Colly Shen berangkat ke luar negeri untuk menjalani hidup baru, namun tanpa sengaja terseret ke dalam organisasi kejahatan yang berbahaya. Di negeri asing, ia harus bertahan dan melindungi dirinya sendiri di tengah ancaman dan pertarungan yang terus datang.
Di sisi lain, kehadiran Colly menarik perhatian beberapa pria—Micheal Xie, sosok dari masa lalunya, Wilbert, calon suaminya, dan seorang ketua organisasi misterius yang awalnya menjadi musuh.
Siapa yang mampu mendapatkan cinta dari Colly Shen yang terkenal dengan sifatnya yang tidak pernah mau mengalah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Seminggu kemudian…
Langit sore tampak mendung di area pemakaman keluarga Mu.
Micheal berdiri diam di depan sebuah makam batu hitam bertuliskan nama Mark Mu.
Angin berembus pelan, membuat api lilin dan lidi sembahyang bergoyang kecil.
Di depan makam itu juga terlihat beberapa buah-buahan serta sebotol arak putih.
Micheal perlahan jongkok.
Lalu menuangkan arak putih ke tanah di depan makam tersebut.
“Mark…” ucapnya pelan. “Orang-orang yang membunuh Shanny akhirnya sudah mati.”
Tatapannya perlahan menurun.
“Aku minta maaf…” lanjutnya lirih. “Karena tidak pernah memberitahu papa penyebab kematianmu yang sebenarnya.”
Suasana kembali hening.
“Kalau Papa sampai tahu…” gumam Micheal. “Beliau tidak akan sanggup menerimanya.”
Tangannya perlahan mengepal.
“Aku juga tidak bisa menyatukan makam kalian…”
Matanya menatap nama di batu nisan itu cukup lama.
“Padahal kalian sangat saling mencintai.”
Angin kembali berembus pelan.
Micheal tersenyum tipis penuh kepahitan.
“Mark…” katanya lirih. “Kalau memang masih ada kehidupan berikutnya…”
Tatapannya perlahan melembut.
“Aku berharap bisa menjadi sahabatmu lagi."
Ia menundukkan kepala sesaat.
“Untuk kehidupan sekarang aku akan menjalankan tanggung jawabku sebagai anak…dan menggantikanmu merawat Papa kita.”
Setelah beberapa saat terdiam, Micheal akhirnya berdiri dan pergi meninggalkan area makam itu sendirian.
Beberapa hari kemudian…
Suasana lapangan sepak bola kampus tampak ramai dan meriah.
Sorak sorai mahasiswa terdengar dari berbagai arah.
Hari itu sedang berlangsung pertandingan persahabatan antar fakultas.
Beberapa mahasiswa dan mahasiswi terlihat bermain dengan penuh semangat.
Termasuk Roby, Tannia… dan Colly.
“Oper ke sini!” teriak Roby sambil berlari.
Namun Colly yang sedang menggiring bola justru melesat cepat melewati lawannya.
Gerakannya lincah dan agresif.
“Cepat hentikan dia!” teriak salah satu pemain lawan panik.
Namun...
SWISH!
Colly berhasil merebut bola dan langsung berlari menuju depan gawang.
Rambutnya berkibar tertiup angin.
Dari jarak yang cukup jauh...
DUUM!!
Ia menendang bola dengan keras.
Mata semua orang langsung membelalak.
Bola itu melesat cepat seperti angin topan menembus udara.
“Cepat tangkap!” teriak kiper lawan.
Namun...
SWOOSH!!
Bola langsung menghantam bagian dalam gawang.
GOOLL!!
Sorak sorai langsung pecah di seluruh lapangan.
“GILA!!” “Tendangan apa itu?hebat sekali!”
Kiper lawan sendiri hanya berdiri terpaku.
Ia bahkan tidak sempat bereaksi.
Sementara Colly hanya menyipitkan mata sambil menyeka keringat di dahinya.
Tannia langsung berlari menghampirinya.
“Colly! Tendanganmu barusan mengerikan!” serunya heboh.
Roby ikut tertawa.
“Aku curiga sebenarnya kau bukan manusia biasa.”
“Colly Shen!” teriak salah satu pemain lawan sambil menunjuknya. “Bukankah sejak awal kita sudah sepakat kalau kau tidak boleh menggunakan seluruh kekuatanmu?! Ini tidak adil!”
Colly hanya mengangkat bahu santai.
“Benarkah?” tanyanya polos. “Yang penting tim kami menang.”
“Colly Shen! Kau ingkar janji!” protes kiper lawan sambil berjalan mendekat.
Namun Colly malah tersenyum jahil. “Bukankah janji memang untuk diingkari?”
“HEY!!”
Semua pemain lawan langsung ribut.
“Sial! Dia sengaja!”
Salah satu dari mereka langsung menggulung lengan baju.
“Sepertinya kita harus memberinya pelajaran!”
“Benar!”
Beberapa mahasiswa langsung maju bersamaan ke arah Colly.
Colly yang melihat itu pura-pura ketakutan.
“Apa yang kalian lakukan?” tanyanya sambil mundur perlahan.
Namun kiper lawan langsung menunjuk ke arahnya.
“Kejar dia!” “Tangkap lalu ikat dia!”
“Baik!”
“Hah?!”
Colly langsung membelalak lalu berbalik kabur.
“Tolong!” teriaknya sambil tertawa dan berlari mengelilingi lapangan..
“Jangan lari!” “Kau curang!”
“Tangkap dia!”
Suasana lapangan langsung berubah ricuh penuh tawa.
Mahasiswa lain ikut bersorak heboh melihat mereka berlarian ke sana kemari.
Roby bahkan sampai tertawa sambil memegangi perutnya.
“Cepat tangkap Colly! Dia terlalu sombong!”
“Roby! Kau malah ikut-ikutan?!” teriak Colly kesal sambil terus berlari.
Tannia juga ikut mengejar sambil tertawa keras.
“Kalau tertangkap kau harus traktir semuanya!”
“Tidak mau!”
Colly langsung mempercepat langkahnya.
Tanpa disadari siapa pun… dari kejauhan, seorang pria bersetelan hitam sedang berdiri memperhatikan lapangan kampus itu.
Tatapannya terus mengikuti Colly Shen yang sedang berlari sambil tertawa bersama teman-temannya.
Angin pelan meniup jas hitamnya.
Pria itu menyipitkan mata.
“Ternyata gadis ini bukan hanya hebat dalam bertarung…” gumamnya pelan. “Tenaga dalamnya juga luar biasa.”
Tatapannya berubah semakin dalam.
“Aku jadi penasaran…” lanjutnya. “Siapa sebenarnya guru yang mengajarinya.”
Di sisi lain…
Sebuah gedung kantor mewah menjulang tinggi di pusat kota.
Di lantai paling atas, seorang pria duduk santai di kursi besar dengan kaki terangkat di atas meja.
Lampu kota tampak berkilauan di balik jendela kaca besar di belakangnya.
Di tangannya terdapat segelas wine merah.
Pria itu adalah Robert Chin.
Tatapannya tenang namun tajam.
Di depannya, pria berpakaian hitam yang tadi mengawasi Colly berdiri sambil memberikan laporan.
“Bos,” ucap pria itu hormat. “Colly Shen bukan hanya hebat dalam ilmu bela diri.”
Robert memutar pelan gelas wine di tangannya.
“Hmm?”
“Tenaga dalamnya juga sangat kuat.”
Tatapan Robert sedikit berubah tertarik.
Pria itu melanjutkan, “Tangan Josep Long yang cacat permanen juga disebabkan oleh tendangan Colly Shen.”
Robert perlahan mengangkat alisnya.
“Saat itu Josep mencoba menyambut bola yang ditendang Colly,” lanjut anak buahnya. “Namun benturan itu justru membuat tulang tangannya retak parah hingga cacat permanen.”
Robert tersenyum samar.
“Menarik…”
Ia meneguk sedikit wine sebelum kembali bertanya, “Siapa gurunya?”
Anak buahnya menunduk.
“Belum diketahui, Bos.”
“Namun dari hasil penyelidikan…” lanjut pria itu hati-hati. “Colly Shen ternyata bekerja paruh waktu di sebuah kafe.”
Robert sedikit menyipitkan mata.
“Seorang putri mafia bekerja di kafe?” tanyanya pelan.
“Ya, Bos. Itu sebabnya saya juga merasa aneh.”
Pria itu melanjutkan,
“Dia tidak hidup seperti kebanyakan anak keluarga kaya. Tidak suka pamer, pesta, atau menghabiskan uang untuk berbelanja.”
Tatapan Robert berubah semakin tertarik.
“Selain itu…” lanjut anak buahnya. “Wilbert Lu ternyata adalah tunangannya.”
Senyuman tipis muncul di bibir Robert.
Ia bersandar santai di kursinya.
“Artinya gadis itu hanya menikmati hidup dengan caranya sendiri.”
Tatapannya perlahan berubah dingin. “Kalau begitu… dia bukan ancaman bagi kita.”
Anak buahnya mengangguk pelan.
“Lanjutkan saja bisnis kita,” perintah Robert tenang. “Jangan sampai ada yang mengganggu.”
“Baik, Bos.”
Namun pria itu kembali bertanya hati-hati,
“Lalu bagaimana dengan gadis itu?”
Robert tersenyum tipis sambil kembali meminum wine di tangannya.
“Untuk sementara ... biarkan saja.”
Nada suaranya terdengar santai. “Dia hanya seorang gadis. Kita tidak perlu menyentuhnya.”
Ia lalu meletakkan gelas wine ke atas meja.
“Fokus urus barang kiriman dari sana. Pengiriman kali ini harus diawasi ketat. Jangan sampai terjadi kesalahan.”
“Baik, Bos,” jawab anak buahnya cepat sambil menundukkan kepala.
***
Colly yang baru kembali ke asrama berjalan pelan di lorong sambil berbicara melalui ponselnya.
Tas olahraga masih menggantung di bahunya.
Di seberang sana terdengar suara Shen Xiao Han yang penuh tawa.
“Colly, selamat,” ucapnya santai. “Aku mendengar kau berhasil menghancurkan keluarga Long.”
Colly hanya tersenyum tipis.
“Bahkan mereka mati bersama di dalam peti,” lanjut Xiao Han sambil tertawa kecil. “Adikku… kau benar-benar luar biasa. Karena kau berhasil…” katanya santai. “Kakak akan memberimu hadiah besar. Apa yang kau mau?”
“Mobil?” “Mansion?” “Atau tas mahal?”
Colly langsung memutar matanya malas.
“Kakak…” gerutunya pelan.
“Aku serius,” lanjut Xiao Han. “Katakan saja apa yang kau inginkan.”
Colly terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab, “Aku ingin belajar kungfu lagi.”
Ucapan itu langsung membuat Xiao Han terdiam sejenak.
“Kungfu?”
“Iya,” jawab Colly sambil membuka pintu kamarnya. “Aku merasa diriku masih kurang kuat..Di rumah duka waktu itu…” lanjutnya pelan. “Kalau bukan karena bantuan Micheal dan Wilbert, mungkin aku tidak akan bisa mengalahkan mereka.”
Xiao Han tertawa kecil di seberang sana.
“Jadi adikku akhirnya sadar juga kalau dirinya belum cukup kuat.”
“Aku serius.”
“Baik, baik.”
Colly lalu duduk di atas tempat tidurnya.
“Jadi tolong carikan aku guru yang hebat,” katanya. “Kakak mengenal banyak orang, pasti tahu siapa yang benar-benar kuat.”
Xiao Han kembali terdiam beberapa detik.
Lalu bertanya, “Hanya itu yang kau inginkan?”
“Iya.”
“Tidak mau mobil sport?” “Atau rumah baru?”
Colly langsung menggeleng walau kakaknya tidak bisa melihatnya.
“Aku tidak butuh,” jawabnya tenang. “Aku hanya ingin menjadi lebih kuat.”
Tatapannya perlahan berubah tegas. “Agar tidak mudah dikalahkan ... dan bisa melindungi diriku sendiri.”
Suara Xiao Han terdengar lebih serius setelah mendengar jawaban itu.
“Baiklah.”
“Kalau begitu pergilah ke tempat latihan Wushu yang akan kukirimkan alamatnya.”
Mata Colly langsung berbinar.
“Benarkah?”
“Di sana ada banyak murid berbakat,” lanjut Xiao Han. “Dan pelatihnya juga bukan orang biasa. Hanya saja… kalau kau ingin masuk ke sana, itu tidak mudah.”
Colly langsung berdiri antusias.
“Kenapa?”
“Karena kemampuanmu akan diuji.”
Senyum Colly perlahan muncul.
“Bagus,” jawabnya penuh semangat. “Aku justru menyukai hal seperti itu.”
Xiao Han tertawa kecil.
“Aku sudah menduganya.”
“Siapa gurunya?” tanya Colly penasaran. “Aku ingin segera pergi dan menunjukkan kemampuanku.”
Namun Xiao Han malah menjawab santai, “Aku akan kirim alamatnya saja.”
Colly mengernyit bingung.
“Kakak…”
“Setelah kau sampai di sana…” suara Xiao Han terdengar penuh arti. “Kau akan tahu sendiri.”
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Teman-teman bagi yang blm membaca season 1 ( kisah pertemuan awal antara Holdes Shen dan Janetta) silakn mampir ya😘
Season 2 ( kisah Shen Xiao Han dan Colly Shen)
🍰🍰🍩🍩☕☕☕ d kasih kopi sama kue dlu biar tambah semangat 😅