudut ruangan, lima ilmuwan muda dengan tatapan mata yang tajam dan otak yang disebut-sebut sebagai yang tercerdas di generasi ini, saling bertukar kode melalui pandangan mata. Mereka adalah para jenius dengan bakat spesial yang selama ini dipaksa bekerja di bawah tekanan militer.
"Baik, Jenderal. Kami akan melakukannya," ujar salah satu dari mereka, seorang pemuda bernama Ken yang memiliki kemampuan Techno-Mind. Suaranya tenang, namun di balik itu, ia sedang menyusun rencana besar.
"Bagus!" Jenderal Markus menepuk bahu Ken dengan kasar. "Lakukan di luar markas. Jaga-jaga kalau serum itu gagal, aku tidak ingin laboratorium ku hancur. Bawa salah satu mobil taktis. Dan ingat, jangan sampai kalian digigit zombi sebelum eksperimen ini membuahkan hasil."
Malam itu, di saat seluruh pangkalan militer Sektor 3 terlelap dalam kelelahan, lima ilmuwan muda itu bergerak seperti bayangan. Siapa yang mengira mereka akan menuruti perintah Jenderal yang egois dan haus darah itu? Bagi mereka, Jenderal Markus tak lebih dari parasit yang memanfaatkan kecerdasan mereka untuk ambisi pribadinya.
"Semua data sudah dienkripsi?" bisik Rian, ilmuwan muda lainnya yang ahli dalam bidang biokimia.
"Sudah. Aku juga sudah menghapus semua jejak penelitian asli di server pusat. Markus hanya akan mendapatkan sampah digital," jawab Ken sambil memasukkan tablet terakhir ke dalam tas taktisnya.
Mereka menyelinap menuju garasi bawah tanah, menghidupkan mesin mobil taktis tipe Marauder yang telah dimodifikasi. Raungan mesinnya memecah kesunyian malam, namun sebelum alarm pangkalan sempat berbunyi, mereka sudah menerjang gerbang perimeter.
Malam itu terasa sangat panjang dan mematikan. Mobil taktis mereka terus-menerus dihadang oleh gerombolan zombi yang tertarik oleh deru mesin. Makhluk-makhluk itu mencakar badan mobil, mencoba mencari celah untuk masuk.
"Ken! Di depan ada kerumunan besar!" teriak Mia, satu-satunya wanita di grup itu yang memiliki kemampuan Enhanced Perception.
"Tabrak saja! Kita tidak boleh berhenti!" seru Ken sambil menginjak gas lebih dalam.
Suara hantaman daging dan tulang yang hancur di bawah roda besar mobil mereka menjadi soundtrack pelarian itu. Mereka menyetir membabi buta, melintasi batas-batas sektor tanpa peta yang jelas, hanya mengandalkan insting untuk menjauh sejauh mungkin dari Sektor 3.
Perlahan, garis cakrawala mulai memucat. Matahari fajar mulai merangkak naik, menyinari dunia yang telah hancur. Seperti hukum alam yang baru, para zombi perlahan mundur, melarikan diri dari sinar matahari yang membakar kulit mutasi mereka. Mereka mencari tempat gelap, gorong-gorong, atau bangunan tua untuk bersembunyi.
Jalanan yang tadinya bising oleh raungan monster kini menjadi sunyi senyap. Sinar matahari pagi membuat debu-debu beterbangan terlihat seperti butiran emas di atas reruntuhan kota.
Ken menghentikan mobilnya di tepi jalan yang dikelilingi oleh bangunan tinggi yang masih kokoh. Napasnya tersengal-sengal.
"Kita... kita di mana?" tanya Rian sambil menyeka keringat di dahinya.
"Aku tidak tahu," jawab Ken jujur. "Tadi malam aku nyetir tanpa tentu arah. Yang penting kita selamat dari kejaran Markus dan zombi, itu saja yang ada di otakkuku."
Mia menurunkan kaca jendela sedikit, lalu matanya membelalak melihat papan penunjuk jalan yang sudah miring dan berkarat. "Sektor 7. Kita ada di Sektor 7."
"Lihat di depan itu..." tunjuk salah satu dari mereka. "Markas militer. Tapi... lambangnya berbeda. Bukan lambang militer pusat."
Mereka menatap sebuah benteng baja yang menjulang tinggi dengan menara-menara pengawas yang dijaga oleh orang-orang berseragam hitam taktis yang tampak sangat profesional.
"Jangan," ujar Rian dengan nada getir. "Aku tidak mau bergabung dengan militer lagi. Sudah cukup kita diperbudak sebagai mesin penghasil senjata. Lebih baik kita mati di jalanan daripada kembali ke sangkar besi."
Namun, sebelum mereka sempat memutar balik arah mobil, suara derit besi yang berat terdengar membelah keheningan pagi. Gerbang utama pangkalan raksasa di depan mereka terbuka perlahan.
Dari dalam gerbang, sebuah mobil taktis mewah yang telah dimodifikasi sedemikian rupa keluar dengan gagah. Mobil itu berhenti tepat beberapa meter di depan kendaraan para ilmuwan muda tersebut.
Di kursi penumpang depan mobil lapis baja itu, seorang wanita turun dengan gerakan yang sangat anggun namun penuh wibawa. Gaunnya bersih tanpa noda, kontras dengan kekacauan di sekelilingnya. Rambutnya tertiup angin fajar, dan matanya yang berkilat tajam menatap langsung ke arah mobil para ilmuwan tersebut.
"Leo, berhenti," ujar Elara Quizel lembut, namun suaranya memiliki otoritas yang membuat siapa pun akan mematung. "Sepertinya kita memiliki tamu yang sangat menarik pagi ini."
Leonard turun dari kursi pengemudi, tangannya berada di hulu pedang, siap melindungi istrinya jika ada ancaman. Namun, Elara mengangkat tangannya sedikit, memberi sinyal agar Leonard tetap tenang.
Dari Map Real-Time miliknya, Elara melihat lima titik berwarna emas tanda bahwa orang-orang di dalam mobil itu bukan hanya manusia biasa, melainkan individu dengan potensi luar biasa dan kecerdasan di atas rata-rata.
"Lima ilmuwan pelarian dengan mobil curian dari Sektor 3..." gumam Elara dengan senyum tipis yang mempesona. "Sistem, sepertinya keberuntunganku hari ini benar-benar tidak main-main. Kita tidak hanya mendapatkan pangkalan, tapi kita baru saja didatangi oleh otak-otak terbaik yang tersisa di dunia ini."
Ken dan teman-temannya membeku di dalam mobil. Mereka bisa merasakan tekanan gravitasi yang tipis namun kuat di sekitar wanita itu. Mereka tahu, wanita di depan mereka bukanlah perwira militer biasa. Dia adalah sesuatu yang jauh lebih kuat, sesuatu yang mungkin bisa menjadi pelindung mereka atau justru mimpi buruk baru yang lebih mengerikan.
Elara berjalan perlahan mendekati mobil mereka, mengetuk kaca jendela dengan jarinya yang lentur. "Kalian punya dua pilihan, para jenius: Menjadi debu di jalanan ini saat malam tiba, atau masuk ke dalam dan bantulah aku membangun dunia yang baru. Jadi, mana yang kalian pilih?"
[TUAN RUMAH MENEMUKAN ASSET LANGKA: LIMA ILMUWAN GENIUS]
[MISI TERPICU: REKRUTMEN OTAK KEKAISARAN]
[HADIAH: AKSES KE LABORATORIUM TINGKAT TINGGI & PEMBUATAN SERUM EVOLUSI MURNI]
Bersambung 🧟♀️🧟♀️🧟♀️
Cuma satu yang dipertanyakan. Apakah Elara memikirkan solusi? Atau hanya mengikuti misi dari sistem dan bertahan hidup?
Harusnya Elara memikirkan solusi untuk mengembalikan keadaan. Misalnya dengan mencari sebab dulu, baru menemukan solusi (walau masih belum pasti) dan menjadikan solusi itu tujuan cerita. Kita jadi tahu akan dibawa ke mana cerita ini pada akhirnya. Kedamaian hakiki walau ga bisa mengembalikan dunia secara utuh. atau mereka bisa mereset semuanya? Tapi kalau reset, Elara waktu rebirth pun ga ada niatan menghentikan terjadinya chaos. hanya sibuk menyiapkan 'payung'.
dan ke mana manusia-manusia pengkhianat itu? Kenapa Elara tidak pernah mencari mereka untuk balas dendam?