IG & Tiktok : Tulisan_Nic
Naufal Adhitama (32), dokter anestesi yang hangat dan mudah bergaul, dikenal sebagai playboy karena sering dekat dengan banyak perempuan.
Meski begitu, ia percaya pernikahan harus berlandaskan cinta—bukan sekadar komitmen tanpa rasa.
Hingga ia bertemu Anin Ratri Maharani (27), perempuan dengan luka masa lalu dan trauma pada pria playboy akibat keluarga yang hancur.
Untuk pertama kalinya, Naufal ingin bertahan.
Namun saat cinta itu mulai tumbuh dan mereka ingin melangkah ke pernikahan, masa lalu dan rasa takut justru menjadi ujian terbesar.
Bisakah cinta mereka bertahan, atau justru hancur sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
"Mbak, Mbak Anin, itu Tante Widya berantem Mbak sama Tante May!" seru salah satu tetangga Anin, saat Anin baru saja memasuki gang menuju rumahnya.
Anin terkejut, apa dia tidak salah dengar?
"Apa, gimana?"
Tetangga Anin, menunjuk ke arah kerumunan. "Itu Mbak, di sana. Tante Widya jambak-jambakan sama Tante May."
Anin terkesiap, mempercepat langkahnya menuju kerumunan yang di maksudkan.
"Dasar nggak waras! Awas lo ya! Gua botakin pala lo!" teriak Widya, dengan suara keras.
"Lo tuh yang nggak waras! Sekeluarga yang waras cuma anak perempuan nya doang! Nggak tau malu emang!" balas May dengan teriakan yang tak kalah tingginya.
Anin semakin mempercepat langkahnya, membelah kerumunan orang-orang.
"Seharusnya Lo itu malu, punya anak gadis di suruh kerja biayain hidup sekeluarga, pada nggak mikir apa?!" May terus menyerang, menyudutkan Widya.
Anin tertegun mendengarnya, walaupun yang di bilang May itu di maksudkan untuk menyerangnya Widya, tapi jauh di lubuk hati Anin, justru itulah yang menjadi keluh kesahnya selama ini.
"Anak-anak gue, kenapa Lo yang ngatur-ngatur! Anak gue memang pinter cari duit, emang kenapa kalo dia biayain hidup keluarganya? Nggak kayak anak Lo, yang bisanya cuma ngandung anak haram!" Balas Widya, dengan geramnya.
Namun bagi Anin, jawaban ibunya justru membuat hatinya teriris, betapa selama ini bukan karna ia pintar cari duit, tapi karna terpaksa beban itu di taruh di pundaknya. Seolah tidak di beri pilihan, mau tidak mau Anin harus melakukannya.
"Brengsek Lo ya!" Bentak May, "Walaupun anak gue ngandung anak haram, tapi sebentar lagi bakal di nikahin sama pacarnya yang pegawai BUMN, orang tuanya kaya, nggak kayak anak Lo yang perawan tua! Gimana nggak perawan tua kalo pacarnya tahu, anak Lo itu penyelamat beban keluarga. Cowok mana aja, pasti kabur kalo tahu keluarga anak Lo, berantakan!"
Kalimat dari May, menembus jantung Anin. Bagai sesuatu yang tajam, sengaja menghunus dan menghujam.
"Anak gue bukan perawan tua!" pekik Widya, setinggi-tingginya "Asal Lo tahu ya, anak gue sekarang jadi manajer! Anak bosnya, jatuh cinta sama dia. Bisnisnya di mana-mana, Borjuis, konglomerat!"
"Cih! Ngarang!" cibir May, tak kalah tinggi suaranya.
Anin tak bisa menahannya lagi, ia melangkah di tengah-tengah. Lantas menarik lengan Widaya.
"Heh, Tante!" bentak Anin, "Cukup ya, menghina keluarga Gue! Gue akan tanda-in Tante dan semua yang dukung Tante, kalo sampe gue nikah sama konglomerat, nggak bakalan, Lo semua gue undang! nggak akan pernah!"
Widya tambah besar kepala, merasa Anin berada di pihaknya.
"Halah songong Lo Anin! Sama aja Lo sama Widya!" teriak orang yang berada di pihak May.
"Woi bubar, bubar nggak lu pada!"
Kenzo mengacungkan golok di tangannya. Sontak May dan para pendukung nya terdiam. Pasalnya, Kenzo sudah terkenal sebagai panglima tawuran. Melihat Kenzo mengacungkan parang, dengan riwayat seperti itu, nyali May dan Ibu-ibu lainnya gemetaran. Merasa keamanan nya terancam.
"Siapa yang berani ngatain keluarga gua, ngatain nyokap gua, ngatain kakak gua, bakal gua cincang-cincang kalian semua!" Teriak Kenzo dengan amarah yang berkobar-kobar.
"Maju lu pada!"
May dan para pendukung nya, mundur. Perlahan semakin mundur, lantas melangkah menjauh.
Orang-orang yang berkerumun pun mulai bubar satu persatu.
Anin menoleh pada Widya, ia tidak bisa menyembunyikan kemarahan di matanya. Wajahnya tegang, dengan mulut terkatup rapat, dan tangan mengepal. "Ibuk, pulang!" ucapnya datar, namun penuh penekanan.
Widya terkesiap, lantas mengangguk ragu-ragu.
Anin bergantian menatap Kenzo, "Lo bisa nggak, nggak usah bawa-bawa golok segala? Apa selalu begini, cara Lo nyelesai-in masalah?"
Kenzo menggaruk kepalanya, "Ng... itu, ya kan mereka kudu di gitu-in Kak, biar pada pergi."
Anin membuang muka, lantas berjalan masuk ke rumah dengan nafas yang masih memburu. Darah Anin masih mendidih. Karna kejadian tadi, selain ia merasa malu dengan keluarganya yang menjadi tontonan warga, ia juga kesal karna justru apa yang di ucapkan oleh May, sebenarnya adalah keluhannya selama ini. Di tambah jawaban Widya, yang seolah tak peduli dengan keluhannya, jelas membuat hati Anin semakin meradang.
Di tengah gemuruh amarah, Anin melangkah masuk, dan semakin muak, karna melihat adiknya yang satu lagi, bernama Bayu masih asyik dengan game online nya, tanpa peduli dengan apa yang terjadi.
"Bayu!" Bentak Anin "Lo bisa nggak, ngelakuin hal yang lebih berguna dari ini?!"
Bayu hanya melirik Anin sekilas, lantas kembali tatapannya fokus pada layar ponselnya. "Apa sih? Pulang-pulang marah, nggak jelas." sungutnya.
Anin tersenyum sinis, lantas menghembuskan nafas dengan kasar. "Nggak jelas? Lo tu yang hidupnya nggak jelas, bisa Lo cuma begini doank kan?!"
"Berisik!" Bayu balas membentak, "Memangnya kenapa kalo hidup gue begini?"
"Lo itu laki-laki, Bayu!" Teriak Anin, "Lo kerja kek, apa kek, dan seenggaknya Lo peduli sama keluarga ini!"
"Gue begini juga karna stres sama keluarga ini!" sela Bayu, dengan nada suara tak kalah tingginya dengan Anin, "Dan cuma pake cara ini gue bisa ngilanginnya."
"Lo kira gue nggak stres?!" timpal Anin, tanpa bisa sabar, "Gue stres, sama semuanya! Nggak cuma Lo doank!"
Bayu berdecak kesal, "Anj*ng! Gangguin orang lagi push rank juga!" ujarnya, lantas melangkah masuk ke kamar dan menutup pintunya dengan kasar.
"Anj*Ng! Dasar Lo B*ngs*t!!!"
Anin mengumpat, tanpa bisa ia cegah. Emosinya sudah meluap, tanpa bisa ia kendalikan.
"Udah, udah... Adik Lo itu, juga stres." Widya tergopoh-gopoh, menenangkan Anin, "Dia udah ngelamar kerja sana sini, tapi belum ketrima juga. Lo maklumin aja"
Tapi ucapan Widya justru menyulut emosi Anin lebih berkobar lagi.
"Terus gimana sama gue?" ujar Anin, menatap lekat Widya, "Siapa yang maklumin gue kalo gue stres?! Gue tetep di tuntut suruh kerja, karna apa? Karna kalo gue nggak kerja, hidup keluarga ini di biayain sama siapa?!" jerit kejujuran Anin, begitu terdengar memilukan.
"Gue selalu di tuntut jadi tulang punggung keluarga! Tanpa tahu, keadaan gue gimana, bahkan untuk mikirin diri gue sendiri aja, gue nggak bisa!"
Widya mengerjapkan mata, ia ingin bicara tapi tertahan, karna apa yang di ucapkan Anin memang benar adanya, dan dia sendiri merasa begitu bersalah.
"Ibuk bilang apa?" Anin mulai terisak, "Ibuk bilang gue harus menikah sama cowok cakep, baik, kaya raya, konglomerat? Kalo keadaan keluarga kita begini, emang ada cowok yang mau sama gue? Mereka juga bakal milih-milih Buk!"
Widya mengangkat tangannya, ingin mengusap bahu Anin, tapi Anin menjatuhkan dirinya, dengan lutut sebagai penompang badan. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya. Anin menangis sejadinya, suaranya terdengar seperti menyayat-nyayat.
"Kalau begini terus, kapan gue nikahnya?!" lirih Anin putus asa.
Widya berjongkok di depan Anin, "Semua ini salah gue, karna udah nikah sama orang seperti Bokap Lo."
"Tapi, kalo Ibuk nggak nikah sama Bapak, wajah cakep gue nggak akan ada Buk." Celetuk Kenzo, yang sedari tadi tak berani ikut bicara.
Anin mendongak, menatap Kenzo dengan begitu tajamnya. Hingga remaja itu tersurut, takut dan cemas menjadi satu.
"Ma..maaf... Gue salah ngomong ya?!"
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis🤍